Hai para ibu, calon ibu ataupun pembaca yang barangkali numpang lewat.. hehe. Beberapa waktu lalu saya sempat membuat artikel tentang Tips Menghadapi Balita Dua Tahun. Nah, kali ini saya akan membuat rangkuman dari diskusi emak-emak di sebuah forum bernama FOCER. FOCER sendiri merupakan sebuah (Forum curhat emak-emak rempong) yang diinisiasi oleh Pemerhati Parenting, Ibu Kiki Barkiah. Ini diskusi menarik ya soalnya. Banyak sekali masukan dari para ibu yang saya dapatkan terhadap berbagai permasalahan anak. Oke, let's start.


Q : Ibu Emosian Saat Nyuapin Anak?
"Saya gampang emosi dan gak sabaran kalau melihat anak mulai melepeh makanan. Saya kadang harus meninggalkan anak saya karena takut marah saya makin menjadi-jadi. Apa yang harus saya lakukan?

Sumber Foto :zerotothree.org



1. Beri Anak Waktu
Ada penjelasan dari seorang dokter anak di Amerika bernama dr. Brezelton. Ia mengatakan bahwa anak balita itu kadang memang butuh waktu sampai berkali-kali agar mau mencoba makanan baru. Kalau anak masih membuang-buang makanan, berarti mungkin saat itu ia memang belum mau mencoba makanan tersebut. Jadi dibiarkan saja dulu sampai dia benar-benar mau makan. Sediakan makanan yang sehat sehingga ketika sewaktu-waktu ia lapar, ia bisa memakannya.

Seorang Ibu perlu menyadari bahwa terkadang memang ada masanya anak sulit untuk makan dan hal itu yang wajar. Teruslah belajar atau sharing dengan komunitas ibu lainnya agar bisa saling bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Jangan lupa, atur jadwal makan anak, agar saat jam makan, anak memang benar-benar dalam kondisi lapar sehingga mudah-mudahan bisa memperkecil terjadinya penolakan atau GTM (Gerakan Tutup Mulut).Tetap terus berusaha memberi makan. Ajak anak melakukan aktifitas outdoor supaya mereka gampang lapar. Dan jangan lupa ciptakan suasana menyenangkan saat makan.


2. Mereka hanya Anak Kecil
Kebanyakan orang tua menjadi emosi karena kita lupa kalau sedang berhadapan dengan anak kecil. Kita berharap anak melakukan sesuatu sesuai ekspektasi orang tua padahal seharusnya orang tua lah yang menyesuaikan diri dengan perkembangan pola pikir anak. Jadi, usahakan dibawa santai ya Maak. Jangan kebawa emosi nanti lama-lama kita bisa stress.

3. Banyak Berdzikir atau Mengingat Tuhan

Banyak-banyaklah berdzikir, karena memang Allahlah penggenggam setiap hati manusia, termasuk hati anak kita. Dia lah yang akan memudahkan segala urusan kita. Jadi jangan malu untuk berdoa agar Allah memudahkan peran kita dalam mengurusi anak-anak di rumah, termasuk dalam urusan memberi makan sekalipun. Ingatlah,
"When you feel snappy at your kids, remember it's not your children who are testing your patience. It's Allah who is testing yours. So forgive yourself, go back to Allah and pray that you build yourself up, in order to pass His test." 

Saya kurang tahu itu pernyataan siapa, yang jelas, pernyataan itu juga jadi self reminder untuk diri sendiri bahwasanya ketika anak-anak kita berperilaku kurang menyenangkan, justru saat itu barangkali Allah sedang menguji diri kita. Allah ingin melihat seberapa mampu kita bersabar dan seberapa kuat kita ingin tetap berusaha. Maka dari itu perbanyak juga berdoa dan berdzikir agar setiap urusan kita diberi kemudahan dan keberkahan. Allahumma yassir wala tu'assir, Ya Allah permudahlah dan jangan Engkau persulit.

4. Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Anak 
Contoh kasus, misalnya kita sudah capek-capek membuatkan makanan yang menarik (menurut kita) untuk anak. Lalu kita berharap makanan itu akan dihabiskan oleh anak. Pada kenyataannya, ternyata makanan yang sudah kita buat susah payah itu malah tidak dimakan. Sedih banget nggak sih? Sakitnya tuh disiniiii (sambil nunjuk dada). Saya sering merasakan hal ini dan rasanya sedih sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang saya berusaha untuk lebih selow dalam ini agar tak terlalu kecewa jika anak tak melakukan sesuatu sesuai harapan. Jika kita hanya menuntut anak, bisa-bisa kita jadi stress dan emosi. Ujung-ujungnya kita hanya marah-marah dan menyebabkan waktu makan menjadi waktu yang tak menyenangkan bagi anak. Kalau sudah begitu, maka tak ada yang diuntungkan bagi keduanya.

Jadi Bunda-bunda cantik, coba dinikmati saja momen-momen ini. Kalau masakan kita dimakan, ya alhamdulillah. Kalau tidak dimakan ya rapopo. Kan bisa kita aja yang makan (laahh.. pantesan ibu-ibu badannya banyak yang melar ya, hehe). Intinya jangan patah semangat. Teruslah mencoba walaupun memang pada akhirnya kita harus bermental baja dan tahan capek karena penolakan. Ikhlaslah. Yakini bahwa akan ada pahala dari setiap lelah dan keringat yang keluar pada saat kita memasaknya. Kalau anak tidak mau makan, ya kita saja yang makan atau bisa berikan ke suami biar tidak mubazir. Case closed ya kan? :D

5. Pakai Strategi Lain

Kalau memang anak susah makan, coba dikreasikan bentuk dan cara makannya, jadi tidak harus seperti yang biasa kita makan. Yang penting zat-zat yang dibutuhkan dalam sehari dapat masuk ke tubuh anak.

Misalnya saja telur rebus. Sambil anak bermain, telur bisa dipotong sedikit-sedikit dan kita suapkan ke mulutnya. Lama-lama bisa habis 1 butir telur lho. Bisa juga suapi selembar keju sedikit-sedikit sampai habis. 

Kalau anak tak suka nasi, bisa ganti karbohidratnya dengan roti, olahan singkong, olahan ubi, atau olahan kentang. Protein bisa diganti dengan selembar keju (sebaiknya jangan yang berpengawet ya), sebutir telur, sepotong ikan goreng, sepotong ayam goreng dsb. Sayur bisa sekalian dicampur diolahan kentang atau ubi dll. 
Kita juga bisa buat dalam bentuk perkedel, nugget, bola-bola nasi (yang didalamnya sudah ada protein, sayuran, karbohidrat). Itu pun sebenarnya sudah termasuk makan, karena yang terpenting zat-zat yang dibutuhkan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa googling dari berbagai situs parenting atau resep masakan, supaya bisa menambah kreasi dan inovasi masakan di rumah. 

6. Keep Relax
Tenanglah wahai bunda. Ini adalah bagian dari proses. You are not the only mom who feel this. You are not alone. Banyak orang tua yang mengalami kesulitan yang sama, termasuk saya pun. Masa-masa susah makan itu pasti akan ada. Tapi nanti bersiaplah seiring dengan bertambahnya usia, akan muncul masa-masa anak kita akan susah berhenti makan. Yakinlah, "badai" ini insya Allah pasti berlalu. Tenangkan hatimu karena kau sedang berada pada masa yang "menantang" ituu! Enjoy it karena masa-masa ini tak akan berlangsung lama. Jadi, tetap semangat ya Bunda.


Nah, itulah beberapa pesan untuk para orang tua di luar sana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tetap semangat! Masa GTM ini sebenarnya memang masa yang sulit. Saya pun pernah berada di titik hampir menyerah melihat anak yang susah makan. But stay relax. Jika butuh teman curhat, berdiskusilah dengan suami atau sahabat dekat. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan mental kita juga ya karena Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Take a break dan lakukan hal lain yang menyenangkan jika memang Bunda membutuhkannya. Semangat Selalu!

View Post





Sumber gambar : kompas.com

Seperti yang kita ketahui, R.A Kartini merupakan seorang pahlawan Indonesia yang berjuang bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menuangkan pikiran-pikiran yang antimainstream di jamannya saat itu. Sebagai seorang perempuan bangsawan yang memiliki banyak aturan, ia sadar betul bahwa telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan di negerinya sendiri bagi para perempuan dalam banyak bidang, terutama dalam bidang sosial dan pendidikan. a sadar bahwa perempuan hendaklah diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi karena perempuan kelak akan mendidik anak-anak dalam keluarganya.

R.A Kartini memberikan banyak inspirasi dari pikiran-pikirannya. Hingga sekarang bahkan pikiran-pikiran tersebut bisa menjadi motivasi bagi kita agar mampu menjadi perempuan berdaya dan berwawasan luas. Berikut ini adalah 13 pesan inspirasi dari Kartini yang perlu kita simak.


1. Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya.

2. Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.

3. Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.

4. Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang seimbang antara raga yang tangguh, namun hati senantiasa patuh. Emansipasi ada penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap tempat ada empu yang dikodratkan dan dipantaskan. 

5. Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing. Lagi pula, saya  bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya. 

6. Pendidikan untuk wanita sangat penting dalam konteks mendukung  perannya sebagai Isteri dan ibu yang bermimpi besar. Tapi kalau salah kaprah dan menelantarkan anak-anaknya berarti sama saja dengan membodoh lagi.

7. Apakah gunanya pemerintah memaksa orang laki-laki menyisihkan uang, kalau isteri-isteri mereka yang menyelenggarakan rumah tangga tidak mengenal tentang nilai uang?

8. Meskipun sekarang sebagian besar kebanyakan Kepala Bumiputra menyekolahkan anaknya hanya untuk gagah-gagahan saja, karena mereka tidak mau ketinggalan oleh yang lain. Dan bukan karena kesadaran mereka terhadap kegunaan pengetahuan bagi perempuan baik itu untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. 

9. Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahan kekuatan mendidik itu harus berasal. Siang malam anak-anak di rumah, di sekolah hanya beberapa jam saja.

10. Para lanjut usia, jangan menolak segala hal yang baru. Ingatlah, bahwa semua yang sekarang sudah tua, juga pernah baru.

11. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput layaknya. Bila agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". Kepada kakak-kakakku laki-laki maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan tertibnya, tetapi mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya adat itu.

12. Terlalu sering kami merasakan bahwa kami, orang Jawa, bukanlah manusia sama sekali. Bagaimana mungkin orang-orang Belanda berharap untuk dicintai orang-orang Jawa, ketika mereka memperlakukan kami seperti ini? Cinta melahirkan cinta, tetapi hinaan tak akan pernah menimbulkan kasih sayang.

13. Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.


Itulah beberapa kalimat inspirasi dari R.A Kartini. Ada begitu banyak hikmah dan pesan yang tersampaikan. Yang jelas, ada banyak sekali para pejuang perempuan selain Kartini yang sejak dulu telah memberikan sumbangsih bagi negeri ini. Oleh karena itu sebagai perempuan Indonesia, sudah selayaknya kita ikut berkontribusi sesuai dengan peran dan minat kita masing-masing saat ini. Jayalah terus Indonesia, jayalah perempuan Indonesia. Teruslah berkarya sesuai kemampuan kita tanpa harus melalaikan tanggung jawab kita sebagai seorang perempuan.


Sumber : Nurcholish, Ahmad. 2018. " Celoteh R.A. Kartini : 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi". Jakarta : Elex Media Komputindo.


View Post
Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



View Post




www.familyeducation.com
 

By the way, ini sebenarnya adalah catatan lamaku. Waktu itu aku membaca diskusi di sebuah grup Ibu-ibu dan menurutku diskusinya sangat menarik, Sayang saja kalau sampai disimpan untuk diri sendiri.

Tema pembahasan saat itu adalah tentang si "terrible twos". Hayoo, siapa disini yang memiliki anak usia dua tahun? Sebagai seorang emak-emak dari tiga orang anak, aku sendiri juga merasakan anak-anakku berada pada fase ini. Anakku yang paling kecil pun juga sekarang sudah lebih dari dua tahun.

Memasuki fase dua tahun menurutku adalah masa-masa yang menantang. Anak mulai suka melakukan sesuatu sendiri, mudah ngambek, suka bilang nggak, wkwk. Belum di tingkat parah sih, tapi kadang suka bikin emosi juga liatnya. Perkara memilih baju saja bisa membuatnya menangis. 

Kalau ditelaah dari ilmu psikologi, masa 2-3 tahun itu emang merupakan masa anak mulai belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dulu pas jadi pengajar di TPAM, aku juga sempat jadi PJ yang memegang kelompok anak dua tahun. Sungguh beda menghadapi anak usia ini dibanding kelompok lain. Kesabarannya harus lebih ekstra, hihi. Padahal saat itu aku lagi menghadapi anak orang lho. Yang ketemunya saja cuma 4 hari seminggu. Tapi udah bikin capee... xD. Nah apalagi sekarang ya, pas ngadepin anak sendiri yang tiap hari ketemu 1x24 jam.

Saat membahas soal ini, aku jadi teringat pada perkataan dosenku saat di bangku kuliah. Beliau adalah dosen Perkembangan sekaligus koordinator di tempatku bekerja, Mbak Vivi namanya.

"Yang megang kelompok kepompong (*kelompok kepompong itu adalah kelompok anak usia 2-3 tahun) harus sabar ya... karena fase anak dua tahun adalah fase dimana mereka mulai ingin bersikap mandiri, mulai ga mau dibantu orang lain, mulai ingin melakukan sesuatu atas kehendak mereka sendiri tanpa di atur-atur, ingin mencoba hal baru sekalipun itu sesuatu yang bisa berbahaya buat mereka (karena mereka emang belum tahu apa itu bahaya dan kalau di kasih tau malah marah... haiyah)". Di fase ini anak juga mulai suka tantrum dan jangan aneh juga kalau mereka akan sering mengatakan kata "tidak", "nggak", dan sejenisnya,"


Fase dua tahun disebut juga fase peralihan. Kalau di usia 1 tahun anak masih bergantung dengan ayah bundanya. Mereka masih takut-takut terhadap sesuatu (jadinya lebih nurut). Mereka juga belum terlalu berani untuk melakukan sesuatu (kecuali di dorong oleh ayah bundanya). Nah, maka di usia dua tahun, mereka mulai merasa yakin dengan kemampuan diri mereka sendiri. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan motorik mereka yang terus berkembang. Mereka cenderung sudah lancar berjalan ataupun berlari. Genggaman tangan juga sudah lebih kuat.  Hal tersebut menimbulkan perasaan bahwa mereka "lebih berkuasa" atas diri mereka sendiri. Sayangnya hal tersebut tidak di dukung oleh pengetahuan yang mumpuni, sehingga hal berbahaya pun kadang mereka lakukan. 


foto : apkpure.com


Usia Dua Tahun Mirip Seperti Masa Remaja


Kalau kata dosenku, masa peralihan pada anak di usia dua tahun ini mirip seperti masa remaja. Misalnya tipe yang "sok-sokan", mulai nggak mau dinasehatin, nggak mau dikasih tahu. Merasa bisa melakukan segalanya dan bertindak sendiri, padahal dia sebenarnya belum punya banyak pengalaman. Makanya terkadang ortu juga suka dibuat bingung sama sikap anak remaja. Nah, mirip seperti itulah fase 2 tahun ini. Bahkan kata dosenku, ada buku khusus sendiri yang membahas tentang fase 2-3 tahun ini, saking spesial dan uniknya.

Mereka Perlu Dibimbing Untuk Tidak Penakut dan Tidak Sok Tahu


Nah, difase ini tugas orang tua tentunya adalah membimbing. Membimbing pun juga tidak boleh ekstrem. Harus moderat, tidak boleh terlalu galak ataupun terlalu permisif. Kalau terlalu galak, anak kelak malah akan tumbuh jadi sosok yang penakut (karena jadi takut salah dan takut dimarahi), tidak percaya diri atas kemampuan sendiri (karena sering disalahkan), tidak berani dan pemalu. Pun kalau terlalu dibiarkan nantinya dia akan tumbuh jadi anak yang pembangkang, terlalu bebas dan sesuka hati (karena terbiasa dibiarkan aja, atau segala keinginan dituruti). Agak repot kan? haha.. Itulah seni dan tantangan jadi orang tua ya. Gak akan ada habis-habisnya.

Intinya sih memang ada hal-hal yang harus dituruti anak jadi sebagai orang tua kita harus mampu bersikap tegas. Tegas disini bukan malah menjadikan kita orang tua yang galak dan sering marah-marah. Marah dan tegas itu beda soalnya. Perbedaannya bisa dilihat dari intonasi suara. Kalau tegas cenderung datar dan menggunakan kalimat singkat. Kalau marah, cenderung bernada tinggi, membentak dan teriak (aku juga masih harus banyak belajar nih untuk lebih mengatur emosi dan bersikap tepat dalam menghadapi anak-anak). 
Kalau boleh saya mengutip perkataan salah satu temanku yaitu Jayaning Hartami,

"Fase 2-4th memang lagi masa anak belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dan terkadang di beberapa anak jadi muncul perilaku teriak, mukul, dsb yang kalo dipersepsi kepala kita dianggap sebagai "perilaku menyimpang". Padahal yang ada di kepala anak kita, "Mommy. This is how I rule my world." Mereka butuh kemampuan untuk "mengontrol" dunia mereka, tapi mereka nggak tau caranya. Jadi saat mereka sengaja ataupun tidak memukul atau teriak, terus ibunya atau orang di sekelilingnya tiba-tiba jadi perhatiin si anak atau malah ngomel dsb, mereka merasa perilaku mereka adalah benar. Mereka senang mendapat "perhatian" itu."


Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika anak kita melakukan hal yang tidak kita inginkan? Misalnya teriak-teriak, atau mukul-mukul.  Yang pertama adalah jangan reaktif akan perilaku anak di depan umum.
Meskipun mungkin pada saat tersebut, kita malu diliat orang-orang dan rasanya pengen ngomel di tempat, tapi cobalah tenang dulu (widih.. praktiknya nih yang kudu dilatih) . Dan hal kedua yang perlu dilakukan adalah kita tunggu saat anak sudah tenang, barulah diajak ngobrol berdua "eyes to eyes". 

Kalau kata psikolog dalam sebuah artikel, terkadang anak berusaha menarik perhatian dengan perilaku menyimpang, karena buat anak mendapat omelan ortu masih lebih baik ketimbang nggak diperhatiin sama sekali (jleb ga tuh?). Makanya untuk para orang tua, jangan sampai abai yaa. Kalau melihat anak berperilaku baik, berikan kecupan sayang dan perhatian saat itu juga. Terkadang kita ini lebih cepet nyadar saat anak lagi berperilaku "jelek" ketimbang saat dia berperilaku baik. 

Pada saat dia berperilaku manis eh kitanya malah nggak ngeh... heuuuh. Jadinya si anak kan mikir, "Kayaknya ayah dan ibu lebih ngeh kalau aku teriak-teriak deh daripada aku bisa ngerapihin mainanku sendiri. Ya udah deh aku teriak aja." Begitu kira-kira pikiran yang muncul di diri anak-anak kita. Maka dari itu, hal utama dan paling utama yang perlu dilakukan adalah orang tua harus instrospeksi diri. Jangan-jangan ortu kurang mengapresiasi sikap manis anak selama ini hingga akhirnya anak mencari perhatian dengan "caranya" sendiri.




foto: activebabiessmartkids.com.au

Mengisi Tangki Cinta


Yang perlu diketahui ortu adalah, tiap anak itu punya "tangki cinta"nya masing-masing. Mereka punya tangki cinta yang berbeda. Ada anak yang "tangki cinta"nya adalah sentuhan. Ada yang dengan pujian, hadiah, dsb. Maka, orang tua harus cari tahu, "Kira-kira tangki cinta anakku apa ya?" Jadi, untuk mencegah anak berbuat "aneh2" dengan mencari perhatian dengan cara yang kurang tepat, maka tinggal penuhi tangki cintanya. Sama seperti anakku, kalau dia sudah mulai keliatan kesal, berontak dsb, biasanya aku coba peluk, sambil cium dan bilang "sayang". Biasanya dia akan "lumer" dan tidak jadi tantrum.

Mengasuh anak memang tantangannya berat, tapi mudah-mudahan ke depannya kita bisa makin lebih baik jadi orang tua. Seperti halnya kata Ibu Kiki Barkiah,

"Repot urusan anak diwaktu kecil itu PASTI. Repot urusan anak diwaktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH. Repot urusan anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI."


Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang sabar, penyayang dan bisa memberikan contoh dan teladan baik bagi anak-anak kita kelak, Aamiin.



And for the last, this is reminder to myself, huhu. Semangaat... Semangat! Harus lebih sabar yaa.. *pukpuk diri sendiri.






************************************************
Jika Berkenan, Silahkan baca juga link berikut:

Agar Anak Nyaman Belajar











View Post
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah webinar di sekolah anak saya Nayra. Webinar itu memang diperuntukkan bagi para orang tua siswa kelas 2. Awalnya agak malas untuk ikut (wkwk), tapi saya pikir apa salahnya ikut bergabung kan? Toh memang ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan sekolah kepada para orang tua. Temanya saat itu tentang bagaimana membuat anak belajar dengan nyaman di rumah. Pembicaranya adalah Ibu Ida S Widayanti.

Saya sih gak fokus melihat materinya secara keseluruhan dari awal karena memang saat itu sambil disambi aktivitas rumah tangga. Tapi ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan perlu saya tulis disini sebagai salah satu ikhtiar saya dalam mengikat ilmu. Yah syukur-syukur jika tulisan ini bisa bermanfaat pula bagi orang lain. Berikut beberapa rangkuman yang saya buat. Check it out!


Pertama, hidupkan perasaan bahagia dalam proses mendidik anak-anak.


foto : kidengage.com


Pada dasarnya, perasaan bahagia bisa memberikan banyak keuntungan dalam proses mendidik. Pesan yang kita sampaikan ke anak, akan lebih cepat masuk ke dalam hati dan pikirannya jika suasana hatinya juga sedang baik. Jadi, percuma jika kita ingin memberikan saran atau nasihat kepada anak sementara saat itu sang anak dalam kondisi tidak nyaman, bete, kesal ataupun marah. Itu tak ada gunanya.

Kita harus ciptakan dulu suasana menyenangkan bagi anak, agar hati dan pikirannya siap menerima pesan yang kita sampaikan. Ingat, bahwa suasana hati yang baik akan menguatkan otak dalam menerima pesan.

Kedua, setiap berkomunikasi dengan anak, pastikan komunikasi tersebut memenuhi salah satu atau semua tujuan komunikasi. 



Berikut ini tujuan komunikasi yang hendaknya kita pertanyakan setiap akan berkomunikasi dengan anak. 

1. Apakah kita ingin menyampaikan informasi ke anak? (to inform)

2. Apakah kita ingin mendidik anak? (to educate)

3. Apakah kita ingin membujuk anak? (to persuade)

4. Apakah kita ingin menghibur anak? (to entertaint)

Jika komunikasi kita tidak  memenuhi tujuan itu, maka sebaiknya komunikasi tersebut tidak dilanjutkan dan dihentikan saat itu juga. Kemarahan, makian, omelan bukanlah komunikasi terbaik untuk mencapai tujuan komunikasi dengan anak, baik itu untuk mendidik ataupun memberi informasi (apalagi menghibur). Sekalipun mungkin kita berniat demikian tapi itu bukanlah langkah yang tepat.

exploringyourmind.com


Jadi, ketika kita mulai ingin marah-marah, ingat lagi tujuan komunikasi diatas. Percayalah, percuma kita marah-marah karena pesan yang kita sampaikan tidak akan memberikan motivasi positif kepada anak-anak. Justru anak-anak akan makin tak nyaman, sedih, tidak suka, atau bahkan ikut marah. 

Buang energi kita dari hal yang sia-sia, terutama marah-marah. Salah satu tipsnya bisa dengan melakukan teknis pernapasan perut yang diiringi dengan istighfar (letakkan telapak tangan kanan di perut dan tangan kiri di dada. Rasakan perut mengembang saat menarik napas dengan hidung dan perut mengempis saat mengeluarkan napas lewat mulut). Ucapkan istighfar dalam hati. 

Atau kalau dalam anjuran Nabi adalah dengan mengubah posisi dari berdiri ke duduk dan mengambil wudhu. Insya Allah, mudah-mudahan kita tak jadi marah setelahnya.

Ketiga, gunakan kacamata lebah dalam melihat perilaku anak. Jangan malah menggunakan kacamata lalat.


Apa maksudnya? Pada dasarnya, lalat dan lebah adalah dua makhluk Allah yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Lalat lebih suka dengan bau-bau busuk, sementara lebah suka dengan sari bunga dan bau yang wangi.

Jika lalat ditempatkan di sebuah taman bunga, tetap saja yang dicarinya sampah. Sementara lebah, jika ditempatkan di tumpukan sampah, tetap saja yang dicarinya adalah sekuntum bunga.

Demikian juga para orang tua. Jika kita memilih untuk menggunakan kacamata lalat, maka kita hanya akan mencari keburukan dan kekurangan pada perilaku anak. Hanya itu saja fokusnya. Pokoknya yang kita ingat hanyalah kekurangan dan kesalahan anak saja. Seakan-akan anak tak punya kelebihan yang bisa kita bicarakan.

Berbeda dengan jika kita memilih kacamata lebah, maka kita fokus pada kelebihan anak. Bahwa anak juga punya sesuatu yang baik yang perlu kita dukung. Bahwa pada dasarnya anak juga memiliki hal-hal positif yang bisa kita syukuri.

Sebagai contoh, coba perhatikan gambar ini.


Foto : gettyimages.com

Coba lihat sejenak gambar itu dan kita coba pakai kacamata lalat. Apa yang kita pikirkan?

Dapur berantakan, peralatan yang kotor, bahan makanan yang terbuang, dsb. Yang kita lihat saat itu hanyalah hal negatif. Betul tidak? 

Tapi coba kita ganti kacamata kita dengan kacamata lebah. Apa yang kita lihat? 

Wah, kita melihat anak-anak sedang eksplorasi. 
Wah anak-anak sedang belajar hal baru. 
Wah anak-anak sedang mencoba belajar memasak dsb.
Masya Allah!

Itu yang luput dari para orang tua. Kebanyakan kita (termasuk saya pun) sepertinya masih lebih sering menggunakan kacamata lalat daripada lebah. Tanpa disadari kita kadang fokus hanya pada hal-hal negatif. Padahal kita lupa, bahwa anak-anak juga memiliki banyak hal-hal baik yang perlu kita apresiasi.

Keempat, pentingnya memahami suasana hati.


Suatu hari, terdengar seorang ibu sangat berisik ketika sedang mencuci piring. Klentang-klentong bunyi peralatan dapur terdengar saling beradu. Suaranya sangat mengganggu tak seperti biasa. Kira-kira kenapa sang ibu sangat berisik saat mencuci piring? Apakah ia tak tahu cara mencuci piring dengan baik dan benar? Ataukah karena saat itu suasana hatinya sedang buruk?

Setelah itu coba bayangkan kembali, dalam kondisi yang seperti itu tiba-tiba datang suaminya berkata,

"Kok berisik sekali nyuci piringnya? Memangnya kamu gak tahu cara mencuci piring? Kalau gak tahu sini aku ajarin!" ujar si suami dengan nada keras dan tinggi.

Kira-kira bagaimana perasaan kita kalau jadi si ibu itu? Apakah kita merasa lebih baik setelah mendengar perkataan suami kita atau suasana hati kita malah semakin memburuk?

Nah, demikian juga dengan anak-anak. Suatu perilaku yang kita lakukan, terkadang juga dipengaruhi suasana hati kita saat itu.

Misalkan suatu hari, anak kita pulang sekolah. Tiba-tiba ia datang sambil membanting atau melempar tasnya dengan wajah yang cemberut. Kira-kira bagaimana reaksi kita?

"Loh kak, kok tasnya dibanting gitu sih? Taruh tasnya yang bener."

Barangkali begitu kira-kira reaksi kita. 

Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah ia tiba-tiba tersenyum dan menjawab, "Baik Bu,"
Atau malah makin cemberut dan kesal?

Perilaku membanting tas memang bukanlah perilaku yang baik. Dan pastinya ketika ia membanting tas bukan berarti karena ia tidak tahu cara menaruh tas yang baik. Barangkali hal itu ia lakukan karena saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Barangkali saat itu ia mendapatkan masalah ketika di sekolah. Sementara ketika reaksi yang kita berikan ternyata dengan langsung menjudge anak, tentu itu hanya akan membuat perasaannya menjadi makin tidak baik. Duh udahlah gak usah berpikir jauh-jauh, kita sendiri saja dulu mungkin pernah bersikap begitu kan? Dan ketika kita dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, kira-kira apa yang kita butuhkan?

foto : desiakhbar.com


Perkataan berupa nasihat dan kalimat perintah bukanlah sesuatu yang ia butuhkan saat itu.
Maka dari itu, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut, mungkin kita bisa bereaksi lebih baik ke anak dengan bertanya lembut,

"Ada apa kak? Kok gak kayak biasanya? Kakak mau cerita sama Ibu?"

Mungkin setelah itu perasaan anak akan menjadi lebih baik. Sekalipun mungkin ia tak akan langsung cerita saat itu, tapi setidaknya ia tahu bahwa kita akan selalu ada untuknya dan menerima perasaannya.

Kelima, biasakan untuk berbicara dengan suara rendah dengan anak. 


Suara yang rendah bisa membuat pesan semakin kuat untuk masuk ke dalam kepala dan hati anak. Jangan biasakan bicara dengan nada yang tinggi. Jika selama ini kita sering begitu ketika menghadapi perilaku anak, maka ubahlah pelan-pelan. Nada yang tinggi tidak akan membuat pesan dan nasihat kita tersampaikan dengan baik. Jadi sungguh itu hanya akan membuang energi kita.

Jangan lupa pula untuk melakukan kontak fisik kepada anak setiap hari. Berikan pelukan dan usapan kepada anak sebagai bentuk kasih sayang kita. 

Keenam, hidupkan surga di rumah.


Caranya gimana? Caranya ya kita lihat bagaimana gambaran surga yang dituliskan dalam Alquran.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri...” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25].

Nah, coba lakukan itu dirumah.
Berseri-serilah saat menatap anak atau anggota keluarga dirumah. Lebih seringlah tersenyum dibandingkan cemberut. Jadikan wajah kita sebagai wajah yang meneduhkan bagi anak-anak.
Ucapkan perkataan yang baik kepada anak. Kurangilah berkata yang sia-sia. Sering marah-marah termasuk perilaku yang sia-sia. Tak ada manfaatnya baik bagi kita sendiri apalagi bagi anak-anak. Jadi lebih baik hindarilah hal tersebut. Hidupkan surga dirumah, hingga kelak pada masanya, kita benar-benar bisa bersama anak-anak dan pasangan kita di surga Allah yang sesungguhnya. Aamiin Yaa Rabb... Bismillah..


(Ketika menuliskan postingan ini, maka seketika itu juga saya sedang menampar diri sendiri...)


*disclaimer:
Rangkuman ini saya tulis berdasarkan apa yang saya tangkap dan yang paling saya ingat. Beberapa diantaranya juga saya tambahkan dengan bahasa saya sendiri. Tidak semua poin materi saya sampaikan, karena saya sendiri tidak mengikuti webinar dari awal. Jadi jika ada tambahan atau koreksi dari rangkuman diatas, maka saya akan terima dengan senang hati. 💕







View Post




foto: kitapastibisa.id


Bicara tentang makhluk Allah satu ini terkadang membuat hati kita kesal dan geram. Bagaimana tidak, ia bisa muncul dan terus mengganggu setiap kehidupan kita dan membuat kita melakukan hal buruk ataupun hal-hal yang tak bermanfaat.Setan adalah tokoh antagonis yang membuat manusia lalai dalam berbuat baik. Walaupun demikian, terkadang saya juga suka bertanya-tanya, apakah segala dosa dan kesalahan kita adalah sepenuhnya salah setan? Atau jangan-jangan tekad kita saja yang masih lemah dan tidak sungguh-sungguh?


 Apakah segala dosa dan kesalahan kita adalah sepenuhnya salah setan?


Saya pernah menonton channel Youtube Ustadz Muhammad Faizar (kalian perlu nonton sih guys karena bikin belajar banyak tentang kehidupan). Ada sebuah momen ketika beliau sedang meruqyah. Beliau mengatakan bahwa hati yang lemah (sedih, dendam, marah, kecewa,dan lain-lain) akan membuat jin tertarik untuk masuk kedalam diri kita dan menempati ruang kosong pada diri kita. Jin atau setan tersebut akan makin kuat jika jiwa kita makin lemah. Makanya ketika seseorang di ruqyah, bukan berarti ia akan langsung sembuh karena jin tersebut tidak langsung kabur (terutama jika jinnya ngeyel). Hanya saja ketika sudah diruqyah, jin tersebut memang mulai merasa tidak nyaman dan mulai lemah kekuataannya.

Ibaratnya nih ada orang yang masuk ke rumah kita dan dia udah betah di rumah kita. Bahkan saking tak tahu malunya malah dia yang menguasai rumah kita. Jika kita mengusirnya sekali dua kali saja, belum tentu dia langsung pergi. Apalagi jika pada saat itu kita sendiri dalam kondisi tak berdaya. Jadi yang harus kita lakukan adalah, menunjukkan bahwa kita lah sang pemilik rumah. Kita harus memperkuat diri kita. Kita harus berani mengusir. Buat dia tidak betah di rumah kita. Nanti lama-lama dia akan makin takut dan akhirnya kabur sendiri.

Nah, kira-kira begitulah perumpamaannya. Walaupun sudah diruqyah, tetapi kita tetap harus menjaga dzikir dan ibadah kita setiap hari karena setan tidak suka mendengar ayat-ayat Alquran. Setan dan jin akan menjadi lemah ketika mendengar kita membaca Alquran dan melihat kita beribadah. Lama-lama ia tidak akan betah dan akan pergi dengan sendirinya dari diri kita.

Jadi apa inti yang saya sampaikan dari penjelasan tersebut? Pada dasarnya segala dosa dan kesalahan kita barangkali bukan sepenuhnya salah setan. Kitalah yang barangkali memberi ruang bagi setan dan jin untuk mengganggu kita. Jika kita ingin terhindar dari gangguan jin dan setan maka kita juga harus berusaha untuk mendekat kepada Allah. Ruqyah itu bukan satu-satunya cara yang membuat setan pergi, tetapi ibadah dan kebaikan yang dilakukan konsistenlah yang membuat kita terhindar dari gangguan mereka.

Bicara tentang setan, saya akan memberikan sedikit rangkuman dari materi yang pernah saya dengar dari acara Inspirasi Iman TVRI, berjudul Bisikan Syaitan Penghambat Sukses. Ini adalah rangkuman yang sebenarnya sudah lama banget, tapi saya posting kembali agar bisa jadi pengingat bagi teman-teman dan diri saya sendiri. Apa saja hal-hal berkesan yang saya dapatkan dari acara tersebut? Berikut beberapa penjelasan yang bisa disimak.

  1. Setan punya banyak cara untuk menghalangi manusia dalam berbuat baik. Salah satunya adalah dengan membuat hati kita ragu untuk berbuat baik dan menghias amal buruk terlihat menjadi seakan baik.
  2. Siapa pihak yang tidak suka melihat manusia berbuat kebaikan? Tentu saja setan, karena sejak awal setan memang sudah minta ijin kepada Allah untuk menggoda manusia dan Allah pun sudah mewanti wanti agar kita  tidak tergoda oleh setan. 
  3. Ketika ingin memulai sesuatu janganlah takut dan minder. Gunakan kata “justru” sebagai kata sakti untuk menghalau hal tersebut.
Contohnya:
Saya gak pengalaman nih kayaknya gak mungkin bisa bikin usaha.
Tekankan pada diri sendiri kita,“JUSTRU karena belum pengalaman, maka saya harus memulai!”

Ah saya hanya anak kampung, gak mungkin kayaknya bisa menempuh pendidikan tinggi.
Tekankan pada diri sendiri, “
JUSTRU karena anak kampung, makanya saya harus bisa tunjukkan kalau saya juga bisa!”

Ah saya kan banyak dosa, kayaknya gak pantes ikut pengajian..
Tekankan pada diri kita, “
JUSTRU karena saya banyak dosa, makanya saya harus ikut pengajian!”

Jika kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah hal positif dan baik menurut Allah, maka abaikanlah kata “tapi” yang mungkin muncul pada saat kita ingin melakukannya.
Ah, tapi kan saya banyak dosa.
Ah tapi kan saya anak orang miskin.
Ah, tapi kan saya bodoh.

Jika kata "tapi" itu muncul ketika kita berniat untuk menjadi lebih baik, maka pastilah itu berasal dari bisikan setan. Janganlah ditanggapi serius,


Foto: Thoudy Badai/Republika.co.id


Ingatlah, akan selalu ada pertentangan antara setan dan malaikat. Akan selalu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Sebagai contoh, pada saat ada keinginan untuk bangun tahajud, mungkin ada bisikan seitan yang menggoda kita untuk tidur lagi. Bertaawudzlah dan seringlah berkumpul dengan orang-orang yang bisikannya akan sama dengan malaikat. Siapakah mereka? Merekalah orang-orang sholeh yang akan mendukung kita dalam melakukan kebaikan.

Ketika kita ingin memulai suatu usaha kebaikan, kemudian akan ada bisikan-bisikan yang membuat kita rendah diri dan ragu untuk memulai, tutup telingamu dan abaikan bisikan-bisikan setan itu. Kita adalah khalifah di muka bumi ini. Kita punya kontrol terhadap diri kita sendiri. Tentu terkadang ini tidak mudah, itulah kenapa kita harus pastikan diri kita dikelilingi orang-orang sholeh yang akan selalu mengingatkan kita untuk melakukan kebaikan. Yuk berdoa yuk, semoga kita dijauhkan dari gangguan jin dan setan yang ingin mengganggu. Saling mendoakan ya guys...! Semoga catatan pendek ini bisa bermanfaat.

Untuk acara lengkapnya, bisa teman-teman lihat disini ya.



View Post

Sumber Foto: https://www.melbournechildpsychology.com.au/



Persaingan kakak beradik barangkali menjadi sesuatu yang dialami semua orang terutama yang memiliki saudara. Benar atau tidak nih? Atau jangan-jangan tidak semua begitu? Kalau ada yang selalu rukun-rukun dengan kakak atau adiknya, wah saya salut ya karena memang walau bagaimanapun memang tak mudah untuk menghindar dari konflik antarsaudara.

Dulu, waktu kecil, saya suka sekali berkelahi dengan saudara laki-lakiku.. Berkelahinya ya benar-benar berkelahi fisik, pukul-pukulan, tendang-tendangan dan diantara kami pun tak ada yang mau mengalah. Uniknya, walaupun sering bertengkar, pertengkaran itu biasanya tidak berlangsung lama, karena setelah itu pasti sudah main-main lagi seakan tak terjadi apa-apa. Yah, namanya juga masih kecil kali ya, jadi segala sesuatu memang tidak mudah dimasukkan ke dalam hati. 

Dulu saat saya masih bekerja di  TPAM UI (Taman Pengembangan Anak Makara UI), ada beberapa kakak beradik yang sama-sama disekolahkan di TPA. Oleh karena itulah akhirnya saya pun bisa sedikit mengobservasi pola hubungan kakak beradik ini. Dari hasil obervasi sederhana saya waktu itu, saya menemukan sesuatu yang cukup menarik. Ternyata, apabila kakaknya berjenis kelamin perempuan dan adiknya berjenis kelamin laki-laki, ternyata hubungan mereka cenderung lebih akur lho! Bahkan si kakak sering kali bertindak sebagai "ibu" ketika mereka sedang berada di TPA. Kadang saya melihat kakaknya menyuapi adiknya makan, membacakan adiknya buku cerita, dan menasehati adik jika  adik melakukan kesalahan. Pokoknya sang kakak begiru mengayomi sang adik. Berbeda jika kakaknya laki-laki, biasanya sang kakak cenderung agak cuek dengan adik. Namun sayang sekali, subjek kakak beradik yang seperti ini tidak terlalu banyak di TPAM. Kebanyakan yang saya temui adalah kakaknya seorang perempuan. Tentu saja hal ini butuh penelitian lebih lanjut karena saya sendiri hanya mengobservasi sampel yang terbatas.


Nah, terkait hal ini saya ingin membahas sedikit tentang sibling rivalry ini. Pembahasan ini sebenarnya saya dapatkan dari buku dan dari kulwap yang pernah saya ikuti. Monggo disimak ya.

Apa itu Sibling Rivalry?



https://tiredmomsupermom.com/



Sibling rivalry adalah perasaan cemburu seorang kakak kepada adiknya. Sibling rivalry biasanya terjadi pada anak-anak usia balita. Jika seorang anak sedang mengalami kecemburuan, biasanya kita bisa melihat tandanya dari hal-hal berikut, yaitu : 
  • Bersikap lebih manja dan melakukan tindakan yang sifatnya mencari perhatian
  • Melakukan perilaku seperti adik bayi. Contohnya, tiba-tiba mengompol padahal sebelumnya sudah lulus toilet training. Berbicara dengan bahasa cadel atau meniru cara bicara bayi (padahal sudah bisa bicara dengan benar). Tiba-tiba ingin mengempeng dsb. Perilaku ini menunjukkan adanya regresi atau kemunduran yang disebabkan karena belum menerima kehadiran adik dengan sepenuhnya.
  • Melakukan perilaku yang agresif, misalnya memegang adik dengan kasar, memukul dan sebagainya.
Itulah tanda-tanda yang menunjukkan seorang kakak mengalami kecemburuan. Lalu apa yang membuat sang kakak bersikap seperti itu?

Kenapa Kakak Bisa Cemburu? Apa Penyebabnya?

Kehadiran anggota keluarga baru  bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran adik baru tentu membuat sang kakak membutuhkan penyesuaian. Tak hanya kakak sebenarnya, tapi orang tuapun juga demikian. Akibatnya terkadang sebagai orang tua, kita jadi tidak peka dengan kebutuhan kakak karena sudah sibuk dengan kebutuhan adik bayi. Padahal hal inilah kelak menjadi cikal bakal munculnya sibling rivalry. Lalu apa saja yang pada akhirnya memunculkan kecemburuan kakak?
  • Kebutuhan adik bayi yang menjadi prioritas
Tahu sendirikan bagaimana repotnya mengasuh bayi baru lahir. Sedikit-sedikit sudah menangis, sedikit-sedikit mengompol dan sedikit-sedikit sudah lapar. Akibatnya orang tua (terutama ibu) terkadang tak punya waktu untuk memberikan perhatian pada kakak. Rasa dikesampingkan dan kesan bahwa dia sudah tidak menjadi prioritas, menyebabkan sang kakak menjadi cemburu kepada sang adik.

  • Hilangnya Rasa Aman
Kehadiran adik bayi yang menyita perhatian orang tua menyebabkan sang kakak menjadi berpikir, "Adik sudah mengambil kasih sayang Ayah Bunda," 
"Ayah bunda sudah tak sayang aku,"
 "Ayah bunda tak peduli padaku." 


Tidak hanya kehadiran adik bayi yang menyebabkan anak mengalami silbling rivalry.

Selain karena faktor kelahiran adik bayi, ada beberapa hal lain juga yang menyebabkan munculnya sibling rivalry. Jadi kehadiran adik bayi memang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan timbulnya kecemburuan dalam diri anak. Penyebab lain yang dimaksud adalah sbb:


  • Adanya Keinginan Berkompetisi
Dalam masa perkembangannya, memang terkadang anak memiliki keinginan untuk berkompetisi dalam menunjukkan jati dirinya. Dia ingin menunjukkan minat dan bakatnya kepada orang lain. Hal itu ia lakukan untuk menunjukkan ekssitensi diri bahwa dia berbeda dengan saudaranya yang lain.

  • Orang Tua diaggap Tak Adil
Ada anggapan bahwa orang tua tidak adil dalam memberikan hak dan kewajiban kepada anak. Perassan semacam ini bisa saja dirasakan oleh adik, jadi tak selalu seorang kakak. Perasaan merasa diperlakukan tak adil membuat kakak atau adik menjadi cemburu kepada saudaranya sendiri.

  • Kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi
Misalnya perasaan seperti lapar, lelah, bosan, dan mengantuk membuat anak bisa lebih mudah untuk cranky dan frustrasi. Akibatnya anak terkadang bersikap tidak sesuai harapan. Misalnya jadi mudah marah, mudah berperilaku agresif , tantrum dsb. Oleh karena itu,orang tua sebaiknya memerhatikan agar kebutuhan fisiknya selalu terpenuhi.

  • Tidak Tahu Cara Berperilaku yang Benar 
Terkadang ada anak yang berperilaku agresif karena dia belum mengerti bagaimana cara menarik perhatian dengan cara yang positif. Akibatnya ia pun melakukan hal-hal yang terkesan nakal. Padahal, belum tentu dia bermaksud demikian. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan keluarga disekitarnya untuk memenuhi keburtuhan 
Beberapa pikiran semacam itu membuat sang kakak khawatir kehilangan rasa cinta dari orang tua. Ia merasa bahwa adik akan merebut perhatian orang tua darinya. Perasaan semacam inilah yang memunculkan perasaan tidak aman dan menyebabkan kakak mengalami kecemburuan.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar hal tersebut tidak dirasakan oleh kakak?

Pencegahan Sibling Rivalty:  Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?


http://edition.cnn.com/


Ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari sibling rivalry.

1. Pencegahan Saat Masa Kehamilan
  • Ajak kakak untuk mengenal calon adik bayi. Berikan ia kesempatan merasakan kehadiran adik bayi dalam perut ibunya.  Biarkan ia memiliki bonding dengan sang adik meskipun adik belum lahir supaya dia tak kaget dan sudah menyadari keberadaan adik sejak awal sebelum adik dilahirkan.
  • Libatkan sang kakak dalam mempersiapkan kehadiran adik bayi. Misalnya menyiapkan atau membantu melipat baju adik sesuai kemampuannya, menyiapkan mainan atau kamar tidur, dsb.
  • Ajak sang kakak mengobrol tentang kemungkinan hal-hal yang terjadi jika nanti adik telah lahir. Misalnya, mungkin ibu akan sedikit lebih sibuk dsb. Tapi pastikan bahwa Ibu tetap akan selalu sayang dan mencintai kakak walaupun mungkin kelak Ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik.
  • Ajak kakak melihat-lihat foto saat ia masih bayi supaya ia pun punya gambaran tentang bayi itu seperti apa. Bahwa dulu pun ia juga pernah melewati fase menjadi bayi. Kalau perlu ajak ia berkunjung ke tempat sahabat atau keluarga dekat yang baru melahirkan. Beri ia gambaran bahwa bayi itu makhluk yang lemah dan harus diperlakukan dengan lembur. Tumbuhkan rasa sayang kakak ketika ia melihat bayi agar kelak perasaan itu sudah tumbuh ketika adiknya kelak telah lahir.

2. Pencegahan Ketika telah Melahirkan
  • Jika memungkinkan ajak sang kakak untuk berkunjung ke rumah sakit agar ia bisa berkenalan dengan adik untuk pertama kali. Jika memang tidak bisa, cukup telepon atau video call untuk memperlihatkan adik bayi. Hal ini perlu dilakukan agar sang kakak tahu bahwa adiknya sudh lahir sehingga ketika bunda pulang ke rumah dia sudah tidak kaget lagi.
  • Minta tolong kepada anggota keluarga agar mengajak si kakak berjalan-jalan supaya ia tetap merasa diperhatikan.
  • Luangkan waktu dengan kakak (baik dari ayah ataupun bunda) setiap hari. Minta anggota keluarga lain untuk menjaga adik bayi ketika ayah atau bunda sedang bersama kakak.
  • Berikan hadiah kepada kakak atas nama adik. "Kak, ini hadiah dari adik untuk kakak,". Hal ini perlu dilakukan agar kakak tahu bahwa adik menyayanginya walaupun adik masih bayi.
  • Ketika ada tamu berkunjung untuk melihat adik bayi, berikan pesan kepada tamu untuk memberi perhatian kepada sang kakak juga. Sebagai tamu pun juga sebaiknya bisa memahami, akan lebih baik untuk memberi hadiah tak hanya untuk bayi tapi juga untuk kakak jika memungkinkan,
  • Ajak kakak bermain dan membantu memenuhi kebutuhan adik. Misalnya, meminta tolong mengambil popok, mengambilkan baju adik dsb disesuaikan dengan kemampuan kakak.
  • Buatlah sang kakak menjadi pahlawan didepan adik bayinya sehingga muncul kepercayaan diri dan perasaan merasakan dibutuhkan.
  • Lakukan intervensi ketika ia mulai melakukan tindakan agresi. Intervensi dengan menanyakan perasaanya, apa yang sebaiknya kakak lakukan ketika bersama adik dan alasan kenapa ia melakukan tindakan agresif. Tanyakan dengan lembut dan dipeluk. Jangan sampai kita terkesan menyalahkan atau bahkan langsung memarahinya.

3. Pencegahan Secara Umum
Jika hal-hal diatas terkait dengan pencegahan pada kasus kecemburuan akibat kelahiran adik bayi, maka hal berikut merupakan sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemburuan antarkedua belah pihak yaitu adik dan kakak. Seperti yang kita ketahui, kecemburuan juga bisa saja dialami adik, tak hanya dilakukan oleh kakak. Jadi hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi sibling rivalry antarsaudara, yaitu:

  • Luangkan waktu berkualitas untuk masing-masing anak secara adil
  • Berdiskusi dengan anak secara rutin terkait apa yang mereka rasakan.
  • Beri anak kesempatan untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri. Bertindaklah sebagai pengawas yang berada pada posisi netral diantara keduanya.
  • Ajari anak untuk berkompromi dan bimbinglah mereka menemukan solusi.
  • Membandingkan adalah sesuatu yang bersifat alamiah dan kadang tak bisa kita hindari. Tapi usahakan jangan membandingkan di depan anak. Tetap tunjukkan cinta tanpa syarat. Cinta yang berarti menerima diri anak apa adanya, tanpa embel-embel anak dituntut harus begini dan begitu.
Nah selain hal-hal tersebut, ada sebuah buku yang pernah saya baca berjudul "Mengapa Anakku Begitu?" ditulis oleh Dr. Richard C. Woolfson. Buku ini menjelaskan tentang beberapa tahapan  sibling rivalry dari berbagai tahapan usia. Setiap tahap usia ternyata memiliki bentuk konflik antarsaudara yang berbeda. Nah berikut penjelasan yang disampaikan dalam buku tersebut. Silakan disimak ya.

Sibling Rivalry Bersdasarkan Tahapan Usia :

  1. Usia 1-2 tahun : Anak sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Ia hanya tertarik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sekarang juga. Ini berarti, persaingan antarkakak-beradik belum terlalu kuat karena ia masih sangat memikirkan dirinya sendiri sampai-sampai belum memikirkan keberadaan kakak atau adiknya.
  2. Usia 2-3 tahun : Pada umumnya, anak berusia 2 tahun merasa dirinya paling penting. Ia menganggap dirinya adalah pusat perhatian dan kemarahannya sering meluap saat ia tahu bahwa ia tidak menjadi pusat perhatian. Bayangan akan kehadiran bayi baru akan mengguncang kestabilan emosinya dan memicu rasa cemburu terhadap kedatangan si adik. Kakaknya akan menganggap si adik adalah makhluk yang sangat menyebalkan.
  3. Usia 3-4 tahun : Di usia ini, anak memiliki pendapatnya sendiri, apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka. Ia tidak mau orang lain mencampuri rencananya. Karena itu, ia merasa adiknya sangat mengganggu dan mengancamnya. Perhatian orang tua padanya tidak cukup membuatnya tenang. Ia juga tidak mau diperintah kakaknya walaupun apa yang diharapkan kakaknya sebenarnya masuk akal.
  4. Usia 4-5 tahun : Hubungan kakak beradik berubah pada masa ini. Ia tidak lagi merasa terganggu oleh kehadiran adik baru. Anak sulung akan lebih positif pada tahap ini dan ia ingin adiknya mengagumi dan menghargainya. Ia akan mencoba memberi contoh yang baik. Sebaliknya, sang adik pada usia ini akan mencontoh kakaknya dan mengakui prestasinya walaupun tindakan ini dapat saja memacu dirinya atau malah sebaliknya, tanpa sadar membuatnya membenci kakaknya.
  5. Usia 5-6 tahun : Sekolah mengubah kehidupan anak usia 5 tahun. Ia sekarang memiliki dunianya sendiri yang terstruktur, yang membuka peluang baginya untuk berteman dengan anak lain di luar anggota keluarga. Ini akan membuatnya lebih toleran terhadap adiknya. Pada usia ini, biasanya si kecil sangat menghargai figur kakak karena ia dapat menarik pelajaran dari pengalaman dan petunjuk yang disampaikan sang kakak seputar dunia sekolah.
  6. Usia 7-8 tahun : Ia sudah benar-benar nyaman di sekolah dan memiliki teman-temannya sendiri yang sangat ia hargai. Gangguan dari adiknya biasanya tidak ia hadapi dengan cara seperti sebelumnya. Saat sedang bersama temannya, ia menganggap adiknya memalukan  bukan menggemaskan! Pada situasi tertentu, anak usia 8 tahun mungkin akan meminta pertolongan kakaknya karena ia tahu sang kakak bisa diandalkan.

Nah itulah beberapa penjelasan yang berkaitan dengan sibling rivalry. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membantu para orang tua memahami anak di rumah. Jangan lupa selalu doakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak-anak sholih/ah yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Thanks for reading this short article... See u next time... :)


Sumber Referensi:
Materi Kulwap dari Rumah Dandelion Berjudul "Sibling Rivalry", yang disampaikan Binky Paramitha I., M.Psi., Psi..

Woolfson, Richard.C. 2005. Mengapa Anakku Begitu?. Jakarta: Erlangga Kids. 



View Post