Review ini sebenarnya sudah lama saya tulis tapi saya baru update kembali. Biasanya saya suka mereward diri sendiri dengan menonton film atau drama. Saya lagi senang-senangnya melihat film atau drama jadul yang pernah saya tonton waktu kecil karena memberikan kesan tersendiri untuk saya.

Salah satunya adalah film ini. Film ini berjudul Edward Scissorhands dan pertama kali dirilis tahun 1990 (walaupun saya tak terlalu ingat kapan film ini mulai diputar di televisi Indonesia). Ini bukan pertama kalinya saya menontonnya. Saya pernah menonton film ini sewaktu saya masih SD sebenarnya. Sayangnya waktu itu saya tidak bisa nonton sampai habis, karena besoknya harus sekolah dan kebetulan saat itu filmnya dipotong oleh siaran "Dunia dalam berita" di TVRI (hayoo, anak-anak 90an pasti tahu deh dengan siaran berita ini, hihi).

Saya masih ingat sekali waktu itu filmnya ditayangkan di layar emas RCTI, hari Kamis malam. Sebenarnya saya pun tidak begitu ingat saat itu ceritanya tentang apa, bahkan nama tokoh utamanya pun saya lupa. Yang jelas ada beberapa scene menarik yang tak bisa saya lupakan yaitu tentang seorang laki-laki dengan tangan gunting, sebuah taman-taman indah, dan adegan ketika laki-laki tersebut memecahkan tempat tidur yang berisi air (entah kenapa saya selalu teringat bagian tempat tidur ini, berkesan sekali buat saya karena saya baru pertama kali melihat tempat tidur berisi air.. haha).

Ketika saya sudah dewasa, saya pun mencari-cari film ini karena saya masih penasaran dengan ceritanya. Masalahnya saya gak tahu judulnya sehingga saya sempat kesulitan juga waktu itu mencari tahu tentang film ini. 

Saya mulai tahu judul film ini ketika ada liputan tentang Johny Depp. Disitu ditampakkan tentang tokoh-tokoh yang pernah dia mainkan dalam film, lalu terlihatlah sosok "Edward" ini. Omg! Ini dia filmnya! Saat itu saya benar-benar baru tahu kalau yang memerankannya adalah Johny Depp! Saat dia menjadi tokoh ini, dia menggunakan make up yang membuatnya berbeda dengan wajah aslinya.

Saya lalu mencari film ini di internet. Memang tak mudah ya menemukan film jadul. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah situs film streaming yang menyediakan film ini. Saya pun langsung nonton karena ini adalah film yang belum terselesaikan buat saya! Film yang waktu itu masih ingin saya tonton saat masih kecil! Film yang sangat berkesan karena ada tempat tidur airnya (haha...). Dan saya pun tak sabar ingin tahu lebih lanjut tentang cerita film ini.

Film Edward Scissorhands ternyata diproduseri oleh Tim Burton dan rekannya. Saya pernah menonton dua karya Tim Burton sebelumnya dan satu kata dari saya untuk karyanya. SURAM. Saya tidak bilang karyanya buruk, tetapi Tim burton sering menceritakan sisi gelap tentang suatu hal dengan sudut pandang jenaka. Jadi lebih tepatnya sih bukan hanya suram ya, tapi SURAM, MENARIK dan JENAKA. Menurut saya ketiga kata tersebut lumayan mencerminkan karya Burton, termasuk pada karyanya yang  satu ini.

Berkisah tentang apa?


Gambar : duniasinema.com

Jadiii... Film ini berkisah tentang seorang ilmuwan yang  membuat penemuan yang belum sempurna. Ia menciptakan seorang laki-laki yang belum memiliki tangan seutuhnya. Ilmuwan itu memberi nama ciptaannya, Edward dan ia pun menyayangi Edward seperti keluarga. Sayangnya sebelum ilmuwan tersebut bermaksud mengganti tangan Edward, sang ilmuwan itu keburu meninggal dunia. Semenjak itulah, Edward pun memiliki tangan gunting untuk selamanya. Ia pun tinggal sebatang kara di sebuah kastil tua yang dianggap angker oleh penduduk sekitar.

Hingga pada suatu hari, Edward scissorhands bertemu seorang ibu-ibu penjual make-up  bernama Peg Boggs. Si ibu ini  agak nekad dan kalau dipikir pikir sedikit "gila" karena berani masuk kastil itu sendirian hanya karena ingin menjual make up. Namun, "kegilaan" ibu ini justru membuka kehidupan baru bagi Edward si tangan gunting. Ia berkenalan dengan Peg dan Peg pun (yang ternyata baik hati itu) mengajak Edward tinggal di rumahnya. Inilah awal mula cerita ini sesungguhnya. 

Gambar: huffpost.com

Edward yang awalnya dianggap aneh dan ditakuti orang karena penampilan fisiknya yang sangat berbeda, pelan-pelan mulai berkenalan dan diterima oleh lingkungan barunya tersebut. Ia bahkan memiliki kemampuan mengagumkan yaitu bisa merapihkan dan membentuk rumput jadi bentuk lucu dan artistik. Ia juga dipercaya para ibu untuk  menggunting rambut ataupun bulu hewan peliharaan dengan menakjubkan. 

Sumber gambar : intofilm.org

Banyak yang akhirnya menyukai Edward. Edward pun terlihat senang karena merasa bisa membantu banyak orang dengan keahliannya. Sekalipun tangannya tajam dan bisa memotong banyak hal, Edward tak pernah menyakiti atau melukai siapapun dengan tangannya tersebut.

Gambar: filmmisery.com

Hingga kemudian konflik mulai  terjadi. Edward Scissorhands dituduh mencuri hanya karena menuruti keinginan pacar Kim (Kim merupakan anak perempuan dari Ibu Pegg). Edward yang sebenarnya menaruh hati pada Kim terpaksa berbohong dan mengakui dia sebagai pencuri. 

Konflik pun masih terus berlanjut hingga menyebabkan Edward semakin terpojok. Ia bahkan terpaksa melukai orang yang disayanginya dengan tak sengaja. Edward akhirnya dianggap monster dan dikucilkan warga sehingga Edward pun tak tahan dan ia terpaksa kembali ke kastilnya. Akhir cerita film ini sebenarnya tidak selesai sampai disitu dan saya pun tidak akan menceritakan lebih lanjut jadi kalau penasaran nonton aja sendiri.. hehe.. 

Insight Film

Ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan terkait film ini dan mungkin juga penting untuk dipahami para orang tua. Pertamalingkungan itu memang sangat mempengaruhi hidup dan karakter seseorang. Saya tak habis pikir bagaimana jika seandainya orang yang pertama kali menemukan Edward adalah orang jahat, bukan Ibu Peg Boggs yang notabene orang baik hati? 

Bagaimana seandainya Edward dibuat oleh ilmuwan psikopat, bukan ilmuwan baik yang menyayangi Edward? Saya rasa Edward akan tumbuh menjadi monster yang sangat mengerikan. Bayangkan, sekali sentuh saja orang-orang bisa terluka karena tangan guntingnya yang tajam. 

Gambar : microsoft.com

Nah, di film ini Edward justru dipertemukan oleh orang-orang yang baik sehingga Edward yang polos pun menjadi sosok orang yang baik juga, sekalipun awalnya mungkin banyak orang merasa aneh dan takut saat pertama kali melihatnya. Begitu pula dengan anak-anak kita, betapa pentingnya anak-anak dikelilingi orang-orang baik yang  dapat memberikan pengaruh positif. Pada dasarnya keluarga, teman dan orang-orang disekitar anak memang bisa memengaruhi karakter dan sikap anak. Jadi penting sekali bagi orang tua untuk bisa membimbing anak menemukan lingkungan dan pergaulan yang tepat.

Kedua, saya juga mengaitkan tokoh Edward pada kondisi anak berkebutuhan khusus. Edward adalah sosok yang  dianggap "berbeda" dari orang lain padahal ia adalah sosok yang spesial. Dengan "keunikan" yang ia miliki, ia diberikan kepercayaan dan kesempatan oleh orang terdekatnya untuk menggali potensi dan minatnya sendiri. Jadi, sekalipun kondisinya berbeda dengan orang kebanyakan, ia tetap bisa berkembang dan menjadi orang bermanfaat bagi sekitarnya. 

Seperti halnya dengan Edward si tangan gunting, ternyata ia memiliki bakat seni yang mengagumkan. Ia bisa membua karya yang indah dengan mengubah rumput dan pohon menjadi berbagai bentuk.  Saya pikir mungkin itulah yang harus kita lakukan terhadap anak-anak , baik itu ABK atau bukan. Seharusnya mereka juga diberikan kesempatan dan peluang untuk menggali kemampuan dan minat mereka sehingga mereka juga bisa berkembang dan bisa mandiri. 

Contohnya saja dalam kasus ABK, saya pernah membaca sebuah artikel tentang seorang perempuan down syndrome. Sekalipun dengan keterbatasan yang ia miliki ternyata ia tetap bisa sukses dengan menjalani profesinya sebagai seorang designer. Hasil karyanya pun juga sangat menakjubkan. Ketika melihat foto karyanya, saya pikir orang yang dianggap normal saja belum tentu bisa melakukan apa yang ia lakukan. 

Intinya, setiap anak itu fitrahnya baik. Setiap anak manusia  itu pasti punya kelebihan apapun kondisinya. Oleh sebab itu, keluarga dan lingkungan terdekat haruslah menjadi orang pertama yang percaya pada kemampuan mereka. Orang tua hendaklah menjadi supporter bagi anak-anak agar anak-anak kita bisa berkembang sesuai fitrah kebaikannya supaya kelak mereka bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain *self reminder.

My Rating

Saya beri rating 7/10 untuk film Edward Scissorhands dengan segala insight yang saya dapatkan. Kalau di IMDb film ini juga mendapatkan rating cukup tinggi yaitu 7.9/10 . Bagi yang mau nonton, silahkan nonton. Oh iya, film ini menurut saya lebih baik ditonton untuk usia 20 tahun ke atas karena tetap ada adegan percintaan yang baiknya tidak diperlihatkan ke anak-anak dan remaja.

Sekian review film kali ini. Alhamdulillah rasa penasaran di masa kecil sudah tertunaikan, hihi...








View Post
Tulisan ini merupakan hasil rangkuman dari diskusi saya dengan teman-teman di komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Tema yang dibahas ini terkait dengan peranan keluarga dalam menguatkan fitnah seksualitas. 

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit terkait sebuah postingan tentang seks di sebuah akun media sosial. Dalam postingan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang dilempar kepada netizen terkait "Kapan kalian mulai mengetahui tentang seks?"

Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan. Rata-rata yang menjawab mengatakan bahwa mereka mengenal seks sejak mereka SD. Ada juga yang mengaku telah melakukan hubungan intim di saat masih remaja dan semua itu dipicu oleh keingintahuan mereka tentang seks tersebut. 

Pada awalnya, mereka sempat bertanya kepada orang tua terkait topik itu, tapi tanggapan ortu mereka ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ada yang marah, ada yang tidak mau membahas dll. Akibatnya apa? karena merasa tidak puas dengan reaksi orang tua, anak-anak itu malah mencari informasi sendiri lewat internet. Masalahnya di internet pun mereka jusru malah menemukan sumber yang salah, sehingga keingintahuan mereka itu justru mengarah ke hal negatif.

Ada juga remaja perempuan yang menjual foto dirinya dan melakukan video tak senonoh. Orang tua mereka tak pernah tahu akan hal itu. Mereka hanya tahu anak-anaknya adalah anak baik dan  penurut padahal kenyataannya banyak hal  yang mereka tutup-tutupi dihadapan ortu mereka sendiri.

Ketika saya membaca postingan tersebut, saya menyadari betapa pentingnya keterbukaan dan bonding yang kuat antara orang tua dan anak. Hal itu penting ditumbuhkan supaya anak-anak tidak segan menceritakan tentang apa yang mereka rasakan dan yang ingin mereka ketahui. Orang tua juga semestinya tidak langsung menjudge, meremehkan atau menghindar, agar anak-anak merasa nyaman ketika mereka ingin bertanya sesuatu. 

Gambar: istockphoto.com

Salah satu poin penting juga yang kadang luput diajarkan oleh orang tua adalah orang tua lupa mengajarkan sejak dini tentang sex education. Sex education ini penting untuk diajarkan  supaya mereka tahu batasan-batasan atau hal-hal yang perlu dihindari atau diketahui terhadap tubuh mereka sendiri. 

Nah, diskusi yang saya lakukan bersama teman-teman saya tersebut adalah membahas tentang fitrah seksualitas dalam rangka sex education pada anak-anak sejak dini. Menurut saya kedua topik itu berkaitan karena pendidikan seks itu melingkupi hal yang luas. Jika membahas fitrah seksualitas maka akan beririsan dengan sex education, karena anak-anak akan diajari tentang aurat dan batasan-batasan dalam pergaulan dan penguatan peran gender. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang bisa saya bagikan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Apa itu Fitrah Seksualitas?

Gambar: istockphoto.com

Menurut Ustadz Harry Santosa Alm., Fitrah seksualitas itu terkait dengan bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. Untuk menguatkan fitrah seksualitas pada anak, sangat dibutuhkan peranan dan ikatan dengan ayah dan ibunya.

Berbeda dengan istilah sosialisasi gender, menurut lembaga koalisi perempuan, sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku. 


Seberapa Penting Fitrah Seksualitas Perlu Dibangkitkan?

Jawabannya adalah sangat penting, karena jika fitrah ini tidak dikuatkan sejak kecil, maka bisa terjadi penyimpangan yang membuat anak mengalami gangguan kejiwaan, penyimpangan orientasi seksual, dan masalah terhadap lingkungan sosialnya. Namun ada beberapa tantangan yang menyebabkan fitrah seksualitas ini tidak tersosialisasikan dengan baik yaitu:

1. Pemahaman Orang Tua yang Masih Rendah

Orang tua kurang memahami urgensi tentang penguatan fitrah seksualitas sehingga isu ini tidak pernah diperkenalkan kepada anak di rumah. Selain itu, kurang terbentuknya bonding dengan anak menyebabkan adanya sekat yang membuat anak maupun orang tua merasa enggan untuk membahas ini lebih lanjut. 

Hal ini bisa menyebabkan peran gender yang harusnya di edukasi sejak dini tidak tersampaikan dengan baik sehingga membuat adanya missing link pada anak tentang pemahaman dirinya terkait gendernya sendiri. Padahal memberikan pemahaman dan contoh terkait peran gender ini harusnya menjadi tanggung jawab  para orang tua. 

Selain itu, para orang tua masih belum terbuka dan malu-malu dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks pada anak, seolah-olah sex education hanya bicara tentang hubungan badan. Padahal pendidikan seksualitas bukan hanya bicara tentang seks semata tapi juga menyangkut hal lain yang lebih luas misalnya tentang peran gender dan anggota tubuh yang perlu dilindungi dari tindak kejahatan seksual. 

2. Teknologi yang Terus Berkembang 

Hal ini bisa kita lihat terutama dalam arus informasi yang sangat cepat dan banyak. Jika orang tua tidak memberikan bimbingan dan tidak membersamai anak dalam menyaring informasi, maka bisa jadi anak menemukan informasi yang salah terkait peran gender dan hal yang terkait topik seks edukasi. Apalagi sekarang banyak pemikiran sekuler yang keluar jalur dan membuat fitrah seksualitas menjadi abu-abu. Lalu apa yang harus dilakukan para orang tua?

Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding (lagi-lagi bonding ya) dengan anak sejak dini. Jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran gendernya. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, ayah bisa mengajak anak laki-lakinya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan-pelan tentang aurat, cara bersikap  dsb. 

Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak baik a yah dan ibu. Ketika kecil, biasanya anak-anak  lebih dekat dengan ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. 

Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa  belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan  belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah. 

Gambar: pexels.com/Katie E

Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan memiliki kedekatan dengan ayahnya, maka kemungkinan dia akan tumbuh menjadi perempuan yang penuh percaya diri dan berprestasi. Ia kelak juga tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang apalagi mudah terbujuk rayuan laki-laki.

Itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan yang baik dengan ortu mereka hingga mereka dewasa. 

Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak. Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan  dan  penyuluhan  terkait peran gender pada anak didiknya. 


Kesimpulan 

Gambar: istockphoto.com

Tugas  orang tua itu tidak pernah bisa tergantikan dalam mentransfer dan mengenalkan nilai dan keyakinan pada anak. Termasuk dalam hal fitrah seksualitas ini. Saya percaya bahwa jika orang tua tidak mengenalkan fitrah seksualitas dengan benar, maka akan terjadi kesalahan identifikasi diri dalam diri anak yang berakibat pada penyimpangan orientasi seksual, gangguan jiwa dan penyimpangan dalam interaksi sosial dan agama. Mudah-mudahan para orang tua dan termasuk saya sendiri memahami urgensi pengenalan fitrah anak ini agar kedepannya kita bisa menciptakan generasi yang lebih baik, berprestasi dan bermartabat. Aamiin.



View Post
Gambar : pixabay.com/Peggy_Marco


Saat ini saya sedang membaca buku yang membahas tentang jiwa merdeka. Sebenarnya saya ingin merangkum buku itu dalam rangka peringatan hari kemerdekaan Indonesia hari ini (Dirgahayu Indonesiaku!!), namun sayangnya saya belum selesai membacanya karena selama dua hari kemarin badan meriang akibat selesai vaksin. Jadi rencana pun gagal sudah.

Ada poin menarik yang saya dapatkan dari buku tersebut, bahwa jika kita ingin memiliki jiwa merdeka maka terlebih dahulu kita harus mengenal diri kita sendiri. Kita harus tahu apa kekurangan dan kelebihan kita. Kita juga harus bisa memahami potensi dan bakat kita ada di bidang apa. Kita harus tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa harapan kita kedepannya.

Intinya, kita harus mengenal diri kita sepenuhnya. Dengan begitu kita bisa bergerak menjadi sosok yang merdeka. Jika kita sendiri bingung dengan jati diri kita, maka kita akan terombang-ambing dengan kehidupan kita di masa yang akan datang. Kita tidak punya tolak ukur, prinsip, visi dan misi hidup. Lalu bagaimana kita bisa menjadi jiwa yang merdeka jika kita masih bingung akan diri kita sendiri?

Lalu apa yang Harus Kita Lakukan agar Bisa Mengenal Diri Sendiri?

Gambar: pixabay.com/revcodes

Hal utama yang perlu kita lakukan dalam mengenal diri sendiri adalah melakukan penerimaan. Penerimaan itu sama dengan kesediaan kita dalam menerima bakat, kemampuan dan menyadari keterbatasan diri kita sendiri. Orang yang bisa menerima dirinya biasanya dia akan memiliki kepercayaan diri. Dia juga sudah bisa mencintai dirinya dan bisa memahami bahwa memang tidak ada yang sempurna, termasuk diri kita sebagai manusia. 

Penerimaan diri akan memudahkan kita mengenal diri kita sepenuhnya.  Mengenal diri sendiri sebenarnya memang membutuhkan proses. Kita tidak bisa membuat deadline atau target ketika kita berusaha mengenal diri kita yang sebenarnya. Segala proses kehidupan, pengalaman dan sikap kita dalam menghadapi sesuatu adalah bagian dari proses kita menemukan diri sendiri dan terkadang memang itu butuh waktu. Jalani saja hari ini sambil belajar memahami  diri dari setiap proses yang terjadi.

Saya sendiri pun masih berproses dalam mengenal diri sendiri. Untuk saat ini upaya pengenalan diri saya adalah dengan berusaha untuk fokus pada hal-hal yang membuat saya bahagia, apalagi saya adalah seorang ibu dari tiga puteri yang saya sayangi. Kalau kata orang, seorang ibu itu harus bahagia karena ia bisa menularkan kebahagiaan itu kepada seluruh keluarganya. Dan saya pikir, itu ada benarnya juga. 

Saya sebenarnya tidak butuh me time yang ribet-ribet. Ga perlu harus dinner ke restoran, harus nonton ke bioskop, harus pergi liburan kesini dan kesitu untuk bisa bahagia (ah yang bener? hehe). Walaupun kalau misalnya dikasih kesempatan begitu ya alhamdulillah, kalau pun tidak ya nggak masalah karena pada dasarnya saya memang lebih suka dirumah. 

Saya hanya ingin punya waktu untuk menekuni hobi (salah satunya menulis) tanpa perlu diganggu oleh siapapun atau apapun. Itu saja. Dan kadang untuk itu pun masih sulit untuk dijalani. Makanya ketika punya waktu untuk menulis dengan tenang, itu sudah menjadi semacam privilege tersendiri yang harus saya syukuri.


Gambar : pixabay.com/ulleo


Sejak awal, resolusi yang ingin saya lakukan tidaklah muluk-muluk. Saya hanya ingin konsisten untuk menulis karena menulis adalah salah satu upaya untuk semakin mengenal kemampuan diri saya sendiri. Saya menyadari bahwa setiap kali menulis saya menjadi bersemangat dan bahagia. Saya juga mulai mengikuti lomba-lomba ataupun sekedar berbagi tulisan di blog pribadi dan sosial media.

"Write only what you love, and love what you write. The key word is love. You have to get up in the morning and write something you love, something to live for". (Ray Bradbury) 

Ada tema-tema menulis yang membuat saya senang ketika menuliskannya, misalnya saja tema tentang mengenal diri dan tema tentang kenangan masa kecil. Dulu saya pernah menulis tentang pengalaman saya sewaktu kecil. Ketika menuliskan itu entah kenapa saya merasa begitu bahagia. 

Saya seakan  ditarik ke masa lalu yaitu ke masa-masa yang begitu berkesan dalam hidup saya dan efeknya ternyata  sangat menyenangkan. Saya tak menyangka bahwa saya akan merasa sebahagia itu hanya dengan menulis. Menulis tentang hal yang kita sukai ternyata bisa membawa efek seperti itu. 

Pernyataan bahwa writing is healing sepertinya ada benarnya ya. Tidak harus selalu tentang writing sebenarnya, ada juga orang yang melakukan healing dengan melakukan aktivitas lain, seperti berkebun, memancing, traveling, memasak dsb. Tak masalah. 

Itulah pentingnya kita mengenal diri kita sendiri agar kita bisa melakukan healing yang tepat dan mewujudkan bahagia dengan cara kita masing-masing.
Semoga kita bisa terus belajar untuk mengenal diri ya. Dengan semakin mengenal diri, maka kita akan semakin mudah untuk bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Yuk semangat memerdekakan jiwa dengan semakin mengenali diri kita..💓


View Post

Penulis : Hafidz Muftisany
Judul : Fikih Keseharian "Ucapan Tahun Baru Hijriyah Hingga Hukum Parfum Beralkohol"
Penerbit : CV. Intera
Tahun Terbit : 2021 (terbit digital)
Koleksi  : Ipusnas


Ini adalah buku yang hanya terdiri dari 35 halaman. Cukup singkat ya dan penjelasannya pun mudah dipahami. Saya sendiri memang lebih suka buku nonfiksi yang tipis dan tak terlalu banyak karena kalau terlalu tebal malah keburu malas bacanya karena saya bukan pecinta buku nonfiksi hehe.. Apalagi jika pokok bahasannya serius.

Buku ini menjelaskan tentang beberapa hal yang kerap dipertanyakan atau mungkin diperdebatkan beberapa kalangan, misalnya tentang hukum mengucapkan selamat tahun baru, hukuman mati untuk koruptor, terkait amil zakat dan hukum menggunakan parfum beralkohol. Dalam buku ini juga disampaikan beberapa perbedaan pendapat antarulama dalam menghukumi suatu masalah.



Menurut saya buku ini cukup  bagus karena dapat menjadi tambahan wawasan terutama bagi kita yang belum tahu tentang permasalahan tersebut. Yang saya suka juga buku ini menyertakan beberapa pendapat ulama, sehingga kita sebagai pembaca bisa melihat suatu permasalahan terkadang memiliki perbedaan pendapat dan itu hal yang lumrah. 

Oleh karena itu, sudah sebijaknya jika kita tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang bersifat fiqih karena saya yakin para ulama tersebut sudah mempertimbangkan dengan baik ketika memutuskan suatu hukum perkara di masa sekarang. Jangan sampai karena kita memilih pendapat yang berbeda, kita jadi meremehkan pendapat orang lain. Padahal masing-masing sebenarnya memiliki hujjah sendiri.

Nah, aku juga akan mencoba sharing terkait isi buku ini. Rangkuman singkat ini hanyalah terdiri dari beberapa poin saja. Jika ingin membacanya lebih lanjut, silakan baca bukunya sendiri yaa.. hehe.


Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, Sunah atau Bid'ah?


foto: freepik.com

Pada dasarnya memang ada kalangan ulama yang melarang mengucapkan selamat tahun baru, terutama dikalangan ulama Arab Saudi. Misalnya saja Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau memang melarang mengucapkan selamat tahun baru, tapi tidak mengapa untuk membalasnya, asal jangan diri kita yang memulai mengucapkan.

Ucapan selamat tahun baru pun tidak dibalas dengan mengucapkan selamat tahun baru juga. Tapi cukup kita balas dengan doa seperti, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan kebarkahan di tahun ini,".

Menurut beliau, tidak ada penjelasan terkait ucapan selamat tahun baru, kecuali untuk pengucapan selamat hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Walaupun demikian, beliau tidak menyatakan itu sebagai sebuah dosa. Hanya memang tidak ada sunnahnya dalam hadist Nabi maupun atsar para sahabat. Sebagian ulama lain, seperti Syekh Abdul Karim Al-khudair membolehkan ucapan selamat karena tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan kepada sesama muslim SELAMA doa dan ucapan itu tidak diyakini sebagai ibadah khusus dalam peristiwa tertentu.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Al-Hafidz Abu Hasan Al-Maqdisi. Menurutnya itu termasuk perkara mubah atau dibolehkan. Jadi, apapun yang kita pilih dari semua pendapat tersebut jangan membuat kita berlaku sombong pada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Kalau kalian ingin mengucapkan selamat tahun baru, silakan. Jika tidak ya monggo. Kalau saya pribadi termasuk yang mengambil sikap seperti Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Jadi saya memilih untuk tidak ikut mengucapkan selamat tapi juga tidak mempermasalahkan jika ada yang memilih sikap berbeda.

Hukuman Mati untuk Koruptor


foto : worldbank.org


Ulama NU di forum Bahtsul Masail menjelaskan bahwa korupsi termasuk perbuatan pengkhianatan berat terhadap amanah rakyat yang diberikan kepadanya. Jika dilihat dari perilaku dan dampaknya, maka itu termasuk kepada pencurian dan perampokan.

Dalam kitab Syarh Matan Sullam Al-Tawfiq, dijelaskan bahwa pencurian itu termasuk dosa besar karena telah  mengambil hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Padahal ada hadist yang menjelaskan bahwa Allah melaknat pencuri sebiji telur dan seutas tali yang mengakibatkan tangannya dipotong. Di zaman itu harga telur dan tali sebesar tiga dirham. Kalau dihitung sekarang nilai 1 dirham itu sekitar 4 ribu rupiah (jadi bayangkan saja, mencuri 4 ribu rupiah bisa menyebabkan kehilangan tangan, apalagi koruptor yang mencuri sampai ratusan juta hingga triliyunan.. astaghfirullah.. :( )

Dalam forum NU tersebut, para ulama sepakat bahwa mereka tidak melarang hukuman mati terhadap koruptor. Dasar pengambilan hukumnya diambil dari uraian Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-fiqh Al-islami wa Adillatuhu yang menyebutkan, boleh menjatuhkan hukuman mati atas mereka yang melakukan tindakan kriminal berulang-ulang, para pecandu minuman keras dan tindak kejahatan yang mengancam keamanan  negara. Sekalipun pelaku mengembalikan uang negara tersebut, tetap tidak menghilangkan hukuman.

Siapa yang disebut Amil Zakat?


foto : shutterstock via dream.co.id


Sayyid Sabiq berkata bahwa amil zakat adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang kaya. Abu Bakar al-Hushaini menyatakan bahwa amil zakat adalah orang yang ditugaskan negara untuk mengambil zakat lalu menyalurkannya kepada yang berkah menerimanya.
Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan bahwa amil adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengambil zakat dari orang yang berkewajiban. Al Syairazi dalam al-Muhadzdzab menambahkan bahwa amil mendapat bagian zakat sebagai upah sesuai kewajaran.

Jika menilik pendapat MUI soal dana operasional untuk amil, MUI mengharuskan pemerintahlah yang menyediakan dana operasional untuk amil zakat. Jika dana yang disediakan pemerintah tidak cukup, maka bisa mengambil dari dana zakat sebagai upah dalam batas kewajaran. Amil juga tidak boleh menerima bagian zakat jika ia sudah digaji oleh negara atau lembaga swasta. 

Hukum Parfum Berakohol


kai.or.id


Jumhur ulama berpendapat bahwa alkohol itu najis. Jadi mereka menyatakan bahwa pakaian yang dikenai parfum beralkohol tidak boleh dipakai untuk sholat karena nanti sholatnya tidak sah. Namun, ulama kontemporer memiliki pendapat berbeda. Muhammad Rasyid Rida dalm kitab tafsirnya Al Manar mengatakan bahwa belum tentu sesuatu yang diharamkan dalam syarak tetapi tidak najis. Misalnya saja, hewan seperti kucing. Kucing haram untuk dimakan, tapi ia bukan binatang najis. Qiyas pun berlanjut pada alkohol.

Khamr haram untuk dikonsumsi tapi tidak najis untuk disentuh. Hal ini terkait dengan para sahabat, ketika mengetahui bahwa khamr adalah haram, mereka lalu menghancurkan kendi-kendi berisi khamr dan membuangnya di jalanan. Jika memang khamr itu najis, pastilah para sahabat tidak akan membuangnya di sembarang tempat apalagi di jalanan yang notabene adalah tempat orang lewat. Jadi, khamr tidaklah najis.

Saat ini alkohol juga dipakai untuk tujuan-tujuan positif, misalnya saja dalam dunia medis. Dan ada beberapa kondisi ketika alkohol tidak menjadi haram, karena jika diharamkan akan menyebabkan kesulitan bagi umat manusia.

Para ulama kontemporer lebih sependapat bahwa alkohol tidak najis. Hal ini juga didukung ilmu farmasi yang menyatakan bahwa derivat alkohol pada parfum berbeda dengan alkohol yang digunakan pada khamr.

LPPOM MUI juga menegaskan bahwa alkohol atau etanol yang digunakan pada parfum tidak sama dengan khamr jenis minuman yang memabukkan. Penggunaan alkohol yang bersumber dari fermentasi non-khamr selama tidak digunakan untuk pangan, misalnya sebaga antiseptik, maka itu diperbolehkan.

Memang persoalan ini masih terjadi perbedaan pendapat, walaupun menurut pendapat yang lebih moderat, alkohol dianggap tidak najis, jadi memakai parfum beralkohol tidak dilarang. Kalau saya pribadi sih sependapat bahwa alkohol itu tidak najis. Tapi kalau membeli parfum biasanya cenderung akan mencari parfum yang tidak mengandung alkohol.

Allahu'alam. Sekian rangkuman singkat kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita, terutama dalam ilmu agama. Jika penasaran untuk isinya lebih lengkap (terutama soal penjelasan-penjelasannya) bisa langsung cek bukunya. Terima kasih!
View Post
Dulu aku pernah mengikuti sebuah kulwap dari Ibu Profesional Tangsel, yang diisi oleh seorang pelopor komunitas menulis Ibu Ibu Doyan Nulis atau yang sering disingkat IIDN. Beliau bernama Indari Mastuti atau kerap dipanggil Teh Indari. Beliau merupakan Chief Executive Officer di Indscript Corp.

Beliau adalah seorang penulis yang berhasil menjalani passion sekaligus hobinya. Sudah banyak media yang meliput sosok ini, silakan cek saja di google yaa.. hehe. Banyak sekali penghargaan dan prestasi yang sudah beliau capai dalam bidang kepenulisan. 

Hobinya memang sama denganku yaitu menulis. Hanya yang membedakan adalah (hanya??) beliau sudah mencapai level advance sebagai seorang penulis sementara aku hanyalah seorang penulis pemula. Beliau bisa menjadikan kegiatan menulis sebagai bisnis, sementara aku menulis di blog saja kadang masih pesimis, hehe.

Indari Mastuti (sumber gambar: indari.blogspot.com)


Saat aku mengikuti kulwap bersama beliau, sejujurnya aku sungguh tersadar, tertampar, termakjleb atau apapunlah namanya. Beliau mengatakan bahwa untuk menjadi seorang penulis yang sukses itu butuh strategi, butuh target, butuh komitmen, disiplin, pengorbanan. Tidak bisa hanya sekedar sampingan atau mood-moodan. Kalau usaha dalam menulis hanya ala kadarnya, maka hasilnya pun akan seadanya. Oleh karena itu, dalam kulwap tersebut, Teh Indari berbagi tentang kiat dan tips agar kegiatan menulis kita bisa lebih efektif.

Membuat Metrik Penulisan

Dalam menulis, beliau selalu membuat target harian yang dimasukkan ke dalam metrik penulisan. Didalam metrik penulisan ada hal-hal yang perlu diisi, misalnya target apa yang ingin dicapai, hasil nyata/aktual yang kita kerjakan dan utang. Utang ini maksudnya adalah utang target yang tidak terselesaikan di hari sebelumnya. Jadi, jika dalam sehari  kita tidak menyelesaikan target maka kita harus membayarnya di keesokan harinya. Begitu seterusnya. Intinya, target yang sudah kita tulis harus tetap dikerjakan, bagaimanapun caranya. Jadi kebayangkan? Kalau kita menunda-nunda target, maka utang kita pun makin menumpuk. Pusing banget kan itu pastinya.

Contoh metrik penulisan (Sumber gambar: ainahana.com)



Itu adalah contoh tabel metrik penulisan ya. Sebenarnya pada saat kulwap, beliau memberikan contoh tabel, tapi aku lupa simpan. Jadi aku ambil dari blog lain. Menurutku sih ini keren banget karena kegiatan menulis kita bisa lebih terarah dan efektif. Selama ini aku menulis ya sekedar menulis saja. Menulis pun juga tergantung mood. Makanya sampai sekarang hobiku ini belum sampai berkembang...hiks.

Manajemen Waktu

Teh Indari juga punya manajemen waktu yang super keren, masya Allah. Beliau ini sangat strict dengan rutinitas dan jadwal harian. Pokoknya jam 19.30 adalah waktu tidur untuk SEMUA anggota keluarga. TITIK. Jadi tidak ada kompromi. Dan ini sudah dibiasakan semenjak anaknya masih bayi. Tidur jam segitu adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan. Akibatnya apa? Karena sudah dibiasakan sejak bayi, ketika besar, anaknya sudah mengikuti jadwal tersebut. 

Aku lalu mencoba membandingkan ke diri sendiri. Duh, jam 19.30 boro-boro pada mau tidur, anak-anak jam segitu masih pada wara wiri, salto, jumpalitan (sebenarnya ini agak lebay… Tapi biar dramatis saja.. Hehe). Tapi alhamdulillah akhir-akhir ini sudah mulai memperbaiki sih. Setidaknya jam 9 malam anak-anak dan kami semua sudah harus tidur supaya bisa bangun lebih pagi keesokan harinya.

Tidak hanya itu, beliau juga cerita kalau selalu bangun jam 3 pagi. Setelah bangun, beliau melaksanakan tahajud terlebih dahulu, lalu mulai melakukan aktivitas menulis. Saat pagi setelah subuh, beliau masih sempat menemani anak murajah hafalan. Keren banget nggak sih manajemen waktunya.. Masya Allah (nangis hatikuuu). 

Saat siangnya, beliau dan anak-anaknya juga masih sempat untuk tidur siang lho setelah melakukan banyak kegiatan seharian. Canggih ga sih keluarganya teh Indari ini. Tentu saja hal tersebut bisa terjadi karena beliau dan suami memiliki visi dan misi yang sama sehingga keduanya bisa saling support dan semuanya pun berjalan lebih mudah.

Setelah mendengar sharing dari beliau yang duhai masya Allah itu, aku sadar bahwa kesuksesan yang beliau lakukan memang tak lepas dari kedisiplinan, komitmen dan ibadah yang beliau lakukan. Kesuksesan itu tak bisa dicapai oleh orang yang malas-malasan, yang gak ada komitmen, yang gak disiplin, ditambah lagi mood-moodan.. (Ah, nampar banget ini).

Kesuksesan itu gak cukup kalau hanya sebatas niat terooss. Semua harus dilakukan. Harus ada usaha. Harus ada doa. Dan sampai disini sadarlah aku bahwa selama ini,  ternyata aku sampai detik ini masih baru sebatas niat, baru sampai sebatas mimpi dan angan-angan. Belum bersungguh-sungguh menjadikan kegiatan menulis sebagai passion.

Aku sih masih berharap untuk bisa memperbaiki ini semua. Kayaknya nggak mudah ya tapi bismillah. Semoga kedepannya bisa lebih disiplin dan lebih efektif dalam menekuni hobi menulisku ini. Wish me luck!

View Post
Penulis : Ratna Dewi Idrus
Judul : Agar Anak Kita Seperti Nabi Ismail
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Koleksi : Ipusnas




Buku ini berisi beberapa hal tentang bagaimana caranya agar kita bisa memiliki anak yang sholeh, sabar dan taat seperti Nabi Ismail. Poin-poinnya juga diisi dengan beberapa kisah para Nabi, sahabat dan tokoh inspiratif saat ini.

Saya akan mencoba menjabarkan beberapa poinnya saja. Jika ingin membaca lebih lengkap, tentu kalian bisa membaca sendiri bukunya. Berikut ini adalah beberapa poin yang ada dalam buku tersebut. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untuk diri sendiri.

Memahami bahwa Anak Bukan Tanda Cinta Allah

Sebenarnya cukup tertegun ketika membaca paragraf pembuka dalam buku ini. Di jaman jahiliah, orang-orang dahulu banyak yang berbangga dengan banyaknya harta dan anak-anak mereka, padahal anak sebenarnya hak preoregatif dari Allah. 

Ada orang yang dikaruniai anak, ada yang tidak. Ada yang diberikan anak perempuan, ada pula yang laki-laki. Ada yang diberi jumlah anak yang banyak, ada pula yang sedikit. Semuanya sama saja. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana agar kita menjadikan setiap kondisi tersebut sebagai jalan untuk mengantarkan kita pada ketaatan kepada Allah.

Lagipula jika anak adalah bukti tanda cinta, tentulah Nabi Ibrahim dikaruniai anak yang banyak, sementara kita tahu bahwa Nabi Ibrahim baru mendapatkan anak ketika usianya telah menua. Tentu yang kita pelajari dari beliau bukanlah tentang sosok anak, melainkan bagaimana  ia bisa bersabar dengan segala ketentuan dan tidak berputus asa pada rahmat Allah.. Masya Allah.


Anak dan Harta adalah Fitnah (Ujian)

Pada dasarnya anak dan harta yang kita miliki bisa saja melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk kita mendidik keluarga menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Jangan sampai keberadaan keluarga justru membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

Jangan Suka Mengeluh

Terutama pada isteri (note to myself), sebaiknya hindari perangai suka mengeluh. Nabi Ibrahim pernah meminta Nabi Ismail untuk menceraikan isterinya disebabkan sang isteri mengeluh dihadapannya yang saat itu berpura-pura datang menjadi tamu di rumahnya saat Nabi Ismail sedang tidak di rumah. Belajarlah untuk bersabar dan bersyukur dengan pemberian suami *ntms.

Ajarkan Anak pada Ketauhidan dan Keimanan

Peristiwa besar yang terjadi ketika Nabi Ibrahim diminta menyembelih anak yang is sudah tunggu berpuluh-puluh tahun, cukuplah menjadi bukti bahwa betapa taat dan patuhnya Nabi Ibrahim kepada perintah Allah. Ketaatan tersebut bahkan juga dimiliki oleh Nabi Ismail yang dengan ikhlas merelakan dirinya untuk disembelih. Ketika Nabi Ibrahim sudah mendekati ajalnya, bukan persoalan harta dan dunia yang ia tanyakan kepada anak-anaknya, tapi sebuah pertanyaan besar yang menyiratkan betapa sholih dan betapa pedulinya Nabi Ibrahim pada anak keturunannya,
"Siapakah yang engkau sembah sepeninggalku, Wahai Anak Cucuku?"
Didikan yang kita berikan kepada anak kita haruslah berkesinambungan agar keimanan dan ketauhidan itu terus terjaga hingga ke anak keturunan kita. Pun dengan Nabi Ibrahim, ia pun menginginkan agar anak cucunya bisa memiliki penghambaan yang sama agar bisa memiliki iman yang kuat dan teguh dengan harapan semoga kelak semua bisa berkumpul kembali di dalam surgaNya.

Berdoa kepada Allah

Jangan pernah putus berdoa agar Allah mau menganugerahkan keturunan yang sholih kepada kita. Berdoalah dengan penuh pengharapan, sebagaimana sikap yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, iringi dengan usaha, jangan tergesa-gesa untuk segera melihat hasilnya, bersabar dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah. Insya Allah akan dikabulkan walaupun untuk realisasinya itu tetap bergantung kepada ketentuan Allah.


Terima Anak dengan Penerimaan yang Baik

Anak-anak memiliki jiwa yang sensitif. Ia bisa merasakan apakah kehadiran mereka diterima ataukah ditolak oleh orang tua.Oleh karena itu, sejak anak masih dalam kandungan, seorang ibu hendaklah menerima kehadiran anak agar anak bisa tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi berjiwa tenang.

Yakin kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah orang yang lembut dan santun. Ia juga penyayang dan memiliki jiwa yang halus. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi, tentu tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat itu. Pun juga dengan Siti Hajar yang sempat bertanya-tanya akan kepergan suaminya, Namun, ketaatannya kepada Allah membuatnya yakin bahwa Allah tak akan mungkin disia-siakan oleh Rabbnya. Oleh karena itu, berbekal keyakinan dan ketaatan kepada Allah disertai usaha Hajar yang terus mendaki bukit sebanyak 7 kali untuk mencari air, ternyata air yang ia cari justru ada dibawah kaki kecil Ismail. Kesabaran, keyakinan kepada Allah dan kesungguhan Siti Hajar telah memberikan pembelajaran yang akan terus diingat oleh manusia sepanjang zaman.

Bertutur Kata yang Baik

"... ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (Qs. Al-baqarah:83)
Terkadang ketika tingkah anak tidak menyenangkan hati, maka hati kita juga tergoda untuk marah dan mengomeli anak. Tapi coba kita renungkan, ketika kita memarahi anak, akan muncul perasaan tak enak, tak nyaman, merasa bersalah atau mungkin kita merasa hati ini seakan mengeras. Pada saat kita menyadari itu, minta ampunlah kepada Allah dan perbanyak ibadah sunnah. Minta maaf juga pada anak karena barangkali kemarahan kita telah melukai hatinya. Seperti yang disabdakan Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam ketika ada seorang perempuan yang menarik bayinya dengan keras karena melihatnya mengencingi Rasulullah, Rasulullah pun berkata,

"Pakaian ini bisa kubersihkan, namun bisakah membersihkan kekeruhan jiwa anakmu itu?"
Pada dasarnya, tidak ada pendidikan yang berlandaskan kemarahan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam,

"Dua sifat yang dicintai Allah subhana wata'ala, yakni penyabar dan tidak pemarah."
Bagi seorang ibu, terkadang yang membuat ia mudah marah kepada anak adalah karena kondisinya yang lelah. Oleh karena itu, penting untuk menenangkan hati dan berempati pada kondisi anak agar kita bisa memahami alasan kenapa ia bertingkah tak menyenangkan dihadapan kita.

"Hormatilah anakmu dan baguskanlah sikapmu dalam mengajarinya," (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)

Itulah beberapa poin penting yang saya dapatkan dari buku ini. Sebenarnya ada banyak sekali poin-poin yang bisa diambil dari pelajaran. Salah satu yang jadi reminder juga buat diri sendiri adalah ketika penulis menceritakan kisah seorang Dahlan Iskan yang mendeskripsikan sosok ibunya yang jarang sekali marah dan lebih sering tersenyum kepada anak. Hal itu menjadi tamparan untuk diri sendiri yang selama ini masih suka marah dan menunjukkan wajah masam kepada anak, padahal harusnya seorang ibu bisa menjadi penyejuk hati dan pembawa kenyamanan bagi anak-anak di rumah, bukan malah sebaliknya.

Intinya ini buku yang cukup bagus untuk jadi referensi para orang tua dalam mendidik anak, walaupun beberapa poin dan penjelasannnya sudah sering saya dengar sebelumnya. Mendidik anak adalah sesuatu yang berat, bahkan lebih berat dari rasa sakitnya melahirkan. Oleh karena itu, penting untuk terus mengingatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita seringkali lupa ketika melakukan kesalahan-kesalahan sebagai orang tua. Membaca buku seperti ini dapat menjadi pengingat kembali terutama ketika kita sudah mulai lalai dan mulai lemah dalam membimbing anak-anak di rumah.


(karena menulis sejatinya adalah untuk mengingatkan diri sendiri)

View Post


Ibuku (berbaju hijau) bersama ibu mertuaku :)

22 Desember telah lewat. Katanya sih itu hari Ibu..
Sejujurnya, aku tak terlalu ingat dengan hari peringatan semacam itu, meskipun ada keinginan dalam hati ini untuk menelepon Ibuku di Bengkulu sambil berucap dengan riang "Selamat hari Ibuuu.. Aku sungguh mencintaimu karena Allah.."

Tapi.. ah entahlah.. itu bukanlah sebuah tradisi atau kebiasaan yang membudaya dalam keluargaku. Bahkan saling mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak pernah (sejujurnya, aku tidak terlalu memusingkan, karena dalam Islam sendiri tidak ada ajaran mengucapkan selamat ulang tahun). Alhasil, hari itu pun lewat dengan sangat biasa.

Namun, entah kenapa, malam ini sosok itu mulai membayangi pikiranku, membuatku ingin sekali menuliskan kenangan-kenangan bersamanya yang membuatku sungguh amat menghargai dan makin mencintainya.

Berikut adalah beberapa hal yang ku ingat tentang ia..

Ibuku ituu..
selalu bangun jam 03.30 pagi (bahkan kadang juga lebih awal lagi). Hal yang ia lakukan pertama kali adalah memasak air, menyiapkan bahan masakan, memasak nasi dan entah apa lagi.. (aku tak tahu, karena biasanya aku masih tertidur di saat itu, hanya tersadar ketika mulai banyak "senandung lagu" dari peralatan dapur yang terdengar di dapur rumahku..) Ia lakukan itu setiap hari. Bahkan saat ia sakit pun, dia selalu menjadi sosok manusia yang bangun lebih awal. 

Ibuku ituuu..
Jarang terlihat istirahat. Jam istirahatnya biasanya di waktu siang dan itu pun tidak lama. Ketika ada waktu luang, ia sempatkan untuk melakukan hal-hal lain seperti membersihkan beras, mengupas bawang, menggiling cabai, membersihkan rumput di pekarangan rumah, membaca, dan lain sebagainya. Intinya, jarang bagiku melihat ia berleha-leha ongkang-ongkang kaki dan berlama-lama menonton tv atau mencari hiburan lainnya (meskipun tak berarti ia tak pernah nonton tv yaa.. )

Ibuku ituuu..
Tak begitu pandai mengatur dekorasi rumah sehingga rumah terlihat tak begitu rapih dan tak punya nilai seni.. (heheee). Tapi sungguh ia gesit jika menyangkut urusan rumah tangga dan dapur tentunya.. :)

Ibuku ituuuu..
Selalu tidur malam paling awal (setelah isya, jam 20.00) dan menjadi orang yang bangun paling awal pula.

Ibuku ituu...
Selalu membuatkanku bekal setiap aku akan kembali ke Depok untuk kuliah. Biasanya ia akan bangun jam 03.00 pagi menyiapkan bekal dan lauk untukku. Ada nasi, lauk, sayur, minuman, bahkan buah. Semuanya lengkap ia kemas dalam satu paket makanan (yang bagiku sungguh penuh dengan cinta). Bahkan aku pernah menangis, gara-gara saat sampai dikosan, aku baru sadar bahwa bekal yang dibuatkan ibuku tertinggal di bus. Saat itu aku menangis, bukan karena aku membayangkan tak bisa makan, tapi aku menangis karena membayangkan ibuku yang sudah susah payah membuatkanku bekal (bahkan ia sudah siapkan  untuk makan malamnya jugaaa!) hilang karena keteledoranku. Peristiwa itu sungguh berhasil membuatku menangis sesenggukan dan aku pun tak pernah berani menceritakan peristiwa kehilangan bekal itu pada ibuku (bahkan hingga detik ini.. hehe)

Ibuku ituuu..
Suka ngomel-ngomel di pagi hari (terutama ketika dulu aku masih zaman-zamannya SMP dan SMA). Biasanya dia mengomel karena tidak ada anaknya yang mau membantunya.. (>_<)

Ibuku ituu..
Sebenarnya punya banyak pakaian bagus (lebih banyak dari bapakku tentunya) yang ia simpan di lemari dengan rapih. Tapi entah mengapa, setiap ada acara-acara, tak pernah ia pakai. Yang ia pakai selalu yang itu-itu aja. Jika dirumah, ia juga suka memakai pakaian yang sudah agak robek. Padahal baju bagus yang lain masih ada. Makanya aku terkadang jadi geregetan. Tapi jika ditanya tentang itu, pasti ibuku akan menjawab "baju ini adem.. enak, karena banyak lobang anginnya".. Sebuah jawaban yang tak urung membuatku tertawa mendengarnya.

Ibuku ituu..
Menurutku punya wajah baby face.. seperti bayi. :) Perutnya lembut dan gemuk, sehingga membuatku ingin sekali memeluknya. Aku  memang paling suka memeluk bagian itu. Mungkinkah karena dulu aku pernah tinggal di dalamnya? Ah.. entahlah, yang jelas terasa nyamaaan sekali.. :)

Ibuku ituu..
Aeorang guru. Dulunya sempat jadi kepala sekolah di sebuah madrasah dekat rumah. Pergi mengajar jam setengah 8 dan pulang jam 12.00 atau jam 10.00 (tergantung harinya). Entah kenapa, dulu aku suka sekali mendengar derap langkah sepatu kerjanya dan mencium wangi baju seragamnya sepulang sekolah. Wanginya khas dan tak bisa di deskripsikan dengan kata-kata.

Ibuku ituu..
Memasak makanan untuk keluarganya 3 kali dalam sehari (untuk sarapan, siang, malam) dan itu setiap hari!!. Sungguh merepotkan rasanya ya? tapi begitulah ia.. tak pernah kutemukan di rumah tak ada makanan. Pasti sudah ia sediakan. Sungguh ibu yang rajin.. (not like me... >_<)

Ibuku ituu....
Ah.. banyak sekali kenangan bersamanya. Bagiku ia adalah ibu yang terbaik.. Aku sungguh beruntung memilikinya. Sebagaimana manusia, ia juga memiliki kekurangan dalam beberapa hal, tapi sungguh itu tak ada artinya dengan kasih sayangnya yang sungguh berlimpah. Aku mencintainya ya Allah... Dan aku sungguh menyayanginya. Terkadang aku berharap bisa serajin ia dalam mengurus rumah tangga. Meskipun hingga detik ini rasanya masih jauh dari apa yang aku harapkan. Aku berharap bisa menjaganya di hari tuanya, meskipun entah apakah itu bisa terwujud atau tidak. Namun, di setiap sujud dan doa dalam shalatku, selalu kudoakan ia dan ayahanda agar selalu bahagia, sehat dan berada dalam penjagaanMu..

Maafkan aku juga Mak dan Bak, karena baktiku pada kalian berdua masih sangat jauh dari sempurna. Maafkan anakmu ini yang hingga detik ini tidak bisa menemani di usia senja... Maafkan... :'(


View Post
"Buk, Ibu sayang gak sama Nayra?" 
Sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkanku.  Anak pertamaku Nayra memandangku sejenak, berharap aku segera memberikan jawaban. Saat itu aku sedang menemani ia bermain bersama adiknya. Aku pun langsung menjawab, 
"Iyalah.. Ibu sayang sama Nayra," ujarku. 
"Kenapa Nayra?" Aku pun balik bertanya. 
"Nggak apa-apa," jawabnya sambil nyengir. Kuperhatikan raut wajahnya beberapa saat, matanya terlihat berbinar. Setelah mendengar jawabanku itu, ia pun berbalik dan melanjutkan permainannya lagi.

Ia adalah anak pertamaku, Nayra. Saat itu usianya lima tahun. Aku tak tahu kenapa ia mengajukan pertanyaan itu, tapi yang jelas pasti ada alasan dibalik itu semua. Pertanyaan itu tiba-tiba membawa memoriku kembali kepada masa tiga tahun lalu, ketika aku baru saja melahirkan anak keduaku. 

Nayra, yang selama lebih dari tiga tahun telah menjadi anak satu-satunya di rumah, secara resmi akhirnya berstatus menjadi seorang kakak. Untuk pertama kalinya pula pada saat itu aku tak menemaninya tidur di malam hari karena aku harus ke rumah sakit untuk melahirkan. Pada malam itu, Nayra tak bisa tidur hingga jam 3 pagi begitu setidaknya kata Ibu mertuaku kala itu.

Entah apa yang ada dalam hati sulungku saat itu. Ditinggal ayah dan ibu untuk pertama kalinya. Bermain tanpa kehadiranku seperti biasanya. Padahal sebelumnya kami banyak menghabiskan waktu bersama dan tak pernah terpisah. Pasti itu merupakan perubahan yang besar bagi dirinya.

Beberapa aktivitas bersama Nayra sebelum adik bayi lahir :') (Foto dok. pribadi)

Semua sebenarnya mulai terasa berubah ketika aku tahu bahwa diriku hamil anak kedua. Saat itu Nayra masih menyusu denganku dan aku memutuskan untuk menyapihnya. Perutku tidak nyaman setiap kali menyusuinya. Saat itu Nayra memang sudah berusia dua tahun. Aku pun akhirnya berhenti menyusuinya. Nayra pun tantrum dan sedih hingga beberapa hari karena hal itu.

Kupikir itu adalah sebuah tantangan berat bagi Nayra karena harus melepaskan salah satu sumber kebahagiaan yang telah ia kenal sejak bayi. Pasti itu bukanlah hal yang mudah baginya.

Proses kehamilan sebenarnya kualami dengan menyenangkan, alhamdulillah. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja karena setiap kali aku mengabarkan bahwa ia akan punya adik, ia tampak mengangguk dan terlihat senang. Bahkan ia sering kali berkata bahwa sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir. Entah apakah benar demikian atau tidak, yang jelas saat itu kupikir ia sudah siap untuk menjadi seorang kakak.

Ketika adiknya sudah lahir dan tiba masanya ia bertemu dengan adiknya, ia hanya tersenyum malu sambil memerhatikan dari kejauhan. Raut mukanya tampak biasa saja awalnya, hingga kemudian kulihat ada perubahan pada wajahnya  ketika ia melihatku mulai menyusui adiknya. Mata itu seakan terlihat tak rela, setidaknya itulah yang kurasakan. 

Sejak saat itu aku tidak sadar bahwa ada tantangan yang harus kulalui kedepan. Tantangan yang akan menimbulkan ketegangan bagi kami berdua. Tantangan yang kuketahui pada akhirnya menjadi bentuk kecemburuan antarsaudara.

Sulungku Cemburu, Sulungku Rindu...


Kupikir memang tidak semua anak-anak suka dengan perubahan, apalagi jika perubahan itu membawa dampak besar bagi dirinya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun juga demikian kan? Dulu sebelum punya anak kedua, aku banyak menghabiskan waktu berdua dengan Nayra. Kami sering membaca buku bersama, bermain dan melakukan aktivitas belajar. Semuanya hanya berdua. 

Ketika ia punya adik, aku akui waktuku cukup berkurang untuknya. Apalagi aku memang mengurus bayi sendiri. Semua cukup menyita perhatian dan waktu. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang sudah kuprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum melahirkan anak kedua, sebenarnya aku sudah berdiskusi dengan suami, bagaimana agar Nayra tetap mendapatkan perhatian dan mengantisipasi agar ia tidak cemburu ketika nanti adiknya lahir. 

Kami berdua pun sepakat agar suamiku mau meluangkan waktu untuk Nayra, terutama ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya. Suamiku pun melakukan tugasnya sesuai dengan kesepakatan kami, walaupun pada kenyataannya ternyata Nayra masih cemburu.

Ia mencoba mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Kadang ia mengompol, padahal selama ini tidak pernah mengompol lagi. Nayra juga pernah meletakkan pasir ke badan adiknya dan pernah pula memegang adiknya yang masih bayi terlalu kencang. Nayra juga mudah sekali rewel, marah atau pun menangis. Sungguh, masa-masa awal kehadiran adik bayi adalah masa-masa yang berat bagi kami berdua.

Aku yang kadang sudah kelelahan, kadang terbawa emosi setiap Nayra mulai "bertingkah". Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin Nayra termasuk sosok yang paling lelah dengan semuanya. Ia juga kadang ikut terbangun setiap kali adiknya terbangun tengah malam. Ia juga tak mampu bercerita dan mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan benar. 

Kupikir, betapa sedih hatinya saat itu. Sedih karena melihat ibunya kurang memberi perhatian kepadanya. Sedih karena ia harus menerima kemarahan dariku, padahal harusnya akulah yang menjadi sosok utama yang bisa mengerti perasaannya. Pada saat itu pasti ia merasa sendiri. Ia tak punya tempat mengadu.

Terkadang, kalau ingat kembali dengan masa-masa itu, aku sungguh merasa bersalah. Aku merasa belum bisa menjadi ibu yang peka pada kebutuhan psikologis anakku. Tak heran, mungkin karena itu juga Nayra butuh waktu lama untuk bisa menerima kehadiran adiknya. 

Setiap kali ia menggambar, ia jarang sekali membuat gambar adiknya. Biasanya dia hanya membuat gambar dirinya, ayah dan ibu. Sebuah pertanda yang menurutku sudah cukup menggambarkan bahwa Nayra masih belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan anggota baru. Dan semua itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, hingga dua tahun lamanya.

Ibu, Peluk Sulungmu...


Aku mulai menyadari ada yang salah, ketika melihat berbagai perubahan sikap Nayra. Muncul banyak pertanyaan dalam diriku.  Kenapa ya Nayra jadi begitu? Apa penyebabnya? Apa karena kurang perhatian? Padahal selama ini ayahnya sudah banyak menghabiskan waktu bersamanya. Apa yang masih kurang? Aku pun mencoba mengamati polanya hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan. Apakah jangan-jangan Nayra sedang mencari perhatianku? 

Saat itu aku mulai mengingat-ingat, betapa banyak sekali waktu kami berkurang. Aku pun mencoba mencari solusi. Setiap hari aku pun berusaha meluangkan waktu bersamanya. Saat adiknya tidur, aku membacakan buku berdua dengannya. Hanya sebentar tapi Nayra ternyata terlihat  begitu senang dan bersemangat. 

Lama kelamaan, kebiasaan mengompol yang sempat muncul akhirnya mulai hilang. Nayra bahkan lambat laun bisa menerima kehadiran adiknya dan mulai mengajak adiknya bermain. Memang kadang aku lelah, di saat aku ingin beristirahat, ternyata aku juga harus meluangkan waktu untuk anak pertamaku. Tapi ketika melihat dia senang dan melihat kebiasaan buruknya berkurang, itu akhirnya memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Akupun tersadar bahwa Nayra sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak. Dia hanya ingin aku menyempatkan waktu bermain dengannya, meski mungkin hanya sebentar. Tapi dengan waktu yang sebentar itu, Nayra bisa tahu kalau dia merasa diutamakan olehku tanpa harus diganggu oleh adik atau siapapun. 

Hal itu juga yang sepertinya berhasil membuatnya nyaman dan merasa tak diabaikan. Ketika anak sudah merasa aman dengan segala perubahan, maka ia pun pada akhirnya akan lebih mudah menerima keberadaan adiknya. 


Pesan kepada Orang Tua


Drama kecemburuan seperti yang aku alami diatas sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan, jika orang tua bisa lebih mempersiapkan psikologis anak ketika akan menyambut kehadiran adik baru. Aku akui saat kehamilan mungkin aku kurang mempersiapkan strategi yang tepat. Walaupun saat hamil sebenarnya aku sudah mulai mengkondisikan si kakak akan kehadiran adik barunya, tapi ternyata itu belum cukup. Ada sesuatu yang lebih kompleks dari semua yang aku pikirkan. 

Aku pun berusaha merangkum hal-hal yang menurutku penting untuk dilakukan orang tua. Rangkuman ini kutulis berdasarkan pengalaman yang kualami. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan pada si kakak ketika adik bayi sudah lahir:

1. Meluangkan Waktu Berdua dengan Si Kakak
Walaupun suamiku sudah berusaha menyempatkan waktu menemani si kakak, ternyata anakku tetap butuh waktu berdua dengan ibunya. Hal itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak terpikirkan bagiku sebelumnya. Ketika anak mulai merasa ibunya sudah berkurang perhatian kepada dirinya maka ia pun bisa kecewa. Jadi, jangan lupa untuk luangkan waktu, tak hanya dengan ayah, tapi juga dengan ibu karena anak butuh sosok ayah dan ibu dalam hidupnya, bukan hanya salah satu pihak saja.

2. Yakinkan Kakak bahwa Ia akan Selalu Disayang
Kehadiran adik baru kadang membuat anak merasa dinomorduakan atau merasa diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus menguatkan posisi kakak bahwa dia akan selalu disayang dan dicintai. Ucapkan dengan perkataan, pelukan, sentuhan dan waktu yang kita luangkan untuknya. Dengan begitu, mudah-mudahan kakak tidak merasa tersingkirkan dalam keluarga akibat kehadiran adik barunya.

3. Ajak Kakak untuk Terlibat
Biasanya aku mengajak kakak untuk membantu mengurus kebutuhan adik. Entah mengambilkan popok, baju dsb. Sesuaikan dengan kemampuannya ya dan pastikan kakak dalam kondisi senang supaya dia tak merasa dipaksa ketika melakukan hal tersebut.

4. Jangan Menuntut Terlalu Banyak
Dulu aku sering secara tak sadar meminta Nayra untuk mengerti kondisi yang aku hadapi, tanpa mencoba memahami perasaannya. Aku lupa bahwa Nayra masih kecil dan ia sendiri juga merasa berat dengan situasi yang ada. Sebagai orang tua yang harusnya lebih dewasa dan lebih mengerti, maka kitalah yang harus mencoba memahami perasaannya. Jangan sampai ia merasa tak dipedulikan hingga akhirnya membuat ia membenci adiknya sendiri. 

Kadang aku pun masih menuntut kakak untuk mau mengerti, hanya karena aku merasa ia sudah lebih besar dan sudah menjadi seorang kakak. Padahal, tak ada yang lebih menyedihkan bagi hati seorang anak, selain melihat ibunya lebih peduli kepada adiknya. Tak ada yang bisa memahami betapa sedihnya seorang anak, ketika ia hanya bisa menatap punggung ibunya ketika tidur. 

Dulu aku berpikir bahwa Nayra sudah bisa mengerti kondisi yang kuhadapi. Padahal aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan anak kecil yang juga mengharapkan perhatian khusus dari ayah bundanya. Oleh karena itu, jangan menuntut sang kakak terlalu banyak karena ia juga masih kecil dan ia butuh kasih sayang yang adil dari orang tuanya.

Itulah beberapa tips yang pernah kulakukan. Sebenarnya banyak sekali tips terkait kecemburuan antarsaudara yang bisa dipelajari. Ayah Bunda bisa juga membaca di buku atau di situs internet . Baru-baru ini aku pun sempat membaca beberapa artikel dari situs www.ibupedia.com.  Disana juga ada banyak Tips Agar Kakak Tidak Cemburu Pada Adik Barunya. Tipsnya pun menurutku sangat bermanfaat dan aplikatif sehingga akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda untuk mencoba mempraktikannya. 

(Salah satu artikel di situs ibupedia.com)


Saat ini dengan bertambahnya usia, Nayra sudah tidak terlalu banyak berkonflik dengan adiknya. Aku sendiri justru melihat dia sebagai sosok yang mengayomi dan dapat menjaga adiknya. Walaupun demikian, bukan berarti masalah selesai, karena justru giliran anak kedua yang saat ini mengalami masalah yang sama dengan adiknya. Memang ya, bicara tentang tantangan menghadapi anak memang tak pernah usai, hehe..

Tiga Puteriku

Kupikir menjadi orang tua memang memaksa kita untuk belajar lebih banyak, karena tantangannya akan selalu muncul sepanjang hidup. Untungnya saat ini sebagai orang tua yang hidup di era sekarang, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang dunia parenting dengan mudah. 

Ayah dan Bunda bisa menjadikan situs Ibupedia sebagai referensi yang membahas tentang dunia parenting. Jika ada orang tua yang memiliki masalah yang sama sepertiku, disana ada beberapa artikel penting yang perlu diketahui orang tua terkait kecemburuan kakak dan adik. Selain itu, ada juga topik-topik penting lainnya, seperti kehamilan, kelahiran, balita, kesehatan, keluarga dan masih banyak lagi. Jadi Ayah dan Bunda tak perlu khawatir jika dihadapkan pada masalah-masalah seputar anak dan keluarga karena disana cukup banyak tips-tips berharga yang bisa kita aplikasikan di rumah.

Banyak topik yang bisa dipilih
(Tampilan Website ibupedia.com versi mobile)

Terakhir, ada satu kalimat yang selalu kuingat sejak dulu, bahwa ketika kita menjadi orang tua, berarti kita harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Ketika kita berhadapan dengan permasalahan anak, tentu itu membutuhkan kesabaran, wawasan dan kesungguhan. Oleh karena itu, penting sekali untuk kita terus mengasah kesabaran dan semangat belajar terkait dunia anak dan keluarga. Tetap semangat untuk semua Ayah dan Bunda, semoga kita bisa menyayangi, mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka bisa bertumbuh dengan baik dan menjadi anak yang bahagia. 

View Post