Ini adalah tulisan yang sudah sangat lama sekali. Tulisan ini sebenarnya aku kirimkan sebagai tugas kuliah (tapi untuk versi yang ini sudah banyak yang ku edit juga). Jadi, dahulu kala di awal semester, ada mata kuliah yang namanya Bimbingan Menulis (Sekarang sudah tidak ada lagi sepertinya). Di mata kuliah tersebut, kami diminta untuk membuat semacam catatan harian. Nah, ini adalah salah satu catatan yang aku bikin. Catatan ini nanti akan dikumpulkan ke dosen supaya bisa mendapat feedback. Klo tidak salah, ini catatan pertama yang aku bikin.


Mari membaca.


Curahan Hati

Foto: Dokumen Pribadi (aku saat masih bayi)


Aku tidak selemah yang kau kira! Tapi... Aku ternyata tidak sekuat yang aku kira.  
Ada dua sisi kehidupan di dunia ini. Dan aku berada di antara keduanya.  
Jika aku merasa lemah, maka aku pasti akan lemah, 
 Tapi jika aku ingin kuat, maka aku pun pasti akan menjadi kuat!


Aku terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Yaah, jumlah yang lumayan banyak. Memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki membuatku merasa nyaman, karena merekalah yang mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah, hehehe.

Saat aku masih kecil, tidak ada pekerjaan yang aku lakukan karena semuanya sudah diambil alih oleh saudara-saudaraku. Padahal, saat itu aku ingin sekali mencoba untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang mereka lakukan. Namun, mereka tidak mengabulkan keinginanku. Apalagi orang tuaku. Mereka benar-benar tidak membiarkanku untuk melakukan pekerjaan rumah seperti kakak-kakakku. Padahal, bukanlah suatu kesalahan kan jika aku ingin mencoba melakukan apa yang mereka lakukan?

Saat aku masih kecil, kira-kira usia SD, pernah aku dimarahi hanya karena memegang sebuah cabai merah ketika sedang melihat kakakku memasak di dapur. Mereka bilang, tanganku bisa kepedasan gara-gara memegang cabai itu. Menurutku itu terlalu berlebihan. Bukankah aku bisa mencuci tangan setelah memegang cabai itu? Mengapa aku tidak diperbolehkan melakukan apa yang ingin aku ketahui? Apakah karena aku masih kecil? Kalau jawabannya iya, kenapa kakakku selalu bercerita bahwa mereka sejak kecil sudah diajari memasak di dapur. Lalu, kenapa aku tidak boleh seperti mereka? Bukankah aku juga ingin belajar? Begitulah pikiranku saat kecil. Sayangnya saat itu aku hanya bisa memendamnya dalam pikiran saja. Tak pernah kuungkapkan.

Akhirnya, karena sejak kecil aku sudah terbiasa tidak diberikan tanggung jawab di rumah, ketika menginjak remaja, akupun berubah menjadi anak yang manja. Aku malas untuk melakukan sesuatu di rumah karena sejak kecil aku sudah terbiasa dilayani. Meskipun aku telah remaja, tapi aku tetap seperti anak kecil. Segala keinginanku harus dipenuhi karena kalau tidak aku pasti ngambek. Sejujurnya aku pun menyadari bahwa itu bukanlah karakter yang baik tapi untuk mengubahnya pun ternyata bukan hal yang mudah.

Seiring dengan usiaku yang sudah menjadi anak remaja, ternyata sikap orang tua dan kakak-kakakku pun ikut berubah. Dulunya mereka memanjakanku, namun ketika aku remaja mereka seakan bekerja sama untuk memojokkanku. Setidaknya itu yang aku tangkap, walaupun sebenarnya belum tentu juga begitu. Setiap ada pekerjaan rumah, justru akulah yang direkomendasikan untuk mengerjakannya. Aku sering kali menolak apa yang mereka perintahkan sehingga aku pun dicap sebagai anak manja yang malas. Akupun merasa kesal dengan perlakuan kakak-kakakku itu. Akhirnya, karena tidak tahan lagi dicemooh, akupun mencoba untuk melakukan apa yang mereka suruh. 

Aku mencoba untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah dsb. Hal itu aku lakukan sekedar untuk membuktikan bahwa aku juga bisa melakukan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku juga mampu dan bisa membantu orang tuaku. Namun yah pada akhirnya pekerjaan yang tidak biasa kita lakukan pastilah tidak dapat dengan mudah kita lakukan. Semua yang kulakukan justru pada akhirnya malah menjadi berantakan. 

Ketika semua tak berjalan seperti yang aku harapkan, aku merasa semua orang mencemooh dan memarahiku. Entah lewat kata-kata, entah hanya dengan sorotan mata. Aku tahu bahwa aku belum mampu melakukan pekerjaan rumah sesuai dengan harapan mereka tapi aku tahu bahwa aku sudah berusaha. Sayangnya mereka tak pernah mengapresiasi itu. Mereka tak pernah memberikan kata-kata yang bisa menyemangatiku. Aku berharap mereka mendukungku dan menyemangatiku seperti ini,

"Wah kamu lagi belajar masak nasi ya. Udah lumayan kok, tapi lain kali airnya jangan kebanyakan ya. Nanti kakak ajari bagaimana cara mengukur air yang benar, oke!" 
"Anak Ibu lagi membantu cuci piring ya. Ibu senang sekali melihatnya. Tapi kalau boleh ibu sarankan, piringnya jangan kelamaan direndam di bak pembilasan ya nanti kotorannya nempel lagi,"
"Nak, masakannya sudah enak kok, tinggal dimasukkan cabe dan sedikit garam saja, pasti rasanya makin mantab. Nanti Ibu catatkan resepnya ya supaya kamu tidak lupa lagi nantinya,"


Tidak ada kata apresiasi semacam itu. Yang ada hanyalah,
"Masak nasi aja gak bisa! Gimana sih? Masa anak perempuan gak ngerti apa-apa!"
"Ya ampun, kamu malah bikin ibu tambah repot. Itu piringnya jadi kotor! Kamu nih bener-bener bikin susah,"
"Itu masakannya kok jadi begini sih rasanya? Kalau kayak gini rasanya nanti ga ada yang mau makan! Haduh bener-bener gak bisa diandalkan kamu ya,"

Bagaimana perasaanku ketika mendengarkan hal itu?

Seringkali aku menangis dan menyesali diri kenapa tidak bisa menjadi anak yang berguna. Aku pun tumbuh menjadi anak yang inferior dan takut salah. Aku jadi takut untuk melakukan sesuatu karena sering disalahkan dan tak dihargai. Perasaan itu juga terasa makin berat ketika aku menginjak SMA. Beban sekolah dan lingkungan sekolah yang tak nyaman membuatku tumbuh menjadi anak yang pendiam dan makin tertutup.

Kalau ditanya, apakah aku sayang pada keluargaku, tentu aku sangat menyayangi mereka. Oleh karena itu aku tak ingin membuat mereka kecewa. Hanya saja, aku sering merasa kesal dengan perlakuan keluargaku yang di satu waktu memanjakan aku namun di waktu lain malah justru berkonfrontasi untuk memojokkan aku. Mungkin apa yang aku ceritakan ini terkesan terlalu berlebihan, tapi itulah yang aku rasakan saat itu.

Aku juga sering merasa serba salah. Aku ingin membuat mereka senang, tapi malah justru aku pulalah yang membuat semuanya menjadi kacau. Terkadang, aku menyalahkan mereka mengapa selama ini memanjakan aku. Aku pun sering merasa bersalah kepada diri sendiri, mengapa selama ini tidak bisa berubah menjadi anak yang baik dan bisa bersikap sesuai dengan harapan mereka. Jika seandainya waktu bisa diputar, maka salah satu hal yang akan aku lakukan adalah bisa menjadi anak/adik yang mereka banggakan.

Masa-masa remaja adalah masa-masa yang tak menyenangkan untukku saat itu, meski aku bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan teman-teman yang baik. Aku pun pada akhirnya memutuskan mengambil fakultas psikologi, salah satu harapannya karena aku ingin mengobati jiwaku juga.. hehe. Di psikologi aku banyak belajar dan secara tidak langsung aku juga mengubah banyak hal dalam diriku. Sayangnya, ternyata kenangan masa lalu tidak sepenuhnya hilang. Ketika aku berhadapan dengan saudara-saudaraku (sampai saat ini pun), aku masih suka merasa inferior. Apalagi jalan kehidupan yang aku tempuh memang berbeda dengan saudaraku yang lain.

Tapi, dari pengalaman hidupku tersebut, ada beberapa hikmah yang bisa aku ambil:

1. Jangan Melarang Anakmu untuk Terlibat 
Dulu aku seringkali penasaran dan ingin ikut membantu ibuku terutama ketika di dapur, tapi ia selalu melarang. Padahal rasa penasaran itu tak selalu akan muncul. Jadi, saat ini yang bisa kupahami adalah ketika anak sedang semangat-semangatnya ingin membantu orang tua, maka biarkan saja karena semangat dan rasa ingin tahunya tak selalu ada. Toh bukankah itu adalah waktu yang tepat untuk mengajarinya kemandirian? Memang sih, ketika anak membantu kita kadang semua jadi lebih ribet, aku pun merasakan itu. Tapi kalau dipikir-pikir, belum tentu juga kelak mereka akan memiliki semangat yang sama untuk membantu kita, maka biarkan saja mereka membantu sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Siapa tahu mereka jadi bisa belajar banyak hal.

2. Beri Apresiasi
Berikan apresiasi dan dukungan ketika anak mencoba menjadi lebih baik. Setidaknya sekalipun hasilnya tak seperti yang kita harapkan, maka hargai usaha dan niatnya. Ketika anak merasa usahanya dihargai, maka kelak ia tidak akan merasa kapok untuk terus membantu. Bahkan mungkin ia akan membantu orang tua dengan senang hati tanpa harus disuruh-suruh. Jika memang ada kesalahan dalam proses belajarnya, maka cukup beritahukan dengan baik apa yang masih kurang. Tak perlu tambahkan kemarahan, omelan dan kata-kata yang hanya menjatuhkan semangatnya.

3. Beri Mereka Kesempatan untuk Menyatakan Pendapat
Sebagai anak bungsu kadang aku merasa pendapatku tak terlalu didengar. Akibatnya aku merasa rendah diri untuk berani menyatakan pendapatku di depan orang tua maupun saudaraku. Aku selalu merasa seperti anak kecil yang pendapatnya tak terlalu penting. Hal itu sampai sekarang masih terbawa, apalagi sebagai seorang yang introvert, biasanya aku adalah orang yang tak akan bersuara jika tidak diminta untuk bicara. Dengan memahami karakter anak masing-masing, maka itu akan memudahkan orang tua untuk menentukan cara yang tepat agar anak merasa selalu didengarkan dan dihargai pendapatnya.

Itulah beberapa catatan penting yang kuharap bisa menjadi pengingat bagiku agar aku tidak melakukan hal yang sama kepada anakku (dalam hal ini terkait contoh yang tidak baik, karena sebenarnya banyak juga teladan baik yang bisa aku ambil dari keluargaku). Aku sadar hingga detik ini aku belum bisa membuat mereka bangga. Oleh karena itu, aku selalu berdoa semoga aku bisa membuat keluargaku bangga dan bahagia kepadaku suatu hari nanti. Tak hanya bangga di dunia tapi juga di akhirat kelak, aamiin. Mudah-mudahan semua belum terlambat. 
View Post
Ini adalah sebuah kisah yang sudah lama sekali saya baca. Sewaktu itu saya dapatkan kisah ini dari sebuah milis. Sejujurnya saya tak tahu sumber asli dari tulisan ini dan saya sendiri pun kurang tahu juga apakah ini merupakan kisah nyata ataukah bukan. Yang jelas, ketika membaca kisah ini, sungguh rasanya meleleh hati ini sambil bertanya-tanya dalam hati ini, apakah benar ada lelaki yang seperti ini di dunia nyata? Apakah benar ada seorang suami yang memiliki kecintaan besar terhadap isterinya seperti tulisan yang saya baca ini? 

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca sebuah postingan tentang seorang suami yang selalu mendengarkan  voice note isterinya berulang-ulang. Ternyata sang isteri telah lama meninggal dunia dan dia selalu memperdengarkan rekaman suara isterinya setiap kali ia rindu atau setiap kali ia selesai sholat. 

Kisah yang manis sekaligus mengharukan. Dulu saya selalu berpikir bahwa ketika suami ditinggalkan isterinya, maka ia mungkin akan mudah melupakan isterinya tersebut. Ia bahkan tak akan membutuhkan waktu lama untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan memulai hidupnya yang baru.

Namun, ketika membaca kisah ini, barangkali masih ada lelaki yang memiliki perasaan cinta yang kuat sekalipun sang isteri sudah tak ada lagi di dunia. Kisah berikut ini adalah salah satu kisah indah yang menceritakan itu semua. Semoga ada hikmahnya.


Sumber gambar: sailusfood.com


Teringat sebuah kisah cinta yang tercatat dalam sejarah. Seorang mursyid 'aam Ikhwanul Muslimin ke-3 yaitu Umar at-Tilmisani. Kisah ini bercerita tentang ashir manjaa  atau jus mangga. Dalam kisah tersebut tersimpan energi cinta (meminjam istilah alm. ust. Rahmat) yang menjadi pelajaran bagi kita semua tentang keindahan dan ketulusan cinta.

Dalam sebuah majelis di Iskandariah bertepatan dengan waktu Ramadhan, at-Tilmisani diundang dalam majelis tersebut. Saat itu bertepatan pula dengan waktu berbuka. Salah satu hidangan yang disajikan untuk berbuka pauasa adalah jus mangga. Seorang lelaki yang ada di majelis tersebut kemudian menghidangkan beliau segelas ashir manjaa. Melihat hidangan tersebut, beliau tiba-tiba meminta maaf. Beliau lalu berkata bahwa beliau tidak bisa menerima dan meminumnya.

Sebagian besar orang yang menghadiri majelis itu memperhatikan beliau. Mereka lalu bingung dan bertanya, "A
pa ustadz alergi dengan minuman ini ataukah minuman ini dapat mengganggu kesehatan ustadz?" tanya orang-orang tersebut. Memang dia masa tersebut beliau sudah berusia lanjut.

"Tidak," jawab beliau.

Mendengar jawaban singkat beliau, mereka semakin penasaran. Mereka lalu mendesak beliau agar mau mengungkapkan alasannya. Lantas setelah mendapat desakan tersebut, beliau pun kemudian berkata,

" Dulu, apabila saya terlambat pulang kerja, almarhumah istri saya selalu menunggu dengan sabar sembari menyiapkan dua gelas jus mangga. Kemudian ketika saya sudah pulang, kami berdua pun meminumnya bersama-sama. Sekarang, isteri saya sudah wafat. Saya tetap merasa berat untuk meminum jus mangga sendirian. Saya tak bisa meminumnya tanpa dia," ujarnya.

"Saya", lanjut beliau, "Selalu memohon kepada Allah agar Ia mempertemukan kami berdua di syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga..," ujar beliau mengulangi perkataannya.

Masya Allah... sungguh indah kisah cinta orang yang sholeh. Semoga kita pun bisa berkumpul dengan orang yang kita cintai di surga kelak, aamiin.


View Post
Flight Plan Review



Oke, jadi ini film sebenarnya sudah lama. Tahun 2005 keluarnya. Mungkin diantara kalian pun sudah pernah ada yang menontonnya. Tapi karena sesuatu hal, saya jadi keingetan lagi sama film ini. Untuk jalan ceritanya silahkan googling saja ya. Aku nggak ingin membahas lebih lanjut. Yang jelas menurutku film ini recommended banget untuk ditonton, terutama untukku sendiri yang merupakan seorang ibu. 

Film ini jalan ceritanya bagus. Dibintangi salah seorang aktris senior yaitu Jodie Foster. Salah satu filmnya yang aku suka juga adalah the silent of the lamb. Film lawas juga sih (ini kayaknya aku doyannya nonton film lawas ya.. hehe). Rada-rada mirip sama film ini. Bukan jalan ceritanya ya yang mirip. tapi yang bikin mirip adalah karena sama-sama film thriller. Kita juga akan dibuat bertanya-tanya  tentang tokohnya. Siapa sih penjahatnya? Gimana ya nanti akhirnya? Ini arahnya kemana ya? Ya pokoknya beragam pertanyaan yang mengusik saat pertama kali nonton ini.  That's why i love this movie. Untuk bisa menikmati film ini, jangan berekspektasi macem-macem. Cukup ikuti alur cerita dan kita akan kaget dengan jalan ceritanya. 
 
Jadi, dalam film ini, Jodie Foster memerankan tokoh Mrs. Fratt yang harus berjuang di dalam pesawat untuk mencari anaknya yang tiba-tiba menghilang. Anehnya nggak ada satu orang pun di pesawat yang ngeliat anaknya tersebut sehingga orang-orang yang ada di pesawat mulai nganggap Mrs. Fratt ini stress, giladsb. Apalagi dia juga baru kehilangan suaminya yang meninggal jatuh dari atap. Namun, Mrs. Fratt yakin bahwa anaknya beneran ikut ke pesawat. Dia yakin bahwa ada yang mengambil anaknya dan  anaknya sedang dalam bahaya. Ketika semua orang nggak ada yang percaya sama dia, bahkan justru memojokkannya, ia tetap yakin pada instingnya sebagai seorang ibu. Disini sih aku ngerasa Mrs. Fratt bener-bener sosok yang keren banget sih.

Bahkan pas ngeliat perjuangan Mrs. Fratt mencari anaknya ini, aku jadi langsung bertanya kepada diri sendiri, 
"Bisa ga ya, aku menjadi ibu yang seberani itu?"
"Bisa ga ya, aku yakin pada diriku sendiri?"
"Bisa ga ya, aku melindungi anakku apapun yang terjadi?"
Dan akhir cerita ini pada akhirnya akan membuat kita menyadari betapa luar  biasanya perjuangan dan keyakinan seorang ibu.

Ini film bener-bener bagus sih, meski heran juga kenapa di imdb ratingnya cuma 3 bintang. Padahal film ini memenangkan 2 nominasi lho. Oh iya, di film ini juga nggak ada adegan aneh-aneh semisal adegan ciuman, adegan jorok dan sejenisnya yang biasanya suka ada di film barat. Dan ini menjadi nilai plus tersendiri buatku sih.


Intinya, I give 4,5/5 Stars for this movie.. Yeay. 
Kalau kalian sendiri, pernah nonton film ini belum?
View Post

Gambar: creativitypost.com




Kreativitas pada anak katanya perlu ditumbuhkan. Padahal itu adalah pernyataan yang salah karena sesungguhnya anak-anak kita itu sudah terlahir kreatif. Tak percaya? Coba perhatikan saja, anak-anak kita seringkali menemukan caranya sendiri untuk bermain. Kertas yang dirobek-robek jadi mainan. Panci dan peralatan dapur yang kerap kali ia jadikan alat musik. Bantal dijadikan pegunungan dan kotak kardus yang ia jadikan bangunan. 

Kita sendiri sebagai orang tua kadang kalah kreatif dengan anak-anak. Mungkin itu disebabkan karena seumur hidup kita telah dibentuk oleh sistem yang membatasi kreativitas kita, sehingga kreativitas yang ada sejak kecil makin terkikis seiring pertambahan usia.

Beberapa waktu lalu (sudah lama sih sebenarnya) ada diskusi dalam komunitas saya yaitu komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Saat itu tema yang dibahas adalah tentang kreativitas. Saya akan mencoba merangkum dan mungkin sedikit menambahkan dari sudut pandang saya tentang kreativitas itu sendiri. Berikut adalah hasil rangkuman saya terkait diskusi tersebut. Semoga bermanfaat.


Apa itu kreativitas?


Gambar: http://savimontessori.com/



Sebelum menyimak penjelasan lebih lanjut. Kita harus tahu dulu, kreativitas itu apa sih? 
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk berpikir out of the box, kemampuan berkarya dan memecahkan masalah. Kalau menurut saya sendiri, kreativitas adalah suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Jika dilihat dari prosesnya, kreativitas terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1. Evolusi : Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Pada dasarnya seperti yang disinggung di awal, anak-anak itu sudah terlahir kreatif. Bahkan kita pun waktu kecil sebenarnya juga kreatif. Masih ingatkah, bagaimana anak-anak jaman dulu menjadikan batang daun pisang menjadi mainan senjata? Atau kalau dulu waktu kecil saya menjadikan batang talas menjadi boneka dengan rambutnya yang panjang. Lalu ada tanaman pegagan yang dijadikan penghembus balon busa? Saya juga ingat dulu menjadikan tempurung kelapa sebagai alat masak untuk membuat nasi goreng. Anak-anak kadang punya cara sendiri dalam memanfaatkan bahan-bahan disekitarnya menjadi barang yang menakjubkan. Namun sayangnya, seiring bertambahnya usia, justru kreativitas itu menjadi layu bahkan kadang mati. Saya sendiri pun mengakui itu. Nah, kira-kira apa penyebabnya?


Kenapa Kreativitas tidak Berkembang?



Gambar : https://mumslounge.com.au/



Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kreativitas terhambat, diantaranya adalah:

1. Orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung : Misalnya saja orang tua yang terlalu protektif sehingga membatasi anak untuk mengeksplor banyak hal. Lingkungan yang meremehkan dan tidak mendukung anak untuk menghasilkan karya. Ketika anak membuat sesuatu, lingkungan kurang memberikan apresiasi kepada anak atau  bahkan sampai mengejek.

2. Sistem sekolah yang terlalu kaku : Sistem sekolah yang terlalu kaku dan membatasi siswa untuk berkarya kadang menjadi penghambat bagi anak untuk berpikir out of the box. Salah satu contoh sederhana misalnya memberikan soal-soal atau pelajaran yang terlalu saklek dan tidak mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap sesuatu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua agar menghindari hal tersebut?

1. Memberi anak lebih banyak dorongan positif untuk berkreativitas
2. Memberikan cinta tanpa syarat
3. Menghargai keunikan anak
4. Memberikan anak kesempatan untuk menjelajah

Dalam mendampingi anak-anak, kita juga harus memiliki sudut padang kreatif karena anak-anak butuh stimulasi dari lingkungan agar bisa terus berkreativitas. Kita pun jangan cepat memberikan penilaian terhadap hasil kerja anak, karena terkadang apa yang mereka lakukan mungkin bukan seperti apa yang kita pikirkan. Misalnya, suatu ketika, anak saya yang berumur 4 tahun mencari gunting dan menggunting kertas-kertas hingga menjadi berantakan. Awalnya tentu saya kaget karena semua menjadi sangat berantakan. Kertas-kertas yang harusnya bisa dipakai untuk menulis dsb malah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Saya pun lalu bertanya kepada anak saya saat itu, kenapa ia menggunting-gunting kertas seperti itu? Ketika diselidiki, dia berkata bahwa dia sedang memiliki "projek" membuat "salju". Ia ternyata sedang berimajinasi dan menganggap kertas-kertas itu sebagi salju. 

Hal-hal semacam itulah yang kadang bisa diluar ekpektasi kita. Apa alasan anak melakukan hal tersebut? Apa yang mendasarinya? Pasti ia memiliki tujuan yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Itulah pentingnya komunikasi dan mengosongkan pikiran kita dari prasangka. Kalau kita tidak mencoba melihat dari sudut pandang anak, mungkin yang terjadi adalah kita marah karena rumah jadi berantakan dan melihat kertas-kertas yang tak dapat digunakan.  Padahal kalau dipikir ulang, mungkin itu adalah salah satu cara dia untuk bisa bermain  dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.

Oleh karena itu, belajarlah untuk membuka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja karena jaman kita berbeda dengan mereka.  Mungkin selama ini pikiran kita sebagai orang tua dibatasi oleh lingkungan yang tidak mendukung, larangan-larangan yang berlebihan, dan ketakutan dari diri kita sendiri. Maka jangan lakukan hal tersebut pada anak-anak kita agar kreativitas mereka bisa berkembang dengan baik hingga mereka dewasa.


Anak tetap Memerlukan Bimbingan Orang Tua



Gambar : https://30seconds.com/


Pada dasarnya kreativitas itu baik, hanya saja kreativitas menurut saya tetap tidak boleh kebablasan karena walaubagaimanapun tetap ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Contohnya saja, kita tetap tidak boleh membiarkan anak kita menciptakan baju transparan yang akibatnya membuat aurat kelihatan hanya karena alasan itu bagian dari kreativitas. Banyak sekali sebenarnya contoh "kreativitas" yang kebablasan dan tidak pada tempatnya di jaman sekarang ini.

Oleh karena itu, diawal tadi saya memberikan definisi sendiri terkait kreativitas bahwa kreativitas hendaklah menjadi suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dan karena saya adalah seorang muslim, maka penting juga untuk memberikan pemahaman bahwa kreativitas haruslah tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam ilmu pengetahuan, penting sekali untuk menjadi orang yang kreatif karena kreativitas itulah yang akan membantu peneliti maupun ilmuwan untuk menciptakan obat atau teknologi yang bermanfaat bagi manusia. Namun jika kreativitas tidak diiringi oleh nilai moral dan spiritual, kreativitas itu juga bisa menjadi bumerang bagi manusia. Oleh karena itu betapa pentingnya didikan dan bimbingan dari orang tua maupun orang-orang terdekat, agar sejak dini anak-anak bisa mengembangkan kreativitas untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita sebagai orang tua maupun calon orang tua dapat membimbing anak dengan baik ya. Aamiin.


#selfreminder
View Post
Hai para ibu, calon ibu ataupun pembaca yang barangkali numpang lewat.. hehe. Beberapa waktu lalu saya sempat membuat artikel tentang Tips Menghadapi Balita Dua Tahun. Nah, kali ini saya akan membuat rangkuman dari diskusi emak-emak di sebuah forum bernama FOCER. FOCER sendiri merupakan sebuah (Forum curhat emak-emak rempong) yang diinisiasi oleh Pemerhati Parenting, Ibu Kiki Barkiah. Ini diskusi menarik ya soalnya. Banyak sekali masukan dari para ibu yang saya dapatkan terhadap berbagai permasalahan anak. Oke, let's start.


Q : Ibu Emosian Saat Nyuapin Anak?
"Saya gampang emosi dan gak sabaran kalau melihat anak mulai melepeh makanan. Saya kadang harus meninggalkan anak saya karena takut marah saya makin menjadi-jadi. Apa yang harus saya lakukan?

Sumber Foto :zerotothree.org



1. Beri Anak Waktu
Ada penjelasan dari seorang dokter anak di Amerika bernama dr. Brezelton. Ia mengatakan bahwa anak balita itu kadang memang butuh waktu sampai berkali-kali agar mau mencoba makanan baru. Kalau anak masih membuang-buang makanan, berarti mungkin saat itu ia memang belum mau mencoba makanan tersebut. Jadi dibiarkan saja dulu sampai dia benar-benar mau makan. Sediakan makanan yang sehat sehingga ketika sewaktu-waktu ia lapar, ia bisa memakannya.

Seorang Ibu perlu menyadari bahwa terkadang memang ada masanya anak sulit untuk makan dan hal itu yang wajar. Teruslah belajar atau sharing dengan komunitas ibu lainnya agar bisa saling bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Jangan lupa, atur jadwal makan anak, agar saat jam makan, anak memang benar-benar dalam kondisi lapar sehingga mudah-mudahan bisa memperkecil terjadinya penolakan atau GTM (Gerakan Tutup Mulut).Tetap terus berusaha memberi makan. Ajak anak melakukan aktifitas outdoor supaya mereka gampang lapar. Dan jangan lupa ciptakan suasana menyenangkan saat makan.


2. Mereka hanya Anak Kecil
Kebanyakan orang tua menjadi emosi karena kita lupa kalau sedang berhadapan dengan anak kecil. Kita berharap anak melakukan sesuatu sesuai ekspektasi orang tua padahal seharusnya orang tua lah yang menyesuaikan diri dengan perkembangan pola pikir anak. Jadi, usahakan dibawa santai ya Maak. Jangan kebawa emosi nanti lama-lama kita bisa stress.

3. Banyak Berdzikir atau Mengingat Tuhan

Banyak-banyaklah berdzikir, karena memang Allahlah penggenggam setiap hati manusia, termasuk hati anak kita. Dia lah yang akan memudahkan segala urusan kita. Jadi jangan malu untuk berdoa agar Allah memudahkan peran kita dalam mengurusi anak-anak di rumah, termasuk dalam urusan memberi makan sekalipun. Ingatlah,
"When you feel snappy at your kids, remember it's not your children who are testing your patience. It's Allah who is testing yours. So forgive yourself, go back to Allah and pray that you build yourself up, in order to pass His test." 

Saya kurang tahu itu pernyataan siapa, yang jelas, pernyataan itu juga jadi self reminder untuk diri sendiri bahwasanya ketika anak-anak kita berperilaku kurang menyenangkan, justru saat itu barangkali Allah sedang menguji diri kita. Allah ingin melihat seberapa mampu kita bersabar dan seberapa kuat kita ingin tetap berusaha. Maka dari itu perbanyak juga berdoa dan berdzikir agar setiap urusan kita diberi kemudahan dan keberkahan. Allahumma yassir wala tu'assir, Ya Allah permudahlah dan jangan Engkau persulit.

4. Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Anak 
Contoh kasus, misalnya kita sudah capek-capek membuatkan makanan yang menarik (menurut kita) untuk anak. Lalu kita berharap makanan itu akan dihabiskan oleh anak. Pada kenyataannya, ternyata makanan yang sudah kita buat susah payah itu malah tidak dimakan. Sedih banget nggak sih? Sakitnya tuh disiniiii (sambil nunjuk dada). Saya sering merasakan hal ini dan rasanya sedih sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang saya berusaha untuk lebih selow dalam ini agar tak terlalu kecewa jika anak tak melakukan sesuatu sesuai harapan. Jika kita hanya menuntut anak, bisa-bisa kita jadi stress dan emosi. Ujung-ujungnya kita hanya marah-marah dan menyebabkan waktu makan menjadi waktu yang tak menyenangkan bagi anak. Kalau sudah begitu, maka tak ada yang diuntungkan bagi keduanya.

Jadi Bunda-bunda cantik, coba dinikmati saja momen-momen ini. Kalau masakan kita dimakan, ya alhamdulillah. Kalau tidak dimakan ya rapopo. Kan bisa kita aja yang makan (laahh.. pantesan ibu-ibu badannya banyak yang melar ya, hehe). Intinya jangan patah semangat. Teruslah mencoba walaupun memang pada akhirnya kita harus bermental baja dan tahan capek karena penolakan. Ikhlaslah. Yakini bahwa akan ada pahala dari setiap lelah dan keringat yang keluar pada saat kita memasaknya. Kalau anak tidak mau makan, ya kita saja yang makan atau bisa berikan ke suami biar tidak mubazir. Case closed ya kan? :D

5. Pakai Strategi Lain

Kalau memang anak susah makan, coba dikreasikan bentuk dan cara makannya, jadi tidak harus seperti yang biasa kita makan. Yang penting zat-zat yang dibutuhkan dalam sehari dapat masuk ke tubuh anak.

Misalnya saja telur rebus. Sambil anak bermain, telur bisa dipotong sedikit-sedikit dan kita suapkan ke mulutnya. Lama-lama bisa habis 1 butir telur lho. Bisa juga suapi selembar keju sedikit-sedikit sampai habis. 

Kalau anak tak suka nasi, bisa ganti karbohidratnya dengan roti, olahan singkong, olahan ubi, atau olahan kentang. Protein bisa diganti dengan selembar keju (sebaiknya jangan yang berpengawet ya), sebutir telur, sepotong ikan goreng, sepotong ayam goreng dsb. Sayur bisa sekalian dicampur diolahan kentang atau ubi dll. 
Kita juga bisa buat dalam bentuk perkedel, nugget, bola-bola nasi (yang didalamnya sudah ada protein, sayuran, karbohidrat). Itu pun sebenarnya sudah termasuk makan, karena yang terpenting zat-zat yang dibutuhkan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa googling dari berbagai situs parenting atau resep masakan, supaya bisa menambah kreasi dan inovasi masakan di rumah. 

6. Keep Relax
Tenanglah wahai bunda. Ini adalah bagian dari proses. You are not the only mom who feel this. You are not alone. Banyak orang tua yang mengalami kesulitan yang sama, termasuk saya pun. Masa-masa susah makan itu pasti akan ada. Tapi nanti bersiaplah seiring dengan bertambahnya usia, akan muncul masa-masa anak kita akan susah berhenti makan. Yakinlah, "badai" ini insya Allah pasti berlalu. Tenangkan hatimu karena kau sedang berada pada masa yang "menantang" ituu! Enjoy it karena masa-masa ini tak akan berlangsung lama. Jadi, tetap semangat ya Bunda.


Nah, itulah beberapa pesan untuk para orang tua di luar sana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tetap semangat! Masa GTM ini sebenarnya memang masa yang sulit. Saya pun pernah berada di titik hampir menyerah melihat anak yang susah makan. But stay relax. Jika butuh teman curhat, berdiskusilah dengan suami atau sahabat dekat. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan mental kita juga ya karena Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Take a break dan lakukan hal lain yang menyenangkan jika memang Bunda membutuhkannya. Semangat Selalu!

View Post





Sumber gambar : kompas.com

Seperti yang kita ketahui, R.A Kartini merupakan seorang pahlawan Indonesia yang berjuang bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menuangkan pikiran-pikiran yang antimainstream di jamannya saat itu. Sebagai seorang perempuan bangsawan yang memiliki banyak aturan, ia sadar betul bahwa telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan di negerinya sendiri bagi para perempuan dalam banyak bidang, terutama dalam bidang sosial dan pendidikan. a sadar bahwa perempuan hendaklah diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi karena perempuan kelak akan mendidik anak-anak dalam keluarganya.

R.A Kartini memberikan banyak inspirasi dari pikiran-pikirannya. Hingga sekarang bahkan pikiran-pikiran tersebut bisa menjadi motivasi bagi kita agar mampu menjadi perempuan berdaya dan berwawasan luas. Berikut ini adalah 13 pesan inspirasi dari Kartini yang perlu kita simak.


1. Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya.

2. Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.

3. Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.

4. Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang seimbang antara raga yang tangguh, namun hati senantiasa patuh. Emansipasi ada penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap tempat ada empu yang dikodratkan dan dipantaskan. 

5. Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing. Lagi pula, saya  bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya. 

6. Pendidikan untuk wanita sangat penting dalam konteks mendukung  perannya sebagai Isteri dan ibu yang bermimpi besar. Tapi kalau salah kaprah dan menelantarkan anak-anaknya berarti sama saja dengan membodoh lagi.

7. Apakah gunanya pemerintah memaksa orang laki-laki menyisihkan uang, kalau isteri-isteri mereka yang menyelenggarakan rumah tangga tidak mengenal tentang nilai uang?

8. Meskipun sekarang sebagian besar kebanyakan Kepala Bumiputra menyekolahkan anaknya hanya untuk gagah-gagahan saja, karena mereka tidak mau ketinggalan oleh yang lain. Dan bukan karena kesadaran mereka terhadap kegunaan pengetahuan bagi perempuan baik itu untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. 

9. Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahan kekuatan mendidik itu harus berasal. Siang malam anak-anak di rumah, di sekolah hanya beberapa jam saja.

10. Para lanjut usia, jangan menolak segala hal yang baru. Ingatlah, bahwa semua yang sekarang sudah tua, juga pernah baru.

11. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput layaknya. Bila agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". Kepada kakak-kakakku laki-laki maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan tertibnya, tetapi mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya adat itu.

12. Terlalu sering kami merasakan bahwa kami, orang Jawa, bukanlah manusia sama sekali. Bagaimana mungkin orang-orang Belanda berharap untuk dicintai orang-orang Jawa, ketika mereka memperlakukan kami seperti ini? Cinta melahirkan cinta, tetapi hinaan tak akan pernah menimbulkan kasih sayang.

13. Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.


Itulah beberapa kalimat inspirasi dari R.A Kartini. Ada begitu banyak hikmah dan pesan yang tersampaikan. Yang jelas, ada banyak sekali para pejuang perempuan selain Kartini yang sejak dulu telah memberikan sumbangsih bagi negeri ini. Oleh karena itu sebagai perempuan Indonesia, sudah selayaknya kita ikut berkontribusi sesuai dengan peran dan minat kita masing-masing saat ini. Jayalah terus Indonesia, jayalah perempuan Indonesia. Teruslah berkarya sesuai kemampuan kita tanpa harus melalaikan tanggung jawab kita sebagai seorang perempuan.


Sumber : Nurcholish, Ahmad. 2018. " Celoteh R.A. Kartini : 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi". Jakarta : Elex Media Komputindo.


View Post
Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



View Post




www.familyeducation.com
 

By the way, ini sebenarnya adalah catatan lamaku. Waktu itu aku membaca diskusi di sebuah grup Ibu-ibu dan menurutku diskusinya sangat menarik, Sayang saja kalau sampai disimpan untuk diri sendiri.

Tema pembahasan saat itu adalah tentang si "terrible twos". Hayoo, siapa disini yang memiliki anak usia dua tahun? Sebagai seorang emak-emak dari tiga orang anak, aku sendiri juga merasakan anak-anakku berada pada fase ini. Anakku yang paling kecil pun juga sekarang sudah lebih dari dua tahun.

Memasuki fase dua tahun menurutku adalah masa-masa yang menantang. Anak mulai suka melakukan sesuatu sendiri, mudah ngambek, suka bilang nggak, wkwk. Belum di tingkat parah sih, tapi kadang suka bikin emosi juga liatnya. Perkara memilih baju saja bisa membuatnya menangis. 

Kalau ditelaah dari ilmu psikologi, masa 2-3 tahun itu emang merupakan masa anak mulai belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dulu pas jadi pengajar di TPAM, aku juga sempat jadi PJ yang memegang kelompok anak dua tahun. Sungguh beda menghadapi anak usia ini dibanding kelompok lain. Kesabarannya harus lebih ekstra, hihi. Padahal saat itu aku lagi menghadapi anak orang lho. Yang ketemunya saja cuma 4 hari seminggu. Tapi udah bikin capee... xD. Nah apalagi sekarang ya, pas ngadepin anak sendiri yang tiap hari ketemu 1x24 jam.

Saat membahas soal ini, aku jadi teringat pada perkataan dosenku saat di bangku kuliah. Beliau adalah dosen Perkembangan sekaligus koordinator di tempatku bekerja, Mbak Vivi namanya.

"Yang megang kelompok kepompong (*kelompok kepompong itu adalah kelompok anak usia 2-3 tahun) harus sabar ya... karena fase anak dua tahun adalah fase dimana mereka mulai ingin bersikap mandiri, mulai ga mau dibantu orang lain, mulai ingin melakukan sesuatu atas kehendak mereka sendiri tanpa di atur-atur, ingin mencoba hal baru sekalipun itu sesuatu yang bisa berbahaya buat mereka (karena mereka emang belum tahu apa itu bahaya dan kalau di kasih tau malah marah... haiyah)". Di fase ini anak juga mulai suka tantrum dan jangan aneh juga kalau mereka akan sering mengatakan kata "tidak", "nggak", dan sejenisnya,"


Fase dua tahun disebut juga fase peralihan. Kalau di usia 1 tahun anak masih bergantung dengan ayah bundanya. Mereka masih takut-takut terhadap sesuatu (jadinya lebih nurut). Mereka juga belum terlalu berani untuk melakukan sesuatu (kecuali di dorong oleh ayah bundanya). Nah, maka di usia dua tahun, mereka mulai merasa yakin dengan kemampuan diri mereka sendiri. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan motorik mereka yang terus berkembang. Mereka cenderung sudah lancar berjalan ataupun berlari. Genggaman tangan juga sudah lebih kuat.  Hal tersebut menimbulkan perasaan bahwa mereka "lebih berkuasa" atas diri mereka sendiri. Sayangnya hal tersebut tidak di dukung oleh pengetahuan yang mumpuni, sehingga hal berbahaya pun kadang mereka lakukan. 


foto : apkpure.com


Usia Dua Tahun Mirip Seperti Masa Remaja


Kalau kata dosenku, masa peralihan pada anak di usia dua tahun ini mirip seperti masa remaja. Misalnya tipe yang "sok-sokan", mulai nggak mau dinasehatin, nggak mau dikasih tahu. Merasa bisa melakukan segalanya dan bertindak sendiri, padahal dia sebenarnya belum punya banyak pengalaman. Makanya terkadang ortu juga suka dibuat bingung sama sikap anak remaja. Nah, mirip seperti itulah fase 2 tahun ini. Bahkan kata dosenku, ada buku khusus sendiri yang membahas tentang fase 2-3 tahun ini, saking spesial dan uniknya.

Mereka Perlu Dibimbing Untuk Tidak Penakut dan Tidak Sok Tahu


Nah, difase ini tugas orang tua tentunya adalah membimbing. Membimbing pun juga tidak boleh ekstrem. Harus moderat, tidak boleh terlalu galak ataupun terlalu permisif. Kalau terlalu galak, anak kelak malah akan tumbuh jadi sosok yang penakut (karena jadi takut salah dan takut dimarahi), tidak percaya diri atas kemampuan sendiri (karena sering disalahkan), tidak berani dan pemalu. Pun kalau terlalu dibiarkan nantinya dia akan tumbuh jadi anak yang pembangkang, terlalu bebas dan sesuka hati (karena terbiasa dibiarkan aja, atau segala keinginan dituruti). Agak repot kan? haha.. Itulah seni dan tantangan jadi orang tua ya. Gak akan ada habis-habisnya.

Intinya sih memang ada hal-hal yang harus dituruti anak jadi sebagai orang tua kita harus mampu bersikap tegas. Tegas disini bukan malah menjadikan kita orang tua yang galak dan sering marah-marah. Marah dan tegas itu beda soalnya. Perbedaannya bisa dilihat dari intonasi suara. Kalau tegas cenderung datar dan menggunakan kalimat singkat. Kalau marah, cenderung bernada tinggi, membentak dan teriak (aku juga masih harus banyak belajar nih untuk lebih mengatur emosi dan bersikap tepat dalam menghadapi anak-anak). 
Kalau boleh saya mengutip perkataan salah satu temanku yaitu Jayaning Hartami,

"Fase 2-4th memang lagi masa anak belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dan terkadang di beberapa anak jadi muncul perilaku teriak, mukul, dsb yang kalo dipersepsi kepala kita dianggap sebagai "perilaku menyimpang". Padahal yang ada di kepala anak kita, "Mommy. This is how I rule my world." Mereka butuh kemampuan untuk "mengontrol" dunia mereka, tapi mereka nggak tau caranya. Jadi saat mereka sengaja ataupun tidak memukul atau teriak, terus ibunya atau orang di sekelilingnya tiba-tiba jadi perhatiin si anak atau malah ngomel dsb, mereka merasa perilaku mereka adalah benar. Mereka senang mendapat "perhatian" itu."


Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika anak kita melakukan hal yang tidak kita inginkan? Misalnya teriak-teriak, atau mukul-mukul.  Yang pertama adalah jangan reaktif akan perilaku anak di depan umum.
Meskipun mungkin pada saat tersebut, kita malu diliat orang-orang dan rasanya pengen ngomel di tempat, tapi cobalah tenang dulu (widih.. praktiknya nih yang kudu dilatih) . Dan hal kedua yang perlu dilakukan adalah kita tunggu saat anak sudah tenang, barulah diajak ngobrol berdua "eyes to eyes". 

Kalau kata psikolog dalam sebuah artikel, terkadang anak berusaha menarik perhatian dengan perilaku menyimpang, karena buat anak mendapat omelan ortu masih lebih baik ketimbang nggak diperhatiin sama sekali (jleb ga tuh?). Makanya untuk para orang tua, jangan sampai abai yaa. Kalau melihat anak berperilaku baik, berikan kecupan sayang dan perhatian saat itu juga. Terkadang kita ini lebih cepet nyadar saat anak lagi berperilaku "jelek" ketimbang saat dia berperilaku baik. 

Pada saat dia berperilaku manis eh kitanya malah nggak ngeh... heuuuh. Jadinya si anak kan mikir, "Kayaknya ayah dan ibu lebih ngeh kalau aku teriak-teriak deh daripada aku bisa ngerapihin mainanku sendiri. Ya udah deh aku teriak aja." Begitu kira-kira pikiran yang muncul di diri anak-anak kita. Maka dari itu, hal utama dan paling utama yang perlu dilakukan adalah orang tua harus instrospeksi diri. Jangan-jangan ortu kurang mengapresiasi sikap manis anak selama ini hingga akhirnya anak mencari perhatian dengan "caranya" sendiri.




foto: activebabiessmartkids.com.au

Mengisi Tangki Cinta


Yang perlu diketahui ortu adalah, tiap anak itu punya "tangki cinta"nya masing-masing. Mereka punya tangki cinta yang berbeda. Ada anak yang "tangki cinta"nya adalah sentuhan. Ada yang dengan pujian, hadiah, dsb. Maka, orang tua harus cari tahu, "Kira-kira tangki cinta anakku apa ya?" Jadi, untuk mencegah anak berbuat "aneh2" dengan mencari perhatian dengan cara yang kurang tepat, maka tinggal penuhi tangki cintanya. Sama seperti anakku, kalau dia sudah mulai keliatan kesal, berontak dsb, biasanya aku coba peluk, sambil cium dan bilang "sayang". Biasanya dia akan "lumer" dan tidak jadi tantrum.

Mengasuh anak memang tantangannya berat, tapi mudah-mudahan ke depannya kita bisa makin lebih baik jadi orang tua. Seperti halnya kata Ibu Kiki Barkiah,

"Repot urusan anak diwaktu kecil itu PASTI. Repot urusan anak diwaktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH. Repot urusan anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI."


Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang sabar, penyayang dan bisa memberikan contoh dan teladan baik bagi anak-anak kita kelak, Aamiin.



And for the last, this is reminder to myself, huhu. Semangaat... Semangat! Harus lebih sabar yaa.. *pukpuk diri sendiri.






************************************************
Jika Berkenan, Silahkan baca juga link berikut:

Agar Anak Nyaman Belajar











View Post
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah webinar di sekolah anak saya Nayra. Webinar itu memang diperuntukkan bagi para orang tua siswa kelas 2. Awalnya agak malas untuk ikut (wkwk), tapi saya pikir apa salahnya ikut bergabung kan? Toh memang ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan sekolah kepada para orang tua. Temanya saat itu tentang bagaimana membuat anak belajar dengan nyaman di rumah. Pembicaranya adalah Ibu Ida S Widayanti.

Saya sih gak fokus melihat materinya secara keseluruhan dari awal karena memang saat itu sambil disambi aktivitas rumah tangga. Tapi ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan perlu saya tulis disini sebagai salah satu ikhtiar saya dalam mengikat ilmu. Yah syukur-syukur jika tulisan ini bisa bermanfaat pula bagi orang lain. Berikut beberapa rangkuman yang saya buat. Check it out!


Pertama, hidupkan perasaan bahagia dalam proses mendidik anak-anak.


foto : kidengage.com


Pada dasarnya, perasaan bahagia bisa memberikan banyak keuntungan dalam proses mendidik. Pesan yang kita sampaikan ke anak, akan lebih cepat masuk ke dalam hati dan pikirannya jika suasana hatinya juga sedang baik. Jadi, percuma jika kita ingin memberikan saran atau nasihat kepada anak sementara saat itu sang anak dalam kondisi tidak nyaman, bete, kesal ataupun marah. Itu tak ada gunanya.

Kita harus ciptakan dulu suasana menyenangkan bagi anak, agar hati dan pikirannya siap menerima pesan yang kita sampaikan. Ingat, bahwa suasana hati yang baik akan menguatkan otak dalam menerima pesan.

Kedua, setiap berkomunikasi dengan anak, pastikan komunikasi tersebut memenuhi salah satu atau semua tujuan komunikasi. 



Berikut ini tujuan komunikasi yang hendaknya kita pertanyakan setiap akan berkomunikasi dengan anak. 

1. Apakah kita ingin menyampaikan informasi ke anak? (to inform)

2. Apakah kita ingin mendidik anak? (to educate)

3. Apakah kita ingin membujuk anak? (to persuade)

4. Apakah kita ingin menghibur anak? (to entertaint)

Jika komunikasi kita tidak  memenuhi tujuan itu, maka sebaiknya komunikasi tersebut tidak dilanjutkan dan dihentikan saat itu juga. Kemarahan, makian, omelan bukanlah komunikasi terbaik untuk mencapai tujuan komunikasi dengan anak, baik itu untuk mendidik ataupun memberi informasi (apalagi menghibur). Sekalipun mungkin kita berniat demikian tapi itu bukanlah langkah yang tepat.

exploringyourmind.com


Jadi, ketika kita mulai ingin marah-marah, ingat lagi tujuan komunikasi diatas. Percayalah, percuma kita marah-marah karena pesan yang kita sampaikan tidak akan memberikan motivasi positif kepada anak-anak. Justru anak-anak akan makin tak nyaman, sedih, tidak suka, atau bahkan ikut marah. 

Buang energi kita dari hal yang sia-sia, terutama marah-marah. Salah satu tipsnya bisa dengan melakukan teknis pernapasan perut yang diiringi dengan istighfar (letakkan telapak tangan kanan di perut dan tangan kiri di dada. Rasakan perut mengembang saat menarik napas dengan hidung dan perut mengempis saat mengeluarkan napas lewat mulut). Ucapkan istighfar dalam hati. 

Atau kalau dalam anjuran Nabi adalah dengan mengubah posisi dari berdiri ke duduk dan mengambil wudhu. Insya Allah, mudah-mudahan kita tak jadi marah setelahnya.

Ketiga, gunakan kacamata lebah dalam melihat perilaku anak. Jangan malah menggunakan kacamata lalat.


Apa maksudnya? Pada dasarnya, lalat dan lebah adalah dua makhluk Allah yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Lalat lebih suka dengan bau-bau busuk, sementara lebah suka dengan sari bunga dan bau yang wangi.

Jika lalat ditempatkan di sebuah taman bunga, tetap saja yang dicarinya sampah. Sementara lebah, jika ditempatkan di tumpukan sampah, tetap saja yang dicarinya adalah sekuntum bunga.

Demikian juga para orang tua. Jika kita memilih untuk menggunakan kacamata lalat, maka kita hanya akan mencari keburukan dan kekurangan pada perilaku anak. Hanya itu saja fokusnya. Pokoknya yang kita ingat hanyalah kekurangan dan kesalahan anak saja. Seakan-akan anak tak punya kelebihan yang bisa kita bicarakan.

Berbeda dengan jika kita memilih kacamata lebah, maka kita fokus pada kelebihan anak. Bahwa anak juga punya sesuatu yang baik yang perlu kita dukung. Bahwa pada dasarnya anak juga memiliki hal-hal positif yang bisa kita syukuri.

Sebagai contoh, coba perhatikan gambar ini.


Foto : gettyimages.com

Coba lihat sejenak gambar itu dan kita coba pakai kacamata lalat. Apa yang kita pikirkan?

Dapur berantakan, peralatan yang kotor, bahan makanan yang terbuang, dsb. Yang kita lihat saat itu hanyalah hal negatif. Betul tidak? 

Tapi coba kita ganti kacamata kita dengan kacamata lebah. Apa yang kita lihat? 

Wah, kita melihat anak-anak sedang eksplorasi. 
Wah anak-anak sedang belajar hal baru. 
Wah anak-anak sedang mencoba belajar memasak dsb.
Masya Allah!

Itu yang luput dari para orang tua. Kebanyakan kita (termasuk saya pun) sepertinya masih lebih sering menggunakan kacamata lalat daripada lebah. Tanpa disadari kita kadang fokus hanya pada hal-hal negatif. Padahal kita lupa, bahwa anak-anak juga memiliki banyak hal-hal baik yang perlu kita apresiasi.

Keempat, pentingnya memahami suasana hati.


Suatu hari, terdengar seorang ibu sangat berisik ketika sedang mencuci piring. Klentang-klentong bunyi peralatan dapur terdengar saling beradu. Suaranya sangat mengganggu tak seperti biasa. Kira-kira kenapa sang ibu sangat berisik saat mencuci piring? Apakah ia tak tahu cara mencuci piring dengan baik dan benar? Ataukah karena saat itu suasana hatinya sedang buruk?

Setelah itu coba bayangkan kembali, dalam kondisi yang seperti itu tiba-tiba datang suaminya berkata,

"Kok berisik sekali nyuci piringnya? Memangnya kamu gak tahu cara mencuci piring? Kalau gak tahu sini aku ajarin!" ujar si suami dengan nada keras dan tinggi.

Kira-kira bagaimana perasaan kita kalau jadi si ibu itu? Apakah kita merasa lebih baik setelah mendengar perkataan suami kita atau suasana hati kita malah semakin memburuk?

Nah, demikian juga dengan anak-anak. Suatu perilaku yang kita lakukan, terkadang juga dipengaruhi suasana hati kita saat itu.

Misalkan suatu hari, anak kita pulang sekolah. Tiba-tiba ia datang sambil membanting atau melempar tasnya dengan wajah yang cemberut. Kira-kira bagaimana reaksi kita?

"Loh kak, kok tasnya dibanting gitu sih? Taruh tasnya yang bener."

Barangkali begitu kira-kira reaksi kita. 

Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah ia tiba-tiba tersenyum dan menjawab, "Baik Bu,"
Atau malah makin cemberut dan kesal?

Perilaku membanting tas memang bukanlah perilaku yang baik. Dan pastinya ketika ia membanting tas bukan berarti karena ia tidak tahu cara menaruh tas yang baik. Barangkali hal itu ia lakukan karena saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Barangkali saat itu ia mendapatkan masalah ketika di sekolah. Sementara ketika reaksi yang kita berikan ternyata dengan langsung menjudge anak, tentu itu hanya akan membuat perasaannya menjadi makin tidak baik. Duh udahlah gak usah berpikir jauh-jauh, kita sendiri saja dulu mungkin pernah bersikap begitu kan? Dan ketika kita dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, kira-kira apa yang kita butuhkan?

foto : desiakhbar.com


Perkataan berupa nasihat dan kalimat perintah bukanlah sesuatu yang ia butuhkan saat itu.
Maka dari itu, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut, mungkin kita bisa bereaksi lebih baik ke anak dengan bertanya lembut,

"Ada apa kak? Kok gak kayak biasanya? Kakak mau cerita sama Ibu?"

Mungkin setelah itu perasaan anak akan menjadi lebih baik. Sekalipun mungkin ia tak akan langsung cerita saat itu, tapi setidaknya ia tahu bahwa kita akan selalu ada untuknya dan menerima perasaannya.

Kelima, biasakan untuk berbicara dengan suara rendah dengan anak. 


Suara yang rendah bisa membuat pesan semakin kuat untuk masuk ke dalam kepala dan hati anak. Jangan biasakan bicara dengan nada yang tinggi. Jika selama ini kita sering begitu ketika menghadapi perilaku anak, maka ubahlah pelan-pelan. Nada yang tinggi tidak akan membuat pesan dan nasihat kita tersampaikan dengan baik. Jadi sungguh itu hanya akan membuang energi kita.

Jangan lupa pula untuk melakukan kontak fisik kepada anak setiap hari. Berikan pelukan dan usapan kepada anak sebagai bentuk kasih sayang kita. 

Keenam, hidupkan surga di rumah.


Caranya gimana? Caranya ya kita lihat bagaimana gambaran surga yang dituliskan dalam Alquran.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri...” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25].

Nah, coba lakukan itu dirumah.
Berseri-serilah saat menatap anak atau anggota keluarga dirumah. Lebih seringlah tersenyum dibandingkan cemberut. Jadikan wajah kita sebagai wajah yang meneduhkan bagi anak-anak.
Ucapkan perkataan yang baik kepada anak. Kurangilah berkata yang sia-sia. Sering marah-marah termasuk perilaku yang sia-sia. Tak ada manfaatnya baik bagi kita sendiri apalagi bagi anak-anak. Jadi lebih baik hindarilah hal tersebut. Hidupkan surga dirumah, hingga kelak pada masanya, kita benar-benar bisa bersama anak-anak dan pasangan kita di surga Allah yang sesungguhnya. Aamiin Yaa Rabb... Bismillah..


(Ketika menuliskan postingan ini, maka seketika itu juga saya sedang menampar diri sendiri...)


*disclaimer:
Rangkuman ini saya tulis berdasarkan apa yang saya tangkap dan yang paling saya ingat. Beberapa diantaranya juga saya tambahkan dengan bahasa saya sendiri. Tidak semua poin materi saya sampaikan, karena saya sendiri tidak mengikuti webinar dari awal. Jadi jika ada tambahan atau koreksi dari rangkuman diatas, maka saya akan terima dengan senang hati. 💕







View Post