Story of My Life : Kisah menjadi Anak Bungsu

Ini adalah tulisan yang sudah sangat lama sekali. Tulisan ini sebenarnya aku kirimkan sebagai tugas kuliah (tapi untuk versi yang ini sudah banyak yang ku edit juga). Jadi, dahulu kala di awal semester, ada mata kuliah yang namanya Bimbingan Menulis (Sekarang sudah tidak ada lagi sepertinya). Di mata kuliah tersebut, kami diminta untuk membuat semacam catatan harian. Nah, ini adalah salah satu catatan yang aku bikin. Catatan ini nanti akan dikumpulkan ke dosen supaya bisa mendapat feedback. Klo tidak salah, ini catatan pertama yang aku bikin.


Mari membaca.


Curahan Hati

Foto: Dokumen Pribadi (aku saat masih bayi)


Aku tidak selemah yang kau kira! Tapi... Aku ternyata tidak sekuat yang aku kira.  
Ada dua sisi kehidupan di dunia ini. Dan aku berada di antara keduanya.  
Jika aku merasa lemah, maka aku pasti akan lemah, 
 Tapi jika aku ingin kuat, maka aku pun pasti akan menjadi kuat!


Aku terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Yaah, jumlah yang lumayan banyak. Memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki membuatku merasa nyaman, karena merekalah yang mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah, hehehe.

Saat aku masih kecil, tidak ada pekerjaan yang aku lakukan karena semuanya sudah diambil alih oleh saudara-saudaraku. Padahal, saat itu aku ingin sekali mencoba untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang mereka lakukan. Namun, mereka tidak mengabulkan keinginanku. Apalagi orang tuaku. Mereka benar-benar tidak membiarkanku untuk melakukan pekerjaan rumah seperti kakak-kakakku. Padahal, bukanlah suatu kesalahan kan jika aku ingin mencoba melakukan apa yang mereka lakukan?

Saat aku masih kecil, kira-kira usia SD, pernah aku dimarahi hanya karena memegang sebuah cabai merah ketika sedang melihat kakakku memasak di dapur. Mereka bilang, tanganku bisa kepedasan gara-gara memegang cabai itu. Menurutku itu terlalu berlebihan. Bukankah aku bisa mencuci tangan setelah memegang cabai itu? Mengapa aku tidak diperbolehkan melakukan apa yang ingin aku ketahui? Apakah karena aku masih kecil? Kalau jawabannya iya, kenapa kakakku selalu bercerita bahwa mereka sejak kecil sudah diajari memasak di dapur. Lalu, kenapa aku tidak boleh seperti mereka? Bukankah aku juga ingin belajar? Begitulah pikiranku saat kecil. Sayangnya saat itu aku hanya bisa memendamnya dalam pikiran saja. Tak pernah kuungkapkan.

Akhirnya, karena sejak kecil aku sudah terbiasa tidak diberikan tanggung jawab di rumah, ketika menginjak remaja, akupun berubah menjadi anak yang manja. Aku malas untuk melakukan sesuatu di rumah karena sejak kecil aku sudah terbiasa dilayani. Meskipun aku telah remaja, tapi aku tetap seperti anak kecil. Segala keinginanku harus dipenuhi karena kalau tidak aku pasti ngambek. Sejujurnya aku pun menyadari bahwa itu bukanlah karakter yang baik tapi untuk mengubahnya pun ternyata bukan hal yang mudah.

Seiring dengan usiaku yang sudah menjadi anak remaja, ternyata sikap orang tua dan kakak-kakakku pun ikut berubah. Dulunya mereka memanjakanku, namun ketika aku remaja mereka seakan bekerja sama untuk memojokkanku. Setidaknya itu yang aku tangkap, walaupun sebenarnya belum tentu juga begitu. Setiap ada pekerjaan rumah, justru akulah yang direkomendasikan untuk mengerjakannya. Aku sering kali menolak apa yang mereka perintahkan sehingga aku pun dicap sebagai anak manja yang malas. Akupun merasa kesal dengan perlakuan kakak-kakakku itu. Akhirnya, karena tidak tahan lagi dicemooh, akupun mencoba untuk melakukan apa yang mereka suruh. 

Aku mencoba untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah dsb. Hal itu aku lakukan sekedar untuk membuktikan bahwa aku juga bisa melakukan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku juga mampu dan bisa membantu orang tuaku. Namun yah pada akhirnya pekerjaan yang tidak biasa kita lakukan pastilah tidak dapat dengan mudah kita lakukan. Semua yang kulakukan justru pada akhirnya malah menjadi berantakan. 

Ketika semua tak berjalan seperti yang aku harapkan, aku merasa semua orang mencemooh dan memarahiku. Entah lewat kata-kata, entah hanya dengan sorotan mata. Aku tahu bahwa aku belum mampu melakukan pekerjaan rumah sesuai dengan harapan mereka tapi aku tahu bahwa aku sudah berusaha. Sayangnya mereka tak pernah mengapresiasi itu. Mereka tak pernah memberikan kata-kata yang bisa menyemangatiku. Aku berharap mereka mendukungku dan menyemangatiku seperti ini,

"Wah kamu lagi belajar masak nasi ya. Udah lumayan kok, tapi lain kali airnya jangan kebanyakan ya. Nanti kakak ajari bagaimana cara mengukur air yang benar, oke!" 
"Anak Ibu lagi membantu cuci piring ya. Ibu senang sekali melihatnya. Tapi kalau boleh ibu sarankan, piringnya jangan kelamaan direndam di bak pembilasan ya nanti kotorannya nempel lagi,"
"Nak, masakannya sudah enak kok, tinggal dimasukkan cabe dan sedikit garam saja, pasti rasanya makin mantab. Nanti Ibu catatkan resepnya ya supaya kamu tidak lupa lagi nantinya,"


Tidak ada kata apresiasi semacam itu. Yang ada hanyalah,
"Masak nasi aja gak bisa! Gimana sih? Masa anak perempuan gak ngerti apa-apa!"
"Ya ampun, kamu malah bikin ibu tambah repot. Itu piringnya jadi kotor! Kamu nih bener-bener bikin susah,"
"Itu masakannya kok jadi begini sih rasanya? Kalau kayak gini rasanya nanti ga ada yang mau makan! Haduh bener-bener gak bisa diandalkan kamu ya,"

Bagaimana perasaanku ketika mendengarkan hal itu?

Seringkali aku menangis dan menyesali diri kenapa tidak bisa menjadi anak yang berguna. Aku pun tumbuh menjadi anak yang inferior dan takut salah. Aku jadi takut untuk melakukan sesuatu karena sering disalahkan dan tak dihargai. Perasaan itu juga terasa makin berat ketika aku menginjak SMA. Beban sekolah dan lingkungan sekolah yang tak nyaman membuatku tumbuh menjadi anak yang pendiam dan makin tertutup.

Kalau ditanya, apakah aku sayang pada keluargaku, tentu aku sangat menyayangi mereka. Oleh karena itu aku tak ingin membuat mereka kecewa. Hanya saja, aku sering merasa kesal dengan perlakuan keluargaku yang di satu waktu memanjakan aku namun di waktu lain malah justru berkonfrontasi untuk memojokkan aku. Mungkin apa yang aku ceritakan ini terkesan terlalu berlebihan, tapi itulah yang aku rasakan saat itu.

Aku juga sering merasa serba salah. Aku ingin membuat mereka senang, tapi malah justru aku pulalah yang membuat semuanya menjadi kacau. Terkadang, aku menyalahkan mereka mengapa selama ini memanjakan aku. Aku pun sering merasa bersalah kepada diri sendiri, mengapa selama ini tidak bisa berubah menjadi anak yang baik dan bisa bersikap sesuai dengan harapan mereka. Jika seandainya waktu bisa diputar, maka salah satu hal yang akan aku lakukan adalah bisa menjadi anak/adik yang mereka banggakan.

Masa-masa remaja adalah masa-masa yang tak menyenangkan untukku saat itu, meski aku bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan teman-teman yang baik. Aku pun pada akhirnya memutuskan mengambil fakultas psikologi, salah satu harapannya karena aku ingin mengobati jiwaku juga.. hehe. Di psikologi aku banyak belajar dan secara tidak langsung aku juga mengubah banyak hal dalam diriku. Sayangnya, ternyata kenangan masa lalu tidak sepenuhnya hilang. Ketika aku berhadapan dengan saudara-saudaraku (sampai saat ini pun), aku masih suka merasa inferior. Apalagi jalan kehidupan yang aku tempuh memang berbeda dengan saudaraku yang lain.

Tapi, dari pengalaman hidupku tersebut, ada beberapa hikmah yang bisa aku ambil:

1. Jangan Melarang Anakmu untuk Terlibat 
Dulu aku seringkali penasaran dan ingin ikut membantu ibuku terutama ketika di dapur, tapi ia selalu melarang. Padahal rasa penasaran itu tak selalu akan muncul. Jadi, saat ini yang bisa kupahami adalah ketika anak sedang semangat-semangatnya ingin membantu orang tua, maka biarkan saja karena semangat dan rasa ingin tahunya tak selalu ada. Toh bukankah itu adalah waktu yang tepat untuk mengajarinya kemandirian? Memang sih, ketika anak membantu kita kadang semua jadi lebih ribet, aku pun merasakan itu. Tapi kalau dipikir-pikir, belum tentu juga kelak mereka akan memiliki semangat yang sama untuk membantu kita, maka biarkan saja mereka membantu sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Siapa tahu mereka jadi bisa belajar banyak hal.

2. Beri Apresiasi
Berikan apresiasi dan dukungan ketika anak mencoba menjadi lebih baik. Setidaknya sekalipun hasilnya tak seperti yang kita harapkan, maka hargai usaha dan niatnya. Ketika anak merasa usahanya dihargai, maka kelak ia tidak akan merasa kapok untuk terus membantu. Bahkan mungkin ia akan membantu orang tua dengan senang hati tanpa harus disuruh-suruh. Jika memang ada kesalahan dalam proses belajarnya, maka cukup beritahukan dengan baik apa yang masih kurang. Tak perlu tambahkan kemarahan, omelan dan kata-kata yang hanya menjatuhkan semangatnya.

3. Beri Mereka Kesempatan untuk Menyatakan Pendapat
Sebagai anak bungsu kadang aku merasa pendapatku tak terlalu didengar. Akibatnya aku merasa rendah diri untuk berani menyatakan pendapatku di depan orang tua maupun saudaraku. Aku selalu merasa seperti anak kecil yang pendapatnya tak terlalu penting. Hal itu sampai sekarang masih terbawa, apalagi sebagai seorang yang introvert, biasanya aku adalah orang yang tak akan bersuara jika tidak diminta untuk bicara. Dengan memahami karakter anak masing-masing, maka itu akan memudahkan orang tua untuk menentukan cara yang tepat agar anak merasa selalu didengarkan dan dihargai pendapatnya.

Itulah beberapa catatan penting yang kuharap bisa menjadi pengingat bagiku agar aku tidak melakukan hal yang sama kepada anakku (dalam hal ini terkait contoh yang tidak baik, karena sebenarnya banyak juga teladan baik yang bisa aku ambil dari keluargaku). Aku sadar hingga detik ini aku belum bisa membuat mereka bangga. Oleh karena itu, aku selalu berdoa semoga aku bisa membuat keluargaku bangga dan bahagia kepadaku suatu hari nanti. Tak hanya bangga di dunia tapi juga di akhirat kelak, aamiin. Mudah-mudahan semua belum terlambat. 

2 komentar:

  1. Lebih baik memilih lakukan gang baik2 agar kita mendapatkan karma yang baik😊👍

    BalasHapus
  2. Enak ya jadi anak bungsu

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.