Hal yang Wajib Diketahui tentang Sibling Rivalry


Sumber Foto: https://www.melbournechildpsychology.com.au/



Persaingan kakak beradik barangkali menjadi sesuatu yang dialami semua orang terutama yang memiliki saudara. Benar atau tidak nih? Atau jangan-jangan tidak semua begitu? Kalau ada yang selalu rukun-rukun dengan kakak atau adiknya, wah saya salut ya karena memang walau bagaimanapun memang tak mudah untuk menghindar dari konflik antarsaudara.

Dulu, waktu kecil, saya suka sekali berkelahi dengan saudara laki-lakiku.. Berkelahinya ya benar-benar berkelahi fisik, pukul-pukulan, tendang-tendangan dan diantara kami pun tak ada yang mau mengalah. Uniknya, walaupun sering bertengkar, pertengkaran itu biasanya tidak berlangsung lama, karena setelah itu pasti sudah main-main lagi seakan tak terjadi apa-apa. Yah, namanya juga masih kecil kali ya, jadi segala sesuatu memang tidak mudah dimasukkan ke dalam hati. 

Dulu saat saya masih bekerja di  TPAM UI (Taman Pengembangan Anak Makara UI), ada beberapa kakak beradik yang sama-sama disekolahkan di TPA. Oleh karena itulah akhirnya saya pun bisa sedikit mengobservasi pola hubungan kakak beradik ini. Dari hasil obervasi sederhana saya waktu itu, saya menemukan sesuatu yang cukup menarik. Ternyata, apabila kakaknya berjenis kelamin perempuan dan adiknya berjenis kelamin laki-laki, ternyata hubungan mereka cenderung lebih akur lho! Bahkan si kakak sering kali bertindak sebagai "ibu" ketika mereka sedang berada di TPA. Kadang saya melihat kakaknya menyuapi adiknya makan, membacakan adiknya buku cerita, dan menasehati adik jika  adik melakukan kesalahan. Pokoknya sang kakak begiru mengayomi sang adik. Berbeda jika kakaknya laki-laki, biasanya sang kakak cenderung agak cuek dengan adik. Namun sayang sekali, subjek kakak beradik yang seperti ini tidak terlalu banyak di TPAM. Kebanyakan yang saya temui adalah kakaknya seorang perempuan. Tentu saja hal ini butuh penelitian lebih lanjut karena saya sendiri hanya mengobservasi sampel yang terbatas.


Nah, terkait hal ini saya ingin membahas sedikit tentang sibling rivalry ini. Pembahasan ini sebenarnya saya dapatkan dari buku dan dari kulwap yang pernah saya ikuti. Monggo disimak ya.

Apa itu Sibling Rivalry?



https://tiredmomsupermom.com/



Sibling rivalry adalah perasaan cemburu seorang kakak kepada adiknya. Sibling rivalry biasanya terjadi pada anak-anak usia balita. Jika seorang anak sedang mengalami kecemburuan, biasanya kita bisa melihat tandanya dari hal-hal berikut, yaitu : 
  • Bersikap lebih manja dan melakukan tindakan yang sifatnya mencari perhatian
  • Melakukan perilaku seperti adik bayi. Contohnya, tiba-tiba mengompol padahal sebelumnya sudah lulus toilet training. Berbicara dengan bahasa cadel atau meniru cara bicara bayi (padahal sudah bisa bicara dengan benar). Tiba-tiba ingin mengempeng dsb. Perilaku ini menunjukkan adanya regresi atau kemunduran yang disebabkan karena belum menerima kehadiran adik dengan sepenuhnya.
  • Melakukan perilaku yang agresif, misalnya memegang adik dengan kasar, memukul dan sebagainya.
Itulah tanda-tanda yang menunjukkan seorang kakak mengalami kecemburuan. Lalu apa yang membuat sang kakak bersikap seperti itu?

Kenapa Kakak Bisa Cemburu? Apa Penyebabnya?

Kehadiran anggota keluarga baru  bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran adik baru tentu membuat sang kakak membutuhkan penyesuaian. Tak hanya kakak sebenarnya, tapi orang tuapun juga demikian. Akibatnya terkadang sebagai orang tua, kita jadi tidak peka dengan kebutuhan kakak karena sudah sibuk dengan kebutuhan adik bayi. Padahal hal inilah kelak menjadi cikal bakal munculnya sibling rivalry. Lalu apa saja yang pada akhirnya memunculkan kecemburuan kakak?
  • Kebutuhan adik bayi yang menjadi prioritas
Tahu sendirikan bagaimana repotnya mengasuh bayi baru lahir. Sedikit-sedikit sudah menangis, sedikit-sedikit mengompol dan sedikit-sedikit sudah lapar. Akibatnya orang tua (terutama ibu) terkadang tak punya waktu untuk memberikan perhatian pada kakak. Rasa dikesampingkan dan kesan bahwa dia sudah tidak menjadi prioritas, menyebabkan sang kakak menjadi cemburu kepada sang adik.

  • Hilangnya Rasa Aman
Kehadiran adik bayi yang menyita perhatian orang tua menyebabkan sang kakak menjadi berpikir, "Adik sudah mengambil kasih sayang Ayah Bunda," 
"Ayah bunda sudah tak sayang aku,"
 "Ayah bunda tak peduli padaku." 


Tidak hanya kehadiran adik bayi yang menyebabkan anak mengalami silbling rivalry.

Selain karena faktor kelahiran adik bayi, ada beberapa hal lain juga yang menyebabkan munculnya sibling rivalry. Jadi kehadiran adik bayi memang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan timbulnya kecemburuan dalam diri anak. Penyebab lain yang dimaksud adalah sbb:


  • Adanya Keinginan Berkompetisi
Dalam masa perkembangannya, memang terkadang anak memiliki keinginan untuk berkompetisi dalam menunjukkan jati dirinya. Dia ingin menunjukkan minat dan bakatnya kepada orang lain. Hal itu ia lakukan untuk menunjukkan ekssitensi diri bahwa dia berbeda dengan saudaranya yang lain.

  • Orang Tua diaggap Tak Adil
Ada anggapan bahwa orang tua tidak adil dalam memberikan hak dan kewajiban kepada anak. Perassan semacam ini bisa saja dirasakan oleh adik, jadi tak selalu seorang kakak. Perasaan merasa diperlakukan tak adil membuat kakak atau adik menjadi cemburu kepada saudaranya sendiri.

  • Kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi
Misalnya perasaan seperti lapar, lelah, bosan, dan mengantuk membuat anak bisa lebih mudah untuk cranky dan frustrasi. Akibatnya anak terkadang bersikap tidak sesuai harapan. Misalnya jadi mudah marah, mudah berperilaku agresif , tantrum dsb. Oleh karena itu,orang tua sebaiknya memerhatikan agar kebutuhan fisiknya selalu terpenuhi.

  • Tidak Tahu Cara Berperilaku yang Benar 
Terkadang ada anak yang berperilaku agresif karena dia belum mengerti bagaimana cara menarik perhatian dengan cara yang positif. Akibatnya ia pun melakukan hal-hal yang terkesan nakal. Padahal, belum tentu dia bermaksud demikian. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan keluarga disekitarnya untuk memenuhi keburtuhan 
Beberapa pikiran semacam itu membuat sang kakak khawatir kehilangan rasa cinta dari orang tua. Ia merasa bahwa adik akan merebut perhatian orang tua darinya. Perasaan semacam inilah yang memunculkan perasaan tidak aman dan menyebabkan kakak mengalami kecemburuan.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar hal tersebut tidak dirasakan oleh kakak?

Pencegahan Sibling Rivalty:  Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?


http://edition.cnn.com/


Ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari sibling rivalry.

1. Pencegahan Saat Masa Kehamilan
  • Ajak kakak untuk mengenal calon adik bayi. Berikan ia kesempatan merasakan kehadiran adik bayi dalam perut ibunya.  Biarkan ia memiliki bonding dengan sang adik meskipun adik belum lahir supaya dia tak kaget dan sudah menyadari keberadaan adik sejak awal sebelum adik dilahirkan.
  • Libatkan sang kakak dalam mempersiapkan kehadiran adik bayi. Misalnya menyiapkan atau membantu melipat baju adik sesuai kemampuannya, menyiapkan mainan atau kamar tidur, dsb.
  • Ajak sang kakak mengobrol tentang kemungkinan hal-hal yang terjadi jika nanti adik telah lahir. Misalnya, mungkin ibu akan sedikit lebih sibuk dsb. Tapi pastikan bahwa Ibu tetap akan selalu sayang dan mencintai kakak walaupun mungkin kelak Ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik.
  • Ajak kakak melihat-lihat foto saat ia masih bayi supaya ia pun punya gambaran tentang bayi itu seperti apa. Bahwa dulu pun ia juga pernah melewati fase menjadi bayi. Kalau perlu ajak ia berkunjung ke tempat sahabat atau keluarga dekat yang baru melahirkan. Beri ia gambaran bahwa bayi itu makhluk yang lemah dan harus diperlakukan dengan lembur. Tumbuhkan rasa sayang kakak ketika ia melihat bayi agar kelak perasaan itu sudah tumbuh ketika adiknya kelak telah lahir.

2. Pencegahan Ketika telah Melahirkan
  • Jika memungkinkan ajak sang kakak untuk berkunjung ke rumah sakit agar ia bisa berkenalan dengan adik untuk pertama kali. Jika memang tidak bisa, cukup telepon atau video call untuk memperlihatkan adik bayi. Hal ini perlu dilakukan agar sang kakak tahu bahwa adiknya sudh lahir sehingga ketika bunda pulang ke rumah dia sudah tidak kaget lagi.
  • Minta tolong kepada anggota keluarga agar mengajak si kakak berjalan-jalan supaya ia tetap merasa diperhatikan.
  • Luangkan waktu dengan kakak (baik dari ayah ataupun bunda) setiap hari. Minta anggota keluarga lain untuk menjaga adik bayi ketika ayah atau bunda sedang bersama kakak.
  • Berikan hadiah kepada kakak atas nama adik. "Kak, ini hadiah dari adik untuk kakak,". Hal ini perlu dilakukan agar kakak tahu bahwa adik menyayanginya walaupun adik masih bayi.
  • Ketika ada tamu berkunjung untuk melihat adik bayi, berikan pesan kepada tamu untuk memberi perhatian kepada sang kakak juga. Sebagai tamu pun juga sebaiknya bisa memahami, akan lebih baik untuk memberi hadiah tak hanya untuk bayi tapi juga untuk kakak jika memungkinkan,
  • Ajak kakak bermain dan membantu memenuhi kebutuhan adik. Misalnya, meminta tolong mengambil popok, mengambilkan baju adik dsb disesuaikan dengan kemampuan kakak.
  • Buatlah sang kakak menjadi pahlawan didepan adik bayinya sehingga muncul kepercayaan diri dan perasaan merasakan dibutuhkan.
  • Lakukan intervensi ketika ia mulai melakukan tindakan agresi. Intervensi dengan menanyakan perasaanya, apa yang sebaiknya kakak lakukan ketika bersama adik dan alasan kenapa ia melakukan tindakan agresif. Tanyakan dengan lembut dan dipeluk. Jangan sampai kita terkesan menyalahkan atau bahkan langsung memarahinya.

3. Pencegahan Secara Umum
Jika hal-hal diatas terkait dengan pencegahan pada kasus kecemburuan akibat kelahiran adik bayi, maka hal berikut merupakan sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemburuan antarkedua belah pihak yaitu adik dan kakak. Seperti yang kita ketahui, kecemburuan juga bisa saja dialami adik, tak hanya dilakukan oleh kakak. Jadi hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi sibling rivalry antarsaudara, yaitu:

  • Luangkan waktu berkualitas untuk masing-masing anak secara adil
  • Berdiskusi dengan anak secara rutin terkait apa yang mereka rasakan.
  • Beri anak kesempatan untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri. Bertindaklah sebagai pengawas yang berada pada posisi netral diantara keduanya.
  • Ajari anak untuk berkompromi dan bimbinglah mereka menemukan solusi.
  • Membandingkan adalah sesuatu yang bersifat alamiah dan kadang tak bisa kita hindari. Tapi usahakan jangan membandingkan di depan anak. Tetap tunjukkan cinta tanpa syarat. Cinta yang berarti menerima diri anak apa adanya, tanpa embel-embel anak dituntut harus begini dan begitu.
Nah selain hal-hal tersebut, ada sebuah buku yang pernah saya baca berjudul "Mengapa Anakku Begitu?" ditulis oleh Dr. Richard C. Woolfson. Buku ini menjelaskan tentang beberapa tahapan  sibling rivalry dari berbagai tahapan usia. Setiap tahap usia ternyata memiliki bentuk konflik antarsaudara yang berbeda. Nah berikut penjelasan yang disampaikan dalam buku tersebut. Silakan disimak ya.

Sibling Rivalry Bersdasarkan Tahapan Usia :

  1. Usia 1-2 tahun : Anak sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Ia hanya tertarik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sekarang juga. Ini berarti, persaingan antarkakak-beradik belum terlalu kuat karena ia masih sangat memikirkan dirinya sendiri sampai-sampai belum memikirkan keberadaan kakak atau adiknya.
  2. Usia 2-3 tahun : Pada umumnya, anak berusia 2 tahun merasa dirinya paling penting. Ia menganggap dirinya adalah pusat perhatian dan kemarahannya sering meluap saat ia tahu bahwa ia tidak menjadi pusat perhatian. Bayangan akan kehadiran bayi baru akan mengguncang kestabilan emosinya dan memicu rasa cemburu terhadap kedatangan si adik. Kakaknya akan menganggap si adik adalah makhluk yang sangat menyebalkan.
  3. Usia 3-4 tahun : Di usia ini, anak memiliki pendapatnya sendiri, apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka. Ia tidak mau orang lain mencampuri rencananya. Karena itu, ia merasa adiknya sangat mengganggu dan mengancamnya. Perhatian orang tua padanya tidak cukup membuatnya tenang. Ia juga tidak mau diperintah kakaknya walaupun apa yang diharapkan kakaknya sebenarnya masuk akal.
  4. Usia 4-5 tahun : Hubungan kakak beradik berubah pada masa ini. Ia tidak lagi merasa terganggu oleh kehadiran adik baru. Anak sulung akan lebih positif pada tahap ini dan ia ingin adiknya mengagumi dan menghargainya. Ia akan mencoba memberi contoh yang baik. Sebaliknya, sang adik pada usia ini akan mencontoh kakaknya dan mengakui prestasinya walaupun tindakan ini dapat saja memacu dirinya atau malah sebaliknya, tanpa sadar membuatnya membenci kakaknya.
  5. Usia 5-6 tahun : Sekolah mengubah kehidupan anak usia 5 tahun. Ia sekarang memiliki dunianya sendiri yang terstruktur, yang membuka peluang baginya untuk berteman dengan anak lain di luar anggota keluarga. Ini akan membuatnya lebih toleran terhadap adiknya. Pada usia ini, biasanya si kecil sangat menghargai figur kakak karena ia dapat menarik pelajaran dari pengalaman dan petunjuk yang disampaikan sang kakak seputar dunia sekolah.
  6. Usia 7-8 tahun : Ia sudah benar-benar nyaman di sekolah dan memiliki teman-temannya sendiri yang sangat ia hargai. Gangguan dari adiknya biasanya tidak ia hadapi dengan cara seperti sebelumnya. Saat sedang bersama temannya, ia menganggap adiknya memalukan  bukan menggemaskan! Pada situasi tertentu, anak usia 8 tahun mungkin akan meminta pertolongan kakaknya karena ia tahu sang kakak bisa diandalkan.

Nah itulah beberapa penjelasan yang berkaitan dengan sibling rivalry. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membantu para orang tua memahami anak di rumah. Jangan lupa selalu doakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak-anak sholih/ah yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Thanks for reading this short article... See u next time... :)


Sumber Referensi:
Materi Kulwap dari Rumah Dandelion Berjudul "Sibling Rivalry", yang disampaikan Binky Paramitha I., M.Psi., Psi..

Woolfson, Richard.C. 2005. Mengapa Anakku Begitu?. Jakarta: Erlangga Kids. 



18 komentar:

  1. Jangankan balita. Saya sudah segede ini aja kadang masih ada rasa cemburu. Merasa orang tua lebih sayang sama adik kerap saya rasakan. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu barangkali saat kecil ga direspon dg baik oleh orang tua, akibatnya rasa cemburu terus terbawa hingga dewasa.

      Hapus
  2. Bener.. dulu sering banget kakak aku kaya kesel gara-gara sering dimanjain

    BalasHapus
  3. Aku anak terakhir jadi ngga pernah cemburu sih😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah aku juga anak terakhir dan pernah ngerasa cemburu sama kakak. Wkwk

      Hapus
  4. Gimana rasanya punya saudara kandung yha😂. Kekya pada saling cemburu an.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti akan ada konflik antarsaudara, tapi walau begitu tetap saling menyayangi dan jadi kenangan ketika di masa dewasa.

      Hapus
  5. Kadang emang sama saudara tuh sulit akur nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, klo dr sudut pandang ortu pun kadang sulit utk berlalu adil seadil-adilnya

      Hapus
  6. Iya banget, hampir semua yg punya saudara muncul sibling rivalry

    BalasHapus
  7. Baru tau aku sibling rival ini jadi harus makin hati2 yah mendidik anak tidak boleh dibeda2kan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, krn kalau ga disikapi dg baik, rasa cemburu itu bisa terus Terbawa hingga dewasa.

      Hapus
  8. biasanya kakaknya yang sering cemburu mesti, karena orang tua seakan2 lebih perhatian ke adiknya,apalagi anak terakhir, wkwkwwk

    BalasHapus
  9. Betul, tapi adik pun kadang suka cemburu sama kakak lho. Hehe

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.