Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ah dasar wanita... (atau mungkin aku saja yang begini?)

Kejadian ini terjadi pagi tadi. Rasanya malu sekali karena saya sudah berprasangka buruk pada suami. Jadi ceritanya kemarin suami berkata ingin sekali makan sushi (ini siapa yang hamil, siapa pula yang ngidam.. hehe). Memang suamiku senang sekali makan sushi dan biasanya dia membelinya di mall aeon karena harganya lebih murah. Saya pun menjawab " Ya udah kalau mau makan sushi beli aja". Dia sempat bertanya apakah saya mau dititipin beli sesuatu? Saya bilang saya minta dibelikan bakso A*ung dan cream puff yang biasanya suka dibeli di aeon. Dia pun setuju dan berjanji akan membelikan pesanan saya,

Akhirnya pergilah ia ke aeon. Ternyata cukup malam ia pulangnya hingga saya pun sudah tertidur karena ngelonin bocah. Pagi harinya, saya bangun dan mengecek kulkas. Biasanya kalau beli makanan, ia akan masukkan ke kulkas. Tapi saat saya lihat ternyata tak ada. Saya coba cari di ruangan lain tetap ada. Saya justru menemukan buah durian, yang tak lain adalah buah kesukaan suami. Saya mulai kesal. Dalam hati saya mulai menggerutu "Kok bisa sih dia ga beliin pesananan saya. Yang ada malah dia membeli makanan kesukaan dia sendiri". Saya pun mulai cemberut, mulai ngambek. Saat suami mengajak berbincang hanya saya tanggapi sekedarnya. Hingga akhirnya tak tahan berdiam diri, saya pun mulai bertanya "Kok kamu ga beliin saya bakso? Kan sudah aku pesan tadi malam" Saya bertanya sambil mempertahankan nada agar tidak terkesan marah. Lalu tiba-tiba suami kaget. "Ah masa? Ud dibeliin kok. Ya ampunn (sambil menepuk keningnya) jangan-jangan masih di mobil?" Ia pun langsung beringsut dan keluar untuk membuka pintu mobil. Dan ternyata benar, makanan yang saya pesan lupa ia keluarkan.. Ada bakso, kue, dan ikan salmon. Sayangnya ikan salmon sudah tak enak dimakan, sedangkan pesanan saya alhamdulillah masih bisa dimakan. Suami minta maaf karena tadi malam pulang sudah malam sehingga ia lupa memasukkan ke kulkas. Padahal dalam hati justru saya yang meminta maaf karena sudah berprasangka buruk padanya.

Saya benar-benar malu dengan kejadian itu. Padahal apa salahnya langsung konfirmasi saja dari awal. Tak perlu pakai acara ngambek dan berprasangka buruk pada suami sendiri.. Sebenarnya saya sudah memahami itu sejak dulu, apalagi di IIP sudah pernah diberikan materi tentang komunikasi produktif. Tapi kok ya teteep aja bawaannya pengen dimengerti terus (meski alhamdulillah sih tadi ngambeknya ga lebay, sehingga suami pun juga ga ngeh kalau isterinya diam-diam sempat ngambek.. hihi).

 Ah dasar wanita. Maunya dimengerti saja. Padahal suamimu kan bukan peramal. Ia tak kan tahu isi hatimu dan maumu seperti apa kalau kamu cuma diem-diem aja. Iya kan? Jangan diulangi lagi yaa? hihii...

1 komentar untuk "Ah dasar wanita... (atau mungkin aku saja yang begini?)"