Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Resensi Buku : Saat Berharga Untuk Anak Kita



Saya mau membuat resensi atau ulasan tentang buku berjudul "Saat Berharga Untuk Anak Kita" yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Ini buku lama sih. Tapi baru kali ini selesai dibaca (duh lu kemana aja wennn). Di rumah juga masih ada 2 buku Fauzil Adhim yang lain dan itu juga belum selesai dibaca.

Terkait hal-hal penting dari buku ini, aku sengaja membuatnya perpoin agar lebih mudah dibaca. Semoga bermanfaat.

  • Anak-anak Shalih yang mendoakan merupakan harta berharga yang tak dapat digantikan oleh doa seribu manusia.
  • Dalam mendidik anak kita sendiri, alangkah seringnya kita melakukan bukan demi kebaikan mereka di akhirat, tetapi demi memperturutkan kebanggaan kita sendiri. Kita didik mereka agar mampu membaca di usia balita. Bukan agar mereka lebih mengenal Tuhannya, melainkan demi mendatangkan decak kagum tentang betapa hebatnya kita mendidik mereka. 
  • Kita ajarkan kepada mereka doa-doa, tanpa menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung dan memohon pertolongan. 
  • Kita ajarkan mereka Alquran Sehingga mereka fasih membaca di usia dini, tapi kita lupa membangkitkan kepercayaan di hari mereka untuk menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup. 
  • Kita ajarkan mereka hafalan surat pendek, bukan untuk membekali jiwa mereka, tetapi demi memperoleh tepuk tangan meriah saat wisuda TPA. 
  • Kita gembleng mereka untuk menguasai ilmu apa saja, tanpa mempersiapkan jiwa mereka untuk mengabdi kepada Allah. 
  • Kita tidak membangkitkan jiwa mereka untuk mencintai agama dengan ilmu, iman, dan amal Shalih. Mereka menjadi orang-orang merugi meski prestasinya membuat orang lain merasa iri.
  • Alangkah sia-sia jika kita mendidik anak kecuali dengan alasan untuk menjunjung amanah Allah.
  • Allah tidak melarang kita untuk mencintai isteri, anak, tanah yang luas atau kendaraan yang bagus. Allah sendirilah yang menjadikan semua itu indah dalam pandangan kita. Allah tidak melarang kita untuk mencintai semua itu. Toh Rasulullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga memiliki kecintaan yang besar terhadap Khadijah? Bukankah Rasulullah menitikkan air mata ketika putranya meninggal dunia? Kecintaan terhadap itu semua adalah fitrah. Dan semua itu merupakan "kendaraan" yang bisa kita gunakan untuk mencapai kebaikan.
  • Saat bersama anak-anak, kita mungkin sering mengatakan kepada mereka betapa kita sangat menyayanginya. Masalahnya, apakah mereka merasa kita sayangi? Saat kita Bersama mereka, apakah mereka merasakan betul bahwa kita meluangkan waktu untuk mereka, atau hanya kebetulan saja saat ini kita Bersama mereka? Sungguh sangat berbeda antara mempunyai waktu bersama anak, dengan meluangkan waktu bersama untuk mereka. 
  • Suatu saat Ummu al-Fadhl menggendong anaknya, kemudian Rasulullah memintanya. Di gendongan Rasulullah yang mendekapnya dengan hangat, rupanya anak ini pipis. Melihat dada Rasulullah saw basah oleh kencing anaknya, Ummu Fadhl segera merenggut bayinya dengan kasar. Apa kata Rasulullah saw? Rasulullah Saw menegur dengan keras, "Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan mudah oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak Ini akibat renggutanmu yang kasar?" 
  • Betapa banyak orang yang merasa hidupnya tak berarti padahal banyak orang berdecak kagum dengan kemampuannya. Ini semua terjadi karena ia tidak memiliki sense of competence. Dan salah satu faktor yang banyak menyebabkan orang tidak memiliki sense of competence adalah karena tidak adanya penerimaan diri yang baik.
  • Hormati hak anak. Dari Sahl bin Sa'ad r.a., Rasulullah saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, "apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka? Si anak menjawab," Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu. "Rasulullah saw meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulan :
Pada dasarnya waktu yang ada saat ini tidak akan pernah kembali. Anak-anak kita akan terus bertumbuh. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah memenuhi ruang hati anak-anak kita dengan kasih sayang, iman dan rasa cinta kepada Allah?

#selfreminder 

1 komentar untuk "Resensi Buku : Saat Berharga Untuk Anak Kita"

  1. Poin2 1 s/d 5 itu benar banget. Secara kebetulan saya aktivis di sekolah TPA.. 😌😣

    BalasHapus