Tips Agar Anak Suka Membaca



Siapa yang setuju kalau aktivitas membaca itu memiliki banyak manfaat bagi anak? Pasti kita semua setuju kan kalau membaca itu bisa memberikan manfaat yang besar bagi anak-anak kita. Lalu apa saja manfaat membaca bagi anak? Sebut saja manfaatnya adalah dapat memperkaya kosa kata anak agar terampil berbicara, dapat meningkatkan daya berpikir anak, dapat menjadi terapi untuk mengatasi anak yang memiliki ketergantungan terhadap gadget dan dapat membantu optimalisasi kemampuan membaca dan menulis anak (dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018).


Foto : Dokumen Pribadi

Yang jadi masalah, di zaman sekarang ini memang tidak selalu mudah untuk mengajarkan anak mencintai aktivitas membaca. Bahkan kita sebagai orang dewasa pun belum tentu suka membaca buku, ya kan? Ayo, Ayah Bunda, siapa saja yang sampai sekarang masih punya hobi membaca? Jangan-jangan kebanyakan dari kita lebih sering scrolling media sosial daripada membaca buku? Hal seperti inilah yang perlu diperhatikan dan jadi bahan introspeksi diri kita. Jika kita ingin anak-anak suka membaca buku, berarti kita pun juga harus berupaya untuk suka membaca buku. Betul atau betul? :)

Saya jadi ingat dulu sewaktu kecil saat saya mulai tertarik membaca buku. Awal mulanya adalah karena waktu itu saya suka melihat ayah saya membaca koran. Beliau membeli koran hampir setiap hari. Mau tidak mau saya pun jadi penasaran ketika melihat ayah saya yang tampak asyik membaca koran. Saya sering bertanya-tanya dalam hati saat itu, Ayah sedang baca apa ya kok kelihatan asyik sekali? Ayah kenapa ya tiap hari kok baca koran terus? Memangnya didalam koran ada apa sih?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya mengantarkan saya pada aktivitas membaca. Biasanya saya memilih membaca bacaan yang ringan di koran, misalnya rubrik tentang hiburan, entertainment dan cerpen. Pada saat saya belum bisa membaca, saya tertarik sekali melihat gambar-gambar yang ada di majalah ataupun koran. Itulah awal mula saya tertarik membaca buku. Orang tua saya bukanlah orang yang kaya raya. Kami pun tinggal di kota kecil yang tidak memiliki akses untuk pergi ke toko buku besar. Jadi biasanya orang tua saya membelikan majalah bekas walaupun tidak setiap waktu. Walaupun demikian, bagi saya tetap saja itu hadiah yang sangat berharga. Saya sangat senang sekali jika punya bahan bacaan walaupun hanya dari majalah bekas.

Oleh karena itu, saya percaya bahwa betapa besar peran orang tua dalam menanamkan kecintaan pada membaca. Orang tua saya memang tidak pernah memaksa saya untuk suka membaca. Mereka hanya langsung memberikan teladan kepada saya dan itu justru jauh lebih berpengaruh untuk saya pribadi.


Foto : Dokumen Pribadi


Nah, tapi yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan anak-anak saya sendiri? Apa sih yang bisa saya lakukan agar anak-anak suka membaca seperti saya dulu?

Lewat tulisan ini saya akan sharing sedikit tentang bagaimana saya mengenalkan buku kepada anak-anak saya dirumah. Saya memiliki tiga anak dan masing-masing anak ternyata memiliki masanya sendiri untuk tertarik pada buku. Contohnya saja anak pertama. Sejak kecil, anak pertama saya sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada buku padahal usianya waktu itu masih empat bulan. Saat berumur satu tahun, dia sudah senang melihat gambar-gambar yang ada di dalam buku. Mungkin karena itu juga dia jadi lebih mudah belajar membaca, padahal waktu itu saya belum intens mengajarkannya. Ia sangat tertarik dengan buku sehingga seringkali ia malah belajar membaca sendiri.


Anak pertama saya, Nayra saat berumur tepat satu tahun (foto : Dokumen Pribadi)


Saya mulai memperkenalkan aktivitas membaca kepada anak sejak mereka masih bayi. Saat masih bayi, saya membelikan buku bantal agar tidak mudah robek dan tidak berbahaya bagi anak. Buku bantal tersebut berisi gambar-gambar sederhana beraneka warna. Saya membacakan isi bukunya sambil memperlihatkan gambar pada buku tersebut.

Anak pertama ketika berumur empat bulan (foto: dokumen pribadi)



Kegiatan membacakan buku sejak bayi juga memberikan manfaat yang bagus untuk tumbuh kembang anak. Kita dapat menjalin bonding dengan anak lewat suara dan interaksi yang kita lakukan bersama anak. Kegiatan membaca saat bayi juga bisa menjadi fase persiapan bagi anak sebelum nantinya mereka membaca. Sebuah studi membuktikan bahwa semakin banyak kata-kata yang diucapkan pada bayi, maka kelak dia akan lebih siap untuk membaca sendiri. Selain itu kegiatan membacakan buku kepada bayi juga dapat meningkatkan kekuatan otak anak (https://id.theasianparent.com/)

Berbeda dengan kakaknya, anak kedua saya justru memiliki proses yang berbeda. Ia butuh waktu yang cukup lama dibanding kakaknya untuk bisa tertarik dengan buku. Anak saya yang kedua justru mulai tertarik dengan buku saat mendekati usia tiga tahun.

Saya sendiri mencoba melakukan beberapa upaya agar anak saya tertarik dengan aktivitas membaca. Apa saja upaya yang saya lakukan ?

1. Membuat Perpustakaan Mini

Saya membelikan buku-buku anak dan mengumpulkannya menjadi koleksi perpustakaan di rumah. Tidak harus membelikan buku yang mahal ya Parents. Kita juga bisa membeli buku bekas atau buku-buku murah untuk anak kita. Yang terpenting adalah biarkan mereka terpapar buku di rumah. Letakkan buku di tempat yang mudah terlihat dan dijangkau anak. Boleh dibilang itu langkah yang cukup efektif untuk anak saya. Dari pengalaman sebelumnya, anak kedua saya akhirnya jadi senang membaca buku karena sering melihat salah satu buku yang sengaja saya sodorkan kepadanya hampir setiap hari. Alhasil yang awalnya cuek dan tak tertarik, lama-lama ia pun mulai penasaran bahkan meminta saya membacakannya berulang kali.

Perpustakaan mini kami, mungil tapi penuh cerita (Foto : Dokumen Pribadi)


2. Memberikan Teladan kepada Anak

Berkaca dari pengalaman saya di masa lalu, saya merasa bahwa peran orang tua sangat penting dalam memperkenalkan aktivitas membaca. They see, they do. Jika orang tua saya tidak hobi membaca, barangkali saya pun tidak akan merasa familiar dengan aktivitas itu. Oleh karena itu, sebagai orang tua saya merasa harus memiliki ketertarikan juga untuk membaca.

Masalahnya, saat ini banyak sekali godaan yang membuat orang malas membaca. Zaman sekarang, orang dewasa lebih banyak bermain gawai daripada memegang buku. Yah, walaupun sebagai orang dewasa kita sebenarnya tetap bisa membaca buku lewat gawai, tapi untuk anak-anak, saya tetap memilih agar mereka membaca buku secara langsung. Oleh karena itu, harus ada waktu ketika anak melihat saya membaca buku, walaupun sebenarnya saya memang sudah terbiasa membaca lewat smartphone sih.

Untuk anak-anak, menurut saya mereka lebih baik dikenalkan dengan aktivitas membaca buku, walaupun di smartphone pun sebenarnya sudah banyak applikasi membaca untuk anak. Selain lebih bagus untuk kesehatan mata (bobo.co.id), membaca dengan buku bisa menstimulasi indera anak. Misalnya saja ketika anak memegang lembaran kertas, membolak-balik kertas dan menyentuh tekstur halaman buku. Itu sangat baik untuk perkembangan sensori maupun motorik mereka. Apalagi jika bukunya memiliki fitur-fitur menarik yang bisa disentuh. Anak jadi bisa belajar banyak hal hanya dari memegang buku. 



Foto : Dokumen Pribadi


3. Mengapresiasi Anak

Biasanya saya memuji anak-anak jika mereka lebih memilih aktivitas membaca. Apresiasi ini perlu dilakukan agar mereka makin termotivasi untuk membaca. Pada dasarnya anak-anak ikan suka dipuji atas apa yang mereka lakukan. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja juga suka dipuji kan? :D


Foto : Dokumen Pribadi



Itulah beberapa hal yang saya lakukan di rumah agar anak bisa termotivasi untuk membaca. Selain hal diatas, saya juga mau menambahkan beberapa tips lain agar anak gemar membaca dari yang saya baca. Beberapa diantaranya adalah mengajarkan anak membaca dengan cara yang unik, ajak anak berpetualang ke perpustakaan, rutin membacakan anak buku dan sediakan waktu membaca bersama keluarga (https://id.theasianparent.com/).

Bagaimana? Seru kan Parents?





Jika anak masih malas membaca padahal kita sudah mencoba beberapa tips diatas, barangkali ada yang harus kita evaluasi. Apakah gaya membaca  kita membosankan? Kalau ternyata kenyataannya demikian, maka kita perlu mengubah strategi membaca kita. Cobalah gunakan gaya membaca yang berbeda saat membacakan anak buku cerita. Papalia (dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018) menjelaskan bahwa ada tiga gaya membaca buku yang disukai anak yaitu:

1.  Describer Style
Adalah gaya membacakan cerita dengan fokus pada mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam gambar dan mengajak anak untuk melakukan hal yang sama seperti yang kita contohkan. 
Contoh :
"Apa yang akan dilakukan ayam saat pagi hari? Sekarang coba tirukan suara ayam berkokok!"


Saat membaca, perlihatkanlah gambar-gambar menarik pada anak dan sesekali ajaklah anak untuk ikut beraksi dengan menirukannya. Gaya ini memberikan manfaat antara lain memperkaya kosa kata anak, memahami kata yang diucapkan dan keterampilan yang baik dalam menggambarkan sesuatu.

2. Comprehender Style
Yaitu gaya membaca cerita dengan mendorong anak untuk melihat cerita lebih dalam dan membuat kesimpulan serta prediksi.
Contoh:
"Kira-kira apa yang akan dilakukan ayam setelah itu ya?"

Hal ini akan membuat imajinasi anak meningkat dan bisa memahami makna atau nilai sebuah cerita. Jadi dalam gaya bercerita ini, orang tua bisa mengajukan pertanyaan terlebih dulu sebelum membuka halaman dan melanjutkan cerita.

3. Performance-oriented Style

Yaitu gaya membacakan cerita secara langsung. Jadi, orang tua langsung memperkenalkan inti dari cerita sebelum mulai membacakan cerita dan memberikan pertanyaan. Inti cerita tersebut disampaikan dengan penampilan sebaik mungkin sehingga anak-anak menyukai dan memahami apa yang disampaikan. Saat membaca cerita, kita seakan sedang menampilkan sebuah pertunjukan. Oleh karena itu, orang tua  hendaknya melakukan berbagai gerak , bahasa dan variasi suara yang menarik ketika sedang membacakan cerita. Setelah buku selesai dibacakan, barulah kita bisa mengajukan pertanyaan kepada anak-anak.





Siapa yang anaknya lebih tertarik merobek atau mencoret buku cerita?
Siapa yang anaknya malah menjadikan buku sebagai mainan, bukan untuk dibaca?
Siapa yang anaknya malah kabur-kaburan ketika sedang dibacakan cerita, padahal kita sudah bersusah payah untuk membacakan buku dengan ceria?


Saya mengalami semuanya. Sebagai orang tua saya menyadari bahwa memang tidak mudah untuk mengenalkan anak pada aktivitas membaca. Semua memang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tapi yang terpenting adalah jangan pernah menyerah untuk terus memperkenalkan aktivitas membaca buku kepada anak.

Anak ketiga (usia dua tahun) sedang menjadikan buku sebagai media bermain
(Foto : Dokumentasi pribadi)

Apalagi setelah saya membaca penjelasan tahapan membaca pada anak saya jadi lebih memahami bahwa ketika anak tidak langsung tertarik pada bukunya, bukan berarti dia tidak suka membaca. Menurut Cohrane Efal, sebagaimana dikutip Brewer (2019, dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018) ada lima tahapan perkembangan membaca anak yang harus dipahami oleh orang tua, yaitu:


1. Magical Stage (Tahap Fantasi)

Pada tahap ini anak akan menjadikan buku sebagai media mainan yang menyenangkan. Anak kadang melihat, membalik halaman atau membawa buku kesana kemari. Pada tahap ini anak menjadikan buku sebagai mainan atau dibuka-buka secara tak beraturan.  Kita sebagai orang tua tak perlu marah atau memaksakan anak untuk menjadikan buku sesuai yang seharusnya. Biarkan saja. Yang penting kita tetap mengawasi dan mendampingi anak.

2. Self Concept Stage (Tahap Pembentukan Konsep Diri)
Pada tahap ini anak sudah mulai terlibat dalam kegiatan dalam kegiatan membaca dengan berpura-pura membaca buku dan memahami gambar berdasarkan pengalaman yang diperoleh. di tahap ini anak berpura-pura melakukan kegiatan membaca sekalipun dia belum bisa membaca. Di tahap ini sebenarnya anak sudah mulai menyukai buku.

3. Bridging Reading Stage (Tahap Membaca Gambar)
Pada tahap ini anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku. Anak juga sudah mulai mengenal huruf atau kata dari tokoh-tokoh dalam buku. Disini anak juga sudah menggunakan gambar sebagai media bercerita dan menyusun gambar-gambar dalam buku menjadi rangkaian cerita yang menyenangkan.

4. Take Off Reader Stage (Tahap Pengenalan Bacaan)
Pada tahap ini anak sudah dapat mengingat tulisan dalam konteks tertentu. Disini orang tua harus mulai mendampingi anak-anak dalam memahami cerita.

5. Independent Reader Stage (Tahap Membaca Lancar)
Pada tahap ini anak sudah dapat membaca tulisan dengan lancar tanpa perlu didampingi orang lain.  anak juga sudah mampu berpikir kritis dalam memahami bacaan.

Fiuhh.. Lumayan banyak ya tahapannya. Oleh karena itu  dari penjelasan tersebut memang kita sebagai orang tua harus memahami bahwa semua membutuhkan proses dan kesabaran. Ketika anak-anak kita anggap hanya menjadikan buku sebagai mainan, barangkali memang itu adalah tahap yang harus dia lalui. Jadi jangan pernah menyerah untuk terus mengenalkan kebiasaan baik pada anak-anak. Apalagi jika kebiasaan tersebut bisa bermanfaat bagi masa depannya kelak. Ingatlah, suatu saat kita akan tersenyum lega melihat anak-anak kita suka dan terbiasa dengan aktivitas membaca buku.

So, tetap semangat, Parents! Semoga kita bisa menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang gemar membaca, bisa berpikir kritis dan menjadi pribadi yang mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu berguna dari yang sudah mereka pelajari. Selamat mencoba!


Foto : Dokumen Pribadi





Sumber Referensi: 
Cirana Merisa. 2019. "Lebih Baik Mana, Membaca Lewat Buku atau Internet". https://bobo.grid.id/read/081603653/lebih-baik-mana-membaca-lewat-buku-atau-internet-akubacaakutahu?page=all, diakses pada 14 Desember 2020.

Kurniawan, Heru, Umi. K., dan M. Hamid. S. 2018. "Literasi Parenting". Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

The Asianparent Indonesia.  https://id.theasianparent.com/manfaat-membaca-untuk-bayi diakses pada 15 Desember 2020

The Asianparent Indonesia. https://id.theasianparent.com/agar-anak-gemar-membaca, diakses pada 14 Desember 2020.







8 komentar:

  1. Tips tips nya sangat bermanfaat bund ,sebagai orang tua memang perlu tips" saat mendidik anak jadi si anak gak bosen dan gak cepet menyerah karna di semangatin juga orang tua

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali bunda. Terima kasih sudah berkenan mampir.

      Hapus
  2. Keren banget informasinya mba :)

    BalasHapus
  3. Sangat bermanfaat sekali untuk calon orang tua. Terima kasih

    BalasHapus
  4. Tips sangat keren, apalagi di jaman skrang mayoritas orang jangankan ank2 org dewasa pun sudah malas membaca,,,

    BalasHapus
  5. Tips yang sangat keren.

    Membaca sangat penting bagi tumbuh kembang setia anak

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.