Review Buku I'm (Not) Perfect : Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia

Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



26 komentar:

  1. Mantap saya sebagai cwok bisa jadi pelajaran nih wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dong. Nanti kan isterinya cewe yg bakal jadi emak-emak juga. hehe

      Hapus
  2. Izin bertanya, dimana kita dapat membeli buku tersebut?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya nggak beli. Cukup download aja di applikasi I-Jakarta milih perpustakaan pemprov jakarta. Ini applikasi legal ya. Tinggal cari aja di playstore. Gratos dan ada banyak buku2 lain juga yang bisa dibaca.

      Hapus
  3. Keren jadi pengen baca..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukss. itu cerita pengalaman penulisnya sendiri. Jadi terasa greget.. hehe

      Hapus
  4. Gk mudah mengatur sbgaimana baiknya, kdg emosional lebih berperan . Butuh ilmu, kebiasaaan

    BalasHapus
  5. Mantap nih buat yang suka baca buku

    BalasHapus
  6. Kesempurna an bukan tolak ukur kebahagian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups! Bakal cape banget kalau menuntut kesempurnaan terus.

      Hapus
  7. Punya keinginan nerbitin buku... Tpi angan² aja.

    BalasHapus
  8. Ngeriviewnya jelas banget,,
    Kayaknya menarik kalo baca full bukunya

    BalasHapus
  9. Sebenarnya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah semata.

    Terima kasih atas bedah bukunya ini. Jadi tertarik

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.