Ketika Kakak Cemburu pada Adik, Apa yang Harus Dilakukan? (Sebuah Kisah tentang Sulungku)

"Buk, Ibu sayang gak sama Nayra?" 
Sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkanku.  Anak pertamaku Nayra memandangku sejenak, berharap aku segera memberikan jawaban. Saat itu aku sedang menemani ia bermain bersama adiknya. Aku pun langsung menjawab, 
"Iyalah.. Ibu sayang sama Nayra," ujarku. 
"Kenapa Nayra?" Aku pun balik bertanya. 
"Nggak apa-apa," jawabnya sambil nyengir. Kuperhatikan raut wajahnya beberapa saat, matanya terlihat berbinar. Setelah mendengar jawabanku itu, ia pun berbalik dan melanjutkan permainannya lagi.

Ia adalah anak pertamaku, Nayra. Saat itu usianya lima tahun. Aku tak tahu kenapa ia mengajukan pertanyaan itu, tapi yang jelas pasti ada alasan dibalik itu semua. Pertanyaan itu tiba-tiba membawa memoriku kembali kepada masa tiga tahun lalu, ketika aku baru saja melahirkan anak keduaku. 

Nayra, yang selama lebih dari tiga tahun telah menjadi anak satu-satunya di rumah, secara resmi akhirnya berstatus menjadi seorang kakak. Untuk pertama kalinya pula pada saat itu aku tak menemaninya tidur di malam hari karena aku harus ke rumah sakit untuk melahirkan. Pada malam itu, Nayra tak bisa tidur hingga jam 3 pagi begitu setidaknya kata Ibu mertuaku kala itu.

Entah apa yang ada dalam hati sulungku saat itu. Ditinggal ayah dan ibu untuk pertama kalinya. Bermain tanpa kehadiranku seperti biasanya. Padahal sebelumnya kami banyak menghabiskan waktu bersama dan tak pernah terpisah. Pasti itu merupakan perubahan yang besar bagi dirinya.

Beberapa aktivitas bersama Nayra sebelum adik bayi lahir :') (Foto dok. pribadi)

Semua sebenarnya mulai terasa berubah ketika aku tahu bahwa diriku hamil anak kedua. Saat itu Nayra masih menyusu denganku dan aku memutuskan untuk menyapihnya. Perutku tidak nyaman setiap kali menyusuinya. Saat itu Nayra memang sudah berusia dua tahun. Aku pun akhirnya berhenti menyusuinya. Nayra pun tantrum dan sedih hingga beberapa hari karena hal itu.

Kupikir itu adalah sebuah tantangan berat bagi Nayra karena harus melepaskan salah satu sumber kebahagiaan yang telah ia kenal sejak bayi. Pasti itu bukanlah hal yang mudah baginya.

Proses kehamilan sebenarnya kualami dengan menyenangkan, alhamdulillah. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja karena setiap kali aku mengabarkan bahwa ia akan punya adik, ia tampak mengangguk dan terlihat senang. Bahkan ia sering kali berkata bahwa sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir. Entah apakah benar demikian atau tidak, yang jelas saat itu kupikir ia sudah siap untuk menjadi seorang kakak.

Ketika adiknya sudah lahir dan tiba masanya ia bertemu dengan adiknya, ia hanya tersenyum malu sambil memerhatikan dari kejauhan. Raut mukanya tampak biasa saja awalnya, hingga kemudian kulihat ada perubahan pada wajahnya  ketika ia melihatku mulai menyusui adiknya. Mata itu seakan terlihat tak rela, setidaknya itulah yang kurasakan. 

Sejak saat itu aku tidak sadar bahwa ada tantangan yang harus kulalui kedepan. Tantangan yang akan menimbulkan ketegangan bagi kami berdua. Tantangan yang kuketahui pada akhirnya menjadi bentuk kecemburuan antarsaudara.

Sulungku Cemburu, Sulungku Rindu...


Kupikir memang tidak semua anak-anak suka dengan perubahan, apalagi jika perubahan itu membawa dampak besar bagi dirinya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun juga demikian kan? Dulu sebelum punya anak kedua, aku banyak menghabiskan waktu berdua dengan Nayra. Kami sering membaca buku bersama, bermain dan melakukan aktivitas belajar. Semuanya hanya berdua. 

Ketika ia punya adik, aku akui waktuku cukup berkurang untuknya. Apalagi aku memang mengurus bayi sendiri. Semua cukup menyita perhatian dan waktu. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang sudah kuprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum melahirkan anak kedua, sebenarnya aku sudah berdiskusi dengan suami, bagaimana agar Nayra tetap mendapatkan perhatian dan mengantisipasi agar ia tidak cemburu ketika nanti adiknya lahir. 

Kami berdua pun sepakat agar suamiku mau meluangkan waktu untuk Nayra, terutama ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya. Suamiku pun melakukan tugasnya sesuai dengan kesepakatan kami, walaupun pada kenyataannya ternyata Nayra masih cemburu.

Ia mencoba mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Kadang ia mengompol, padahal selama ini tidak pernah mengompol lagi. Nayra juga pernah meletakkan pasir ke badan adiknya dan pernah pula memegang adiknya yang masih bayi terlalu kencang. Nayra juga mudah sekali rewel, marah atau pun menangis. Sungguh, masa-masa awal kehadiran adik bayi adalah masa-masa yang berat bagi kami berdua.

Aku yang kadang sudah kelelahan, kadang terbawa emosi setiap Nayra mulai "bertingkah". Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin Nayra termasuk sosok yang paling lelah dengan semuanya. Ia juga kadang ikut terbangun setiap kali adiknya terbangun tengah malam. Ia juga tak mampu bercerita dan mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan benar. 

Kupikir, betapa sedih hatinya saat itu. Sedih karena melihat ibunya kurang memberi perhatian kepadanya. Sedih karena ia harus menerima kemarahan dariku, padahal harusnya akulah yang menjadi sosok utama yang bisa mengerti perasaannya. Pada saat itu pasti ia merasa sendiri. Ia tak punya tempat mengadu.

Terkadang, kalau ingat kembali dengan masa-masa itu, aku sungguh merasa bersalah. Aku merasa belum bisa menjadi ibu yang peka pada kebutuhan psikologis anakku. Tak heran, mungkin karena itu juga Nayra butuh waktu lama untuk bisa menerima kehadiran adiknya. 

Setiap kali ia menggambar, ia jarang sekali membuat gambar adiknya. Biasanya dia hanya membuat gambar dirinya, ayah dan ibu. Sebuah pertanda yang menurutku sudah cukup menggambarkan bahwa Nayra masih belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan anggota baru. Dan semua itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, hingga dua tahun lamanya.

Ibu, Peluk Sulungmu...


Aku mulai menyadari ada yang salah, ketika melihat berbagai perubahan sikap Nayra. Muncul banyak pertanyaan dalam diriku.  Kenapa ya Nayra jadi begitu? Apa penyebabnya? Apa karena kurang perhatian? Padahal selama ini ayahnya sudah banyak menghabiskan waktu bersamanya. Apa yang masih kurang? Aku pun mencoba mengamati polanya hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan. Apakah jangan-jangan Nayra sedang mencari perhatianku? 

Saat itu aku mulai mengingat-ingat, betapa banyak sekali waktu kami berkurang. Aku pun mencoba mencari solusi. Setiap hari aku pun berusaha meluangkan waktu bersamanya. Saat adiknya tidur, aku membacakan buku berdua dengannya. Hanya sebentar tapi Nayra ternyata terlihat  begitu senang dan bersemangat. 

Lama kelamaan, kebiasaan mengompol yang sempat muncul akhirnya mulai hilang. Nayra bahkan lambat laun bisa menerima kehadiran adiknya dan mulai mengajak adiknya bermain. Memang kadang aku lelah, di saat aku ingin beristirahat, ternyata aku juga harus meluangkan waktu untuk anak pertamaku. Tapi ketika melihat dia senang dan melihat kebiasaan buruknya berkurang, itu akhirnya memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Akupun tersadar bahwa Nayra sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak. Dia hanya ingin aku menyempatkan waktu bermain dengannya, meski mungkin hanya sebentar. Tapi dengan waktu yang sebentar itu, Nayra bisa tahu kalau dia merasa diutamakan olehku tanpa harus diganggu oleh adik atau siapapun. 

Hal itu juga yang sepertinya berhasil membuatnya nyaman dan merasa tak diabaikan. Ketika anak sudah merasa aman dengan segala perubahan, maka ia pun pada akhirnya akan lebih mudah menerima keberadaan adiknya. 


Pesan kepada Orang Tua


Drama kecemburuan seperti yang aku alami diatas sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan, jika orang tua bisa lebih mempersiapkan psikologis anak ketika akan menyambut kehadiran adik baru. Aku akui saat kehamilan mungkin aku kurang mempersiapkan strategi yang tepat. Walaupun saat hamil sebenarnya aku sudah mulai mengkondisikan si kakak akan kehadiran adik barunya, tapi ternyata itu belum cukup. Ada sesuatu yang lebih kompleks dari semua yang aku pikirkan. 

Aku pun berusaha merangkum hal-hal yang menurutku penting untuk dilakukan orang tua. Rangkuman ini kutulis berdasarkan pengalaman yang kualami. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan pada si kakak ketika adik bayi sudah lahir:

1. Meluangkan Waktu Berdua dengan Si Kakak
Walaupun suamiku sudah berusaha menyempatkan waktu menemani si kakak, ternyata anakku tetap butuh waktu berdua dengan ibunya. Hal itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak terpikirkan bagiku sebelumnya. Ketika anak mulai merasa ibunya sudah berkurang perhatian kepada dirinya maka ia pun bisa kecewa. Jadi, jangan lupa untuk luangkan waktu, tak hanya dengan ayah, tapi juga dengan ibu karena anak butuh sosok ayah dan ibu dalam hidupnya, bukan hanya salah satu pihak saja.

2. Yakinkan Kakak bahwa Ia akan Selalu Disayang
Kehadiran adik baru kadang membuat anak merasa dinomorduakan atau merasa diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus menguatkan posisi kakak bahwa dia akan selalu disayang dan dicintai. Ucapkan dengan perkataan, pelukan, sentuhan dan waktu yang kita luangkan untuknya. Dengan begitu, mudah-mudahan kakak tidak merasa tersingkirkan dalam keluarga akibat kehadiran adik barunya.

3. Ajak Kakak untuk Terlibat
Biasanya aku mengajak kakak untuk membantu mengurus kebutuhan adik. Entah mengambilkan popok, baju dsb. Sesuaikan dengan kemampuannya ya dan pastikan kakak dalam kondisi senang supaya dia tak merasa dipaksa ketika melakukan hal tersebut.

4. Jangan Menuntut Terlalu Banyak
Dulu aku sering secara tak sadar meminta Nayra untuk mengerti kondisi yang aku hadapi, tanpa mencoba memahami perasaannya. Aku lupa bahwa Nayra masih kecil dan ia sendiri juga merasa berat dengan situasi yang ada. Sebagai orang tua yang harusnya lebih dewasa dan lebih mengerti, maka kitalah yang harus mencoba memahami perasaannya. Jangan sampai ia merasa tak dipedulikan hingga akhirnya membuat ia membenci adiknya sendiri. 

Kadang aku pun masih menuntut kakak untuk mau mengerti, hanya karena aku merasa ia sudah lebih besar dan sudah menjadi seorang kakak. Padahal, tak ada yang lebih menyedihkan bagi hati seorang anak, selain melihat ibunya lebih peduli kepada adiknya. Tak ada yang bisa memahami betapa sedihnya seorang anak, ketika ia hanya bisa menatap punggung ibunya ketika tidur. 

Dulu aku berpikir bahwa Nayra sudah bisa mengerti kondisi yang kuhadapi. Padahal aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan anak kecil yang juga mengharapkan perhatian khusus dari ayah bundanya. Oleh karena itu, jangan menuntut sang kakak terlalu banyak karena ia juga masih kecil dan ia butuh kasih sayang yang adil dari orang tuanya.

Itulah beberapa tips yang pernah kulakukan. Sebenarnya banyak sekali tips terkait kecemburuan antarsaudara yang bisa dipelajari. Ayah Bunda bisa juga membaca di buku atau di situs internet . Baru-baru ini aku pun sempat membaca beberapa artikel dari situs www.ibupedia.com.  Disana juga ada banyak Tips Agar Kakak Tidak Cemburu Pada Adik Barunya. Tipsnya pun menurutku sangat bermanfaat dan aplikatif sehingga akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda untuk mencoba mempraktikannya. 

(Salah satu artikel di situs ibupedia.com)


Saat ini dengan bertambahnya usia, Nayra sudah tidak terlalu banyak berkonflik dengan adiknya. Aku sendiri justru melihat dia sebagai sosok yang mengayomi dan dapat menjaga adiknya. Walaupun demikian, bukan berarti masalah selesai, karena justru giliran anak kedua yang saat ini mengalami masalah yang sama dengan adiknya. Memang ya, bicara tentang tantangan menghadapi anak memang tak pernah usai, hehe..

Tiga Puteriku

Kupikir menjadi orang tua memang memaksa kita untuk belajar lebih banyak, karena tantangannya akan selalu muncul sepanjang hidup. Untungnya saat ini sebagai orang tua yang hidup di era sekarang, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang dunia parenting dengan mudah. 

Ayah dan Bunda bisa menjadikan situs Ibupedia sebagai referensi yang membahas tentang dunia parenting. Jika ada orang tua yang memiliki masalah yang sama sepertiku, disana ada beberapa artikel penting yang perlu diketahui orang tua terkait kecemburuan kakak dan adik. Selain itu, ada juga topik-topik penting lainnya, seperti kehamilan, kelahiran, balita, kesehatan, keluarga dan masih banyak lagi. Jadi Ayah dan Bunda tak perlu khawatir jika dihadapkan pada masalah-masalah seputar anak dan keluarga karena disana cukup banyak tips-tips berharga yang bisa kita aplikasikan di rumah.

Banyak topik yang bisa dipilih
(Tampilan Website ibupedia.com versi mobile)

Terakhir, ada satu kalimat yang selalu kuingat sejak dulu, bahwa ketika kita menjadi orang tua, berarti kita harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Ketika kita berhadapan dengan permasalahan anak, tentu itu membutuhkan kesabaran, wawasan dan kesungguhan. Oleh karena itu, penting sekali untuk kita terus mengasah kesabaran dan semangat belajar terkait dunia anak dan keluarga. Tetap semangat untuk semua Ayah dan Bunda, semoga kita bisa menyayangi, mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka bisa bertumbuh dengan baik dan menjadi anak yang bahagia. 

21 komentar:

  1. Maklum kak ada saudara baru, jadi biasanya tunggal sekarang ada lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi harus beradaptasi. Dan terkadang itu ga mudah.

      Hapus
  2. Gedean dikit adeknya, pasti udah saling sikut tuh sama kakaknya.. 😂😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau anak laki sih gt ya? Kalau anak perempuan lebih ke cemburuan, nangis trus ngambek.. Hehe.

      Hapus
  3. Kalau saya memilih jaga jarak kelahiran sehingga anak yang lebih tua bisa bisa ieralihkan fokusnya dengan bermain bersama teman sebayanya.
    Dirumah, tentu harus diberi perhatian yang sama. Kerjasama antara ibu dan ayahnya di perlukan di sini. Itu menurut saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul kerja sama antara ayah ibu memang penting banget. Sebenarnya kalau masalah ini bisa diselesaikan, justru anak-anak bisa makin deket krn jarak usia mereka ga terlalu jauh jadi malah jadi punya temen main bareng di rumah. Tapi ya itu, krn ga terlalu jauh, jadi terkadang masih sering ada konflik. itulah knp penting banget peran org tua biar ga terlihat berat sebelah.

      Hapus
  4. Kakakku juga dulu sering cemburu ke aku. Dia biasanya ngelampiasin dengan jail dan bikin nangis aku. Inget banget dulu sering berantem

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama, saya juga gitu sama kakak sendiri.. hehe.

      Hapus
  5. bagaimana pun org tua harus adil kepada semua anak2nya agar tidak ada y merasa dibedakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya org tua harus sering istighfar dan sabar biar lebih bijak dalam menghadapi anak-anak.

      Hapus
  6. Memang yang namanya bersaudara itu pasti cemburuan, apalagi kalo ibu bagi makanan g adil itu sudah jadi cemburu dan bertengkar, keinget masa kecil saya dilu juga bgtu banyak bertengkar gara2 cemburu. Makanya jadi ortu emang harus adil🥰👍 agar anak2 juga tidak saling cemburu dan bertengkar😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. tanggung jawab jadi orang tua memang berat..hehe.

      Hapus
  7. Secara psikologi kakak ingin menunjukkan ke momy bahwa ia sudah berkurang perhatian karena ada adik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, makanya jadi cemburu. dan org tua kadang ga sadar kalau ud kurang perhatian.

      Hapus
  8. Menurut sudut pandang saya, setiap saudara kandung pasti akan ada kecemburuan sosial, dan ini wajar terjadi. Karena sang ibu biasanya akan lebih menyayangi anaknya yang terakhir. Inilah yang menbuat kakak merasa iri,karena kasih sayang orang tua menjadi kurang. Dengan mendidik atau mengarahkan sang kakak untuk menyayangi adiknya, mungkin kecemburuan ini akan berkurang atau bahkan tidak ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi ada juga adik yg cemburu pada kakak.. misalnya kalau kakaknya lebih berprestasi, lebih baik dsb akhirnya ortu tanpa sadar membandingkan.Memang orang tua harus berusaha berlaku adil dan menyayangi anak tanpa harus membedakan.

      Hapus
  9. Ini artikelnya relate banget💙
    Terima kasih kak🤗

    BalasHapus
  10. Angakt ceritanya pas banget, semoga menjadi sebuah motivasi bagi para pembaca

    BalasHapus
  11. Artikelnya baguska, real pokoknya

    BalasHapus
  12. pernah juga cemburu sama adikku, tapi adiku membantuku banyak hal jadi ga cemburu lagi wkwkwk, malah baik banget adiku, malah kadang tak suruh-suruh dan akhirnya jadi mutualisme

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.