Pentingnya Peranan Keluarga dalam Menguatkan Fitrah Seksualitas Anak

Tulisan ini merupakan hasil rangkuman dari diskusi saya dengan teman-teman di komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Tema yang dibahas ini terkait dengan peranan keluarga dalam menguatkan fitnah seksualitas. 

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit terkait sebuah postingan tentang seks di sebuah akun media sosial. Dalam postingan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang dilempar kepada netizen terkait "Kapan kalian mulai mengetahui tentang seks?"

Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan. Rata-rata yang menjawab mengatakan bahwa mereka mengenal seks sejak mereka SD. Ada juga yang mengaku telah melakukan hubungan intim di saat masih remaja dan semua itu dipicu oleh keingintahuan mereka tentang seks tersebut. 

Pada awalnya, mereka sempat bertanya kepada orang tua terkait topik itu, tapi tanggapan ortu mereka ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ada yang marah, ada yang tidak mau membahas dll. Akibatnya apa? karena merasa tidak puas dengan reaksi orang tua, anak-anak itu malah mencari informasi sendiri lewat internet. Masalahnya di internet pun mereka jusru malah menemukan sumber yang salah, sehingga keingintahuan mereka itu justru mengarah ke hal negatif.

Ada juga remaja perempuan yang menjual foto dirinya dan melakukan video tak senonoh. Orang tua mereka tak pernah tahu akan hal itu. Mereka hanya tahu anak-anaknya adalah anak baik dan  penurut padahal kenyataannya banyak hal  yang mereka tutup-tutupi dihadapan ortu mereka sendiri.

Ketika saya membaca postingan tersebut, saya menyadari betapa pentingnya keterbukaan dan bonding yang kuat antara orang tua dan anak. Hal itu penting ditumbuhkan supaya anak-anak tidak segan menceritakan tentang apa yang mereka rasakan dan yang ingin mereka ketahui. Orang tua juga semestinya tidak langsung menjudge, meremehkan atau menghindar, agar anak-anak merasa nyaman ketika mereka ingin bertanya sesuatu. 

Gambar: istockphoto.com

Salah satu poin penting juga yang kadang luput diajarkan oleh orang tua adalah orang tua lupa mengajarkan sejak dini tentang sex education. Sex education ini penting untuk diajarkan  supaya mereka tahu batasan-batasan atau hal-hal yang perlu dihindari atau diketahui terhadap tubuh mereka sendiri. 

Nah, diskusi yang saya lakukan bersama teman-teman saya tersebut adalah membahas tentang fitrah seksualitas dalam rangka sex education pada anak-anak sejak dini. Menurut saya kedua topik itu berkaitan karena pendidikan seks itu melingkupi hal yang luas. Jika membahas fitrah seksualitas maka akan beririsan dengan sex education, karena anak-anak akan diajari tentang aurat dan batasan-batasan dalam pergaulan dan penguatan peran gender. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang bisa saya bagikan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Apa itu Fitrah Seksualitas?

Gambar: istockphoto.com

Menurut Ustadz Harry Santosa Alm., Fitrah seksualitas itu terkait dengan bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. Untuk menguatkan fitrah seksualitas pada anak, sangat dibutuhkan peranan dan ikatan dengan ayah dan ibunya.

Berbeda dengan istilah sosialisasi gender, menurut lembaga koalisi perempuan, sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku. 


Seberapa Penting Fitrah Seksualitas Perlu Dibangkitkan?

Jawabannya adalah sangat penting, karena jika fitrah ini tidak dikuatkan sejak kecil, maka bisa terjadi penyimpangan yang membuat anak mengalami gangguan kejiwaan, penyimpangan orientasi seksual, dan masalah terhadap lingkungan sosialnya. Namun ada beberapa tantangan yang menyebabkan fitrah seksualitas ini tidak tersosialisasikan dengan baik yaitu:

1. Pemahaman Orang Tua yang Masih Rendah

Orang tua kurang memahami urgensi tentang penguatan fitrah seksualitas sehingga isu ini tidak pernah diperkenalkan kepada anak di rumah. Selain itu, kurang terbentuknya bonding dengan anak menyebabkan adanya sekat yang membuat anak maupun orang tua merasa enggan untuk membahas ini lebih lanjut. 

Hal ini bisa menyebabkan peran gender yang harusnya di edukasi sejak dini tidak tersampaikan dengan baik sehingga membuat adanya missing link pada anak tentang pemahaman dirinya terkait gendernya sendiri. Padahal memberikan pemahaman dan contoh terkait peran gender ini harusnya menjadi tanggung jawab  para orang tua. 

Selain itu, para orang tua masih belum terbuka dan malu-malu dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks pada anak, seolah-olah sex education hanya bicara tentang hubungan badan. Padahal pendidikan seksualitas bukan hanya bicara tentang seks semata tapi juga menyangkut hal lain yang lebih luas misalnya tentang peran gender dan anggota tubuh yang perlu dilindungi dari tindak kejahatan seksual. 

2. Teknologi yang Terus Berkembang 

Hal ini bisa kita lihat terutama dalam arus informasi yang sangat cepat dan banyak. Jika orang tua tidak memberikan bimbingan dan tidak membersamai anak dalam menyaring informasi, maka bisa jadi anak menemukan informasi yang salah terkait peran gender dan hal yang terkait topik seks edukasi. Apalagi sekarang banyak pemikiran sekuler yang keluar jalur dan membuat fitrah seksualitas menjadi abu-abu. Lalu apa yang harus dilakukan para orang tua?

Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding (lagi-lagi bonding ya) dengan anak sejak dini. Jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran gendernya. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, ayah bisa mengajak anak laki-lakinya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan-pelan tentang aurat, cara bersikap  dsb. 

Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak baik a yah dan ibu. Ketika kecil, biasanya anak-anak  lebih dekat dengan ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. 

Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa  belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan  belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah. 

Gambar: pexels.com/Katie E

Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan memiliki kedekatan dengan ayahnya, maka kemungkinan dia akan tumbuh menjadi perempuan yang penuh percaya diri dan berprestasi. Ia kelak juga tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang apalagi mudah terbujuk rayuan laki-laki.

Itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan yang baik dengan ortu mereka hingga mereka dewasa. 

Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak. Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan  dan  penyuluhan  terkait peran gender pada anak didiknya. 


Kesimpulan 

Gambar: istockphoto.com

Tugas  orang tua itu tidak pernah bisa tergantikan dalam mentransfer dan mengenalkan nilai dan keyakinan pada anak. Termasuk dalam hal fitrah seksualitas ini. Saya percaya bahwa jika orang tua tidak mengenalkan fitrah seksualitas dengan benar, maka akan terjadi kesalahan identifikasi diri dalam diri anak yang berakibat pada penyimpangan orientasi seksual, gangguan jiwa dan penyimpangan dalam interaksi sosial dan agama. Mudah-mudahan para orang tua dan termasuk saya sendiri memahami urgensi pengenalan fitrah anak ini agar kedepannya kita bisa menciptakan generasi yang lebih baik, berprestasi dan bermartabat. Aamiin.



7 komentar:

  1. Kunci utamanya ada di orangtua. Miris sekali karena di zaman masih banyak orangtua yang beluk begitu memahami ilmu ini juga ilmu parenting lainnya.

    Btw, kita satu niche mbk.. mampir ke blog sy yaa 😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, di jaman sekrang mesti banyak belajar sebagai orang tua karena tantangannya makin berat.

      Hapus
  2. Apa yang dilakukan seorang anak emang biasanya itu cerminan dari ortunya. Tapi tidak smua demikian karena kadang anak juga sudah mulai nakal dan suka bohong. Makadari itu ortu emang harus banyak belajar untuk memperhatikan seorang anak. Anak harus didekati agar cerita dan terbuka pada ortu :)
    Menurut saya sih bgtu😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya betul, sikap saling terbuka antara anak dan orang tua itu pennting banget.

      Hapus
  3. Wahh tugas orang tua sangat berat..

    BalasHapus
  4. edukasi yang bagus buat orang tua ni, untuk terus belajar dan belajar demi membimbing anak-anak nya ke arah yang lebih baik

    BalasHapus

Silahkan berkomentar dengan baik dan santun. Makasih yaa.