Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motherhood. Tampilkan semua postingan
Saya sangat bersyukur bisa ikut kulwap yang diisi oleh teh Indari. Beliau adalah seorang penulis yang berhasil menjalani passion sekaligus hobinya. Hobi yang sama dengan saya pribadi yaitu menulis. Bedanya adalah beliau bisa mencapai level advance sebagai seorang penulis sedangkan saya hanyalah penulis pemula yang dalam keseharian hanya menulis di sosial media atau blog pribadi. Hanya sampai situ saja.
Saat saya mengikuti kulwap bersama beliau saya sungguh tersadar, tertampar, termakjleb atau apapunlah namanya.. You name it. Bahwa untuk menjadi seorang penulis yang sukses itu butuh strategi, butuh target, butuh komitmen, disiplin, pengorbanan. Tidak bisa hanya sekedar sampingan atau mood-moodan.
Contoh saja teh Indari. Ya ampun.. Ini beneran, pas beliau cerita bagian ini saya langsung malu banget karena usaha saya dalam menulis masih minimalis sekali.. (Hiks). Teh Indari selalu membuat target harian yang ia masukkan ke dalam yang namanya metrik penulisan. Didalamnya ada hal-hal yang perlu kita isi seperti target yang ingin dicapai, hasil nyata/aktual yang kita kerjakan dan utang (jika dalam sehari  kita tidak menyelesaikan target maka kita harus membayarnya di keesokan harinya). Menurut saya ini keren banget dan harusnya saya juga begini sejak dulu.. (hiks lagii).
Belum lagi soal manajemen waktu yang super keren karena saya saja sepertinya masih kesulitan untuk bisa memanajemen waktu seperti beliau. Jadi beliau ini sangat strict dengan yang namanya rutinitas dan jadwal harian. Pokoknya jam 19.30 adalah waktu tidur untuk SEMUA anggota keluarga. TITIK. Dan ini sudah dibiasakan semenjak anaknya masih bayi. Tidur jam segitu adalah sesuatu yang wajib dilaksanakan. Sehingga ketika besar, anaknya sudah mengikuti jadwal tersebut. Lah saya? Jam 19.30 boro-boro pada mau tidur, anak-anak jam segitu masih pada wara wiri, salto, jumpalitan (sebenarnya ini agak lebay… Tapi biar dramatis saja.. Hehe). Pun emak bapaknya masih sibuk ini itu.. Haduh, bagian ini saya sangaaat salut sama teh Indari karena berhasil membiasakan keluarga untuk punya jadwal teratur.
Tidak hanya itu.. Jam 3 pagi beliau juga sudah bangun, tahajud, lalu mulai melakukan aktivitas menulis. Bahkan beliau pas paginya masih sempat murajah hafalan anak-anak.. (nangis hatikuuu). Terusss.. Siangnya juga masih bisa bobo ciaanngg.. Canggih ga sih keluarganya teh Indari ini. Berasa ga ada apa apa banget dibandingkan beliau. Dan satu lagi, beliau dan suami punya visi dan misi yang sama sehingga wajar saja mereka juga saling support satu sama lain. Dan ini menurut saya keren pake banget.. (hiks.. Terharuuu).
Makanya, setelah membaca sharing beliau yang duhai masya Allah itu, saya sadar bahwa kesuksesan yang beliau lakukan memang tak lepas dari kedisiplinan, komitmen dan ibadah yang beliau lakukan. Kesuksesan itu tak bisa dicapai oleh orang yang malas-malasan, ga ada komitmen, ga disiplin, mood-moodan.. (Ah, nampar banget ini). Kesuksesan itu ga cukup kalau hanya sebatas niat terooss. Harus dilakukan. Harus ada usaha. Harus ada doa. Dan sampai disini sadarlah saya bahwa selama ini, saya ternyata baru sampai sebatas niat, baru sampai sebatas mimpi.. (hiks.. Aduh nangis mulu deh ini). Makanya, saya punya harapan untuk bisa memperbaiki semua ini…
Sudah sejak beberapa hari semenjak kulwap tersebut, saya mencoba membuat metrik penulisan seperti yang disampaikan teh Indari. Saya membuat target penulisan sesuai dengan kemampuan dan kondisi saya. Kalau teh Indari targetnya satu halaman perhari. Kalau saya cukup dua paragraf perhari untuk dua kategori penulisan.
Jadi saya membagi dua kategori penulisan dalam rentang satu minggu. Pertama saya ingin menulis tentang masa kecil (yang ini harapannya ingin saya tulis rutin di blog seperti serial). Kedua, tulisan ringan di media sosial sebagai ajang latihan sekaligus menumpahkan pikiran, perasaan dan pendapat tentang banyak hal. Kedua kategori ini masing-masing harus ada progres minimal 2 paragraf. Jadi anggap saja sehari saya harus menyetorkan 4 paragraf. Targetnya adalah dalam satu minggu saya bisa memposting satu serial masa kecilku di blog dan dua tulisan di medis sosial. Saya juga berusaha mengalokasikan waktu menulis (biasanya sih saat malam hari ketika anak-anak semua sudah tidur). Meski soal manajemen waktu sepertinya masih rada kacau dan terlalu fleksibel sih. Tidak seperti teh Indari yang semua sudah terjadwal. Tapi setidaknya saya berusaha meyakini bahwa ini semua bisa menjadi langkah awal untuk memupuk komitmen dan konsistensi. So, Wish me luck! Dan Terima kasih untuk teh Indari yang berhasil memotivasi kembali semangat menulis yang masih naik turun ini. Pokoknya sharingnya kemarin sungguh sangat berfaedah..
Hufft… ganbatte!!  
#kejarmenulisIPTangsel
#kulwapTehIndari
View Post
Kejadian ini terjadi pagi tadi. Rasanya malu sekali karena saya sudah berprasangka buruk pada suami. Jadi ceritanya kemarin suami berkata ingin sekali makan sushi (ini siapa yang hamil, siapa pula yang ngidam.. hehe). Memang suamiku senang sekali makan sushi dan biasanya dia membelinya di mall aeon karena harganya lebih murah. Saya pun menjawab " Ya udah kalau mau makan sushi beli aja". Dia sempat bertanya apakah saya mau dititipin beli sesuatu? Saya bilang saya minta dibelikan bakso A*ung dan cream puff yang biasanya suka dibeli di aeon. Dia pun setuju dan berjanji akan membelikan pesanan saya,

Akhirnya pergilah ia ke aeon. Ternyata cukup malam ia pulangnya hingga saya pun sudah tertidur karena ngelonin bocah. Pagi harinya, saya bangun dan mengecek kulkas. Biasanya kalau beli makanan, ia akan masukkan ke kulkas. Tapi saat saya lihat ternyata tak ada. Saya coba cari di ruangan lain tetap ada. Saya justru menemukan buah durian, yang tak lain adalah buah kesukaan suami. Saya mulai kesal. Dalam hati saya mulai menggerutu "Kok bisa sih dia ga beliin pesananan saya. Yang ada malah dia membeli makanan kesukaan dia sendiri". Saya pun mulai cemberut, mulai ngambek. Saat suami mengajak berbincang hanya saya tanggapi sekedarnya. Hingga akhirnya tak tahan berdiam diri, saya pun mulai bertanya "Kok kamu ga beliin saya bakso? Kan sudah aku pesan tadi malam" Saya bertanya sambil mempertahankan nada agar tidak terkesan marah. Lalu tiba-tiba suami kaget. "Ah masa? Ud dibeliin kok. Ya ampunn (sambil menepuk keningnya) jangan-jangan masih di mobil?" Ia pun langsung beringsut dan keluar untuk membuka pintu mobil. Dan ternyata benar, makanan yang saya pesan lupa ia keluarkan.. Ada bakso, kue, dan ikan salmon. Sayangnya ikan salmon sudah tak enak dimakan, sedangkan pesanan saya alhamdulillah masih bisa dimakan. Suami minta maaf karena tadi malam pulang sudah malam sehingga ia lupa memasukkan ke kulkas. Padahal dalam hati justru saya yang meminta maaf karena sudah berprasangka buruk padanya.

Saya benar-benar malu dengan kejadian itu. Padahal apa salahnya langsung konfirmasi saja dari awal. Tak perlu pakai acara ngambek dan berprasangka buruk pada suami sendiri.. Sebenarnya saya sudah memahami itu sejak dulu, apalagi di IIP sudah pernah diberikan materi tentang komunikasi produktif. Tapi kok ya teteep aja bawaannya pengen dimengerti terus (meski alhamdulillah sih tadi ngambeknya ga lebay, sehingga suami pun juga ga ngeh kalau isterinya diam-diam sempat ngambek.. hihi).

 Ah dasar wanita. Maunya dimengerti saja. Padahal suamimu kan bukan peramal. Ia tak kan tahu isi hatimu dan maumu seperti apa kalau kamu cuma diem-diem aja. Iya kan? Jangan diulangi lagi yaa? hihii...
View Post
Sejak dulu saya berpikir bahwa kompetisi sesama perempuan terkadang jauh lebih beringas, lebih sadis dan lebih jahat dibandingkan dengan sesama lelaki. Bener ga sih? Atau pikiran saya ini salah? 
Namun, setelah membaca sebuah artikel di majalah intisari yang berjudul "Di gerbong perempuan yang cantik jadi garang" saya jadi berpikir bahwa ternyata mungkin asumsi saya selama ini memang benar.
Bagi yang menggunakan kereta sebagai alat transportasi mungkin ada yang merasakan fenomena ini terutama di jam-jam rawan. Perempuan bisa bersikap sewenang-wenang demi mendapatkan  satu kursi (alhamdulillah saya tidak perlu merasakan fenomena ini setelah resign. Meski saya  sangat salut dengan para ibu yang masih berjuang naik kereta setiap hari).
Rasa empati kepada sesama perempuan kadang sudah hilang, padahal katanya perempuan itu lebih penyayang. Tapi ketika kamu ada dalam kereta di jam-jam rawan, maka mungkin  kamu akan berubah pikiran. Masih ingat kan komentar yang pernah viral tentang seorang perempuan muda yang kesal dengan perempuan hamil karena menurutnya mau enaknya saja dpt tempat duduk  di kereta hanya karena dia sedang hamil?  Tak heran jika mungkin banyak perempuan yang lebih suka duduk di gerbong umum  daripada gerbong khusus wanita karena sesama perempuan saja sudah tidak saling mengerti. 
Selain fenomena kereta ini, contoh lain yang bisa kita lihat adalah dari komentar di media sosial. Rata-rata komen nyinyir dan sadis itu justru berasal dari  perempuan (ini hasil observasi sendiri sih, tak ada data kuantitatif valid yg menyertai) . Bahasa yang digunakan kadang bisa membuat syok. Dan itu banyak sekali ditemui. Kenyiyiran terkadang sudah melebihi ambang batas. Pernah juga saya menonton beberapa drama yg menceritakan persaingan dua perempuan dalam dunia kerja ataupun  percintaan. Salah satu saingannya melakukan apa saja demi menjatuhkan lawan dengan taktik manipulatif yang memuakkan..  Well, memang sih itu hanya drama, tapi bisa saja di dunia nyata benar-benar terjadi kan? Meski mungkin tidak selebay di film. 
Tapi percayalah, selain fenomena mengerikan  yang sudah saya ceritakan diatas, tentu tak semua perempuan bersikap seperti itu. Ada juga para perempuan yang saling support dan baik hati (misalnya saja di komunitas IIP ini ). Dan saya pikir masih banyak perempuan semacam itu dijaman ini. 
Mudah-mudahan kita semua termasuk ke dalam perempuan yang seperti itu ya, karena kalau sesama perempuan saja tak bisa saling mengerti, lalu anak perempuan kita kelak mau kita didik seperti apa? 
View Post