Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Flight Plan Review



Oke, jadi ini film sebenarnya sudah lama. Tahun 2005 keluarnya. Mungkin diantara kalian pun sudah pernah ada yang menontonnya. Tapi karena sesuatu hal, saya jadi keingetan lagi sama film ini. Untuk jalan ceritanya silahkan googling saja ya. Aku nggak ingin membahas lebih lanjut. Yang jelas menurutku film ini recommended banget untuk ditonton, terutama untukku sendiri yang merupakan seorang ibu. 

Film ini jalan ceritanya bagus. Dibintangi salah seorang aktris senior yaitu Jodie Foster. Salah satu filmnya yang aku suka juga adalah the silent of the lamb. Film lawas juga sih (ini kayaknya aku doyannya nonton film lawas ya.. hehe). Rada-rada mirip sama film ini. Bukan jalan ceritanya ya yang mirip. tapi yang bikin mirip adalah karena sama-sama film thriller. Kita juga akan dibuat bertanya-tanya  tentang tokohnya. Siapa sih penjahatnya? Gimana ya nanti akhirnya? Ini arahnya kemana ya? Ya pokoknya beragam pertanyaan yang mengusik saat pertama kali nonton ini.  That's why i love this movie. Untuk bisa menikmati film ini, jangan berekspektasi macem-macem. Cukup ikuti alur cerita dan kita akan kaget dengan jalan ceritanya. 
 
Jadi, dalam film ini, Jodie Foster memerankan tokoh Mrs. Fratt yang harus berjuang di dalam pesawat untuk mencari anaknya yang tiba-tiba menghilang. Anehnya nggak ada satu orang pun di pesawat yang ngeliat anaknya tersebut sehingga orang-orang yang ada di pesawat mulai nganggap Mrs. Fratt ini stress, giladsb. Apalagi dia juga baru kehilangan suaminya yang meninggal jatuh dari atap. Namun, Mrs. Fratt yakin bahwa anaknya beneran ikut ke pesawat. Dia yakin bahwa ada yang mengambil anaknya dan  anaknya sedang dalam bahaya. Ketika semua orang nggak ada yang percaya sama dia, bahkan justru memojokkannya, ia tetap yakin pada instingnya sebagai seorang ibu. Disini sih aku ngerasa Mrs. Fratt bener-bener sosok yang keren banget sih.

Bahkan pas ngeliat perjuangan Mrs. Fratt mencari anaknya ini, aku jadi langsung bertanya kepada diri sendiri, 
"Bisa ga ya, aku menjadi ibu yang seberani itu?"
"Bisa ga ya, aku yakin pada diriku sendiri?"
"Bisa ga ya, aku melindungi anakku apapun yang terjadi?"
Dan akhir cerita ini pada akhirnya akan membuat kita menyadari betapa luar  biasanya perjuangan dan keyakinan seorang ibu.

Ini film bener-bener bagus sih, meski heran juga kenapa di imdb ratingnya cuma 3 bintang. Padahal film ini memenangkan 2 nominasi lho. Oh iya, di film ini juga nggak ada adegan aneh-aneh semisal adegan ciuman, adegan jorok dan sejenisnya yang biasanya suka ada di film barat. Dan ini menjadi nilai plus tersendiri buatku sih.


Intinya, I give 4,5/5 Stars for this movie.. Yeay. 
Kalau kalian sendiri, pernah nonton film ini belum?
View Post
Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



View Post
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah webinar di sekolah anak saya Nayra. Webinar itu memang diperuntukkan bagi para orang tua siswa kelas 2. Awalnya agak malas untuk ikut (wkwk), tapi saya pikir apa salahnya ikut bergabung kan? Toh memang ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan sekolah kepada para orang tua. Temanya saat itu tentang bagaimana membuat anak belajar dengan nyaman di rumah. Pembicaranya adalah Ibu Ida S Widayanti.

Saya sih gak fokus melihat materinya secara keseluruhan dari awal karena memang saat itu sambil disambi aktivitas rumah tangga. Tapi ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan perlu saya tulis disini sebagai salah satu ikhtiar saya dalam mengikat ilmu. Yah syukur-syukur jika tulisan ini bisa bermanfaat pula bagi orang lain. Berikut beberapa rangkuman yang saya buat. Check it out!


Pertama, hidupkan perasaan bahagia dalam proses mendidik anak-anak.


foto : kidengage.com


Pada dasarnya, perasaan bahagia bisa memberikan banyak keuntungan dalam proses mendidik. Pesan yang kita sampaikan ke anak, akan lebih cepat masuk ke dalam hati dan pikirannya jika suasana hatinya juga sedang baik. Jadi, percuma jika kita ingin memberikan saran atau nasihat kepada anak sementara saat itu sang anak dalam kondisi tidak nyaman, bete, kesal ataupun marah. Itu tak ada gunanya.

Kita harus ciptakan dulu suasana menyenangkan bagi anak, agar hati dan pikirannya siap menerima pesan yang kita sampaikan. Ingat, bahwa suasana hati yang baik akan menguatkan otak dalam menerima pesan.

Kedua, setiap berkomunikasi dengan anak, pastikan komunikasi tersebut memenuhi salah satu atau semua tujuan komunikasi. 



Berikut ini tujuan komunikasi yang hendaknya kita pertanyakan setiap akan berkomunikasi dengan anak. 

1. Apakah kita ingin menyampaikan informasi ke anak? (to inform)

2. Apakah kita ingin mendidik anak? (to educate)

3. Apakah kita ingin membujuk anak? (to persuade)

4. Apakah kita ingin menghibur anak? (to entertaint)

Jika komunikasi kita tidak  memenuhi tujuan itu, maka sebaiknya komunikasi tersebut tidak dilanjutkan dan dihentikan saat itu juga. Kemarahan, makian, omelan bukanlah komunikasi terbaik untuk mencapai tujuan komunikasi dengan anak, baik itu untuk mendidik ataupun memberi informasi (apalagi menghibur). Sekalipun mungkin kita berniat demikian tapi itu bukanlah langkah yang tepat.

exploringyourmind.com


Jadi, ketika kita mulai ingin marah-marah, ingat lagi tujuan komunikasi diatas. Percayalah, percuma kita marah-marah karena pesan yang kita sampaikan tidak akan memberikan motivasi positif kepada anak-anak. Justru anak-anak akan makin tak nyaman, sedih, tidak suka, atau bahkan ikut marah. 

Buang energi kita dari hal yang sia-sia, terutama marah-marah. Salah satu tipsnya bisa dengan melakukan teknis pernapasan perut yang diiringi dengan istighfar (letakkan telapak tangan kanan di perut dan tangan kiri di dada. Rasakan perut mengembang saat menarik napas dengan hidung dan perut mengempis saat mengeluarkan napas lewat mulut). Ucapkan istighfar dalam hati. 

Atau kalau dalam anjuran Nabi adalah dengan mengubah posisi dari berdiri ke duduk dan mengambil wudhu. Insya Allah, mudah-mudahan kita tak jadi marah setelahnya.

Ketiga, gunakan kacamata lebah dalam melihat perilaku anak. Jangan malah menggunakan kacamata lalat.


Apa maksudnya? Pada dasarnya, lalat dan lebah adalah dua makhluk Allah yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Lalat lebih suka dengan bau-bau busuk, sementara lebah suka dengan sari bunga dan bau yang wangi.

Jika lalat ditempatkan di sebuah taman bunga, tetap saja yang dicarinya sampah. Sementara lebah, jika ditempatkan di tumpukan sampah, tetap saja yang dicarinya adalah sekuntum bunga.

Demikian juga para orang tua. Jika kita memilih untuk menggunakan kacamata lalat, maka kita hanya akan mencari keburukan dan kekurangan pada perilaku anak. Hanya itu saja fokusnya. Pokoknya yang kita ingat hanyalah kekurangan dan kesalahan anak saja. Seakan-akan anak tak punya kelebihan yang bisa kita bicarakan.

Berbeda dengan jika kita memilih kacamata lebah, maka kita fokus pada kelebihan anak. Bahwa anak juga punya sesuatu yang baik yang perlu kita dukung. Bahwa pada dasarnya anak juga memiliki hal-hal positif yang bisa kita syukuri.

Sebagai contoh, coba perhatikan gambar ini.


Foto : gettyimages.com

Coba lihat sejenak gambar itu dan kita coba pakai kacamata lalat. Apa yang kita pikirkan?

Dapur berantakan, peralatan yang kotor, bahan makanan yang terbuang, dsb. Yang kita lihat saat itu hanyalah hal negatif. Betul tidak? 

Tapi coba kita ganti kacamata kita dengan kacamata lebah. Apa yang kita lihat? 

Wah, kita melihat anak-anak sedang eksplorasi. 
Wah anak-anak sedang belajar hal baru. 
Wah anak-anak sedang mencoba belajar memasak dsb.
Masya Allah!

Itu yang luput dari para orang tua. Kebanyakan kita (termasuk saya pun) sepertinya masih lebih sering menggunakan kacamata lalat daripada lebah. Tanpa disadari kita kadang fokus hanya pada hal-hal negatif. Padahal kita lupa, bahwa anak-anak juga memiliki banyak hal-hal baik yang perlu kita apresiasi.

Keempat, pentingnya memahami suasana hati.


Suatu hari, terdengar seorang ibu sangat berisik ketika sedang mencuci piring. Klentang-klentong bunyi peralatan dapur terdengar saling beradu. Suaranya sangat mengganggu tak seperti biasa. Kira-kira kenapa sang ibu sangat berisik saat mencuci piring? Apakah ia tak tahu cara mencuci piring dengan baik dan benar? Ataukah karena saat itu suasana hatinya sedang buruk?

Setelah itu coba bayangkan kembali, dalam kondisi yang seperti itu tiba-tiba datang suaminya berkata,

"Kok berisik sekali nyuci piringnya? Memangnya kamu gak tahu cara mencuci piring? Kalau gak tahu sini aku ajarin!" ujar si suami dengan nada keras dan tinggi.

Kira-kira bagaimana perasaan kita kalau jadi si ibu itu? Apakah kita merasa lebih baik setelah mendengar perkataan suami kita atau suasana hati kita malah semakin memburuk?

Nah, demikian juga dengan anak-anak. Suatu perilaku yang kita lakukan, terkadang juga dipengaruhi suasana hati kita saat itu.

Misalkan suatu hari, anak kita pulang sekolah. Tiba-tiba ia datang sambil membanting atau melempar tasnya dengan wajah yang cemberut. Kira-kira bagaimana reaksi kita?

"Loh kak, kok tasnya dibanting gitu sih? Taruh tasnya yang bener."

Barangkali begitu kira-kira reaksi kita. 

Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah ia tiba-tiba tersenyum dan menjawab, "Baik Bu,"
Atau malah makin cemberut dan kesal?

Perilaku membanting tas memang bukanlah perilaku yang baik. Dan pastinya ketika ia membanting tas bukan berarti karena ia tidak tahu cara menaruh tas yang baik. Barangkali hal itu ia lakukan karena saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Barangkali saat itu ia mendapatkan masalah ketika di sekolah. Sementara ketika reaksi yang kita berikan ternyata dengan langsung menjudge anak, tentu itu hanya akan membuat perasaannya menjadi makin tidak baik. Duh udahlah gak usah berpikir jauh-jauh, kita sendiri saja dulu mungkin pernah bersikap begitu kan? Dan ketika kita dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, kira-kira apa yang kita butuhkan?

foto : desiakhbar.com


Perkataan berupa nasihat dan kalimat perintah bukanlah sesuatu yang ia butuhkan saat itu.
Maka dari itu, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut, mungkin kita bisa bereaksi lebih baik ke anak dengan bertanya lembut,

"Ada apa kak? Kok gak kayak biasanya? Kakak mau cerita sama Ibu?"

Mungkin setelah itu perasaan anak akan menjadi lebih baik. Sekalipun mungkin ia tak akan langsung cerita saat itu, tapi setidaknya ia tahu bahwa kita akan selalu ada untuknya dan menerima perasaannya.

Kelima, biasakan untuk berbicara dengan suara rendah dengan anak. 


Suara yang rendah bisa membuat pesan semakin kuat untuk masuk ke dalam kepala dan hati anak. Jangan biasakan bicara dengan nada yang tinggi. Jika selama ini kita sering begitu ketika menghadapi perilaku anak, maka ubahlah pelan-pelan. Nada yang tinggi tidak akan membuat pesan dan nasihat kita tersampaikan dengan baik. Jadi sungguh itu hanya akan membuang energi kita.

Jangan lupa pula untuk melakukan kontak fisik kepada anak setiap hari. Berikan pelukan dan usapan kepada anak sebagai bentuk kasih sayang kita. 

Keenam, hidupkan surga di rumah.


Caranya gimana? Caranya ya kita lihat bagaimana gambaran surga yang dituliskan dalam Alquran.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri...” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25].

Nah, coba lakukan itu dirumah.
Berseri-serilah saat menatap anak atau anggota keluarga dirumah. Lebih seringlah tersenyum dibandingkan cemberut. Jadikan wajah kita sebagai wajah yang meneduhkan bagi anak-anak.
Ucapkan perkataan yang baik kepada anak. Kurangilah berkata yang sia-sia. Sering marah-marah termasuk perilaku yang sia-sia. Tak ada manfaatnya baik bagi kita sendiri apalagi bagi anak-anak. Jadi lebih baik hindarilah hal tersebut. Hidupkan surga dirumah, hingga kelak pada masanya, kita benar-benar bisa bersama anak-anak dan pasangan kita di surga Allah yang sesungguhnya. Aamiin Yaa Rabb... Bismillah..


(Ketika menuliskan postingan ini, maka seketika itu juga saya sedang menampar diri sendiri...)


*disclaimer:
Rangkuman ini saya tulis berdasarkan apa yang saya tangkap dan yang paling saya ingat. Beberapa diantaranya juga saya tambahkan dengan bahasa saya sendiri. Tidak semua poin materi saya sampaikan, karena saya sendiri tidak mengikuti webinar dari awal. Jadi jika ada tambahan atau koreksi dari rangkuman diatas, maka saya akan terima dengan senang hati. 💕







View Post
Penulis : Syah Waliyullah ad-Dahlawi
Judul    : Beda Pendapat di Tengah Umat (Sejak Zaman Sahabat Hingga Abad Keempat)
Penerbit : Pustaka Pesantren, 2010.
Koleksi : @ijakarta.id 



Background photo : pinterest.com


Buku ini berisi tentang pendapat dan beberapa alasan kenapa para ulama bisa memiliki perbedaan pendapat dalam beberapa hal. Boleh dibilang ini buku yang cukup berat sih buat otakku😄.

Pembahasannya sangat serius, sering menggunakan istilah Arab yang aku tak mengerti. Belum lagi nama-nama para ulama yang tak bisa kuhafal sehingga agak bingung juga ketika ingin menarik kesimpulan isinya.

Beberapa kali harus jeda dulu saat membacanya karena penjelasannya yang membuat pusing. Tak heran aku butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan buku ini. Tapi meski buku ini agak sulit ku cerna tapi aku berani bilang kalau buku ini adalah buku yang perlu kita baca. Kenapa? Karena buku ini menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini membuatku bingung terutama terkait perbedaan mahzab, bagaimana hukumnya taqlid terhadap suatu pendapat dan bagaimana bisa terjadi banyak perbedaan pendapat dari para ulama. 

Tapi sebelum aku membahas beberapa poin penting tentang isi buku ini, aku tertarik ingin membahas tentang penulis bukunya sendiri yang aku pun tidak terlalu familiar. 

Saat memutuskan membaca buku ini, sebenarnya aku sempat tidak yakin karena aku tak mengenal namanya. Barangkali penulisnya adalah penulis yang hidup di zaman sekarang. Sempat aku ragukan sebenarnya. Meski pada saat membaca bukunya, aku merasa penulisnya bukanlah orang yang sembarangan. Setelah membacanya, tampak bahwa beliau memiliki keilmuan yang tinggi dan memiliki wawasan serta pemahaman yang luas. 

Setelah selesai, aku baru sadar bahwa ternyata di akhir halaman ada biografi tentang beliau. Ternyata beliau adalah ulama ternama di zamannya. Beliau lahir tahun 1702 M dan wafat tahun 1763 M. Namanya adalah Ahmad bin Abdurrahim yang lebih dikenal dengan sebutan Syah Waliyullah ad-Dahlawi. 

Ayahnya termasuk pembesar ulama dan sufi di zamannya. Keluarganya terkenal sebagai keluarga yang berilmu dan senantiasa membawa risalah dakwah. 

Syah Waliyullah tumbuh dewasa bertepatan dengan masa kejayaan imperium, namun beliau menyaksikan pula awal kehancurannya. Beliau berguru dengan banyak ulama besar dan diberikan wewenang oleh Sultan Delhi untuk membangun madrasah. Beliau juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Persia yang merupakan bahasa resmi negaranya. Beliau juga menuliskan banyak karya berupa kitab-kitab penting yang sangat bernilai hingga sekarang.

Saat membaca biografinya sungguh aku malu karena sampai tak tahu dengan nama beliau. Padahal beliau sudah banyak berjasa dalam berdakwah terutama syiar Islam di tanah India. Semoga buku-buku dan pemikiran beliau bisa menjadi amal jariyah baginya. Aamiin. 

Nah, sekarang aku mau membahas beberapa poin penting dari isi buku ini ya. Tidak semuanya tentu saja, karena aku hanya bisa menyerap beberapa informasi saja (karena seperti yang ku bilang di awal bahwa buku ini cukup berat). Berikut ini adalah beberapa hal penting yang aku garisbawahi setelah membaca isi buku ini. 

Pertama, bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, tidak berarti semuanya dihukumi Sunnah. Ada beberapa contoh yang mendasari, salah satunya adalah ini.


Dan ada beberapa lagi contoh yang lain. Ini juga yang menjawab pertanyaanku terkait poligami misalnya. Ada yang bilang poligami itu sunnah. Ada yang bilang itu boleh. Aku cenderung ke pendapat yang kedua sih. Apalagi seingatku Rasulullah tak pernah secara gamblang berkata,
"Aku menganjurkan poligami," dan sejenisnya. Tapi ada yang mengatakan bahwa perbuatan Rasulullah itu semua dianggap sunnah. Termasuk poligami. Nah tulisan dibuku ini menguatkan pendapatku bahwa poligami itu memang boleh dan bukan masuk dalam amalan sunnah. Bahkan dalam Alquran pun juga dijelaskan secara gamblang kok. Kalau yang lebih dianjurkan itu adalah menikahi satu orang saja, kecuali sang laki-laki yakin kalau dapat berlaku adil. Gitu sih. Lagian kalau ngomongin sunnah, kenapa tidak menguatkan dan merutinkan ibadah sunnah lain yang jelas-jelas dianjurkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, seperti sholat tahajud, puasa senin kamis, bersedekah dan sebagainya. Kenapa para lelaki cenderung ngebet dengan poligami saja, sementara sunnah lain saja mereka masih terbengkalai. Btw, ini kenapa jadi malah ngomongin poligami ya? 😁  Sudah ah stop, kita lanjut ke poin selanjutnya saja. 

Kedua, ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh para ulama dalam memutuskan suatu perkara, yaitu sebagai berikut :

Untuk poin e itu ada tambahan lagi. Ketika para ulama berselisih terhadap suatu pendapat, maka yang menjadi rujukan mereka adalah mengikuti pendapat orang yang paling alim, paling wara'(atau hati-hati), paling tajam penalarannya dan paling terkenal diantara mereka. Tidak hanya sampai di poin e, proses pun masih berlanjut dengan tahapan selanjutnya. 



Ternyata memang tidak mudah ya menghukumi sesuatu perkara berdasarkan nilai agama. Prosesnya panjang dan tak sembarangan. Itulah kenapa kita harus memuliakan para ulama, karena tanggung jawab dan pengaruh mereka sangat penting bagi umat. Tidak mudah untuk berada di posisi para ulama.

Ketiga, pada dasarnya ulama terdahulu (ulama salaf) sangat berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Mereka juga senantiasa berpegang teguh dan Mengutamakan Alquran dan Sunnah dalam memutuskan suatu perkara. Jika ada yang memutuskan sesuatu namun dikemudian hari ternyata bertentangan dengan hadist, maka ulama memilih untuk meninggalkan pendapat tersebut sekalipun mungkin sudah disepakati banyak orang. 

Keempat, di zaman seperti sekarang ini yang eranya sudah berjarak sangat jauh dengan kehidupan para Nabi dan Sahabat, maka dalam memutuskan suatu perkara harus benar-benar berhati-hati. Apapun yang kita putuskan harus mengikuti Alquran dan Sunnah maupun aturan dari ulama terdahulu.

Kelima, pada dasarnya Imam Mazhab pun tidak meminta umat untuk taqlid (mengikuti pendapat) mereka sepenuhnya. Jika dirasa ada ayat Alquran dan Hadist yang berseberangan dengan pendapat mazhab, maka ayat dan hadist itulah yang berlaku. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Hanbal. 


Hal serupa juga disampaikan oleh Syaikh Izzuddin Bin Abdi As-Salam dalam halaman 107,



Demikian pula dengan pendapat Ibnu Hazm, 

Dalam hal ini, Syah Ad-Dahlawi menyatakan bahwa pendapat Ibnu Hazm lebih tepat ditujukan kepada orang yang sudah mampu berijtihad. Agar mereka tidak menutup mata jika terjadi kesalahan pada pendapat Ahli fiqih yang mereka jadikan rujukan. Adapun untuk masyarakat awam yang tidak memiliki keilmuan yang kuat terkait Alquran, hadist ataupun Fiqih, maka kita perlu mengikuti hukim-hukum yang sudah disepakati ulama terutama terkait perkara-perkara yang muncul di zaman sekarang.

Keenam, perbedaan mazhab antara sesama muslim jangan lantas menimbulkan perpecahan. Seperti halnya apa yang dicontohkan Harun Ar Rasyid, 


Demikian juga dicontohkan oleh Imam Syafii. Sekalipun berbeda pendapat dengan Abu Hanifah, tapi beliau tetap menghormatinya. 

Itulah yang harusnya kita contoh sebagai sesama muslim, karena sekalipun ulama terdahulu berbeda pendapat dalam perkara tertentu, mereka tetap berusaha saling menghargai dan mencontohkan kepada kita bahwa perbedaan terhadap hal yang bukan termasuk akidah, adalah sesuatu yang tidak perlu dipertentangkan apalagi sampai menimbulkan perpecahan. 

Itulah beberapa hal penting yang aku pelajari dari buku ini. Walaupun pembahasan yang berat dan hampir membuatku menyerah, tapi sungguh aku mendapatkan banyak pelajaran darinya. 

Apa yang kutulis disini, hanya sedikit bagian saja dari buku ini. Jadi jika ingin mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh, silakan baca langsung saja bukunya ya. 

Semoga bermanfaat. 




View Post
Judul : Abah...
Penulis : Ullan Pralihanta
Penerbit : Grasindo



Buku ini berisi tentang perjuangan seorang ayah yang baru ditinggal mati isterinya. Ia harus berjuang untuk kedua anaknya, Lanka dan Samara. Mulai dari mengurus rumah, mencari pekerjaan yang tak mudah hingga mengatasi konflik antara ayah dan anak.

Pendapatku tentang buku ini?
Sebenarnya temanya bagus ya. Tentang perjuangan seorang ayah. Hanya saja konflik dalam buku ini cenderung dipaksakan dan kadang agak tidak masuk akal. Contoh saja, kok bisa seorang bule cantik langsung jatuh cinta pada seorang kuli bangunan sejak pandangan pertama? Hingga si bule sampai mau membiayai rumah sakit hingga jadi sering berkunjung ke rumah Zain (tokoh utama). Ditambah lagi reaksi anak-anaknya yang berlebihan ketika melihat ayahnya dengan si bule, hingga anak-anaknya sampai tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Di buku ini juga dikisahkan proses perjalanan hidup anaknya yang terasa berlalu terlalu cepat. Tiba-tiba saja kok Samara sudah jadi model. Lalu Alka kok bisa sampai diadopsi orang kaya raya yang baik hatinya. Terlalu banyak kebetulan yang membuat kisah buku ini jadi tidak natural. 

Saat awal-awal cerita sebenarnya sudah cukup bagus. Masih berjalan natural. Tapi ketika konflik mulai muncul, alurnya malah berubah menjadi seperti kisah dalam sinetron.

But overall, saya sih sepakat bahwa perjuangan seorang ayah itu amat besar. Seorang ayah akan berkorban apapun demi anak-anaknya termasuk mengorbankan kebahagiaannnya sendiri. Ini pesan utama yang saya tangkap dari buku ini.

Ratingku : 6/10




View Post
Judul Buku : Langkah SMART Kiat Menjadi Pribadi yang Bermanfaat 
Penulis : Pariman, M. Psi., Psikolog




Ini buku hadiah teman. Awal-awal sempat berpikir jangan-jangan ini isinya tentang motivasi-motivasi pada umumnya yang gaya bahasanya tidak terlalu aku suka. Tapi setelah melihat isinya ternyata lebih banyak mengulas tentang inspirasi kehidupan Nabi dan para sahabat.

Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak terlalu banyak hal baru yg aku temukan di buku ini. Mungkin karena memang berkisah tentang kisah sahabat yg sudah pernah aku baca sebelumnya. Dan satu hal yang menjadi kekurangan buku ini adalah beberapa kisahnya ada yang tidak shahih. Meskipun mungkin ceritanya inspiratif, tapi jika sumbernya tidak jelas menurutku itu juga tidak bagus. Apalagi jika sampai mengatasnamakan nama para sahabat. 
But overall sih tetap ada hal-hal yang baik bisa kita ambil. 

Ada beberapa poin yg akan aku share ya. Tapi kalau mau tahu lebih lengkap silakan langsung baca sendiri bukunya. 

Pertama, menjadi orang sukses itu butuh proses. Mendapatkan generasi cemerlang itu tidak instant. Sebut saja Muhammad Alfatih yg sejak baligh tidak pernah meninggalkan sholat tahajud dan sholat rawatib. Pemahaman akan ilmu agamanya pun sudah tak diragukan lagi. Ia juga pandai dalam strategi perang bahkan dalam usia 21 th sudah menguasai 6 bahasa. Luar biasa nggak tuh? Pasti sepanjang hidupnya ia isi dengan belajar dan berlatih. Tak heran jika ia dan pasukannya menjadi pasukan elit yg berhasil merebut konstantipel karena Muhammad Alfatih sudah mempersiapkan itu sejak bertahun-tahun lamanya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah mempersiapkan diri dan anak-anak kita untuk menjadi generasi kebanggaan Allah? (self reminder... This is self reminder) 

Kedua, jika kita punya keinginan dan cita-cita maka berdoalah kepada Allah dengan diiringi ikhtiar. Seorang sahabat Rasulullah pernah meminta rasul mendoakannya agar bisa menjadi teman Rasulullah di surga. Lalu apa jawaban Rasulullah? 
"Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri, perbanyaklah sujud!" 

Maka dari itu, apapun keperluan kita, giatkan doa dan perkuat ikhtiar kita. Segala sesuatu itu harus kita sendiri yang mengusahakan. Doa juga penting, tapi tak cukup hanya dengan doa untuk mewujudkannya. Ikhtiar maksimal perlu diupayakan juga. 

Ketiga, dalam kehidupan duniawi mungkin kita punya pengharapan untuk selalu bisa merasakan kesenangan. Memang benar, senang-senang adalah hal yang diinginkan semua orang. Tapi terkadang, senang-senang  bukanlah jawaban yang kita butuhkan. Kebanyakan dari kita pasti menolak pada "bungkus" yang terlihat buruk, padahal bisa jadi isinya malah lebih bermanfaat.

Kehidupan berfoya-foya tentu menyenangkan. Padahal berfoya-foya adalah bungkus dari kegagalan. Orang yang menjadikan hura-hura sebagai rutinitas hidupnya, maka suatu saat kelak ia pasti akan menyesalinya. Sementara kehidupan yang terkadang terasa berat bisa jadi merupakan proses pendewasaan yang akan mendatangkan kesuksesan dimasa yang akan datang, insya Allah. 

Keempat, pernahkah kau mendengar kisah seorang sahabat Nabi bernama Tsa'labah? Ia sengaja mendatangi Rasulullah Sallallahu'alaihi wassalam dan meminta Rasulullah mendoakannya agar Allah berikan rezeki yang banyak padanya. Lalu apa kata Nabi?

"Wahai Tsa'labah, engkau bisa mensyukuri hartamu yang sedikit, itu lebih baik dibandingkan engkau bergelimang harta, tetapi engkau menjadi kufur." 

Tsa'labah memahami doa Rasulullah tersebut, namun ia hanya menjawab bahwa ia tidak akan sampai seburuk itu. Ia justru akan membela agama dengan harta yang ia miliki. 

Maka keesokan harinya, Tsa'labah mendatangi Rasulullah dan tetap memohon didoakan hal yang sama. Akhirnya Rasulullah pun mendoakan Tsa'labah. Lalu Rasulullah Sallallahu'alaihi wassalam pun memberikannya seekor kambing bunting. Kambing tersebut akhirnya beranakpinak dan Tsa'labah pun menjadi orang kaya.

Sayangnya, apa yang dikhawatirkan Rasulullah terjadi. Tsa'labah mulai jarang datang ke mesjid. Ia pun hampir tidak pernah menunaikan zakat pada hartanya. Sebuah peristiwa yang persis terjadi kepada sepupu Nabi Musa, yaitu Qarun. 

Harta ditangan orang yang hatinya lemah, justru hanya akan mengakibatkan kebinasaan. Namun harta bagi orang beriman, justru akan menambah keberkahan. Seperti harta ditangan Nabi Sulaiman justru membuat Nabi menjadi pribadi yang makin bersyukur dan makin banyak beribadah.

Dari situlah kita bisa mencoba mengambil pelajaran. Bukan soal berapa banyak harta yang kita punya, tapi bagaimana kita mampu bersyukur dengan apa yang kita miliki. 
View Post


Saya mau membuat resensi atau ulasan tentang buku berjudul "Saat Berharga Untuk Anak Kita" yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Ini buku lama sih. Tapi baru kali ini selesai dibaca (duh lu kemana aja wennn). Di rumah juga masih ada 2 buku Fauzil Adhim yang lain dan itu juga belum selesai dibaca.

Terkait hal-hal penting dari buku ini, aku sengaja membuatnya perpoin agar lebih mudah dibaca. Semoga bermanfaat.

  • Anak-anak Shalih yang mendoakan merupakan harta berharga yang tak dapat digantikan oleh doa seribu manusia.
  • Dalam mendidik anak kita sendiri, alangkah seringnya kita melakukan bukan demi kebaikan mereka di akhirat, tetapi demi memperturutkan kebanggaan kita sendiri. Kita didik mereka agar mampu membaca di usia balita. Bukan agar mereka lebih mengenal Tuhannya, melainkan demi mendatangkan decak kagum tentang betapa hebatnya kita mendidik mereka. 
  • Kita ajarkan kepada mereka doa-doa, tanpa menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung dan memohon pertolongan. 
  • Kita ajarkan mereka Alquran Sehingga mereka fasih membaca di usia dini, tapi kita lupa membangkitkan kepercayaan di hari mereka untuk menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup. 
  • Kita ajarkan mereka hafalan surat pendek, bukan untuk membekali jiwa mereka, tetapi demi memperoleh tepuk tangan meriah saat wisuda TPA. 
  • Kita gembleng mereka untuk menguasai ilmu apa saja, tanpa mempersiapkan jiwa mereka untuk mengabdi kepada Allah. 
  • Kita tidak membangkitkan jiwa mereka untuk mencintai agama dengan ilmu, iman, dan amal Shalih. Mereka menjadi orang-orang merugi meski prestasinya membuat orang lain merasa iri.
  • Alangkah sia-sia jika kita mendidik anak kecuali dengan alasan untuk menjunjung amanah Allah.
  • Allah tidak melarang kita untuk mencintai isteri, anak, tanah yang luas atau kendaraan yang bagus. Allah sendirilah yang menjadikan semua itu indah dalam pandangan kita. Allah tidak melarang kita untuk mencintai semua itu. Toh Rasulullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga memiliki kecintaan yang besar terhadap Khadijah? Bukankah Rasulullah menitikkan air mata ketika putranya meninggal dunia? Kecintaan terhadap itu semua adalah fitrah. Dan semua itu merupakan "kendaraan" yang bisa kita gunakan untuk mencapai kebaikan.
  • Saat bersama anak-anak, kita mungkin sering mengatakan kepada mereka betapa kita sangat menyayanginya. Masalahnya, apakah mereka merasa kita sayangi? Saat kita Bersama mereka, apakah mereka merasakan betul bahwa kita meluangkan waktu untuk mereka, atau hanya kebetulan saja saat ini kita Bersama mereka? Sungguh sangat berbeda antara mempunyai waktu bersama anak, dengan meluangkan waktu bersama untuk mereka. 
  • Suatu saat Ummu al-Fadhl menggendong anaknya, kemudian Rasulullah memintanya. Di gendongan Rasulullah yang mendekapnya dengan hangat, rupanya anak ini pipis. Melihat dada Rasulullah saw basah oleh kencing anaknya, Ummu Fadhl segera merenggut bayinya dengan kasar. Apa kata Rasulullah saw? Rasulullah Saw menegur dengan keras, "Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan mudah oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak Ini akibat renggutanmu yang kasar?" 
  • Betapa banyak orang yang merasa hidupnya tak berarti padahal banyak orang berdecak kagum dengan kemampuannya. Ini semua terjadi karena ia tidak memiliki sense of competence. Dan salah satu faktor yang banyak menyebabkan orang tidak memiliki sense of competence adalah karena tidak adanya penerimaan diri yang baik.
  • Hormati hak anak. Dari Sahl bin Sa'ad r.a., Rasulullah saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, "apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka? Si anak menjawab," Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu. "Rasulullah saw meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulan :
Pada dasarnya waktu yang ada saat ini tidak akan pernah kembali. Anak-anak kita akan terus bertumbuh. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah memenuhi ruang hati anak-anak kita dengan kasih sayang, iman dan rasa cinta kepada Allah?

#selfreminder 
View Post
Image result for jfk 1991
www.imdb.com




Film ini berkisah tentang seorang hakim kejaksaan di sebuah wilayah Amerika Serikat bernama Jim Garrison yang ingin menuntut diadakannya pengadilan atas pembunuhan terhadap presiden Amerika Serikat John F Kennedy.
Jim percaya bahwa ada konspirasi tingkat tinggi atas pembunuhan presiden Amerika tersebut yang melibatkan pejabat pemerintahan Amerika Serikat. Ia juga meyakini bahwa Oswald, pelaku yg dianggap pembunuh hanyalah sebagai kambing hitam. Bahwa pembunuhan presiden JFK sebenernya terdiri dari tim khusus yang tidak hanya terdiri dari 1 orang.

Upaya yang dilakukan Jim untuk membongkar kasus pembunuhan tersebut tentu bukanlah hal yang mudah, karena saksi yang ia temui tak ada yang bersedia memberi pengakuan di pengadilan. Bahkan beberapa saksi lain pun banyak yang tewas terbunuh.

Apa yang Jim lakukan seperti layaknya seekor rusa yang masuk ke kandang singa. Sesuatu yang mungkin di luar kekuasaannya. Sesuatu yang pasti akan membuatnya kalah karena ia sedang menantang pejabat tertinggi dan konglomerat di Amerika Serikat. Sesuatu yang bisa saja membahayakan nyawanya dan keluarganya. Namun ia percaya bahwa kebenaran harus diungkapkan dan tak selayaknya pemerintah Amerika menutup-nutupi kebenaran itu dari rakyat Amerika.

Film ini menurut saya sangat menarik. Film berdurasi 3 jam ini membuat saya harus menonton hingga beberapa hari karena durasinya yang panjang. Tapi saya tak bosan menontonnya meski film ini banyak memberikan penjelasan, sejarah dan dialog.

Film ini membuat kita berpikir bahwa betapa berbahayanya jika pejabat pemerintah dan pejabat keamanan yang memiliki kepentingan lain selain kepentingan rakyat dan negaranya. Meski akhirnya film ini masih memberikan tanda tanya terkait pembunuhan JFK, namun keberanian Jim Garrison patut diacungi jempol.

Film ini juga membuat saya sedikit melek dengan sejarah karena memang tokoh yang dibahas adalah tokoh nyata. Belum lagi penjelasan-penjelasan terkait momen saat penembakan berlangsung dan berbagai fakta lain terkait pemerintah Amerika. Tak heran, saya sampai googling mencari tahu tentang hakim Jim Garrison yang ternyata sudah meninggal tahun 1992.

Film yang menarik dan membuat saya penasaran. Jika di imdb ratingnya 8, kalau saya pribadi memberikan rating 7.8 karena memang masih ada beberapa hal yang saya kurang sukai di film ini, terutama terkait kata-kata umpatan yang sering kali diucapkan.


Rating imdb : 8/10
Rating sibungsu : 7.8/10
View Post
Hasil gambar untuk night on earth
www.rottentomatoes.com





Hokeh.. Akhirnya hobi menonton bisa tersalurkan kembali. Jadi berhubung kemarin lagi ga punya art, akhirnya saya pun harus berakrab ria kembali dengan yang namanya setrikaan. Nah, seperti biasa kalau nyetrika saya harus sambil nonton biar kagak bosan. Hehee. 

Film yang saya tonton kali ini adalah film lawas tahun 1991 judulnya Night on Earth. Bercerita tentang kisah supir taksi dari 5 negara yang bekerja di suatu malam. Jadi boleh dibilang film ini memiliki 5 kisah yang berbeda. Dan mungkin itulah salah satu yang membuat film ini jadi menarik.

Kalau buat saya pribadi sih film ini ceritanya biasa saja. Tidak terlalu berkesan. Tapi dari sekian cerita, ada satu kisah yang cukup menarik menurut saya yaitu tentang supir taksi di Perancis yang mendapat penumpang seorang wanita buta. Si supir terlihat agak meremehkan si penumpang hanya karena dia buta padahal si wanita buta ini ternyata jauh lebih paham tentang berbagai hal dibandingkan si supir. Bahkan saat akhir kisah, si supir malah mengalami masalah dengan orang lain saat dijalan dan ia dimaki sebagai orang buta karena tidak melihat ke arah jalan. Hikmahnya sih orang yang tak buta justru bisa lebih buta dari orang buta yang sebenarnya, karena terkadang kita yang tak buta malah tidak bisa melihat dengan mata hati dan pikiran kita sendiri dan sebenarnya itulah kebutaan yang paling parah. So, jangan sekali-kali meremehkan kekurangan orang lain apalagi menyangkut soal fisik, karena fisik yang sempurna kadang tak menjamin kebaikan diri seseorang.

Kalau kisah lain menurut saya agak datar dan tidak ada klimaks dalam cerita sehingga alur cerita pun berjalan biasa saja. Hanya seperti yang sudah saya singgung di awal, yang menarik dari film ini adalah kita bisa melihat berbagai kisah yang berbeda yang dialami seorang supir taksi diberbagai negara. Kalau imdb sendiri memberi rating film ini cukup tinggi yaitu 7.8 kalau saya pribadi sih ratingnya adalah 6.  Agak lebih rendah dari imdb karena menurut saya film ini biasa-biasa saja. Okeh sekian review kali ini. Sampai jumpa di review film selanjutnya.


Rating imdb : 7.8/10
Rating sibungsu : 6/10
View Post
"Untuk ibuku yang tak kuingat kapan ia pernah marah dan memasang wajah cemberutnya."  
Ini adalah kalimat pembuka dari sang penulis  yang langsung membuat saya tercenung sekaligus tertampar. Saat membaca kalimat itu, jujur saja saya langsung terdiam dan tersadar bahwa mungkin disini lah salah satu awal kesalahan saya selama menjadi orang tua. Kalimat yang juga membuat saya sadar bahwa ternyata proses mendidik itu akan terus melekat turun temurun. Dari seorang nenek buyut, nenek, ibu dan anak generasi anak cucu. Mereka secara tanpa sadar akan mewarisi pola asuh yang sudah mereka terima sejak dulu. Dan mungkin ini juga yang menjadi salah satu sebab kenapa akhirnya  sang penulis bisa menjadi ibu muda yg inspiratif, karena ia telah mendapat "warisan" berharga dari sang ibunda. 
Sebelumnya mungkin sudah ada yang pernah membaca buku ini. Buku yang ditulis oleh ibu muda biasa (begitu pengakuan penulisnya) bernama Retno hening.  Saya sendiri termasuk suka membaca pengalaman nyata dari orang lain. Dan buku ini adalah salah satu buku yang menarik perhatian saya. 
Awal mula saya tahu buku ini karena saya adalah pengikut akun Ibuk Retno hening. Ibuk Retno memiliki seorang anak perempuan bernama Kirana yang  jadi populer di instagram. Sesuatu yang mungkin tak disangka oleh ibuk Retno sendiri. Semakin lama melihat aktivitas Kirana semakin orang penasaran dengan bagaimana sang Ibu mendidik dan membimbing Kirana hingga akhirnya menjadi gadis ceria, pintar, baik dan lembut hatinya. Sesuatu yang kadang tak selalu dimiliki untuk anak-anak seusianya.
Buku ini ditulis oleh seseorang yang latar belakangnya bukan seorang  penulis. Jadi wajar saja jika bahasa yang digunakan terkadang sederhana. Tapi justru itulah letak menariknya. Bahasa yang sederhana menjadikan  buku ini ringan untuk dibaca. Bahasanya pun tidak menggurui. Dan yang paling penting, buku ini berkisah tentang pengalaman  seorang ibu muda yang dekat dengan keseharian kita. 
Hal yang saya suka juga dari buku ini adalah karena ibuk retno menuliskan berbagai tips penting yang perlu diketahui orang tua. Tips ini pun juga didasarkan pada pengalaman nyatanya sendiri sehingga apa yang disampaikannya pun sangat aplikatif. 
Hal penting lain yang saya tangkap dari buku ini adalah bahwa ketulusan seorang ibu dan rasa cinta tanpa syarat yang diberikan pada anak akan menjadi karakter yang melekat pula pada si anak. Maka, ketika kita menjadi orang tua, bersiap-siaplah untuk terus melatih kesabaran dan ketulusan hati kita karena kita akan menjadi orang tua seumur hidup. Dan anak-anak pun kelak akan menjadi orang tua pula. Maka hendaklah kita berhati-hati  dalam bersikap.
Sekian review buku kali ini. Semoga bermanfaat.
View Post


Sudah beberapa minggu lalu menonton film ini tapi baru sekarang bisa diupdate. Biasalah emak-emak malas yang kalau ada waktu luangnya maunya cuma tidur, hihi... Nah, ini film yang dirilis tahun 1990. Ini bukan pertama kalinya saya menonton ini, saya pernah menonton film ini sewaktu saya masih SMP (atau SD? i don't know exactly). Sayangnya waktu itu tidak bisa nonton sampai habis, karena besoknya harus sekolah dan kebetulan film pun dipotong Dunia dalam berita. Saya masih ingat sekali waktu itu dtayangkan oleh layar emas RCTI, hari Kamis malam. Saya tidak begitu ingat saat itu ceritanya tentang apa, bahkan nama tokoh utamanya pun saya lupa. Yang jelas ada beberapa scene yang menarik yang tak bisa saya lupakan yaitu tentang laki-laki yang mempunyai tangan gunting, taman-taman indah, dan adegan ketika laki-laki tersebut memecahkan tempat tidur yang berisi air (entah kenapa saya selalu teringat bagian ini.. sepertinya berkesan sekali buat saya.. haha).






Ketika saya menemukan judul fim ini, saya cuma bilang dalam hati saya "NAH! INI DIA!" Ini dia film yang belum terselesaikan! Film yang masih ingin saya tonton saat masih kecil! Ini dia film yang sangat berkesan karena ada tempat tidur airnya (haha... Teteepp yaa. Inget banget pokoknya). Dan saya pun tak sabar ingin tahu cerita film ini.




Film ini diproduseri oleh Tim Burton dan rekannya. Saya pernah menonton dua karyanya sebelumnya. Dan satu kata dari saya untuk karyanya adalah SURAM. Saya tidak bilang karyanya buruk, tetapi Tim burton sering menceritakan sisi gelap tentang suatu hal dengan sudut pandang jenaka. Yah, jadi lebih tepatnya sih sebenarnya MENARIK, JENAKA, dan SURAM. Menurut saya ketiga kata tersebut lumayan mencerminkan karya Burton.




Film ini berkisah tentang temuan seorang ilmuwan yang belum sempurna. Seorang laki-laki ciptaannya yang belum memiliki tangan seutuhnya, namanya Edward. Sayangnya sebelum ilmuwan tersebut mengganti tangan guntingnya dengan tangan yang lebih baik, sang ilmuwan "keburu" meninggal dunia. Maka jadilah Edward memiliki tangan gunting untuk selamanya. Ia pun hanya hidup sendirian di sebuah kastil tua yang dianggap angker oleh penduduk sekitar.




Hingga pada suatu hari, Edward bertemu seorang ibu-ibu penjual make-up  bernama Peg Boggs yang sebenarnya  agak nekad (dan kalau dipikir pikir sedikit "gila" karena berani masuk kastil itu sendirian hanya karena ingin menjual make up). Namun, "kegilaan" ibu ini justru membuka kehidupan baru bagi Edward si tangan gunting. Ia berkenalan dengan sang ibu, dan sang ibu (yang ternyata sungguh baik hati ) itu mengajak Edward tinggal di rumahnya. Inilah awal mula cerita ini sesungguhnya. Edward yang dianggap aneh kemudian pelan-pelan berkenalan dengan lingkungan baru dan banyak orang. Ia bahkan memiliki kemampuan mengagumkan yaitu merapihkan dan membentuk rumput jadi bentuk lucu dan artistik. Ia juga dipercaya para ibu untuk  menggunting rambut ataupun bulu hewan peliharaan dengan menakjubkan. Banyak yang akhirnya menyukai Edward. Edward pun terlihat senang karena bisa membantu banyak orang dengan keahliannya. Sekalipun tangannya tajam dan bisa memotong banyak hal, Edward tak pernah menyakiti atau melukai siapapun.




Hingga kemudian konflik mulai  terjadi ketika Edward dituduh mencuri hanya karena menuruti keinginan pacar Kim (yang merupakan anak perempuan dari Ibu Pegg). Edward yang sebenarnya menaruh hati pada Kim terpaksa berbohong dan mengakui dia sebagai pencuri. Konflik masih terus berlanjut yang menyebabkan Edward semakin terpojok dan terpaksa membuatnya melukai orang yang disayanginya dengan tak sengaja. Edward akhirnya dianggap monster dan dikucilkan warga sehingga Edward terpaksa kembali ke kastilnya. Akhir cerita sebenarnya tidak selesai sampai disitu tapi saya tidak akan menceritakan lebih lanjut. 


Yang menarik untuk saya ceritakan adalah terkait insight yang saya dapatkan setelah menonton film ini. Bahwa walaubagaimanapun lingkungan itu memang sangat mempengaruhi hidup dan karakter orang lain. Saya tak habis pikir bagaimana jika orang yang pertama kali Edward temukan adalah orang jahat. Bukan Ibu Peg Boggs yang notabene orang baik hati yang bisa menerima dia apa adanya. Atau bagaimana seandainya Edward dibuat oleh Profesor psikopat, saya rasa Edward akan menjadi monster yang sangat mengerikan. Sekali sentuh saja kita bisa terluka karenanya. Nah, di film ini Edward justru dipertemukan oleh orang-orang yang baik sehingga Ia pun juga menjadi sosok orang yang baik juga sekalipun mungkin banyak orang merasa aneh dan takut saat melihatnya pertama kali.


Saya juga mengaitkannya pada kondisi anak berkebutuhan khusus. Edward adalah sosok yang  dianggap "berbeda" dari orang lain. Sosok yang sebenarnya spesial. Dan dengan "keunikannya" itu ia diberikan kesempatan oleh orang terdekatnya untuk menggali potensi dan minatnya sendiri. Sekalipun kondisinya berbeda dengan orang kebanyakan, ia tetap bisa berkembang dan menjadi orang bermanfaat bagi sekitarnya. Saya pikir mungkin itulah yang harus kita lakukan terhadap anak-anak spesial atau ABK. Seharusnya mereka juga diberikan kesempatan dan peluang untuk menggali kemampuan dan minat mereka sehingga mereka juga bisa berkembang dan bisa mandiri. Seperti halnya seorang perempuan down syndrom yang pernah saya baca artikelnya, sekalipun dengan keterbatasan yang ia miliki ternyata ia tetap bisa sukses dengan menjalani profesinya sebagai seorang designer. Dan hasil karyanya pun juga sangat menakjubkan. Orang yang dianggap normal saja belum tentu bisa melakukan apa yang ia lakukan. 


Intinya, setiap anak itu fitrahnya baik. Setiap anak manusia  itu pasti punya kelebihan pada dirinya apapun kondisinya. Dan harusnya keluarga dan lingkungan terdekatnyalah yang menjadi orang yang pertama kali percaya pada mereka dan menjadi supporter bagi anak-anak agar bisa berkembang sesuai fitrah kebaikannya sehingga mereka bisa menjadi pribadi bermanfaat bagi orang lain. Saya beri rating 7/10 untuk film ini dengan segala insight yang saya dapatkan. kalau di IMDb film ini juga mendapatkan rating cukup tinggi yaitu 7.9/10 . Bagi yang mau nonton, silahkan nonton ya. Oh iya, Film ini menurut saya lebih baik ditonton untuk usia 20 tahun ke atas karena tetap ada adegan percintaan yang baiknya tidak diperlihatkan ke anak-anak dan remaja.

 :)













View Post
Nah, judul film yang saya tonton minggu ini adalah Dance with Wolves (1990). Saya belum pernah menonton atau pun tahu tentang film ini sebelumnya. Film ini rilis pada bulan Oktober 1990 jadi saya masih balita waktu itu, hehe, Berdasarkan rating imdb, film ini dinilai lumayan baik dengan rating 8/10. Film ini juga memenangkan 7 penghargaan Oscar.





Film ini berkisah tentang seorang serdadu Amerika bernama Letnan John Dunbar yang ditugaskan ke sebuah pos yang ternyata isinya kosong. Tidak ada tentara lain disitu sehingga ia hanya bertugas sendirian sambil ditemani oleh seekor kuda dan seekor serigala liar yang datang untuk minta makan. Hingga beberapa bulan kemudian ada seorang indian datang tak sengaja ke pos yang ia tempati. Dan saat itulah momen petualangan dimulai. Banyak kejadian terjadi yang intinya menceritakan  jalinan persahabatan antara Dunbar dengan suku Indian. Bahkan ia pun jatuh cinta dan menikahi wanita Indian (Sebenarnya bukan wanita Indian sih, jadi di dalam cerita tersebut sang perempuan adalah wanita kulit putih yang diasuh oleh suku Indian). Dance with wolves adalah panggilan yang diberikan suku Indian kepadanya karena suatu hari mereka  pernah melihat keakraban Dunbar dengan seekor serigala yang seakan-akan seperti melakukan tarian. Konflik pada film ini terjadi ketika tentara Amerika ingin memburu dan membunuh suku Indian. Saat itulah Dunbar yang merasa sudah sangat dekat dengan suku Indian memutuskan untuk berpihak pada suku Indian dan justru berperang melawan tentara Amerika. 

Sebenarnya ini adalah film yang cukup bagus, hanya sayang alur ceritanya berjalan sangat lambat. Tak heran kalau film ini menghabiskan waktu hampir 4 jam (saya bahkan harus menyelesaikannya selama seminggu karena memang di pause beberapa kali dan tidak langsung menonton sampai habis). Saya agak bosan di 3 jam awal film ini karena banyak adegan-adegan yang tidak terlalu penting untuk dimasukkan. Film ini baru terasa menarik untuk ditonton setelah satu jam terakhir. 

Insight yang saya dapatkan dari film ini adalah bahwa persatuan itu sangat penting. Jika suku indian tidak terpecah-pecah dan bersatu untuk melawan penjajahan tentara asing, mungkin mereka masih akan ada hingga saat ini. Seperti diketahui bahwa suku Indian banyak sekali yang dibunuh dan apa yang terjadi pada mereka tersebut adalah sesuatu yang sangat kejam. 
Insight lain yang saya dapatkan adalah tentang persahabatan dan prasangka. Tak kenal maka tak sayang. Seperti persahabatan antara John Dunbar dengan suku Sioux Indian. Pada awalnya masing-masing memiliki prasangka buruk satu sama lain. Namun ternyata sikap untuk mau terbuka satu sama lain telah merekatkan persahabatan diantara mereka. Persahabatan bisa terjalin pada siapa saja.. Bahkan pada orang yang tidak kita sangka sekalipun. Seperti saya juga dulu punya pengalaman yang sama.  Saya pernah menilai sesorang hanya dari wajahnya. Kesan pertama saya pikir ini orangnya jutek, tapi setelah mengenalnya ternyata dia orang yang kocak dan dapat diandalkan.  Bahkan kami menjadi sahabat dan selalu satu kelompok jika ada tugas. Begitulah..  Jika kita belum mengenal orang lain dengan baik, maka jangan pernah seenaknya menilai orang dari cara pandang kita..  Apalagi jika penilaian itu adalah penilaian negatif. Kita tidak pernah tahu, jangan-jangan orang yang kita nilai negatif itu adalah orang yang kelak akan membantu kita disaat kita kesulitan. 

Secara garis besar, saya memberikan rating 6,8/10. Saya tidak suka dengan plot yang lambat dan banyak adegan  tidak penting dari film ini, tapi saya suka kisah persahabatan yang terjalin antara Dunbar dan suku Indian. Jadi tetap  ada hal menarik yang bisa saya dapatkan dari film ini.   Oh iya, ini film untuk orang dewasa ya..  Mungkin untuk usia 20 tahun ke atas karena dalam film ini ada adegan kekerasan dan beberapa adegan dewasa yang harus diskip.  

Bagi yang mau menonton silahkan menonton.. Meski anda sepertinya harus mau meluangkan waktu hampir 4 jam untuk menyaksikan film ini..  Fiuhh..  
View Post
http://www.imdb.com/title/tt0099871/




Saat ini saya sedang berusaha untuk melanjutkan kembali hobi saya menonton film. Sejak punya anak, jujur saja saya tidak punya waktu lagi untuk melakukan hobi saya. Hiburan dunia terkadang diperlukan untuk menjaga kewarasan saya sebagai emak emak yang 24 jam waktunya hanya mengurus anak, toh yang penting jangan berlebihan kan? Oleh karena itu, saya mengalokasikan waktu menonton film hanya boleh satu kali seminggu. Saya memulai nonton film-film kesukaan dengan mencari list judul film dari tahun ke tahun. Terakhir kali film yang saya coba tonton adalah film tahun 1990. Setelah melihat rating dan genre beberapa judul film tahun 1990, saya akhirnya memilih untuk menonton film Jacob's Ladder. Jacob's Ladder adalah film bergenre psikologi Thriller. Itulah kenapa akhirnya saya memilih nonton film ini.  Film ini ditayangkan bulan November tahun 1990.

Apa yang menarik dari film ini?
Film ini menceritakan tentang kisah tentara Amerika yang berperang di Vietnam. Namun, film ini tidak fokus menceritakan tentang momen peperangan , tapi dampak setelah perang tersebut.
Awal mulanya penonton akan dibawa ke sebuah kondisi dimana sang tokoh utama mengalami halusinasi melihat hal hal mengerikan. Selain itu terjadi adegan-adegan yang sebenarnya akan menimbulkan tanda tanya para penonton.  Ada beberapa adegan yang membingungkan dan saya sebagai  penonton benar-benar tidak punya petunjuk ini film sebenarnya sedang menceritakan tentang apa. Bahkan saya pun yang awalnya sudah menduga begini dan begitu, setelah 5 menit film ini mau selesai tetap tidak mendapatkan kejelasan tentang maksud cerita ini. Hingga detik detik terakhir (yang benar-benar detik terakhir) barulah mengerti bahwa proses perjalanan yang kita lihat dari awal cerita hingga akhir cerita ternyata hanyalah perjalanan jiwa tokoh utama untuk menerima takdir kematiannya.

Oke,  akhir cerita dari film ini memang tidak sesuai dengan apa yang saya duga.  Dan saya mengapresiasi film film yang akhir ceritanya tidak bisa ditebak. Hanya sayangnya akhir cerita dan proses perjalanan yang saya lihat ternyata tidak meninggalkan kesan mendalam buat saya. Akhir ceritanya termasuk kategori biasa biasa saja. Kurang dramatis dan tidak membuat saya takjub. Cerita kurang klimaks atau kurang greget, tidak ada insight yang saya dapatkan. Satu lagi yang saya tidak suka adalah ada adegan perempuan topless dan adegan mesum khas Hollywood.

Overall, tidak ada kesan mendalam tentang film ini jadi Saya berikan rating 6. Jika berdasarkan rating imdb, film ini mendapatkan rating cukup tinggi yaitu 7,5 tapi ekspektasi saya ternyata tidak setinggi itu untuk ukuran film psikologi Thriller.

 Silahkan nonton jika ingin nonton. Tapi saran saya lebih baik  menonton film yang lain. :)
View Post




Buku ini ditulis oleh Joy Weston, yang bercerita tentang resep-resep agar perempuan merasa bahagia.  Awalnya saya tertarik untuk membaca buku ini karena ketika saya baca sedikit tentang penulisnya, saya melihat perempuan ini adalah perempuan yang sedang berbagi pengalaman nyata dalam kehidupannya. Jadi saya pikir, akan menakjubkan menemukan inspirasi-inspirasu yang berasal dari kisah nyata. Meskipun lama-kelamaan akhirnya saya agak bosan juga bacanya. hehe.


Dari sekian banyak “resep” yang saya baca, ada 2 hal penting yang menarik untuk saya tangkap yaitu bagian komunikasi dan penderitaan.  Dibagian komunikasi ini penulis bercerita tentang perbedaan komunikasi laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga. Ternyata, cukup banyak pasangan yang menikah mengalami keretakan dalam rumah tangga karena masalah komunikasi . Disini penulis menuliskan salah satu contoh kasusnya. Misalnya ketika  suami sedang jengkel terhadap sesuatu, sebagai pendamping, seorang isteri berharap untuk meringankan masalahnya. Sehingga saat suami menceritakan masalahnya, si isteri berusaha memberikan saran dan solusi kepadanya. Sayangnya, terkadang saat seorang lelaki sedang bercerita, adakalanya mereka melakukan hal itu bukan untuk mendapatkan nasehat-nasehat dari kita, tetapi mereka hanya ingin didengar dan ingin mendapatkan rasa aman untuk menceritakan apa yang tadi membuatnya jengkel. Akhirnya, niat yang awalnya baik malah berubah menjadi masalah baru dan membuat semuanya menjadi lebih runyam. 


Nah, sebagai perempuan (atau mungkin juga sebaliknya) terkadang kita bingung kapan ya saatnya pasangan kita itu hanya ingin di dengar  saja saat curhat dan kapan saatnya dia memang sedang ingin meminta solusi dari kita? Untuk mengatasinya, penulis memberikan metodenya dengan menciptakan solusi satu-dua-tiga. Caranya begini, (ini mengutip dari buku penulis), misalkan kita baru pulang dengan hati jengkel dan ingin bercerita kepada pasangan tanpa menginginkan reaksi, pendapat dan saran mereka. Katakan kepada pasanganmu begini, 


“Ada yang ingin kuceritakan kepadamu, dan itu adalah satu”. 
Satu berarti, “ada suatu hal yang sangat penting yang ingin ku katakan, dan aku ingin kamu mendengarkan tanpa interupsi apapun. Ini hanya perasaanku, dan aku ingin perasaan ini tidak dinilai, atau membuatku merasa bersalah karena merasakannya. Jangan bersikap tidak setuju, mengangguk, memutar bola mata atau menyeringai. Tolong, aku hanya butuh kau menerima komunikasi ini.” Nah, begitu kira-kira makna dari Satu ini, dan ketika kita menginginkan kondisi seperti itu, cukup kasih kode satu kepada pasangan kita.


Kode dua tidak begitu berbeda dengan satu, hanya saja ada pengecualian yaitu diperbolehkan pasangan kita untuk memberikan sedikit masukan, selagi masukan tersebut diinginkan dan bukan dengan maksud membetulkan atau menyerang.  


Dan Tiga maknanya adalah“ Baiklah sayang, lakukan saja! Ini undangan untuk  ‘menyembuhkan’ dan ‘melayani’. Semua solusi atau strategi yang bisa menambah, mengubah, atau membetulkan situasi diperbolehkan”.


Nah, ketika pasangan sudah menyepakati hal tersebut, maka itu akan lebih memudahkan keterampilan mereka dalam berkomunikasi tanpa perlu adanya kesalahpahaman. Hanya bilang satu, dua, tiga, dan keduanya pun akan langsung mengerti.


Nah, itu bagian tentang komunikasi. Bagian kedua yang cukup menarik adalah tentang penderitaan. Yang membuat menarik adalah tentang kisah perempuan yang sedang bersedih dan mengeluh kepada seorang Rabbi  (pendetanya Yahudi gitu deh).


Ceritanya begini. Pada suatu hari, Laura (teman si penulis) sedang duduk di taman sinagoge. Laura adalah seorang pendeta. Ia sedang menunggu Rabbi Gelberman yang sedang menyelesaikan khotbahnya. Ketika sang Rabbi mencari Laura, dia terkejut melihat Laura tengah menangis. Ia mendekatinya dan bertanya tentang apa yang terjadi.


Laura menjawab “ oh Rabbi saya sangat sedih. Saya melamar ke Weight Watcher untuk menjadi instruktur  dan mereka menolak saya. Saya begitu kecewa karena saya sangat menginginkan pekerjaan itu.”
Lalu Rabbi menjawab “tahukah kau ava shiva itu?’


“tentu saya tahu, Rabbi. Shiva adalah masa berduka karena meninggalnya orang tua, saudara kandung, anak, atau kakek nenek, atau paman dan bibi yang kita cintai” jawab Laura.


“betul, Laura. Sekarang, berapa lama masa berkabung Shiva untuk salah satu anggota keluargamu?” tanya Rabbi.


“tujuh hari, tetapi mengapa Anda menanyakan hal ini?” 


“karena Laura,”kata sang Rabbi, “kalau kau menghabiskan satu minggu berduka untuk orang tua, kakak-adik, anak, suami atau isteri, kakek-nenek, atau paman-bibi yang kau cintai, berapa lama menurutmu harga Weight Watcher? Mungkin dua puluh menit? “


Sebuah kisah menarik yang menjelaskan bahwa kita terkadang masih suka bersedih akan hal-hal yang tidak penting. Jadi kenapa perlu bersedih terlalu lama?kesedihan itu hanya akan menyisihkan kebahagiaan dan rasa syukur yang harusnya kita miliki.


Nah, itulah ulasan terkait buku ini. Cukup sekian saja. Semoga bermanfaat dan semoga saya bisa melanjutkan review buku selanjutnya. Bye!


NB : kayaknya dua buku lain yang saya pinjem di perpus, ga bisa di review disini deh karena uda terlanjur dibalikin sebelum sempat dibikin ulasannya.. huhu... nanti saya ganti dengan buku-buku yang lain... (mudah-mudahan) ^^v

View Post