Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan




Review ini sebenarnya sudah lama saya tulis tapi saya baru update kembali. Biasanya saya suka mereward diri sendiri dengan menonton film atau drama. Saya lagi senang-senangnya melihat film atau drama jadul yang pernah saya tonton waktu kecil karena memberikan kesan tersendiri untuk saya.

Salah satunya adalah film ini. Film ini berjudul Edward Scissorhands dan pertama kali dirilis tahun 1990 (walaupun saya tak terlalu ingat kapan film ini mulai diputar di televisi Indonesia). Ini bukan pertama kalinya saya menontonnya. Saya pernah menonton film ini sewaktu saya masih SD sebenarnya. Sayangnya waktu itu saya tidak bisa nonton sampai habis, karena besoknya harus sekolah dan kebetulan saat itu filmnya dipotong oleh siaran "Dunia dalam berita" di TVRI (hayoo, anak-anak 90an pasti tahu deh dengan siaran berita ini, hihi).

Saya masih ingat sekali waktu itu filmnya ditayangkan di layar emas RCTI, hari Kamis malam. Sebenarnya saya pun tidak begitu ingat saat itu ceritanya tentang apa, bahkan nama tokoh utamanya pun saya lupa. Yang jelas ada beberapa scene menarik yang tak bisa saya lupakan yaitu tentang seorang laki-laki dengan tangan gunting, sebuah taman-taman indah, dan adegan ketika laki-laki tersebut memecahkan tempat tidur yang berisi air (entah kenapa saya selalu teringat bagian tempat tidur ini, berkesan sekali buat saya karena saya baru pertama kali melihat tempat tidur berisi air.. haha).

Ketika saya sudah dewasa, saya pun mencari-cari film ini karena saya masih penasaran dengan ceritanya. Masalahnya saya gak tahu judulnya sehingga saya sempat kesulitan juga waktu itu mencari tahu tentang film ini. 

Saya mulai tahu judul film ini ketika ada liputan tentang Johny Depp. Disitu ditampakkan tentang tokoh-tokoh yang pernah dia mainkan dalam film, lalu terlihatlah sosok "Edward" ini. Omg! Ini dia filmnya! Saat itu saya benar-benar baru tahu kalau yang memerankannya adalah Johny Depp! Saat dia menjadi tokoh ini, dia menggunakan make up yang membuatnya berbeda dengan wajah aslinya.

Saya lalu mencari film ini di internet. Memang tak mudah ya menemukan film jadul. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah situs film streaming yang menyediakan film ini. Saya pun langsung nonton karena ini adalah film yang belum terselesaikan buat saya! Film yang waktu itu masih ingin saya tonton saat masih kecil! Film yang sangat berkesan karena ada tempat tidur airnya (haha...). Dan saya pun tak sabar ingin tahu lebih lanjut tentang cerita film ini.

Film Edward Scissorhands ternyata diproduseri oleh Tim Burton dan rekannya. Saya pernah menonton dua karya Tim Burton sebelumnya dan satu kata dari saya untuk karyanya. SURAM. Saya tidak bilang karyanya buruk, tetapi Tim burton sering menceritakan sisi gelap tentang suatu hal dengan sudut pandang jenaka. Jadi lebih tepatnya sih bukan hanya suram ya, tapi SURAM, MENARIK dan JENAKA. Menurut saya ketiga kata tersebut lumayan mencerminkan karya Burton, termasuk pada karyanya yang  satu ini.

Berkisah tentang apa?


Gambar : duniasinema.com

Jadiii... Film ini berkisah tentang seorang ilmuwan yang  membuat penemuan yang belum sempurna. Ia menciptakan seorang laki-laki yang belum memiliki tangan seutuhnya. Ilmuwan itu memberi nama ciptaannya, Edward dan ia pun menyayangi Edward seperti keluarga. Sayangnya sebelum ilmuwan tersebut bermaksud mengganti tangan Edward, sang ilmuwan itu keburu meninggal dunia. Semenjak itulah, Edward pun memiliki tangan gunting untuk selamanya. Ia pun tinggal sebatang kara di sebuah kastil tua yang dianggap angker oleh penduduk sekitar.

Hingga pada suatu hari, Edward scissorhands bertemu seorang ibu-ibu penjual make-up  bernama Peg Boggs. Si ibu ini  agak nekad dan kalau dipikir pikir sedikit "gila" karena berani masuk kastil itu sendirian hanya karena ingin menjual make up. Namun, "kegilaan" ibu ini justru membuka kehidupan baru bagi Edward si tangan gunting. Ia berkenalan dengan Peg dan Peg pun (yang ternyata baik hati itu) mengajak Edward tinggal di rumahnya. Inilah awal mula cerita ini sesungguhnya. 

Gambar: huffpost.com

Edward yang awalnya dianggap aneh dan ditakuti orang karena penampilan fisiknya yang sangat berbeda, pelan-pelan mulai berkenalan dan diterima oleh lingkungan barunya tersebut. Ia bahkan memiliki kemampuan mengagumkan yaitu bisa merapihkan dan membentuk rumput jadi bentuk lucu dan artistik. Ia juga dipercaya para ibu untuk  menggunting rambut ataupun bulu hewan peliharaan dengan menakjubkan. 

Sumber gambar : intofilm.org

Banyak yang akhirnya menyukai Edward. Edward pun terlihat senang karena merasa bisa membantu banyak orang dengan keahliannya. Sekalipun tangannya tajam dan bisa memotong banyak hal, Edward tak pernah menyakiti atau melukai siapapun dengan tangannya tersebut.

Gambar: filmmisery.com

Hingga kemudian konflik mulai  terjadi. Edward Scissorhands dituduh mencuri hanya karena menuruti keinginan pacar Kim (Kim merupakan anak perempuan dari Ibu Pegg). Edward yang sebenarnya menaruh hati pada Kim terpaksa berbohong dan mengakui dia sebagai pencuri. 

Konflik pun masih terus berlanjut hingga menyebabkan Edward semakin terpojok. Ia bahkan terpaksa melukai orang yang disayanginya dengan tak sengaja. Edward akhirnya dianggap monster dan dikucilkan warga sehingga Edward pun tak tahan dan ia terpaksa kembali ke kastilnya. Akhir cerita film ini sebenarnya tidak selesai sampai disitu dan saya pun tidak akan menceritakan lebih lanjut jadi kalau penasaran nonton aja sendiri.. hehe.. 

Insight Film

Ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan terkait film ini dan mungkin juga penting untuk dipahami para orang tua. Pertamalingkungan itu memang sangat mempengaruhi hidup dan karakter seseorang. Saya tak habis pikir bagaimana jika seandainya orang yang pertama kali menemukan Edward adalah orang jahat, bukan Ibu Peg Boggs yang notabene orang baik hati? 

Bagaimana seandainya Edward dibuat oleh ilmuwan psikopat, bukan ilmuwan baik yang menyayangi Edward? Saya rasa Edward akan tumbuh menjadi monster yang sangat mengerikan. Bayangkan, sekali sentuh saja orang-orang bisa terluka karena tangan guntingnya yang tajam. 

Gambar : microsoft.com

Nah, di film ini Edward justru dipertemukan oleh orang-orang yang baik sehingga Edward yang polos pun menjadi sosok orang yang baik juga, sekalipun awalnya mungkin banyak orang merasa aneh dan takut saat pertama kali melihatnya. Begitu pula dengan anak-anak kita, betapa pentingnya anak-anak dikelilingi orang-orang baik yang  dapat memberikan pengaruh positif. Pada dasarnya keluarga, teman dan orang-orang disekitar anak memang bisa memengaruhi karakter dan sikap anak. Jadi penting sekali bagi orang tua untuk bisa membimbing anak menemukan lingkungan dan pergaulan yang tepat.

Kedua, saya juga mengaitkan tokoh Edward pada kondisi anak berkebutuhan khusus. Edward adalah sosok yang  dianggap "berbeda" dari orang lain padahal ia adalah sosok yang spesial. Dengan "keunikan" yang ia miliki, ia diberikan kepercayaan dan kesempatan oleh orang terdekatnya untuk menggali potensi dan minatnya sendiri. Jadi, sekalipun kondisinya berbeda dengan orang kebanyakan, ia tetap bisa berkembang dan menjadi orang bermanfaat bagi sekitarnya. 

Seperti halnya dengan Edward si tangan gunting, ternyata ia memiliki bakat seni yang mengagumkan. Ia bisa membua karya yang indah dengan mengubah rumput dan pohon menjadi berbagai bentuk.  Saya pikir mungkin itulah yang harus kita lakukan terhadap anak-anak , baik itu ABK atau bukan. Seharusnya mereka juga diberikan kesempatan dan peluang untuk menggali kemampuan dan minat mereka sehingga mereka juga bisa berkembang dan bisa mandiri. 

Contohnya saja dalam kasus ABK, saya pernah membaca sebuah artikel tentang seorang perempuan down syndrome. Sekalipun dengan keterbatasan yang ia miliki ternyata ia tetap bisa sukses dengan menjalani profesinya sebagai seorang designer. Hasil karyanya pun juga sangat menakjubkan. Ketika melihat foto karyanya, saya pikir orang yang dianggap normal saja belum tentu bisa melakukan apa yang ia lakukan. 

Intinya, setiap anak itu fitrahnya baik. Setiap anak manusia  itu pasti punya kelebihan apapun kondisinya. Oleh sebab itu, keluarga dan lingkungan terdekat haruslah menjadi orang pertama yang percaya pada kemampuan mereka. Orang tua hendaklah menjadi supporter bagi anak-anak agar anak-anak kita bisa berkembang sesuai fitrah kebaikannya supaya kelak mereka bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain *self reminder.

My Rating

Saya beri rating 7/10 untuk film Edward Scissorhands dengan segala insight yang saya dapatkan. Kalau di IMDb film ini juga mendapatkan rating cukup tinggi yaitu 7.9/10 . Bagi yang mau nonton, silahkan nonton. Oh iya, film ini menurut saya lebih baik ditonton untuk usia 20 tahun ke atas karena tetap ada adegan percintaan yang baiknya tidak diperlihatkan ke anak-anak dan remaja.

Sekian review film kali ini. Alhamdulillah rasa penasaran di masa kecil sudah tertunaikan, hihi...








View Post

Penulis : Hafidz Muftisany
Judul : Fikih Keseharian "Ucapan Tahun Baru Hijriyah Hingga Hukum Parfum Beralkohol"
Penerbit : CV. Intera
Tahun Terbit : 2021 (terbit digital)
Koleksi  : Ipusnas


Ini adalah buku yang hanya terdiri dari 35 halaman. Cukup singkat ya dan penjelasannya pun mudah dipahami. Saya sendiri memang lebih suka buku nonfiksi yang tipis dan tak terlalu banyak karena kalau terlalu tebal malah keburu malas bacanya karena saya bukan pecinta buku nonfiksi hehe.. Apalagi jika pokok bahasannya serius.

Buku ini menjelaskan tentang beberapa hal yang kerap dipertanyakan atau mungkin diperdebatkan beberapa kalangan, misalnya tentang hukum mengucapkan selamat tahun baru, hukuman mati untuk koruptor, terkait amil zakat dan hukum menggunakan parfum beralkohol. Dalam buku ini juga disampaikan beberapa perbedaan pendapat antarulama dalam menghukumi suatu masalah.



Menurut saya buku ini cukup  bagus karena dapat menjadi tambahan wawasan terutama bagi kita yang belum tahu tentang permasalahan tersebut. Yang saya suka juga buku ini menyertakan beberapa pendapat ulama, sehingga kita sebagai pembaca bisa melihat suatu permasalahan terkadang memiliki perbedaan pendapat dan itu hal yang lumrah. 

Oleh karena itu, sudah sebijaknya jika kita tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang bersifat fiqih karena saya yakin para ulama tersebut sudah mempertimbangkan dengan baik ketika memutuskan suatu hukum perkara di masa sekarang. Jangan sampai karena kita memilih pendapat yang berbeda, kita jadi meremehkan pendapat orang lain. Padahal masing-masing sebenarnya memiliki hujjah sendiri.

Nah, aku juga akan mencoba sharing terkait isi buku ini. Rangkuman singkat ini hanyalah terdiri dari beberapa poin saja. Jika ingin membacanya lebih lanjut, silakan baca bukunya sendiri yaa.. hehe.


Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, Sunah atau Bid'ah?


foto: freepik.com

Pada dasarnya memang ada kalangan ulama yang melarang mengucapkan selamat tahun baru, terutama dikalangan ulama Arab Saudi. Misalnya saja Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau memang melarang mengucapkan selamat tahun baru, tapi tidak mengapa untuk membalasnya, asal jangan diri kita yang memulai mengucapkan.

Ucapan selamat tahun baru pun tidak dibalas dengan mengucapkan selamat tahun baru juga. Tapi cukup kita balas dengan doa seperti, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan kebarkahan di tahun ini,".

Menurut beliau, tidak ada penjelasan terkait ucapan selamat tahun baru, kecuali untuk pengucapan selamat hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Walaupun demikian, beliau tidak menyatakan itu sebagai sebuah dosa. Hanya memang tidak ada sunnahnya dalam hadist Nabi maupun atsar para sahabat. Sebagian ulama lain, seperti Syekh Abdul Karim Al-khudair membolehkan ucapan selamat karena tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan kepada sesama muslim SELAMA doa dan ucapan itu tidak diyakini sebagai ibadah khusus dalam peristiwa tertentu.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Al-Hafidz Abu Hasan Al-Maqdisi. Menurutnya itu termasuk perkara mubah atau dibolehkan. Jadi, apapun yang kita pilih dari semua pendapat tersebut jangan membuat kita berlaku sombong pada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Kalau kalian ingin mengucapkan selamat tahun baru, silakan. Jika tidak ya monggo. Kalau saya pribadi termasuk yang mengambil sikap seperti Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Jadi saya memilih untuk tidak ikut mengucapkan selamat tapi juga tidak mempermasalahkan jika ada yang memilih sikap berbeda.

Hukuman Mati untuk Koruptor


foto : worldbank.org


Ulama NU di forum Bahtsul Masail menjelaskan bahwa korupsi termasuk perbuatan pengkhianatan berat terhadap amanah rakyat yang diberikan kepadanya. Jika dilihat dari perilaku dan dampaknya, maka itu termasuk kepada pencurian dan perampokan.

Dalam kitab Syarh Matan Sullam Al-Tawfiq, dijelaskan bahwa pencurian itu termasuk dosa besar karena telah  mengambil hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Padahal ada hadist yang menjelaskan bahwa Allah melaknat pencuri sebiji telur dan seutas tali yang mengakibatkan tangannya dipotong. Di zaman itu harga telur dan tali sebesar tiga dirham. Kalau dihitung sekarang nilai 1 dirham itu sekitar 4 ribu rupiah (jadi bayangkan saja, mencuri 4 ribu rupiah bisa menyebabkan kehilangan tangan, apalagi koruptor yang mencuri sampai ratusan juta hingga triliyunan.. astaghfirullah.. :( )

Dalam forum NU tersebut, para ulama sepakat bahwa mereka tidak melarang hukuman mati terhadap koruptor. Dasar pengambilan hukumnya diambil dari uraian Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-fiqh Al-islami wa Adillatuhu yang menyebutkan, boleh menjatuhkan hukuman mati atas mereka yang melakukan tindakan kriminal berulang-ulang, para pecandu minuman keras dan tindak kejahatan yang mengancam keamanan  negara. Sekalipun pelaku mengembalikan uang negara tersebut, tetap tidak menghilangkan hukuman.

Siapa yang disebut Amil Zakat?


foto : shutterstock via dream.co.id


Sayyid Sabiq berkata bahwa amil zakat adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang kaya. Abu Bakar al-Hushaini menyatakan bahwa amil zakat adalah orang yang ditugaskan negara untuk mengambil zakat lalu menyalurkannya kepada yang berkah menerimanya.
Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan bahwa amil adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengambil zakat dari orang yang berkewajiban. Al Syairazi dalam al-Muhadzdzab menambahkan bahwa amil mendapat bagian zakat sebagai upah sesuai kewajaran.

Jika menilik pendapat MUI soal dana operasional untuk amil, MUI mengharuskan pemerintahlah yang menyediakan dana operasional untuk amil zakat. Jika dana yang disediakan pemerintah tidak cukup, maka bisa mengambil dari dana zakat sebagai upah dalam batas kewajaran. Amil juga tidak boleh menerima bagian zakat jika ia sudah digaji oleh negara atau lembaga swasta. 

Hukum Parfum Berakohol


kai.or.id


Jumhur ulama berpendapat bahwa alkohol itu najis. Jadi mereka menyatakan bahwa pakaian yang dikenai parfum beralkohol tidak boleh dipakai untuk sholat karena nanti sholatnya tidak sah. Namun, ulama kontemporer memiliki pendapat berbeda. Muhammad Rasyid Rida dalm kitab tafsirnya Al Manar mengatakan bahwa belum tentu sesuatu yang diharamkan dalam syarak tetapi tidak najis. Misalnya saja, hewan seperti kucing. Kucing haram untuk dimakan, tapi ia bukan binatang najis. Qiyas pun berlanjut pada alkohol.

Khamr haram untuk dikonsumsi tapi tidak najis untuk disentuh. Hal ini terkait dengan para sahabat, ketika mengetahui bahwa khamr adalah haram, mereka lalu menghancurkan kendi-kendi berisi khamr dan membuangnya di jalanan. Jika memang khamr itu najis, pastilah para sahabat tidak akan membuangnya di sembarang tempat apalagi di jalanan yang notabene adalah tempat orang lewat. Jadi, khamr tidaklah najis.

Saat ini alkohol juga dipakai untuk tujuan-tujuan positif, misalnya saja dalam dunia medis. Dan ada beberapa kondisi ketika alkohol tidak menjadi haram, karena jika diharamkan akan menyebabkan kesulitan bagi umat manusia.

Para ulama kontemporer lebih sependapat bahwa alkohol tidak najis. Hal ini juga didukung ilmu farmasi yang menyatakan bahwa derivat alkohol pada parfum berbeda dengan alkohol yang digunakan pada khamr.

LPPOM MUI juga menegaskan bahwa alkohol atau etanol yang digunakan pada parfum tidak sama dengan khamr jenis minuman yang memabukkan. Penggunaan alkohol yang bersumber dari fermentasi non-khamr selama tidak digunakan untuk pangan, misalnya sebaga antiseptik, maka itu diperbolehkan.

Memang persoalan ini masih terjadi perbedaan pendapat, walaupun menurut pendapat yang lebih moderat, alkohol dianggap tidak najis, jadi memakai parfum beralkohol tidak dilarang. Kalau saya pribadi sih sependapat bahwa alkohol itu tidak najis. Tapi kalau membeli parfum biasanya cenderung akan mencari parfum yang tidak mengandung alkohol.

Allahu'alam. Sekian rangkuman singkat kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita, terutama dalam ilmu agama. Jika penasaran untuk isinya lebih lengkap (terutama soal penjelasan-penjelasannya) bisa langsung cek bukunya. Terima kasih!
View Post
Penulis : Ratna Dewi Idrus
Judul : Agar Anak Kita Seperti Nabi Ismail
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Koleksi : Ipusnas




Buku ini berisi beberapa hal tentang bagaimana caranya agar kita bisa memiliki anak yang sholeh, sabar dan taat seperti Nabi Ismail. Poin-poinnya juga diisi dengan beberapa kisah para Nabi, sahabat dan tokoh inspiratif saat ini.

Saya akan mencoba menjabarkan beberapa poinnya saja. Jika ingin membaca lebih lengkap, tentu kalian bisa membaca sendiri bukunya. Berikut ini adalah beberapa poin yang ada dalam buku tersebut. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untuk diri sendiri.

Memahami bahwa Anak Bukan Tanda Cinta Allah

Sebenarnya cukup tertegun ketika membaca paragraf pembuka dalam buku ini. Di jaman jahiliah, orang-orang dahulu banyak yang berbangga dengan banyaknya harta dan anak-anak mereka, padahal anak sebenarnya hak preoregatif dari Allah. 

Ada orang yang dikaruniai anak, ada yang tidak. Ada yang diberikan anak perempuan, ada pula yang laki-laki. Ada yang diberi jumlah anak yang banyak, ada pula yang sedikit. Semuanya sama saja. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana agar kita menjadikan setiap kondisi tersebut sebagai jalan untuk mengantarkan kita pada ketaatan kepada Allah.

Lagipula jika anak adalah bukti tanda cinta, tentulah Nabi Ibrahim dikaruniai anak yang banyak, sementara kita tahu bahwa Nabi Ibrahim baru mendapatkan anak ketika usianya telah menua. Tentu yang kita pelajari dari beliau bukanlah tentang sosok anak, melainkan bagaimana  ia bisa bersabar dengan segala ketentuan dan tidak berputus asa pada rahmat Allah.. Masya Allah.


Anak dan Harta adalah Fitnah (Ujian)

Pada dasarnya anak dan harta yang kita miliki bisa saja melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk kita mendidik keluarga menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Jangan sampai keberadaan keluarga justru membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

Jangan Suka Mengeluh

Terutama pada isteri (note to myself), sebaiknya hindari perangai suka mengeluh. Nabi Ibrahim pernah meminta Nabi Ismail untuk menceraikan isterinya disebabkan sang isteri mengeluh dihadapannya yang saat itu berpura-pura datang menjadi tamu di rumahnya saat Nabi Ismail sedang tidak di rumah. Belajarlah untuk bersabar dan bersyukur dengan pemberian suami *ntms.

Ajarkan Anak pada Ketauhidan dan Keimanan

Peristiwa besar yang terjadi ketika Nabi Ibrahim diminta menyembelih anak yang is sudah tunggu berpuluh-puluh tahun, cukuplah menjadi bukti bahwa betapa taat dan patuhnya Nabi Ibrahim kepada perintah Allah. Ketaatan tersebut bahkan juga dimiliki oleh Nabi Ismail yang dengan ikhlas merelakan dirinya untuk disembelih. Ketika Nabi Ibrahim sudah mendekati ajalnya, bukan persoalan harta dan dunia yang ia tanyakan kepada anak-anaknya, tapi sebuah pertanyaan besar yang menyiratkan betapa sholih dan betapa pedulinya Nabi Ibrahim pada anak keturunannya,
"Siapakah yang engkau sembah sepeninggalku, Wahai Anak Cucuku?"
Didikan yang kita berikan kepada anak kita haruslah berkesinambungan agar keimanan dan ketauhidan itu terus terjaga hingga ke anak keturunan kita. Pun dengan Nabi Ibrahim, ia pun menginginkan agar anak cucunya bisa memiliki penghambaan yang sama agar bisa memiliki iman yang kuat dan teguh dengan harapan semoga kelak semua bisa berkumpul kembali di dalam surgaNya.

Berdoa kepada Allah

Jangan pernah putus berdoa agar Allah mau menganugerahkan keturunan yang sholih kepada kita. Berdoalah dengan penuh pengharapan, sebagaimana sikap yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, iringi dengan usaha, jangan tergesa-gesa untuk segera melihat hasilnya, bersabar dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah. Insya Allah akan dikabulkan walaupun untuk realisasinya itu tetap bergantung kepada ketentuan Allah.


Terima Anak dengan Penerimaan yang Baik

Anak-anak memiliki jiwa yang sensitif. Ia bisa merasakan apakah kehadiran mereka diterima ataukah ditolak oleh orang tua.Oleh karena itu, sejak anak masih dalam kandungan, seorang ibu hendaklah menerima kehadiran anak agar anak bisa tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi berjiwa tenang.

Yakin kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah orang yang lembut dan santun. Ia juga penyayang dan memiliki jiwa yang halus. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi, tentu tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat itu. Pun juga dengan Siti Hajar yang sempat bertanya-tanya akan kepergan suaminya, Namun, ketaatannya kepada Allah membuatnya yakin bahwa Allah tak akan mungkin disia-siakan oleh Rabbnya. Oleh karena itu, berbekal keyakinan dan ketaatan kepada Allah disertai usaha Hajar yang terus mendaki bukit sebanyak 7 kali untuk mencari air, ternyata air yang ia cari justru ada dibawah kaki kecil Ismail. Kesabaran, keyakinan kepada Allah dan kesungguhan Siti Hajar telah memberikan pembelajaran yang akan terus diingat oleh manusia sepanjang zaman.

Bertutur Kata yang Baik

"... ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (Qs. Al-baqarah:83)
Terkadang ketika tingkah anak tidak menyenangkan hati, maka hati kita juga tergoda untuk marah dan mengomeli anak. Tapi coba kita renungkan, ketika kita memarahi anak, akan muncul perasaan tak enak, tak nyaman, merasa bersalah atau mungkin kita merasa hati ini seakan mengeras. Pada saat kita menyadari itu, minta ampunlah kepada Allah dan perbanyak ibadah sunnah. Minta maaf juga pada anak karena barangkali kemarahan kita telah melukai hatinya. Seperti yang disabdakan Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam ketika ada seorang perempuan yang menarik bayinya dengan keras karena melihatnya mengencingi Rasulullah, Rasulullah pun berkata,

"Pakaian ini bisa kubersihkan, namun bisakah membersihkan kekeruhan jiwa anakmu itu?"
Pada dasarnya, tidak ada pendidikan yang berlandaskan kemarahan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam,

"Dua sifat yang dicintai Allah subhana wata'ala, yakni penyabar dan tidak pemarah."
Bagi seorang ibu, terkadang yang membuat ia mudah marah kepada anak adalah karena kondisinya yang lelah. Oleh karena itu, penting untuk menenangkan hati dan berempati pada kondisi anak agar kita bisa memahami alasan kenapa ia bertingkah tak menyenangkan dihadapan kita.

"Hormatilah anakmu dan baguskanlah sikapmu dalam mengajarinya," (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)

Itulah beberapa poin penting yang saya dapatkan dari buku ini. Sebenarnya ada banyak sekali poin-poin yang bisa diambil dari pelajaran. Salah satu yang jadi reminder juga buat diri sendiri adalah ketika penulis menceritakan kisah seorang Dahlan Iskan yang mendeskripsikan sosok ibunya yang jarang sekali marah dan lebih sering tersenyum kepada anak. Hal itu menjadi tamparan untuk diri sendiri yang selama ini masih suka marah dan menunjukkan wajah masam kepada anak, padahal harusnya seorang ibu bisa menjadi penyejuk hati dan pembawa kenyamanan bagi anak-anak di rumah, bukan malah sebaliknya.

Intinya ini buku yang cukup bagus untuk jadi referensi para orang tua dalam mendidik anak, walaupun beberapa poin dan penjelasannnya sudah sering saya dengar sebelumnya. Mendidik anak adalah sesuatu yang berat, bahkan lebih berat dari rasa sakitnya melahirkan. Oleh karena itu, penting untuk terus mengingatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita seringkali lupa ketika melakukan kesalahan-kesalahan sebagai orang tua. Membaca buku seperti ini dapat menjadi pengingat kembali terutama ketika kita sudah mulai lalai dan mulai lemah dalam membimbing anak-anak di rumah.


(karena menulis sejatinya adalah untuk mengingatkan diri sendiri)

View Post

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh IIDN. Bagi yang belum tahu, IIDN ini merupakan sebuah Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dan menjadi wadah bagi ibu-ibu yang suka menulis untuk terus belajar mengembangkan minatnya. IIDN terbentuk tahun 2010 yang waktu itu didirikan oleh Indari Mastuti. Saat ini Ibu-ibu Doyan Nulis diketuai oleh Widyanti Yuliandari dan terus berkembang hingga sekarang. Anggota di grup facebooknya bahkan sudah mencapai lebih dari 22 ribu. Banyak juga rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan bekerja sama dengan brand-brand besar. 

Baru-baru ini IIDN juga mengadakan kegiatan Festival Perempuan Indonesia 2021 dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-11. Sebenarnya menarik sekali karena dalam kondisi pandemi, ternyata IIDN tetap mampu melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menginspirasi banyak perempuan. Berikut adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam Festival Perempuan Indonesia :

1. Talkshow "Perempuan dan Menulis" dengan pembicara Kirana Kejora dan Widyanti Yuliandari.
2. Talkshow "Perempuan dan Lingkungan" dengan pembicara Anjarwati, S.Si.,M.Env. dan Aryenda Atma.
3. Talkshow "Perempuan dan Kekuatan Diri" dengan pembicara Artha Julie Nava dan Intan Maria Lee.



Selain acara talkshow, ada juga blog tour dan virtual class Natural Korean Make Up for Daily yang berkerjasama dengan brand kosmetik Wardah. Rangkaian acara tersebut kemudian ditutup dengan acara Puncak yang berisi Sharing Session bersama Damar Aisyah, Mugniar Marakarma dan Wiwin Pratiwanggini. Ada pula acara hiburan berupa kuis berhadiah dan pengumuman pemenang hadiah dari Wardah.

Nah, dalam beberapa rangkaian kegiatan tersebut, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu Talkshow yang berjudul Perempuan dan Kekuatan Diri. Topiknya menurut saya sangat menarik karena sangat relate dengan kehidupan para perempuan terutama perempuan di Indonesia.


Banyak pesan yang saya tangkap dalam talkshow tersebut dan kali ini saya akan coba bagikan kedalam beberapa poin.  Poin-poin tersebut ada yang saya tulis dengan bahasa sendiri tanpa bermaksud mengurangi atau melebihkan isi materi. Berikut beberapa poin yang saya dapatkan, semoga bisa bermanfaat dan memotivasi kita semua.


Hei Perempuan Indonesia, Belajarlah Mencintai Diri Sendiri!


Dalam acara talkshow Festival Perempuan Indonesia, pembicara pertama, Mbak Artha Julie menjelaskan tentang kondisi dan permasalahan yang sering dialami perempuan. Menurut beliau, perempuan adalah sosok yang paling banyak menghadapi problem dalam hidupnya. Mengapa? Karena perempuan seringkali tidak mengerti potensi dan kekuatan dirinya sendiri. Perempuan juga terkadang tak punya planning akan hidupnya sehingga ia pun mudah terbawa arus. Hal ini bermula karena perempuan banyak yang tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan besar tentang:
"Siapa sih diriku yang sebenarnya?"

Problem yang dihadapi tersebut terkadang membuat perempuan tidak menghargai diri mereka sendiri. Itulah kenapa self love seakan menjadi PR yang harus diselesaikan. 

Apa itu Self Love?

Self love merupakan sebuah perspektif untuk melihat diri kita dengan cara berbeda dan dengan cara yang lebih baik. Self love merupakan upaya kita untuk mulai menaruh penghargaan pada diri dan kebutuhan kita.

Banyak perempuan yang selama ini lebih banyak memberi isi "botolnya" daripada mengisinya kembali. Padahal kita tidak sadar bahwa "botol" kita kadang sudah kosong. Apa yang mau kita berikan jika kita sendiri sudah tidak punya apa-apa? Kita akan menjadi mudah kesal dan marah kepada orang-orang disekitar kita, padahal mereka sudah terlanjur berharap agar kita selalu memberikan yang terbaik. 

Ketika kita sudah tidak bisa memberikan apa yang orang lain harapkan, muncullah rasa frustrasi. Rasa frustrasi ini  yang nantinya malah bisa berdampak pada anak-anak, suami maupun orang-orang terdekat kita. Semua hal negatif yang muncul pada diri kita kadang disebabkan karena ada hal-hal yang tidak terpenuhi dalam diri kita. Itu yang mungkin menjadi akar masalahnya.

Wujudkan Keseimbangan

Banyak perempuan yang lahir dalam kultur budaya Indonesia tumbuh dengan lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Sebenarnya memerhatikan kebutuhan orang lain memang bukanlah hal yang salah, tapi kita juga harus ingat bahwa kita sendiri punya kebutuhan yang harus kita penuhi. Ketika kita memenuhi kebutuhan orang lain kita juga hendaknya bisa merasa bahagia. Jika tidak bahagia, barangkali ada yang perlu diintrospeksi.

Yang jadi masalah adalah memang tidak mudah untuk bisa memenuhi keduanya karena kita memang bukanlah superwoman. Lalu apa yang harus dilakukan agar perempuan bisa seimbang dalam memenuhi dua kebutuhan tersebut?

Ciptakan keseimbangan dengan meminta bantuan pasanganmu. Peran suami sangat berpengaruh dalam menyeimbangkan hal tersebut. Di budaya barat, suami berperan lebih fleksibel dalam rumah tangga. Para lelaki terbiasa membersihkan rumah, mencuci piring dan memasak. Sementara di indonesia tidak selalu begitu. Jadi masalah utamanya lebih kepada pembiasaan, bagaimana caranya agar suami ikut serta dalam membantu pekerjaan rumah tangga dan bagaimana agar isteri mau bicara dari hati ke hati dengan suami tentang pembagian tugas dalam rumah tangga.

Ubah Mindset

Perempuan juga harus mulai belajar untuk melihat masalah bukan sebagai masalah. Lihatlah masalah sebagai kesempatan untuk berubah. Ketika mendapati masalah besar, maka lakukan upaya self love melalui beberapa cara berikut:

1. Bangun Kesadaran.
Pahami bahwa problem yang muncul merupakan cara Tuhan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Problem yang ada bukanlah untuk menghancurkan diri kita. Mindset seperti itu dulu yang harus dibangun agar kita tidak berprasangka buruk terhadap kondisi yang ada.

2. Lakukan Penerimaan
Kita terima apapun yang terjadi pada diri kita, baik dan buruknya. Ibaratnya ketika kita tersandung batu, apakah kita harus mengeluh dan mengomeli batu itu hingga bertahun-tahun? Jadi terima dulu saja apapun yg terjadi karena jika kita tidak menerima, maka energi dan pikiran kita hanya akan habis terbuang karena memikirkan dan menyesali masa lalu. Jika sudah menerima, maka fokuslah pada problem solving, karena mencari solusi akan jauh lebih baik daripada meratap dan mengeluh terus menerus.

3. Mulailah Menata Hidup
Mulailah untuk memilih apa yang penting dan tidak penting dalam hidup kita. Fokuslah kepada hal penting dan apa yang harus dilakukan di masa depan. 

Membenahi mindset adalah hal yang penting. Kita harus mau menghargai dan menilai diri kita secara positif. Memang harus diakui bahwa ini tidak mudah, apalagi jika selama ini kita secara tak sadar telah menanamkan kepada diri bahwa kita tak berharga dan inferior. Mindset tersebut mungkin sudah tertanam kuat akibat pengalaman hidup ataupun faktor lingkungan. Ketika mencoba melakukan affirmasi pun kadang tidak berhasil. Lalu apa yang harus dilakukan?

Ubah Affirmasi

Sebagai contoh, kita berdiri di depan cermin dan mencoba memberikan affirmasi bahwa kita itu cantik, kita adalah perempuan hebat dsb. Sementara dalam batin kita muncul sebuah penolakan,
"Gak ah, aku gak cantik, aku jerawatan," 
"Aku gak hebat karena aku masih sering insecure". 

Jika penolakan terhadap affirmasi tersebut masih ada dalam diri kita, maka coba ganti kata-kata affirmasinya. Ucapkan kepada diri sendiri bahwa, 
"Saya dalam proses menghargai segala anugerah yang diberikan Allah kepada saya. Saya sedang dalam proses menghargai kecantikan yang diberikan Allah kepada saya. Saya sedang dalam proses menghargai tubuh saya. Saya dalam proses menjadi lebih baik,"

Ucapkanlah itu secara sadar dan rutin. Mudah-mudahan lama-lama nanti kita terbiasa. Ketika kita menyebutkan kata "dalam proses",  maka hati pun terasa lebih enteng karena kita tak  merasa tertekan gara-gara kita menganggap affirmasi itu tak sesuai dengan realita. 

Selain hal tersebut, berkumpullah dengan orang-orang yang suportif. Lakukan kegiatan menyenangkan seperti menonton dan membaca yang kira-kira bisa memberikan pengalaman yang positif.

Menerima Masa Lalu


Mbak Intan Maria sebagai pembicara kedua, menyebutkan bahwa Innerchild adalah diri seseorang yang berasal dari masa lalu atau masa kecilnya. Sebelum membahas lebih lanjut, Mbak Intan meminta para peserta untuk mencoba menulis pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi di masa lalu atau masa kecil ke dalam buku. Biasanya ketika kita menceritakan perihal kejelekan yang kita alami di masa lalu, akan muncul emosi tidak nyaman. Nah, jika muncul emosi semacam itu, berarti ada emosi-emosi mengganjal yang belum selesai dan itu berkaitan dengan innerchild.

Apakah masalah di innerchild ini akan memengaruhi kehidupan seorang perempuan kedepannya?

Pada dasarnya ketika perempuan sudah tidak memiliki masalah dengan innerchild, maka ia akan bisa menunjukkan performa dan menunjukkan perasaan bahagia. Perempuan memang sosok yang tangguh, tapi ia juga sosok yang lemah. Dibalik ketangguhan seorang perempuan, tetap ada perasaan yang harus diisi. Hanya saja terkadang susah bagi diri kita untuk berdamai dengan hal-hal buruk di masa lalu sehingga itu hal yang perlu diperbaiki.


Bagaimana kalau saat dewasa kita masih ter-trigger dengan pengalaman innerchild yang buruk di masa lalu?

Pertama mencoba mengakui bahwa itu salah. Sadarilah bahwa hal itu hanya akan membuat kita tidak percaya diri. Ketika ingatan atau perasaan itu muncul, kita coba amati polanya. 
"Kenapa ya saya tiba-tiba ingat?"
"Apa ya yang menyebabkan saya ingat akan hal itu?"

Kedua, jika kita ingin berdamai dengan masa lalu maka kita harus menerima semuanya. Terimalah kebahagiaan, kesedihan, semua rasa takut dan kelola semuanya sesuai dengan porsinya masing-masing. Jangan lupa meminta kekuatan kepada Allah untuk membantu kita mengikhlaskan dan melewati semuanya.

Jejak Cerita Festival Perempuan Indonesia

Itulah beberapa pesan berharga yang saya dapatkan dalam acara talkshow yang diselenggarakan oleh IIDN. Akhir kata, saya ingin mengapresiasi Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis yang sudah menyelenggarakan acara Festival Perempuan Indonesia dengan sukses. Menurut saya acaranya berjalan dengan baik dan peserta juga antusias mengikutinya. Pesan-pesan yang disampaikan juga sangat bagus karena memotivasi para perempuan Indonesia untuk menjadi sosok terbaik sesuai versinya masing-masing. 

Sudah 11 Tahun IIDN Berkarya, semoga Ibu-ibu Doyan Nulis bisa menjadi komunitas yang inspiratif dan memotivasi banyak perempuan Indonesia untuk berkembang lebih baik lagi. Ditunggu event selanjutnya!


View Post
Flight Plan Review



Oke, jadi ini film sebenarnya sudah lama. Tahun 2005 keluarnya. Mungkin diantara kalian pun sudah pernah ada yang menontonnya. Tapi karena sesuatu hal, saya jadi keingetan lagi sama film ini. Untuk jalan ceritanya silahkan googling saja ya. Aku nggak ingin membahas lebih lanjut. Yang jelas menurutku film ini recommended banget untuk ditonton, terutama untukku sendiri yang merupakan seorang ibu. 

Film ini jalan ceritanya bagus. Dibintangi salah seorang aktris senior yaitu Jodie Foster. Salah satu filmnya yang aku suka juga adalah the silent of the lamb. Film lawas juga sih (ini kayaknya aku doyannya nonton film lawas ya.. hehe). Rada-rada mirip sama film ini. Bukan jalan ceritanya ya yang mirip. tapi yang bikin mirip adalah karena sama-sama film thriller. Kita juga akan dibuat bertanya-tanya  tentang tokohnya. Siapa sih penjahatnya? Gimana ya nanti akhirnya? Ini arahnya kemana ya? Ya pokoknya beragam pertanyaan yang mengusik saat pertama kali nonton ini.  That's why i love this movie. Untuk bisa menikmati film ini, jangan berekspektasi macem-macem. Cukup ikuti alur cerita dan kita akan kaget dengan jalan ceritanya. 
 
Jadi, dalam film ini, Jodie Foster memerankan tokoh Mrs. Fratt yang harus berjuang di dalam pesawat untuk mencari anaknya yang tiba-tiba menghilang. Anehnya nggak ada satu orang pun di pesawat yang ngeliat anaknya tersebut sehingga orang-orang yang ada di pesawat mulai nganggap Mrs. Fratt ini stress, giladsb. Apalagi dia juga baru kehilangan suaminya yang meninggal jatuh dari atap. Namun, Mrs. Fratt yakin bahwa anaknya beneran ikut ke pesawat. Dia yakin bahwa ada yang mengambil anaknya dan  anaknya sedang dalam bahaya. Ketika semua orang nggak ada yang percaya sama dia, bahkan justru memojokkannya, ia tetap yakin pada instingnya sebagai seorang ibu. Disini sih aku ngerasa Mrs. Fratt bener-bener sosok yang keren banget sih.

Bahkan pas ngeliat perjuangan Mrs. Fratt mencari anaknya ini, aku jadi langsung bertanya kepada diri sendiri, 
"Bisa ga ya, aku menjadi ibu yang seberani itu?"
"Bisa ga ya, aku yakin pada diriku sendiri?"
"Bisa ga ya, aku melindungi anakku apapun yang terjadi?"
Dan akhir cerita ini pada akhirnya akan membuat kita menyadari betapa luar  biasanya perjuangan dan keyakinan seorang ibu.

Ini film bener-bener bagus sih, meski heran juga kenapa di imdb ratingnya cuma 3 bintang. Padahal film ini memenangkan 2 nominasi lho. Oh iya, di film ini juga nggak ada adegan aneh-aneh semisal adegan ciuman, adegan jorok dan sejenisnya yang biasanya suka ada di film barat. Dan ini menjadi nilai plus tersendiri buatku sih.


Intinya, I give 4,5/5 Stars for this movie.. Yeay. 
Kalau kalian sendiri, pernah nonton film ini belum?
View Post
Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



View Post
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah webinar di sekolah anak saya Nayra. Webinar itu memang diperuntukkan bagi para orang tua siswa kelas 2. Awalnya agak malas untuk ikut (wkwk), tapi saya pikir apa salahnya ikut bergabung kan? Toh memang ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan sekolah kepada para orang tua. Temanya saat itu tentang bagaimana membuat anak belajar dengan nyaman di rumah. Pembicaranya adalah Ibu Ida S Widayanti.

Saya sih gak fokus melihat materinya secara keseluruhan dari awal karena memang saat itu sambil disambi aktivitas rumah tangga. Tapi ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan perlu saya tulis disini sebagai salah satu ikhtiar saya dalam mengikat ilmu. Yah syukur-syukur jika tulisan ini bisa bermanfaat pula bagi orang lain. Berikut beberapa rangkuman yang saya buat. Check it out!


Pertama, hidupkan perasaan bahagia dalam proses mendidik anak-anak.


foto : kidengage.com


Pada dasarnya, perasaan bahagia bisa memberikan banyak keuntungan dalam proses mendidik. Pesan yang kita sampaikan ke anak, akan lebih cepat masuk ke dalam hati dan pikirannya jika suasana hatinya juga sedang baik. Jadi, percuma jika kita ingin memberikan saran atau nasihat kepada anak sementara saat itu sang anak dalam kondisi tidak nyaman, bete, kesal ataupun marah. Itu tak ada gunanya.

Kita harus ciptakan dulu suasana menyenangkan bagi anak, agar hati dan pikirannya siap menerima pesan yang kita sampaikan. Ingat, bahwa suasana hati yang baik akan menguatkan otak dalam menerima pesan.

Kedua, setiap berkomunikasi dengan anak, pastikan komunikasi tersebut memenuhi salah satu atau semua tujuan komunikasi. 



Berikut ini tujuan komunikasi yang hendaknya kita pertanyakan setiap akan berkomunikasi dengan anak. 

1. Apakah kita ingin menyampaikan informasi ke anak? (to inform)

2. Apakah kita ingin mendidik anak? (to educate)

3. Apakah kita ingin membujuk anak? (to persuade)

4. Apakah kita ingin menghibur anak? (to entertaint)

Jika komunikasi kita tidak  memenuhi tujuan itu, maka sebaiknya komunikasi tersebut tidak dilanjutkan dan dihentikan saat itu juga. Kemarahan, makian, omelan bukanlah komunikasi terbaik untuk mencapai tujuan komunikasi dengan anak, baik itu untuk mendidik ataupun memberi informasi (apalagi menghibur). Sekalipun mungkin kita berniat demikian tapi itu bukanlah langkah yang tepat.

exploringyourmind.com


Jadi, ketika kita mulai ingin marah-marah, ingat lagi tujuan komunikasi diatas. Percayalah, percuma kita marah-marah karena pesan yang kita sampaikan tidak akan memberikan motivasi positif kepada anak-anak. Justru anak-anak akan makin tak nyaman, sedih, tidak suka, atau bahkan ikut marah. 

Buang energi kita dari hal yang sia-sia, terutama marah-marah. Salah satu tipsnya bisa dengan melakukan teknis pernapasan perut yang diiringi dengan istighfar (letakkan telapak tangan kanan di perut dan tangan kiri di dada. Rasakan perut mengembang saat menarik napas dengan hidung dan perut mengempis saat mengeluarkan napas lewat mulut). Ucapkan istighfar dalam hati. 

Atau kalau dalam anjuran Nabi adalah dengan mengubah posisi dari berdiri ke duduk dan mengambil wudhu. Insya Allah, mudah-mudahan kita tak jadi marah setelahnya.

Ketiga, gunakan kacamata lebah dalam melihat perilaku anak. Jangan malah menggunakan kacamata lalat.


Apa maksudnya? Pada dasarnya, lalat dan lebah adalah dua makhluk Allah yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Lalat lebih suka dengan bau-bau busuk, sementara lebah suka dengan sari bunga dan bau yang wangi.

Jika lalat ditempatkan di sebuah taman bunga, tetap saja yang dicarinya sampah. Sementara lebah, jika ditempatkan di tumpukan sampah, tetap saja yang dicarinya adalah sekuntum bunga.

Demikian juga para orang tua. Jika kita memilih untuk menggunakan kacamata lalat, maka kita hanya akan mencari keburukan dan kekurangan pada perilaku anak. Hanya itu saja fokusnya. Pokoknya yang kita ingat hanyalah kekurangan dan kesalahan anak saja. Seakan-akan anak tak punya kelebihan yang bisa kita bicarakan.

Berbeda dengan jika kita memilih kacamata lebah, maka kita fokus pada kelebihan anak. Bahwa anak juga punya sesuatu yang baik yang perlu kita dukung. Bahwa pada dasarnya anak juga memiliki hal-hal positif yang bisa kita syukuri.

Sebagai contoh, coba perhatikan gambar ini.


Foto : gettyimages.com

Coba lihat sejenak gambar itu dan kita coba pakai kacamata lalat. Apa yang kita pikirkan?

Dapur berantakan, peralatan yang kotor, bahan makanan yang terbuang, dsb. Yang kita lihat saat itu hanyalah hal negatif. Betul tidak? 

Tapi coba kita ganti kacamata kita dengan kacamata lebah. Apa yang kita lihat? 

Wah, kita melihat anak-anak sedang eksplorasi. 
Wah anak-anak sedang belajar hal baru. 
Wah anak-anak sedang mencoba belajar memasak dsb.
Masya Allah!

Itu yang luput dari para orang tua. Kebanyakan kita (termasuk saya pun) sepertinya masih lebih sering menggunakan kacamata lalat daripada lebah. Tanpa disadari kita kadang fokus hanya pada hal-hal negatif. Padahal kita lupa, bahwa anak-anak juga memiliki banyak hal-hal baik yang perlu kita apresiasi.

Keempat, pentingnya memahami suasana hati.


Suatu hari, terdengar seorang ibu sangat berisik ketika sedang mencuci piring. Klentang-klentong bunyi peralatan dapur terdengar saling beradu. Suaranya sangat mengganggu tak seperti biasa. Kira-kira kenapa sang ibu sangat berisik saat mencuci piring? Apakah ia tak tahu cara mencuci piring dengan baik dan benar? Ataukah karena saat itu suasana hatinya sedang buruk?

Setelah itu coba bayangkan kembali, dalam kondisi yang seperti itu tiba-tiba datang suaminya berkata,

"Kok berisik sekali nyuci piringnya? Memangnya kamu gak tahu cara mencuci piring? Kalau gak tahu sini aku ajarin!" ujar si suami dengan nada keras dan tinggi.

Kira-kira bagaimana perasaan kita kalau jadi si ibu itu? Apakah kita merasa lebih baik setelah mendengar perkataan suami kita atau suasana hati kita malah semakin memburuk?

Nah, demikian juga dengan anak-anak. Suatu perilaku yang kita lakukan, terkadang juga dipengaruhi suasana hati kita saat itu.

Misalkan suatu hari, anak kita pulang sekolah. Tiba-tiba ia datang sambil membanting atau melempar tasnya dengan wajah yang cemberut. Kira-kira bagaimana reaksi kita?

"Loh kak, kok tasnya dibanting gitu sih? Taruh tasnya yang bener."

Barangkali begitu kira-kira reaksi kita. 

Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah ia tiba-tiba tersenyum dan menjawab, "Baik Bu,"
Atau malah makin cemberut dan kesal?

Perilaku membanting tas memang bukanlah perilaku yang baik. Dan pastinya ketika ia membanting tas bukan berarti karena ia tidak tahu cara menaruh tas yang baik. Barangkali hal itu ia lakukan karena saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Barangkali saat itu ia mendapatkan masalah ketika di sekolah. Sementara ketika reaksi yang kita berikan ternyata dengan langsung menjudge anak, tentu itu hanya akan membuat perasaannya menjadi makin tidak baik. Duh udahlah gak usah berpikir jauh-jauh, kita sendiri saja dulu mungkin pernah bersikap begitu kan? Dan ketika kita dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, kira-kira apa yang kita butuhkan?

foto : desiakhbar.com


Perkataan berupa nasihat dan kalimat perintah bukanlah sesuatu yang ia butuhkan saat itu.
Maka dari itu, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut, mungkin kita bisa bereaksi lebih baik ke anak dengan bertanya lembut,

"Ada apa kak? Kok gak kayak biasanya? Kakak mau cerita sama Ibu?"

Mungkin setelah itu perasaan anak akan menjadi lebih baik. Sekalipun mungkin ia tak akan langsung cerita saat itu, tapi setidaknya ia tahu bahwa kita akan selalu ada untuknya dan menerima perasaannya.

Kelima, biasakan untuk berbicara dengan suara rendah dengan anak. 


Suara yang rendah bisa membuat pesan semakin kuat untuk masuk ke dalam kepala dan hati anak. Jangan biasakan bicara dengan nada yang tinggi. Jika selama ini kita sering begitu ketika menghadapi perilaku anak, maka ubahlah pelan-pelan. Nada yang tinggi tidak akan membuat pesan dan nasihat kita tersampaikan dengan baik. Jadi sungguh itu hanya akan membuang energi kita.

Jangan lupa pula untuk melakukan kontak fisik kepada anak setiap hari. Berikan pelukan dan usapan kepada anak sebagai bentuk kasih sayang kita. 

Keenam, hidupkan surga di rumah.


Caranya gimana? Caranya ya kita lihat bagaimana gambaran surga yang dituliskan dalam Alquran.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri...” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25].

Nah, coba lakukan itu dirumah.
Berseri-serilah saat menatap anak atau anggota keluarga dirumah. Lebih seringlah tersenyum dibandingkan cemberut. Jadikan wajah kita sebagai wajah yang meneduhkan bagi anak-anak.
Ucapkan perkataan yang baik kepada anak. Kurangilah berkata yang sia-sia. Sering marah-marah termasuk perilaku yang sia-sia. Tak ada manfaatnya baik bagi kita sendiri apalagi bagi anak-anak. Jadi lebih baik hindarilah hal tersebut. Hidupkan surga dirumah, hingga kelak pada masanya, kita benar-benar bisa bersama anak-anak dan pasangan kita di surga Allah yang sesungguhnya. Aamiin Yaa Rabb... Bismillah..


(Ketika menuliskan postingan ini, maka seketika itu juga saya sedang menampar diri sendiri...)


*disclaimer:
Rangkuman ini saya tulis berdasarkan apa yang saya tangkap dan yang paling saya ingat. Beberapa diantaranya juga saya tambahkan dengan bahasa saya sendiri. Tidak semua poin materi saya sampaikan, karena saya sendiri tidak mengikuti webinar dari awal. Jadi jika ada tambahan atau koreksi dari rangkuman diatas, maka saya akan terima dengan senang hati. πŸ’•







View Post
Penulis : Syah Waliyullah ad-Dahlawi
Judul    : Beda Pendapat di Tengah Umat (Sejak Zaman Sahabat Hingga Abad Keempat)
Penerbit : Pustaka Pesantren, 2010.
Koleksi : @ijakarta.id 



Background photo : pinterest.com


Buku ini berisi tentang pendapat dan beberapa alasan kenapa para ulama bisa memiliki perbedaan pendapat dalam beberapa hal. Boleh dibilang ini buku yang cukup berat sih buat otakkuπŸ˜„.

Pembahasannya sangat serius, sering menggunakan istilah Arab yang aku tak mengerti. Belum lagi nama-nama para ulama yang tak bisa kuhafal sehingga agak bingung juga ketika ingin menarik kesimpulan isinya.

Beberapa kali harus jeda dulu saat membacanya karena penjelasannya yang membuat pusing. Tak heran aku butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan buku ini. Tapi meski buku ini agak sulit ku cerna tapi aku berani bilang kalau buku ini adalah buku yang perlu kita baca. Kenapa? Karena buku ini menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini membuatku bingung terutama terkait perbedaan mahzab, bagaimana hukumnya taqlid terhadap suatu pendapat dan bagaimana bisa terjadi banyak perbedaan pendapat dari para ulama. 

Tapi sebelum aku membahas beberapa poin penting tentang isi buku ini, aku tertarik ingin membahas tentang penulis bukunya sendiri yang aku pun tidak terlalu familiar. 

Saat memutuskan membaca buku ini, sebenarnya aku sempat tidak yakin karena aku tak mengenal namanya. Barangkali penulisnya adalah penulis yang hidup di zaman sekarang. Sempat aku ragukan sebenarnya. Meski pada saat membaca bukunya, aku merasa penulisnya bukanlah orang yang sembarangan. Setelah membacanya, tampak bahwa beliau memiliki keilmuan yang tinggi dan memiliki wawasan serta pemahaman yang luas. 

Setelah selesai, aku baru sadar bahwa ternyata di akhir halaman ada biografi tentang beliau. Ternyata beliau adalah ulama ternama di zamannya. Beliau lahir tahun 1702 M dan wafat tahun 1763 M. Namanya adalah Ahmad bin Abdurrahim yang lebih dikenal dengan sebutan Syah Waliyullah ad-Dahlawi. 

Ayahnya termasuk pembesar ulama dan sufi di zamannya. Keluarganya terkenal sebagai keluarga yang berilmu dan senantiasa membawa risalah dakwah. 

Syah Waliyullah tumbuh dewasa bertepatan dengan masa kejayaan imperium, namun beliau menyaksikan pula awal kehancurannya. Beliau berguru dengan banyak ulama besar dan diberikan wewenang oleh Sultan Delhi untuk membangun madrasah. Beliau juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Persia yang merupakan bahasa resmi negaranya. Beliau juga menuliskan banyak karya berupa kitab-kitab penting yang sangat bernilai hingga sekarang.

Saat membaca biografinya sungguh aku malu karena sampai tak tahu dengan nama beliau. Padahal beliau sudah banyak berjasa dalam berdakwah terutama syiar Islam di tanah India. Semoga buku-buku dan pemikiran beliau bisa menjadi amal jariyah baginya. Aamiin. 

Nah, sekarang aku mau membahas beberapa poin penting dari isi buku ini ya. Tidak semuanya tentu saja, karena aku hanya bisa menyerap beberapa informasi saja (karena seperti yang ku bilang di awal bahwa buku ini cukup berat). Berikut ini adalah beberapa hal penting yang aku garisbawahi setelah membaca isi buku ini. 

Pertama, bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, tidak berarti semuanya dihukumi Sunnah. Ada beberapa contoh yang mendasari, salah satunya adalah ini.


Dan ada beberapa lagi contoh yang lain. Ini juga yang menjawab pertanyaanku terkait poligami misalnya. Ada yang bilang poligami itu sunnah. Ada yang bilang itu boleh. Aku cenderung ke pendapat yang kedua sih. Apalagi seingatku Rasulullah tak pernah secara gamblang berkata,
"Aku menganjurkan poligami," dan sejenisnya. Tapi ada yang mengatakan bahwa perbuatan Rasulullah itu semua dianggap sunnah. Termasuk poligami. Nah tulisan dibuku ini menguatkan pendapatku bahwa poligami itu memang boleh dan bukan masuk dalam amalan sunnah. Bahkan dalam Alquran pun juga dijelaskan secara gamblang kok. Kalau yang lebih dianjurkan itu adalah menikahi satu orang saja, kecuali sang laki-laki yakin kalau dapat berlaku adil. Gitu sih. Lagian kalau ngomongin sunnah, kenapa tidak menguatkan dan merutinkan ibadah sunnah lain yang jelas-jelas dianjurkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, seperti sholat tahajud, puasa senin kamis, bersedekah dan sebagainya. Kenapa para lelaki cenderung ngebet dengan poligami saja, sementara sunnah lain saja mereka masih terbengkalai. Btw, ini kenapa jadi malah ngomongin poligami ya? 😁  Sudah ah stop, kita lanjut ke poin selanjutnya saja. 

Kedua, ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh para ulama dalam memutuskan suatu perkara, yaitu sebagai berikut :

Untuk poin e itu ada tambahan lagi. Ketika para ulama berselisih terhadap suatu pendapat, maka yang menjadi rujukan mereka adalah mengikuti pendapat orang yang paling alim, paling wara'(atau hati-hati), paling tajam penalarannya dan paling terkenal diantara mereka. Tidak hanya sampai di poin e, proses pun masih berlanjut dengan tahapan selanjutnya. 



Ternyata memang tidak mudah ya menghukumi sesuatu perkara berdasarkan nilai agama. Prosesnya panjang dan tak sembarangan. Itulah kenapa kita harus memuliakan para ulama, karena tanggung jawab dan pengaruh mereka sangat penting bagi umat. Tidak mudah untuk berada di posisi para ulama.

Ketiga, pada dasarnya ulama terdahulu (ulama salaf) sangat berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Mereka juga senantiasa berpegang teguh dan Mengutamakan Alquran dan Sunnah dalam memutuskan suatu perkara. Jika ada yang memutuskan sesuatu namun dikemudian hari ternyata bertentangan dengan hadist, maka ulama memilih untuk meninggalkan pendapat tersebut sekalipun mungkin sudah disepakati banyak orang. 

Keempat, di zaman seperti sekarang ini yang eranya sudah berjarak sangat jauh dengan kehidupan para Nabi dan Sahabat, maka dalam memutuskan suatu perkara harus benar-benar berhati-hati. Apapun yang kita putuskan harus mengikuti Alquran dan Sunnah maupun aturan dari ulama terdahulu.

Kelima, pada dasarnya Imam Mazhab pun tidak meminta umat untuk taqlid (mengikuti pendapat) mereka sepenuhnya. Jika dirasa ada ayat Alquran dan Hadist yang berseberangan dengan pendapat mazhab, maka ayat dan hadist itulah yang berlaku. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Hanbal. 


Hal serupa juga disampaikan oleh Syaikh Izzuddin Bin Abdi As-Salam dalam halaman 107,



Demikian pula dengan pendapat Ibnu Hazm, 

Dalam hal ini, Syah Ad-Dahlawi menyatakan bahwa pendapat Ibnu Hazm lebih tepat ditujukan kepada orang yang sudah mampu berijtihad. Agar mereka tidak menutup mata jika terjadi kesalahan pada pendapat Ahli fiqih yang mereka jadikan rujukan. Adapun untuk masyarakat awam yang tidak memiliki keilmuan yang kuat terkait Alquran, hadist ataupun Fiqih, maka kita perlu mengikuti hukim-hukum yang sudah disepakati ulama terutama terkait perkara-perkara yang muncul di zaman sekarang.

Keenam, perbedaan mazhab antara sesama muslim jangan lantas menimbulkan perpecahan. Seperti halnya apa yang dicontohkan Harun Ar Rasyid, 


Demikian juga dicontohkan oleh Imam Syafii. Sekalipun berbeda pendapat dengan Abu Hanifah, tapi beliau tetap menghormatinya. 

Itulah yang harusnya kita contoh sebagai sesama muslim, karena sekalipun ulama terdahulu berbeda pendapat dalam perkara tertentu, mereka tetap berusaha saling menghargai dan mencontohkan kepada kita bahwa perbedaan terhadap hal yang bukan termasuk akidah, adalah sesuatu yang tidak perlu dipertentangkan apalagi sampai menimbulkan perpecahan. 

Itulah beberapa hal penting yang aku pelajari dari buku ini. Walaupun pembahasan yang berat dan hampir membuatku menyerah, tapi sungguh aku mendapatkan banyak pelajaran darinya. 

Apa yang kutulis disini, hanya sedikit bagian saja dari buku ini. Jadi jika ingin mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh, silakan baca langsung saja bukunya ya. 

Semoga bermanfaat. 




View Post