Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian islam. Tampilkan semua postingan

Penulis : Hafidz Muftisany
Judul : Fikih Keseharian "Ucapan Tahun Baru Hijriyah Hingga Hukum Parfum Beralkohol"
Penerbit : CV. Intera
Tahun Terbit : 2021 (terbit digital)
Koleksi  : Ipusnas


Ini adalah buku yang hanya terdiri dari 35 halaman. Cukup singkat ya dan penjelasannya pun mudah dipahami. Saya sendiri memang lebih suka buku nonfiksi yang tipis dan tak terlalu banyak karena kalau terlalu tebal malah keburu malas bacanya karena saya bukan pecinta buku nonfiksi hehe.. Apalagi jika pokok bahasannya serius.

Buku ini menjelaskan tentang beberapa hal yang kerap dipertanyakan atau mungkin diperdebatkan beberapa kalangan, misalnya tentang hukum mengucapkan selamat tahun baru, hukuman mati untuk koruptor, terkait amil zakat dan hukum menggunakan parfum beralkohol. Dalam buku ini juga disampaikan beberapa perbedaan pendapat antarulama dalam menghukumi suatu masalah.



Menurut saya buku ini cukup  bagus karena dapat menjadi tambahan wawasan terutama bagi kita yang belum tahu tentang permasalahan tersebut. Yang saya suka juga buku ini menyertakan beberapa pendapat ulama, sehingga kita sebagai pembaca bisa melihat suatu permasalahan terkadang memiliki perbedaan pendapat dan itu hal yang lumrah. 

Oleh karena itu, sudah sebijaknya jika kita tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang bersifat fiqih karena saya yakin para ulama tersebut sudah mempertimbangkan dengan baik ketika memutuskan suatu hukum perkara di masa sekarang. Jangan sampai karena kita memilih pendapat yang berbeda, kita jadi meremehkan pendapat orang lain. Padahal masing-masing sebenarnya memiliki hujjah sendiri.

Nah, aku juga akan mencoba sharing terkait isi buku ini. Rangkuman singkat ini hanyalah terdiri dari beberapa poin saja. Jika ingin membacanya lebih lanjut, silakan baca bukunya sendiri yaa.. hehe.


Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, Sunah atau Bid'ah?


foto: freepik.com

Pada dasarnya memang ada kalangan ulama yang melarang mengucapkan selamat tahun baru, terutama dikalangan ulama Arab Saudi. Misalnya saja Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau memang melarang mengucapkan selamat tahun baru, tapi tidak mengapa untuk membalasnya, asal jangan diri kita yang memulai mengucapkan.

Ucapan selamat tahun baru pun tidak dibalas dengan mengucapkan selamat tahun baru juga. Tapi cukup kita balas dengan doa seperti, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan kebarkahan di tahun ini,".

Menurut beliau, tidak ada penjelasan terkait ucapan selamat tahun baru, kecuali untuk pengucapan selamat hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Walaupun demikian, beliau tidak menyatakan itu sebagai sebuah dosa. Hanya memang tidak ada sunnahnya dalam hadist Nabi maupun atsar para sahabat. Sebagian ulama lain, seperti Syekh Abdul Karim Al-khudair membolehkan ucapan selamat karena tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan kepada sesama muslim SELAMA doa dan ucapan itu tidak diyakini sebagai ibadah khusus dalam peristiwa tertentu.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Al-Hafidz Abu Hasan Al-Maqdisi. Menurutnya itu termasuk perkara mubah atau dibolehkan. Jadi, apapun yang kita pilih dari semua pendapat tersebut jangan membuat kita berlaku sombong pada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Kalau kalian ingin mengucapkan selamat tahun baru, silakan. Jika tidak ya monggo. Kalau saya pribadi termasuk yang mengambil sikap seperti Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Jadi saya memilih untuk tidak ikut mengucapkan selamat tapi juga tidak mempermasalahkan jika ada yang memilih sikap berbeda.

Hukuman Mati untuk Koruptor


foto : worldbank.org


Ulama NU di forum Bahtsul Masail menjelaskan bahwa korupsi termasuk perbuatan pengkhianatan berat terhadap amanah rakyat yang diberikan kepadanya. Jika dilihat dari perilaku dan dampaknya, maka itu termasuk kepada pencurian dan perampokan.

Dalam kitab Syarh Matan Sullam Al-Tawfiq, dijelaskan bahwa pencurian itu termasuk dosa besar karena telah  mengambil hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Padahal ada hadist yang menjelaskan bahwa Allah melaknat pencuri sebiji telur dan seutas tali yang mengakibatkan tangannya dipotong. Di zaman itu harga telur dan tali sebesar tiga dirham. Kalau dihitung sekarang nilai 1 dirham itu sekitar 4 ribu rupiah (jadi bayangkan saja, mencuri 4 ribu rupiah bisa menyebabkan kehilangan tangan, apalagi koruptor yang mencuri sampai ratusan juta hingga triliyunan.. astaghfirullah.. :( )

Dalam forum NU tersebut, para ulama sepakat bahwa mereka tidak melarang hukuman mati terhadap koruptor. Dasar pengambilan hukumnya diambil dari uraian Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-fiqh Al-islami wa Adillatuhu yang menyebutkan, boleh menjatuhkan hukuman mati atas mereka yang melakukan tindakan kriminal berulang-ulang, para pecandu minuman keras dan tindak kejahatan yang mengancam keamanan  negara. Sekalipun pelaku mengembalikan uang negara tersebut, tetap tidak menghilangkan hukuman.

Siapa yang disebut Amil Zakat?


foto : shutterstock via dream.co.id


Sayyid Sabiq berkata bahwa amil zakat adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang kaya. Abu Bakar al-Hushaini menyatakan bahwa amil zakat adalah orang yang ditugaskan negara untuk mengambil zakat lalu menyalurkannya kepada yang berkah menerimanya.
Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan bahwa amil adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengambil zakat dari orang yang berkewajiban. Al Syairazi dalam al-Muhadzdzab menambahkan bahwa amil mendapat bagian zakat sebagai upah sesuai kewajaran.

Jika menilik pendapat MUI soal dana operasional untuk amil, MUI mengharuskan pemerintahlah yang menyediakan dana operasional untuk amil zakat. Jika dana yang disediakan pemerintah tidak cukup, maka bisa mengambil dari dana zakat sebagai upah dalam batas kewajaran. Amil juga tidak boleh menerima bagian zakat jika ia sudah digaji oleh negara atau lembaga swasta. 

Hukum Parfum Berakohol


kai.or.id


Jumhur ulama berpendapat bahwa alkohol itu najis. Jadi mereka menyatakan bahwa pakaian yang dikenai parfum beralkohol tidak boleh dipakai untuk sholat karena nanti sholatnya tidak sah. Namun, ulama kontemporer memiliki pendapat berbeda. Muhammad Rasyid Rida dalm kitab tafsirnya Al Manar mengatakan bahwa belum tentu sesuatu yang diharamkan dalam syarak tetapi tidak najis. Misalnya saja, hewan seperti kucing. Kucing haram untuk dimakan, tapi ia bukan binatang najis. Qiyas pun berlanjut pada alkohol.

Khamr haram untuk dikonsumsi tapi tidak najis untuk disentuh. Hal ini terkait dengan para sahabat, ketika mengetahui bahwa khamr adalah haram, mereka lalu menghancurkan kendi-kendi berisi khamr dan membuangnya di jalanan. Jika memang khamr itu najis, pastilah para sahabat tidak akan membuangnya di sembarang tempat apalagi di jalanan yang notabene adalah tempat orang lewat. Jadi, khamr tidaklah najis.

Saat ini alkohol juga dipakai untuk tujuan-tujuan positif, misalnya saja dalam dunia medis. Dan ada beberapa kondisi ketika alkohol tidak menjadi haram, karena jika diharamkan akan menyebabkan kesulitan bagi umat manusia.

Para ulama kontemporer lebih sependapat bahwa alkohol tidak najis. Hal ini juga didukung ilmu farmasi yang menyatakan bahwa derivat alkohol pada parfum berbeda dengan alkohol yang digunakan pada khamr.

LPPOM MUI juga menegaskan bahwa alkohol atau etanol yang digunakan pada parfum tidak sama dengan khamr jenis minuman yang memabukkan. Penggunaan alkohol yang bersumber dari fermentasi non-khamr selama tidak digunakan untuk pangan, misalnya sebaga antiseptik, maka itu diperbolehkan.

Memang persoalan ini masih terjadi perbedaan pendapat, walaupun menurut pendapat yang lebih moderat, alkohol dianggap tidak najis, jadi memakai parfum beralkohol tidak dilarang. Kalau saya pribadi sih sependapat bahwa alkohol itu tidak najis. Tapi kalau membeli parfum biasanya cenderung akan mencari parfum yang tidak mengandung alkohol.

Allahu'alam. Sekian rangkuman singkat kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita, terutama dalam ilmu agama. Jika penasaran untuk isinya lebih lengkap (terutama soal penjelasan-penjelasannya) bisa langsung cek bukunya. Terima kasih!
View Post




foto: kitapastibisa.id


Bicara tentang makhluk Allah satu ini terkadang membuat hati kita kesal dan geram. Bagaimana tidak, ia bisa muncul dan terus mengganggu setiap kehidupan kita dan membuat kita melakukan hal buruk ataupun hal-hal yang tak bermanfaat.Setan adalah tokoh antagonis yang membuat manusia lalai dalam berbuat baik. Walaupun demikian, terkadang saya juga suka bertanya-tanya, apakah segala dosa dan kesalahan kita adalah sepenuhnya salah setan? Atau jangan-jangan tekad kita saja yang masih lemah dan tidak sungguh-sungguh?


 Apakah segala dosa dan kesalahan kita adalah sepenuhnya salah setan?


Saya pernah menonton channel Youtube Ustadz Muhammad Faizar (kalian perlu nonton sih guys karena bikin belajar banyak tentang kehidupan). Ada sebuah momen ketika beliau sedang meruqyah. Beliau mengatakan bahwa hati yang lemah (sedih, dendam, marah, kecewa,dan lain-lain) akan membuat jin tertarik untuk masuk kedalam diri kita dan menempati ruang kosong pada diri kita. Jin atau setan tersebut akan makin kuat jika jiwa kita makin lemah. Makanya ketika seseorang di ruqyah, bukan berarti ia akan langsung sembuh karena jin tersebut tidak langsung kabur (terutama jika jinnya ngeyel). Hanya saja ketika sudah diruqyah, jin tersebut memang mulai merasa tidak nyaman dan mulai lemah kekuataannya.

Ibaratnya nih ada orang yang masuk ke rumah kita dan dia udah betah di rumah kita. Bahkan saking tak tahu malunya malah dia yang menguasai rumah kita. Jika kita mengusirnya sekali dua kali saja, belum tentu dia langsung pergi. Apalagi jika pada saat itu kita sendiri dalam kondisi tak berdaya. Jadi yang harus kita lakukan adalah, menunjukkan bahwa kita lah sang pemilik rumah. Kita harus memperkuat diri kita. Kita harus berani mengusir. Buat dia tidak betah di rumah kita. Nanti lama-lama dia akan makin takut dan akhirnya kabur sendiri.

Nah, kira-kira begitulah perumpamaannya. Walaupun sudah diruqyah, tetapi kita tetap harus menjaga dzikir dan ibadah kita setiap hari karena setan tidak suka mendengar ayat-ayat Alquran. Setan dan jin akan menjadi lemah ketika mendengar kita membaca Alquran dan melihat kita beribadah. Lama-lama ia tidak akan betah dan akan pergi dengan sendirinya dari diri kita.

Jadi apa inti yang saya sampaikan dari penjelasan tersebut? Pada dasarnya segala dosa dan kesalahan kita barangkali bukan sepenuhnya salah setan. Kitalah yang barangkali memberi ruang bagi setan dan jin untuk mengganggu kita. Jika kita ingin terhindar dari gangguan jin dan setan maka kita juga harus berusaha untuk mendekat kepada Allah. Ruqyah itu bukan satu-satunya cara yang membuat setan pergi, tetapi ibadah dan kebaikan yang dilakukan konsistenlah yang membuat kita terhindar dari gangguan mereka.

Bicara tentang setan, saya akan memberikan sedikit rangkuman dari materi yang pernah saya dengar dari acara Inspirasi Iman TVRI, berjudul Bisikan Syaitan Penghambat Sukses. Ini adalah rangkuman yang sebenarnya sudah lama banget, tapi saya posting kembali agar bisa jadi pengingat bagi teman-teman dan diri saya sendiri. Apa saja hal-hal berkesan yang saya dapatkan dari acara tersebut? Berikut beberapa penjelasan yang bisa disimak.

  1. Setan punya banyak cara untuk menghalangi manusia dalam berbuat baik. Salah satunya adalah dengan membuat hati kita ragu untuk berbuat baik dan menghias amal buruk terlihat menjadi seakan baik.
  2. Siapa pihak yang tidak suka melihat manusia berbuat kebaikan? Tentu saja setan, karena sejak awal setan memang sudah minta ijin kepada Allah untuk menggoda manusia dan Allah pun sudah mewanti wanti agar kita  tidak tergoda oleh setan. 
  3. Ketika ingin memulai sesuatu janganlah takut dan minder. Gunakan kata “justru” sebagai kata sakti untuk menghalau hal tersebut.
Contohnya:
Saya gak pengalaman nih kayaknya gak mungkin bisa bikin usaha.
Tekankan pada diri sendiri kita,“JUSTRU karena belum pengalaman, maka saya harus memulai!”

Ah saya hanya anak kampung, gak mungkin kayaknya bisa menempuh pendidikan tinggi.
Tekankan pada diri sendiri, “
JUSTRU karena anak kampung, makanya saya harus bisa tunjukkan kalau saya juga bisa!”

Ah saya kan banyak dosa, kayaknya gak pantes ikut pengajian..
Tekankan pada diri kita, “
JUSTRU karena saya banyak dosa, makanya saya harus ikut pengajian!”

Jika kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah hal positif dan baik menurut Allah, maka abaikanlah kata “tapi” yang mungkin muncul pada saat kita ingin melakukannya.
Ah, tapi kan saya banyak dosa.
Ah tapi kan saya anak orang miskin.
Ah, tapi kan saya bodoh.

Jika kata "tapi" itu muncul ketika kita berniat untuk menjadi lebih baik, maka pastilah itu berasal dari bisikan setan. Janganlah ditanggapi serius,


Foto: Thoudy Badai/Republika.co.id


Ingatlah, akan selalu ada pertentangan antara setan dan malaikat. Akan selalu ada pertentangan antara kebaikan dan keburukan. Sebagai contoh, pada saat ada keinginan untuk bangun tahajud, mungkin ada bisikan seitan yang menggoda kita untuk tidur lagi. Bertaawudzlah dan seringlah berkumpul dengan orang-orang yang bisikannya akan sama dengan malaikat. Siapakah mereka? Merekalah orang-orang sholeh yang akan mendukung kita dalam melakukan kebaikan.

Ketika kita ingin memulai suatu usaha kebaikan, kemudian akan ada bisikan-bisikan yang membuat kita rendah diri dan ragu untuk memulai, tutup telingamu dan abaikan bisikan-bisikan setan itu. Kita adalah khalifah di muka bumi ini. Kita punya kontrol terhadap diri kita sendiri. Tentu terkadang ini tidak mudah, itulah kenapa kita harus pastikan diri kita dikelilingi orang-orang sholeh yang akan selalu mengingatkan kita untuk melakukan kebaikan. Yuk berdoa yuk, semoga kita dijauhkan dari gangguan jin dan setan yang ingin mengganggu. Saling mendoakan ya guys...! Semoga catatan pendek ini bisa bermanfaat.

Untuk acara lengkapnya, bisa teman-teman lihat disini ya.



View Post
Penulis : Syah Waliyullah ad-Dahlawi
Judul    : Beda Pendapat di Tengah Umat (Sejak Zaman Sahabat Hingga Abad Keempat)
Penerbit : Pustaka Pesantren, 2010.
Koleksi : @ijakarta.id 



Background photo : pinterest.com


Buku ini berisi tentang pendapat dan beberapa alasan kenapa para ulama bisa memiliki perbedaan pendapat dalam beberapa hal. Boleh dibilang ini buku yang cukup berat sih buat otakku😄.

Pembahasannya sangat serius, sering menggunakan istilah Arab yang aku tak mengerti. Belum lagi nama-nama para ulama yang tak bisa kuhafal sehingga agak bingung juga ketika ingin menarik kesimpulan isinya.

Beberapa kali harus jeda dulu saat membacanya karena penjelasannya yang membuat pusing. Tak heran aku butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan buku ini. Tapi meski buku ini agak sulit ku cerna tapi aku berani bilang kalau buku ini adalah buku yang perlu kita baca. Kenapa? Karena buku ini menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini membuatku bingung terutama terkait perbedaan mahzab, bagaimana hukumnya taqlid terhadap suatu pendapat dan bagaimana bisa terjadi banyak perbedaan pendapat dari para ulama. 

Tapi sebelum aku membahas beberapa poin penting tentang isi buku ini, aku tertarik ingin membahas tentang penulis bukunya sendiri yang aku pun tidak terlalu familiar. 

Saat memutuskan membaca buku ini, sebenarnya aku sempat tidak yakin karena aku tak mengenal namanya. Barangkali penulisnya adalah penulis yang hidup di zaman sekarang. Sempat aku ragukan sebenarnya. Meski pada saat membaca bukunya, aku merasa penulisnya bukanlah orang yang sembarangan. Setelah membacanya, tampak bahwa beliau memiliki keilmuan yang tinggi dan memiliki wawasan serta pemahaman yang luas. 

Setelah selesai, aku baru sadar bahwa ternyata di akhir halaman ada biografi tentang beliau. Ternyata beliau adalah ulama ternama di zamannya. Beliau lahir tahun 1702 M dan wafat tahun 1763 M. Namanya adalah Ahmad bin Abdurrahim yang lebih dikenal dengan sebutan Syah Waliyullah ad-Dahlawi. 

Ayahnya termasuk pembesar ulama dan sufi di zamannya. Keluarganya terkenal sebagai keluarga yang berilmu dan senantiasa membawa risalah dakwah. 

Syah Waliyullah tumbuh dewasa bertepatan dengan masa kejayaan imperium, namun beliau menyaksikan pula awal kehancurannya. Beliau berguru dengan banyak ulama besar dan diberikan wewenang oleh Sultan Delhi untuk membangun madrasah. Beliau juga menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Persia yang merupakan bahasa resmi negaranya. Beliau juga menuliskan banyak karya berupa kitab-kitab penting yang sangat bernilai hingga sekarang.

Saat membaca biografinya sungguh aku malu karena sampai tak tahu dengan nama beliau. Padahal beliau sudah banyak berjasa dalam berdakwah terutama syiar Islam di tanah India. Semoga buku-buku dan pemikiran beliau bisa menjadi amal jariyah baginya. Aamiin. 

Nah, sekarang aku mau membahas beberapa poin penting dari isi buku ini ya. Tidak semuanya tentu saja, karena aku hanya bisa menyerap beberapa informasi saja (karena seperti yang ku bilang di awal bahwa buku ini cukup berat). Berikut ini adalah beberapa hal penting yang aku garisbawahi setelah membaca isi buku ini. 

Pertama, bahwa apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, tidak berarti semuanya dihukumi Sunnah. Ada beberapa contoh yang mendasari, salah satunya adalah ini.


Dan ada beberapa lagi contoh yang lain. Ini juga yang menjawab pertanyaanku terkait poligami misalnya. Ada yang bilang poligami itu sunnah. Ada yang bilang itu boleh. Aku cenderung ke pendapat yang kedua sih. Apalagi seingatku Rasulullah tak pernah secara gamblang berkata,
"Aku menganjurkan poligami," dan sejenisnya. Tapi ada yang mengatakan bahwa perbuatan Rasulullah itu semua dianggap sunnah. Termasuk poligami. Nah tulisan dibuku ini menguatkan pendapatku bahwa poligami itu memang boleh dan bukan masuk dalam amalan sunnah. Bahkan dalam Alquran pun juga dijelaskan secara gamblang kok. Kalau yang lebih dianjurkan itu adalah menikahi satu orang saja, kecuali sang laki-laki yakin kalau dapat berlaku adil. Gitu sih. Lagian kalau ngomongin sunnah, kenapa tidak menguatkan dan merutinkan ibadah sunnah lain yang jelas-jelas dianjurkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wassalam, seperti sholat tahajud, puasa senin kamis, bersedekah dan sebagainya. Kenapa para lelaki cenderung ngebet dengan poligami saja, sementara sunnah lain saja mereka masih terbengkalai. Btw, ini kenapa jadi malah ngomongin poligami ya? 😁  Sudah ah stop, kita lanjut ke poin selanjutnya saja. 

Kedua, ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh para ulama dalam memutuskan suatu perkara, yaitu sebagai berikut :

Untuk poin e itu ada tambahan lagi. Ketika para ulama berselisih terhadap suatu pendapat, maka yang menjadi rujukan mereka adalah mengikuti pendapat orang yang paling alim, paling wara'(atau hati-hati), paling tajam penalarannya dan paling terkenal diantara mereka. Tidak hanya sampai di poin e, proses pun masih berlanjut dengan tahapan selanjutnya. 



Ternyata memang tidak mudah ya menghukumi sesuatu perkara berdasarkan nilai agama. Prosesnya panjang dan tak sembarangan. Itulah kenapa kita harus memuliakan para ulama, karena tanggung jawab dan pengaruh mereka sangat penting bagi umat. Tidak mudah untuk berada di posisi para ulama.

Ketiga, pada dasarnya ulama terdahulu (ulama salaf) sangat berhati-hati dalam memutuskan suatu perkara. Mereka juga senantiasa berpegang teguh dan Mengutamakan Alquran dan Sunnah dalam memutuskan suatu perkara. Jika ada yang memutuskan sesuatu namun dikemudian hari ternyata bertentangan dengan hadist, maka ulama memilih untuk meninggalkan pendapat tersebut sekalipun mungkin sudah disepakati banyak orang. 

Keempat, di zaman seperti sekarang ini yang eranya sudah berjarak sangat jauh dengan kehidupan para Nabi dan Sahabat, maka dalam memutuskan suatu perkara harus benar-benar berhati-hati. Apapun yang kita putuskan harus mengikuti Alquran dan Sunnah maupun aturan dari ulama terdahulu.

Kelima, pada dasarnya Imam Mazhab pun tidak meminta umat untuk taqlid (mengikuti pendapat) mereka sepenuhnya. Jika dirasa ada ayat Alquran dan Hadist yang berseberangan dengan pendapat mazhab, maka ayat dan hadist itulah yang berlaku. Sebagaimana dinyatakan oleh Imam Hanbal. 


Hal serupa juga disampaikan oleh Syaikh Izzuddin Bin Abdi As-Salam dalam halaman 107,



Demikian pula dengan pendapat Ibnu Hazm, 

Dalam hal ini, Syah Ad-Dahlawi menyatakan bahwa pendapat Ibnu Hazm lebih tepat ditujukan kepada orang yang sudah mampu berijtihad. Agar mereka tidak menutup mata jika terjadi kesalahan pada pendapat Ahli fiqih yang mereka jadikan rujukan. Adapun untuk masyarakat awam yang tidak memiliki keilmuan yang kuat terkait Alquran, hadist ataupun Fiqih, maka kita perlu mengikuti hukim-hukum yang sudah disepakati ulama terutama terkait perkara-perkara yang muncul di zaman sekarang.

Keenam, perbedaan mazhab antara sesama muslim jangan lantas menimbulkan perpecahan. Seperti halnya apa yang dicontohkan Harun Ar Rasyid, 


Demikian juga dicontohkan oleh Imam Syafii. Sekalipun berbeda pendapat dengan Abu Hanifah, tapi beliau tetap menghormatinya. 

Itulah yang harusnya kita contoh sebagai sesama muslim, karena sekalipun ulama terdahulu berbeda pendapat dalam perkara tertentu, mereka tetap berusaha saling menghargai dan mencontohkan kepada kita bahwa perbedaan terhadap hal yang bukan termasuk akidah, adalah sesuatu yang tidak perlu dipertentangkan apalagi sampai menimbulkan perpecahan. 

Itulah beberapa hal penting yang aku pelajari dari buku ini. Walaupun pembahasan yang berat dan hampir membuatku menyerah, tapi sungguh aku mendapatkan banyak pelajaran darinya. 

Apa yang kutulis disini, hanya sedikit bagian saja dari buku ini. Jadi jika ingin mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh, silakan baca langsung saja bukunya ya. 

Semoga bermanfaat. 




View Post


Saya mau membuat resensi atau ulasan tentang buku berjudul "Saat Berharga Untuk Anak Kita" yang ditulis oleh Mohammad Fauzil Adhim. Ini buku lama sih. Tapi baru kali ini selesai dibaca (duh lu kemana aja wennn). Di rumah juga masih ada 2 buku Fauzil Adhim yang lain dan itu juga belum selesai dibaca.

Terkait hal-hal penting dari buku ini, aku sengaja membuatnya perpoin agar lebih mudah dibaca. Semoga bermanfaat.

  • Anak-anak Shalih yang mendoakan merupakan harta berharga yang tak dapat digantikan oleh doa seribu manusia.
  • Dalam mendidik anak kita sendiri, alangkah seringnya kita melakukan bukan demi kebaikan mereka di akhirat, tetapi demi memperturutkan kebanggaan kita sendiri. Kita didik mereka agar mampu membaca di usia balita. Bukan agar mereka lebih mengenal Tuhannya, melainkan demi mendatangkan decak kagum tentang betapa hebatnya kita mendidik mereka. 
  • Kita ajarkan kepada mereka doa-doa, tanpa menumbuhkan keyakinan bahwa Allah adalah tempat bergantung dan memohon pertolongan. 
  • Kita ajarkan mereka Alquran Sehingga mereka fasih membaca di usia dini, tapi kita lupa membangkitkan kepercayaan di hari mereka untuk menjadikan Alquran sebagai pegangan hidup. 
  • Kita ajarkan mereka hafalan surat pendek, bukan untuk membekali jiwa mereka, tetapi demi memperoleh tepuk tangan meriah saat wisuda TPA. 
  • Kita gembleng mereka untuk menguasai ilmu apa saja, tanpa mempersiapkan jiwa mereka untuk mengabdi kepada Allah. 
  • Kita tidak membangkitkan jiwa mereka untuk mencintai agama dengan ilmu, iman, dan amal Shalih. Mereka menjadi orang-orang merugi meski prestasinya membuat orang lain merasa iri.
  • Alangkah sia-sia jika kita mendidik anak kecuali dengan alasan untuk menjunjung amanah Allah.
  • Allah tidak melarang kita untuk mencintai isteri, anak, tanah yang luas atau kendaraan yang bagus. Allah sendirilah yang menjadikan semua itu indah dalam pandangan kita. Allah tidak melarang kita untuk mencintai semua itu. Toh Rasulullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga memiliki kecintaan yang besar terhadap Khadijah? Bukankah Rasulullah menitikkan air mata ketika putranya meninggal dunia? Kecintaan terhadap itu semua adalah fitrah. Dan semua itu merupakan "kendaraan" yang bisa kita gunakan untuk mencapai kebaikan.
  • Saat bersama anak-anak, kita mungkin sering mengatakan kepada mereka betapa kita sangat menyayanginya. Masalahnya, apakah mereka merasa kita sayangi? Saat kita Bersama mereka, apakah mereka merasakan betul bahwa kita meluangkan waktu untuk mereka, atau hanya kebetulan saja saat ini kita Bersama mereka? Sungguh sangat berbeda antara mempunyai waktu bersama anak, dengan meluangkan waktu bersama untuk mereka. 
  • Suatu saat Ummu al-Fadhl menggendong anaknya, kemudian Rasulullah memintanya. Di gendongan Rasulullah yang mendekapnya dengan hangat, rupanya anak ini pipis. Melihat dada Rasulullah saw basah oleh kencing anaknya, Ummu Fadhl segera merenggut bayinya dengan kasar. Apa kata Rasulullah saw? Rasulullah Saw menegur dengan keras, "Pakaian yang kotor ini dapat dibersihkan dengan mudah oleh air. Tetapi apakah yang sanggup menghilangkan kekeruhan jiwa anak Ini akibat renggutanmu yang kasar?" 
  • Betapa banyak orang yang merasa hidupnya tak berarti padahal banyak orang berdecak kagum dengan kemampuannya. Ini semua terjadi karena ia tidak memiliki sense of competence. Dan salah satu faktor yang banyak menyebabkan orang tidak memiliki sense of competence adalah karena tidak adanya penerimaan diri yang baik.
  • Hormati hak anak. Dari Sahl bin Sa'ad r.a., Rasulullah saw pernah disuguhi minuman. Beliau meminumnya sedikit. Di sebelah kanan beliau ada seorang bocah dan di sebelah kiri beliau duduk para orang tua. Beliau bertanya kepada si anak, "apakah engkau rela jika minuman ini aku berikan kepada mereka? Si anak menjawab," Aku tidak rela, ya Rasul Allah, demi Allah aku tidak akan memperkenankan siapa pun merebut bagianku darimu. "Rasulullah saw meletakkan minuman itu ke tangan anak kecil tersebut (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulan :
Pada dasarnya waktu yang ada saat ini tidak akan pernah kembali. Anak-anak kita akan terus bertumbuh. Lalu pertanyaannya, apakah kita sudah memenuhi ruang hati anak-anak kita dengan kasih sayang, iman dan rasa cinta kepada Allah?

#selfreminder 
View Post

sumber : news.detik.com



Bismillah. Jadi aku mau share sedikit tentang kajian dari ustadz Badrusalam yang aku tonton via youtube disini. Kajian ini memberikan penjelasan terkait tafsir Surat Albaqarah Ayat 1-3. Aku bikinnya perpoin ya karena aku mencatat hal-hal penting yang terlintas saat sedang mendengarkan. Mudah-mudahan bermanfaat ya.

1. Terkait ayat pertama, bahwasanya kitab alquran itu menjadi petunjuk atau hidayah bagi org bertakwa. 

2. Hidayah itu memiliki 4 makna menurut ibnul qoyyim. Pertama, hidayah yg bersifat umum dan bersekutu semuanya, seluruh makhluk. Hidayah ini maksudnya bimbingan atau sesuatu yg memang memiliki maslahat untuk makhluk tersebut. Contohnya, binatang sudah tau makannya apa. Seperti halnya kambing makannya rumput dsb. Jadi sifatnya umum, mencakup seluruh makhluk. Hidayah kedua, hidayah albayan yaitu hidayah berupa penjelasan dan ilmu. Hidayah ketiga adalah hidayah taufiq, yaitu hidayah agar ia kuat dalam mengamalkan ilmu. Hidayah keempat yaitu hidayah bagi penduduk surga untuk masuk surga, dan penduduk neraka untuk masuk neraka. 

3. Amalan sholeh adalah nutrisi bagi hati

4. Pikiran tidak terjaga jika melihat hal2 yg tidak diinginkan
5. Penyakit utama yang menyebabkan alquran tidak menjadi hidayah adalah karena cinta dunia yg berlebihan sehingga dia lebih mengutamakan dunia daripada akhirat. 

6. Amalan hati jauh lebih agung dari amalan anggota badan. Amalan hati itu seperti niat, cinta, rasa takut. Kalau dzikir itu termasuk amalan lisan. Amalan anggota badan itu Agung, tapi amalan hati lebih agung. Kalau menurut Ibnul Qoyyim, berdasarkan sebuah hadist, ada salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, amalan apa yang paling utama. Rasulullah pun menjawab, pertama iman kepada Allah dan rasul, jihad fisabillillah dst. Padahal jihad itu jauh lebih berat karena bisa menghantarkan manusia pada kematian. Tapi disini Rasulullah justru menyebutkan amalan utama adalah iman kepada Allah. Itu berarti amalan hati itu lebih utama dibandingkan amalan badan. Bahkan amalan anggota badan itu dinilai dari amalan hati. Amalan hati memengaruhi besar kecilnya pahala amalan anggota badan.

7. Untuk mengimani sesuatu yang terlihat oleh mata itu mudah. Semua orang juga bisa. Tapi mengimani sesuatu yang ghaib gak semua orang bisa. Seperti halnya kita yg belum pernah bertemu rasulullah namun kita mengimani beliau, itu adalah nilai lebih bagi kita dibandingkan org2 yg beriman di zaman Rasul karena bisa mereka melihat beliau secara langsung. 
View Post
Saya mendapatkan materi ini disebuah grup whatsapp.  Biasanya materi yang penting atau berkesan  saya copy ke blog supaya ga hilang.  Silahkan dibaca..
Ustadz Menjawab
✏Ust. Farid Nu'man Hasan

Assalamu'alaikum ustadz/ah..
Apa hukum seorang perempuan pergi jauh untuk kperluan prndidikan atau penelitian tapi ia ditemani oleh temannya yg perempuan??
Syukron jazakalloh. I 07
Jawaban
---------------
Wa'alaikumussalam wa rahmatullah ... Bismillah wal Hamdulillah ..
Sebenarnya ini perkara yang debatable para ulama Islam. Walau saya sendiri lebih memilih tidak ridha jika istri dan anak saya, bepergian jauh lebih tiga hari tanpa mahram.
Hadits: _"Janganlah seorang wanita pergi kecuali dengan mahramnya"_ (HR. Bukhari - Muslim. Lu' Lu' wal Marjan No. 850)

Hadits ini menjadi pegangan para ulama yang melarang,  dan  begitu kuat atas larangannya, dan berlaku untuk semua perjalanan.

Sementara yang lain, memahami secara kontekstual.  Sebab ('Illat) larangan hadits ini adalah karena jika wanita pergi sendirian tanpa suami atau mahram pada zaman unta dan keledai menempuh gurun atau jalan-jalan sepi dikhawatirkan terjadi sesuatu atasnya atau melahirkan fitnah baginya.

Jika kondisi zaman telah berubah seperti zaman ini, di mana perjalanan sudah menggunakan kapal, pesawat, bis, yang penumpangnya puluhan bahkan ratusan. Kondisi ini tentu amat sulit bagi seseorang untuk berbuat senonoh dan melecehkan wanita, karena di depan banyak manusia. Maka, tak mengapa ia pergi sendiri dengan syarat memang keamanan telah terjamin.

Bahkan, hal ini diperkuat oleh beberapa hadits berikut.

PERTAMA. dari Adi bin Hatim, secara marfu':
_ "Hampir datang masanya wanita naik sekedup seorang diri tanpa bersama suaminya dari Hirah menuju Baitullah."_ (HR. Bukhari)
Hadits ini merupakan pujian atas kejayaan Islam pada masa yang akan datang, sehingga keadaan sangat aman bagi wanita untuk bepergian jauh seorang diri.
Hadits inilah yang dijadikan IMAM IBNU HAZM membolehkan wanita untuk keluar seorang diri tanpa mahram. Maka janganlah kita heran justru banyak ulama yang membolehkan wanita pergi seorang diri jika adalam keadaan aman dan jauh dari fitnah.

KEDUA. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa 'Aisyah dan ummahatul mukminin lainnya, pergi haji pada zaman khalifah Umar Al Faruq tanpa mahram yang mendampinginya, justru ditemani oleh Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan. Dan tak satu pun sahabat lain yang menentangnya, sehingga kebolehannya ini dianggap sebagai ijma' sahabat. (Fathul Bari, 4/445)
Sebagian ulama membolehkan seorang wanita bepergian ditemani oleh wanita lain yang tsiqah. IMAM ABU ISHAQ ASY SYAIRAZI dalam kitab Al Muhadzdzab, membenarkan pendapat BOLEHNYA seorang wanita bepergian (haji) sendiri TANPA MAHRAM jika keadaan telah aman.
Sebagian ulama madzhab Syafi'i membolehkannya pada SEMUA JENIS BEPERGIAN, bukan cuma haji. (Fathul Bari, 4/446. Al halabi)
Ini juga pendapat pilihan IMAM IBNU TAIMIYAH, sebagaimana yang dijelaskan oleh IMAM IBNU MUFLIH dalam kitab Al Furu', dia berkata: "Setiap wanita yang aman dalam perjalanan, bisa (boleh) menunaikan haji tanpa mahram. Ini juga berlaku untuk perjalanan yang ditujukan untuk kebaikan." Al Karabisi menukil bahwa IMAM SYAFI'I membolehkan pula dalam haji tathawwu' (sunah). 

Sebagian sahabatnya berkata bahwa hal ini dibolehkan dilakukan dalam haji tathawwu' dan SEMUA JENIS PERJALANAN TIDAK WAJIB seperti ziarah dan berdagang. (Al Furu', 2/236-237)
Al Atsram mengutip pendapat IMAM AHMAD BIN HAMBAL:
_"Adanya mahram tidaklah menjadi syarat dalam haji wajib bagi wanita.Dia beralasan dengan mengatakan bahwa wanita itu keluar dengan banyak wanita dan dengan manusia yang dia sendiri merasa aman di tengah-tengah mereka."_
IMAM MUHAMMAD BIN SIRIN mengatakan: _"Bahkan dengan seorang muslim pun tidak apa-apa."_
IMAM AL AUZA'I mengatakan: _"Bisa dilakukan dengan kaum yang adil dan terpercaya."_
IMAM MALIK mengatakan: _"Boleh dilakukan dengan sekelompok wanita."_
IMAM ASY SYAFI'I mengatakan: _"Bisa dilakukan dengan seorang wanita merdeka yang terpercaya." Sebagian sahabatnya berkata, hal itu dibolehkan dilakukan sendirian selama dia merasa aman."_ (Al Furu', 3/235-236)
Ini juga pendapat IMAM IBNUL ARABI dalam kitab 'Aridhah Al Ahwadzi bi Syarh Shahih At Tirmidzi.

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: _"Dalam kutipan Al Karabisi disebutkan bahwa perjalanan sendirian bisa dilakukan sepanjang jalan yang akan ditempuhnya dalam kondisi aman."

Jika perjalanan ini diterapkan dalam perjalanan haji dan umrah maka sudah sewajarnya ji ka hal itu pun diterapkan pada SEMUA JENIS PERJALANAN sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama." (Fathul Bari, 4/445) Sebab, maksud ditemaninya wanita itu oleh mahram atau suaminya adalah dalam rangka menjaganya. Dan ini semua sudah terealisir dengan amannya jalan atau adanya orang-orang terpercaya yang menemaninya baik dari kalangan wanita atau laki-laki, dan dalil-dalil sudah menunjukkan hal itu.

Ketahuilah, masalah ini adalah perkara keduniaan, yang larangannya bisa diketahui karena adanya 'illat (sebab) dan maksud (Al Hukmu yaduuru ma'a 'illatihi wujudan aw 'adaman - hukum itu berputar bersama sebabnya, baik ada atau tidaknya). Dalam konteks ini, 'illatnya adalah karena faktor bahaya. Ketika 'illat itu tidak ada maka larangan itu pun teranulir. Berbeda dengan masalah ibadah khusus (ta'abudiyah), yang dalam menjalankannya seorang muslim harus tunduk tanpa melihat pada sebab atau maksudnya, sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syathibi.

Namun, pendapat yang lebih hati-hati adalah sebaiknya ada mahram. Walau tanpa mahram, dgn syarat aman dan tidak ada fitnah, banyak diikuti para imam kaum muslimin.
Ibnu 'Aun berkata, bahwa Imam Muhammad bin Sirin, orang yang ketat untuk dirinya, tetapi memberikan kelonggaran bagi org lain. Saya pribadi dlm banyak hal seperti ini, dalam masalah yang masih debatable, ketat untuk diri sendiri tp memberikan keringanan bagi org lain.

Ada pun sikap keras sebagian orang yang mengingkari kenyataan adanya perselisihan fiqih seperti ini dan semisalnya, hanya menunjukkan satu hakikat kekurangan dalam memahami fiqih itu sendiri. Sebagaimana nasihat para ulama: _"Barang siapa yang tidak mengetahui perbedaan dalam fiqih, maka dia belum mencium aroma fiqih."_
Demikian. Wallahu A'lam

Dipersembahkan Oleh:
www.iman-manis.com
View Post

Menemukan artikel ini dari grup tholabul ilmy. Masya Allah..  Sebaik-baik teladan memang hanyalah dari orang-orang shalih. Di saat zaman sekarang kita lebih suka menasihati orang di depan orang banyak..  Belum lagi media sosial seakan menghilangkan sekat antara ruang publik dan privasi. Kita bisa seenaknya menasihati orang lewat komen2 dimedia sosialnya.. Padahal bisa saja itu malah membuatnya merasa dipermalukan.
Jika nasihat disampaikan dengan cara yang baik dan pada tempat yang tepat, insya Allah orang yang dinasihati pun akan lebih mudah menerima kebenaran yang kita sampaikan.

Perkataan Imam Asy Syafi’i:

“Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat ditengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; Maka maafkan jika hatiku berontak…”

#ntms
-------------------------

Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita:

Suatu hari, Saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa..?”, tanyaku.

“Ahmad”, jawab orang diluar pelan.

“Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.

“Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.

Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.

Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya.

Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

“Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?”

“Maafkan aku ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.”

Aku terkejut. Sejak siang..? “Apakah itu wahai guru?”

“Mmmm begini…” suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.

“Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan.

Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk..!”

Aku tercekat, tak mampu berkata…

Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati.

Masya Allah… Inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat.

Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku.

Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku.

Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga.

Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Teringat perkataan Imam Asy Syafi’i:

“Nasehati aku saat sendiri, jangan di saat ramai dan banyak saksi. Sebab nasehat ditengah khalayak, terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak; Maka maafkan jika hatiku berontak…”

View Post
Ini adalah review acara inspirasi iman di tvri. Acaranya bagus lho... bisa jadi pelajaran dan reminder buat diri sendiri. Selama ini sih cuma lihat via youtube... belum pernah liat langsung karena acaranya emang agak malam...
Kali ini bintang tamunya Pak indra Noveldi, seorang konsultan relationship dan pernikahan.
Sayangnya, ga terlalu banyak rangkuman yang bisa disampaikan karena video di youtubenya error di tengah acara... huhu...

Temanya tentang rumah tanggaku surgaku.. 





pict from http://birdingbid.files.wordpress.com

Banyak orang yang memulai sesuatu hanya didasarkan pada keyakinan.. Padahal keyakinan saja tidaklah cukup. Harus ada usaha dan persiapan. Banyak orang yang menikah, lalu memutuskan berpisah di tengah jalan... atau yang pernikahannya langgeng tapi sebenarnya tidak bahagia... ya, ingat.. langgeng itu belum tentu bahagia... Maka, jika ada teman kita menikah, jangan hanya sekedar mendoakan supaya mereka langgeng... doakan pula agar mereka bahagia...

Setiap orang yang ingin menikah, harus punya ilmu. Jangan hanya sekedar memikirkan romantisme sesaat... jangan hanya sekedar mendengar dongeng-dongeng pernikahan, bahwa setelah menikah hidup akan selalu bahagia.. tidak. Kebahagiaan itu harus diusahakan.. bukan datang dengan sendirinya. Pernikahan perlu perjuangan... perjuangan untuk terus mencintai pasangan kita... Selalu recharge rasa cinta kita kepada pasangan. Mawaddah harus diciptakan ulang... Jika deg deg syer di awal pernikahan tidak diciptakan lagi, maka pernikahan akan terasa hambar... Tidak perlu merasa malu atau pun gengsi... Pegang tangan pasangan kita dengan lembut dan mata penuh cinta... Ciptakan suasana yang dulu pernah membuat hati ini bergetar ketika bersamanya... Sesekali jalani waktu hanya berdua dengan pasangan. Ingat, kehidupan nikah jangan cuma sekedar dijalani, tapi harus terus diusahakan romantismenya...

Hubungan antara pasangan juga harus bersifat timbal balik... Harus saling memberi... jangan malah saling meminta. Jangan cuma menuntut pasangan harus memberikan kebahagiaan, ini dan itu... 
Saling memberilah satu sama lain...

Bagi para suami yang bekerja, saat di rumah haruslah memberikan energi terbaik. Bukan malah energi sisa. Dan jangan berpikir bahwa kalau sudah dirumah harusnya pasangan memberikan kebahagiaan dsb, karena dalam relationship, konsepnya kitalah yang harus banyak memberi... bukan malah ngarepnya "dikasih kebahagiaan". Jika pasangan bisa memahami dan menjalani konsep ini, maka pasangan pun pasti akan memberikan apa yang kita inginkan tanpa kita minta sekalipun. 




Baca juga:
Bisikan syaitan 
View Post