Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan




Review ini sebenarnya sudah lama saya tulis tapi saya baru update kembali. Biasanya saya suka mereward diri sendiri dengan menonton film atau drama. Saya lagi senang-senangnya melihat film atau drama jadul yang pernah saya tonton waktu kecil karena memberikan kesan tersendiri untuk saya.

Salah satunya adalah film ini. Film ini berjudul Edward Scissorhands dan pertama kali dirilis tahun 1990 (walaupun saya tak terlalu ingat kapan film ini mulai diputar di televisi Indonesia). Ini bukan pertama kalinya saya menontonnya. Saya pernah menonton film ini sewaktu saya masih SD sebenarnya. Sayangnya waktu itu saya tidak bisa nonton sampai habis, karena besoknya harus sekolah dan kebetulan saat itu filmnya dipotong oleh siaran "Dunia dalam berita" di TVRI (hayoo, anak-anak 90an pasti tahu deh dengan siaran berita ini, hihi).

Saya masih ingat sekali waktu itu filmnya ditayangkan di layar emas RCTI, hari Kamis malam. Sebenarnya saya pun tidak begitu ingat saat itu ceritanya tentang apa, bahkan nama tokoh utamanya pun saya lupa. Yang jelas ada beberapa scene menarik yang tak bisa saya lupakan yaitu tentang seorang laki-laki dengan tangan gunting, sebuah taman-taman indah, dan adegan ketika laki-laki tersebut memecahkan tempat tidur yang berisi air (entah kenapa saya selalu teringat bagian tempat tidur ini, berkesan sekali buat saya karena saya baru pertama kali melihat tempat tidur berisi air.. haha).

Ketika saya sudah dewasa, saya pun mencari-cari film ini karena saya masih penasaran dengan ceritanya. Masalahnya saya gak tahu judulnya sehingga saya sempat kesulitan juga waktu itu mencari tahu tentang film ini. 

Saya mulai tahu judul film ini ketika ada liputan tentang Johny Depp. Disitu ditampakkan tentang tokoh-tokoh yang pernah dia mainkan dalam film, lalu terlihatlah sosok "Edward" ini. Omg! Ini dia filmnya! Saat itu saya benar-benar baru tahu kalau yang memerankannya adalah Johny Depp! Saat dia menjadi tokoh ini, dia menggunakan make up yang membuatnya berbeda dengan wajah aslinya.

Saya lalu mencari film ini di internet. Memang tak mudah ya menemukan film jadul. Sampai suatu ketika saya menemukan sebuah situs film streaming yang menyediakan film ini. Saya pun langsung nonton karena ini adalah film yang belum terselesaikan buat saya! Film yang waktu itu masih ingin saya tonton saat masih kecil! Film yang sangat berkesan karena ada tempat tidur airnya (haha...). Dan saya pun tak sabar ingin tahu lebih lanjut tentang cerita film ini.

Film Edward Scissorhands ternyata diproduseri oleh Tim Burton dan rekannya. Saya pernah menonton dua karya Tim Burton sebelumnya dan satu kata dari saya untuk karyanya. SURAM. Saya tidak bilang karyanya buruk, tetapi Tim burton sering menceritakan sisi gelap tentang suatu hal dengan sudut pandang jenaka. Jadi lebih tepatnya sih bukan hanya suram ya, tapi SURAM, MENARIK dan JENAKA. Menurut saya ketiga kata tersebut lumayan mencerminkan karya Burton, termasuk pada karyanya yang  satu ini.

Berkisah tentang apa?


Gambar : duniasinema.com

Jadiii... Film ini berkisah tentang seorang ilmuwan yang  membuat penemuan yang belum sempurna. Ia menciptakan seorang laki-laki yang belum memiliki tangan seutuhnya. Ilmuwan itu memberi nama ciptaannya, Edward dan ia pun menyayangi Edward seperti keluarga. Sayangnya sebelum ilmuwan tersebut bermaksud mengganti tangan Edward, sang ilmuwan itu keburu meninggal dunia. Semenjak itulah, Edward pun memiliki tangan gunting untuk selamanya. Ia pun tinggal sebatang kara di sebuah kastil tua yang dianggap angker oleh penduduk sekitar.

Hingga pada suatu hari, Edward scissorhands bertemu seorang ibu-ibu penjual make-up  bernama Peg Boggs. Si ibu ini  agak nekad dan kalau dipikir pikir sedikit "gila" karena berani masuk kastil itu sendirian hanya karena ingin menjual make up. Namun, "kegilaan" ibu ini justru membuka kehidupan baru bagi Edward si tangan gunting. Ia berkenalan dengan Peg dan Peg pun (yang ternyata baik hati itu) mengajak Edward tinggal di rumahnya. Inilah awal mula cerita ini sesungguhnya. 

Gambar: huffpost.com

Edward yang awalnya dianggap aneh dan ditakuti orang karena penampilan fisiknya yang sangat berbeda, pelan-pelan mulai berkenalan dan diterima oleh lingkungan barunya tersebut. Ia bahkan memiliki kemampuan mengagumkan yaitu bisa merapihkan dan membentuk rumput jadi bentuk lucu dan artistik. Ia juga dipercaya para ibu untuk  menggunting rambut ataupun bulu hewan peliharaan dengan menakjubkan. 

Sumber gambar : intofilm.org

Banyak yang akhirnya menyukai Edward. Edward pun terlihat senang karena merasa bisa membantu banyak orang dengan keahliannya. Sekalipun tangannya tajam dan bisa memotong banyak hal, Edward tak pernah menyakiti atau melukai siapapun dengan tangannya tersebut.

Gambar: filmmisery.com

Hingga kemudian konflik mulai  terjadi. Edward Scissorhands dituduh mencuri hanya karena menuruti keinginan pacar Kim (Kim merupakan anak perempuan dari Ibu Pegg). Edward yang sebenarnya menaruh hati pada Kim terpaksa berbohong dan mengakui dia sebagai pencuri. 

Konflik pun masih terus berlanjut hingga menyebabkan Edward semakin terpojok. Ia bahkan terpaksa melukai orang yang disayanginya dengan tak sengaja. Edward akhirnya dianggap monster dan dikucilkan warga sehingga Edward pun tak tahan dan ia terpaksa kembali ke kastilnya. Akhir cerita film ini sebenarnya tidak selesai sampai disitu dan saya pun tidak akan menceritakan lebih lanjut jadi kalau penasaran nonton aja sendiri.. hehe.. 

Insight Film

Ada beberapa hal penting yang ingin saya sampaikan terkait film ini dan mungkin juga penting untuk dipahami para orang tua. Pertamalingkungan itu memang sangat mempengaruhi hidup dan karakter seseorang. Saya tak habis pikir bagaimana jika seandainya orang yang pertama kali menemukan Edward adalah orang jahat, bukan Ibu Peg Boggs yang notabene orang baik hati? 

Bagaimana seandainya Edward dibuat oleh ilmuwan psikopat, bukan ilmuwan baik yang menyayangi Edward? Saya rasa Edward akan tumbuh menjadi monster yang sangat mengerikan. Bayangkan, sekali sentuh saja orang-orang bisa terluka karena tangan guntingnya yang tajam. 

Gambar : microsoft.com

Nah, di film ini Edward justru dipertemukan oleh orang-orang yang baik sehingga Edward yang polos pun menjadi sosok orang yang baik juga, sekalipun awalnya mungkin banyak orang merasa aneh dan takut saat pertama kali melihatnya. Begitu pula dengan anak-anak kita, betapa pentingnya anak-anak dikelilingi orang-orang baik yang  dapat memberikan pengaruh positif. Pada dasarnya keluarga, teman dan orang-orang disekitar anak memang bisa memengaruhi karakter dan sikap anak. Jadi penting sekali bagi orang tua untuk bisa membimbing anak menemukan lingkungan dan pergaulan yang tepat.

Kedua, saya juga mengaitkan tokoh Edward pada kondisi anak berkebutuhan khusus. Edward adalah sosok yang  dianggap "berbeda" dari orang lain padahal ia adalah sosok yang spesial. Dengan "keunikan" yang ia miliki, ia diberikan kepercayaan dan kesempatan oleh orang terdekatnya untuk menggali potensi dan minatnya sendiri. Jadi, sekalipun kondisinya berbeda dengan orang kebanyakan, ia tetap bisa berkembang dan menjadi orang bermanfaat bagi sekitarnya. 

Seperti halnya dengan Edward si tangan gunting, ternyata ia memiliki bakat seni yang mengagumkan. Ia bisa membua karya yang indah dengan mengubah rumput dan pohon menjadi berbagai bentuk.  Saya pikir mungkin itulah yang harus kita lakukan terhadap anak-anak , baik itu ABK atau bukan. Seharusnya mereka juga diberikan kesempatan dan peluang untuk menggali kemampuan dan minat mereka sehingga mereka juga bisa berkembang dan bisa mandiri. 

Contohnya saja dalam kasus ABK, saya pernah membaca sebuah artikel tentang seorang perempuan down syndrome. Sekalipun dengan keterbatasan yang ia miliki ternyata ia tetap bisa sukses dengan menjalani profesinya sebagai seorang designer. Hasil karyanya pun juga sangat menakjubkan. Ketika melihat foto karyanya, saya pikir orang yang dianggap normal saja belum tentu bisa melakukan apa yang ia lakukan. 

Intinya, setiap anak itu fitrahnya baik. Setiap anak manusia  itu pasti punya kelebihan apapun kondisinya. Oleh sebab itu, keluarga dan lingkungan terdekat haruslah menjadi orang pertama yang percaya pada kemampuan mereka. Orang tua hendaklah menjadi supporter bagi anak-anak agar anak-anak kita bisa berkembang sesuai fitrah kebaikannya supaya kelak mereka bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain *self reminder.

My Rating

Saya beri rating 7/10 untuk film Edward Scissorhands dengan segala insight yang saya dapatkan. Kalau di IMDb film ini juga mendapatkan rating cukup tinggi yaitu 7.9/10 . Bagi yang mau nonton, silahkan nonton. Oh iya, film ini menurut saya lebih baik ditonton untuk usia 20 tahun ke atas karena tetap ada adegan percintaan yang baiknya tidak diperlihatkan ke anak-anak dan remaja.

Sekian review film kali ini. Alhamdulillah rasa penasaran di masa kecil sudah tertunaikan, hihi...








View Post
Tulisan ini merupakan hasil rangkuman dari diskusi saya dengan teman-teman di komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Tema yang dibahas ini terkait dengan peranan keluarga dalam menguatkan fitnah seksualitas. 

Sebelumnya saya ingin bercerita sedikit terkait sebuah postingan tentang seks di sebuah akun media sosial. Dalam postingan tersebut, ada sebuah pertanyaan yang dilempar kepada netizen terkait "Kapan kalian mulai mengetahui tentang seks?"

Ternyata jawabannya sungguh mengejutkan. Rata-rata yang menjawab mengatakan bahwa mereka mengenal seks sejak mereka SD. Ada juga yang mengaku telah melakukan hubungan intim di saat masih remaja dan semua itu dipicu oleh keingintahuan mereka tentang seks tersebut. 

Pada awalnya, mereka sempat bertanya kepada orang tua terkait topik itu, tapi tanggapan ortu mereka ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Ada yang marah, ada yang tidak mau membahas dll. Akibatnya apa? karena merasa tidak puas dengan reaksi orang tua, anak-anak itu malah mencari informasi sendiri lewat internet. Masalahnya di internet pun mereka jusru malah menemukan sumber yang salah, sehingga keingintahuan mereka itu justru mengarah ke hal negatif.

Ada juga remaja perempuan yang menjual foto dirinya dan melakukan video tak senonoh. Orang tua mereka tak pernah tahu akan hal itu. Mereka hanya tahu anak-anaknya adalah anak baik dan  penurut padahal kenyataannya banyak hal  yang mereka tutup-tutupi dihadapan ortu mereka sendiri.

Ketika saya membaca postingan tersebut, saya menyadari betapa pentingnya keterbukaan dan bonding yang kuat antara orang tua dan anak. Hal itu penting ditumbuhkan supaya anak-anak tidak segan menceritakan tentang apa yang mereka rasakan dan yang ingin mereka ketahui. Orang tua juga semestinya tidak langsung menjudge, meremehkan atau menghindar, agar anak-anak merasa nyaman ketika mereka ingin bertanya sesuatu. 

Gambar: istockphoto.com

Salah satu poin penting juga yang kadang luput diajarkan oleh orang tua adalah orang tua lupa mengajarkan sejak dini tentang sex education. Sex education ini penting untuk diajarkan  supaya mereka tahu batasan-batasan atau hal-hal yang perlu dihindari atau diketahui terhadap tubuh mereka sendiri. 

Nah, diskusi yang saya lakukan bersama teman-teman saya tersebut adalah membahas tentang fitrah seksualitas dalam rangka sex education pada anak-anak sejak dini. Menurut saya kedua topik itu berkaitan karena pendidikan seks itu melingkupi hal yang luas. Jika membahas fitrah seksualitas maka akan beririsan dengan sex education, karena anak-anak akan diajari tentang aurat dan batasan-batasan dalam pergaulan dan penguatan peran gender. Berikut ini adalah beberapa poin penting yang bisa saya bagikan. Mudah-mudahan bermanfaat.

Apa itu Fitrah Seksualitas?

Gambar: istockphoto.com

Menurut Ustadz Harry Santosa Alm., Fitrah seksualitas itu terkait dengan bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai laki-laki sejati atau sebagai perempuan sejati. Untuk menguatkan fitrah seksualitas pada anak, sangat dibutuhkan peranan dan ikatan dengan ayah dan ibunya.

Berbeda dengan istilah sosialisasi gender, menurut lembaga koalisi perempuan, sosialisasi gender adalah suatu proses belajar menjadi perempuan dan menjadi laki-laki dalam pengertian: apa saja peran utama perempuan dan peran utama laki-laki di dalam keluarga dan di dalam komunitas; bagaimana perempuan dan laki-laki harus berperilaku. 


Seberapa Penting Fitrah Seksualitas Perlu Dibangkitkan?

Jawabannya adalah sangat penting, karena jika fitrah ini tidak dikuatkan sejak kecil, maka bisa terjadi penyimpangan yang membuat anak mengalami gangguan kejiwaan, penyimpangan orientasi seksual, dan masalah terhadap lingkungan sosialnya. Namun ada beberapa tantangan yang menyebabkan fitrah seksualitas ini tidak tersosialisasikan dengan baik yaitu:

1. Pemahaman Orang Tua yang Masih Rendah

Orang tua kurang memahami urgensi tentang penguatan fitrah seksualitas sehingga isu ini tidak pernah diperkenalkan kepada anak di rumah. Selain itu, kurang terbentuknya bonding dengan anak menyebabkan adanya sekat yang membuat anak maupun orang tua merasa enggan untuk membahas ini lebih lanjut. 

Hal ini bisa menyebabkan peran gender yang harusnya di edukasi sejak dini tidak tersampaikan dengan baik sehingga membuat adanya missing link pada anak tentang pemahaman dirinya terkait gendernya sendiri. Padahal memberikan pemahaman dan contoh terkait peran gender ini harusnya menjadi tanggung jawab  para orang tua. 

Selain itu, para orang tua masih belum terbuka dan malu-malu dalam menyampaikan informasi terkait pendidikan seks pada anak, seolah-olah sex education hanya bicara tentang hubungan badan. Padahal pendidikan seksualitas bukan hanya bicara tentang seks semata tapi juga menyangkut hal lain yang lebih luas misalnya tentang peran gender dan anggota tubuh yang perlu dilindungi dari tindak kejahatan seksual. 

2. Teknologi yang Terus Berkembang 

Hal ini bisa kita lihat terutama dalam arus informasi yang sangat cepat dan banyak. Jika orang tua tidak memberikan bimbingan dan tidak membersamai anak dalam menyaring informasi, maka bisa jadi anak menemukan informasi yang salah terkait peran gender dan hal yang terkait topik seks edukasi. Apalagi sekarang banyak pemikiran sekuler yang keluar jalur dan membuat fitrah seksualitas menjadi abu-abu. Lalu apa yang harus dilakukan para orang tua?

Orang tua sebagai sosok terdekat dengan anak harus bisa membangun bonding (lagi-lagi bonding ya) dengan anak sejak dini. Jika bonding sudah terbangun maka akan lebih mudah mengajarkan anak untuk belajar tentang peran gendernya. Misalnya tentang bagaimana bersikap layaknya laki-laki dan perempuan. Sebagai contoh, ayah bisa mengajak anak laki-lakinya sholat jumat atau sholat berjamaah di masjid. Ibu pun mulai mengajarkan anak perempuannya pelan-pelan tentang aurat, cara bersikap  dsb. 

Sejak anak masih kecil, orang tua harus bisa membangun bonding antara orang tua dan anak baik a yah dan ibu. Ketika kecil, biasanya anak-anak  lebih dekat dengan ibu. Nah, alangkah baiknya keterlibatan ayah juga jangan dilupakan. Terutama anak laki-laki harus punya kedekatan dengan ayah karena anak belajar peran jenis kelamin dari ayah mereka. 

Dengan dekat pada ayahnya, anak laki-laki belajar tentang peran gender laki-laki. Dari ayah, anak bisa  belajar aspek maskulinitas seperti kemampuan berpikir logis, berani, menghadapi tantangan dll. Anak laki-laki pun juga harus dekat dengan ibu terutama ketika anak sudah memasuki usia 10-14 th. Dari ibu anak laki-laki bisa belajar tentang kemampuan  belajar empati, bersikap penyayang, dll. Kemampuan ini sangat diperlukan oleh anak laki-laki ketika ia kelak menjalankan peran dirinya sebagai seorang suami dan seorang ayah. 

Gambar: pexels.com/Katie E

Seorang ayah juga harus dekat dengan anak perempuan, karena ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Terkadang sosok ayah menjadi acuan bagi anak perempuan dalam memiliki pasangan hidupnya. Dan kalau anak perempuan memiliki kedekatan dengan ayahnya, maka kemungkinan dia akan tumbuh menjadi perempuan yang penuh percaya diri dan berprestasi. Ia kelak juga tidak akan mudah melakukan perbuatan menyimpang apalagi mudah terbujuk rayuan laki-laki.

Itulah sebabnya kenapa memperkuat bonding antara ortu dan anak itu sangat penting. Kedekatan anak dengan orang tua akan menjadi pijakan awal bagi anak dalam mengenali dirinya sendiri dan dalam membangun hubungan yang baik dengan ortu mereka hingga mereka dewasa. 

Selain itu orang tua bisa berperan aktif dalam memberikan informasi di media sosial tentang pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas pada anak sehingga informasi positif makin tersebar dan makin banyak orang tua yang sadar tentang urgensi menguatkan peran gender pada anak-anak. Orang tua juga bisa bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mau memberikan pengawasan  dan  penyuluhan  terkait peran gender pada anak didiknya. 


Kesimpulan 

Gambar: istockphoto.com

Tugas  orang tua itu tidak pernah bisa tergantikan dalam mentransfer dan mengenalkan nilai dan keyakinan pada anak. Termasuk dalam hal fitrah seksualitas ini. Saya percaya bahwa jika orang tua tidak mengenalkan fitrah seksualitas dengan benar, maka akan terjadi kesalahan identifikasi diri dalam diri anak yang berakibat pada penyimpangan orientasi seksual, gangguan jiwa dan penyimpangan dalam interaksi sosial dan agama. Mudah-mudahan para orang tua dan termasuk saya sendiri memahami urgensi pengenalan fitrah anak ini agar kedepannya kita bisa menciptakan generasi yang lebih baik, berprestasi dan bermartabat. Aamiin.



View Post
Penulis : Ratna Dewi Idrus
Judul : Agar Anak Kita Seperti Nabi Ismail
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Koleksi : Ipusnas




Buku ini berisi beberapa hal tentang bagaimana caranya agar kita bisa memiliki anak yang sholeh, sabar dan taat seperti Nabi Ismail. Poin-poinnya juga diisi dengan beberapa kisah para Nabi, sahabat dan tokoh inspiratif saat ini.

Saya akan mencoba menjabarkan beberapa poinnya saja. Jika ingin membaca lebih lengkap, tentu kalian bisa membaca sendiri bukunya. Berikut ini adalah beberapa poin yang ada dalam buku tersebut. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untuk diri sendiri.

Memahami bahwa Anak Bukan Tanda Cinta Allah

Sebenarnya cukup tertegun ketika membaca paragraf pembuka dalam buku ini. Di jaman jahiliah, orang-orang dahulu banyak yang berbangga dengan banyaknya harta dan anak-anak mereka, padahal anak sebenarnya hak preoregatif dari Allah. 

Ada orang yang dikaruniai anak, ada yang tidak. Ada yang diberikan anak perempuan, ada pula yang laki-laki. Ada yang diberi jumlah anak yang banyak, ada pula yang sedikit. Semuanya sama saja. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana agar kita menjadikan setiap kondisi tersebut sebagai jalan untuk mengantarkan kita pada ketaatan kepada Allah.

Lagipula jika anak adalah bukti tanda cinta, tentulah Nabi Ibrahim dikaruniai anak yang banyak, sementara kita tahu bahwa Nabi Ibrahim baru mendapatkan anak ketika usianya telah menua. Tentu yang kita pelajari dari beliau bukanlah tentang sosok anak, melainkan bagaimana  ia bisa bersabar dengan segala ketentuan dan tidak berputus asa pada rahmat Allah.. Masya Allah.


Anak dan Harta adalah Fitnah (Ujian)

Pada dasarnya anak dan harta yang kita miliki bisa saja melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk kita mendidik keluarga menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Jangan sampai keberadaan keluarga justru membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

Jangan Suka Mengeluh

Terutama pada isteri (note to myself), sebaiknya hindari perangai suka mengeluh. Nabi Ibrahim pernah meminta Nabi Ismail untuk menceraikan isterinya disebabkan sang isteri mengeluh dihadapannya yang saat itu berpura-pura datang menjadi tamu di rumahnya saat Nabi Ismail sedang tidak di rumah. Belajarlah untuk bersabar dan bersyukur dengan pemberian suami *ntms.

Ajarkan Anak pada Ketauhidan dan Keimanan

Peristiwa besar yang terjadi ketika Nabi Ibrahim diminta menyembelih anak yang is sudah tunggu berpuluh-puluh tahun, cukuplah menjadi bukti bahwa betapa taat dan patuhnya Nabi Ibrahim kepada perintah Allah. Ketaatan tersebut bahkan juga dimiliki oleh Nabi Ismail yang dengan ikhlas merelakan dirinya untuk disembelih. Ketika Nabi Ibrahim sudah mendekati ajalnya, bukan persoalan harta dan dunia yang ia tanyakan kepada anak-anaknya, tapi sebuah pertanyaan besar yang menyiratkan betapa sholih dan betapa pedulinya Nabi Ibrahim pada anak keturunannya,
"Siapakah yang engkau sembah sepeninggalku, Wahai Anak Cucuku?"
Didikan yang kita berikan kepada anak kita haruslah berkesinambungan agar keimanan dan ketauhidan itu terus terjaga hingga ke anak keturunan kita. Pun dengan Nabi Ibrahim, ia pun menginginkan agar anak cucunya bisa memiliki penghambaan yang sama agar bisa memiliki iman yang kuat dan teguh dengan harapan semoga kelak semua bisa berkumpul kembali di dalam surgaNya.

Berdoa kepada Allah

Jangan pernah putus berdoa agar Allah mau menganugerahkan keturunan yang sholih kepada kita. Berdoalah dengan penuh pengharapan, sebagaimana sikap yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, iringi dengan usaha, jangan tergesa-gesa untuk segera melihat hasilnya, bersabar dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah. Insya Allah akan dikabulkan walaupun untuk realisasinya itu tetap bergantung kepada ketentuan Allah.


Terima Anak dengan Penerimaan yang Baik

Anak-anak memiliki jiwa yang sensitif. Ia bisa merasakan apakah kehadiran mereka diterima ataukah ditolak oleh orang tua.Oleh karena itu, sejak anak masih dalam kandungan, seorang ibu hendaklah menerima kehadiran anak agar anak bisa tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi berjiwa tenang.

Yakin kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah orang yang lembut dan santun. Ia juga penyayang dan memiliki jiwa yang halus. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi, tentu tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat itu. Pun juga dengan Siti Hajar yang sempat bertanya-tanya akan kepergan suaminya, Namun, ketaatannya kepada Allah membuatnya yakin bahwa Allah tak akan mungkin disia-siakan oleh Rabbnya. Oleh karena itu, berbekal keyakinan dan ketaatan kepada Allah disertai usaha Hajar yang terus mendaki bukit sebanyak 7 kali untuk mencari air, ternyata air yang ia cari justru ada dibawah kaki kecil Ismail. Kesabaran, keyakinan kepada Allah dan kesungguhan Siti Hajar telah memberikan pembelajaran yang akan terus diingat oleh manusia sepanjang zaman.

Bertutur Kata yang Baik

"... ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (Qs. Al-baqarah:83)
Terkadang ketika tingkah anak tidak menyenangkan hati, maka hati kita juga tergoda untuk marah dan mengomeli anak. Tapi coba kita renungkan, ketika kita memarahi anak, akan muncul perasaan tak enak, tak nyaman, merasa bersalah atau mungkin kita merasa hati ini seakan mengeras. Pada saat kita menyadari itu, minta ampunlah kepada Allah dan perbanyak ibadah sunnah. Minta maaf juga pada anak karena barangkali kemarahan kita telah melukai hatinya. Seperti yang disabdakan Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam ketika ada seorang perempuan yang menarik bayinya dengan keras karena melihatnya mengencingi Rasulullah, Rasulullah pun berkata,

"Pakaian ini bisa kubersihkan, namun bisakah membersihkan kekeruhan jiwa anakmu itu?"
Pada dasarnya, tidak ada pendidikan yang berlandaskan kemarahan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam,

"Dua sifat yang dicintai Allah subhana wata'ala, yakni penyabar dan tidak pemarah."
Bagi seorang ibu, terkadang yang membuat ia mudah marah kepada anak adalah karena kondisinya yang lelah. Oleh karena itu, penting untuk menenangkan hati dan berempati pada kondisi anak agar kita bisa memahami alasan kenapa ia bertingkah tak menyenangkan dihadapan kita.

"Hormatilah anakmu dan baguskanlah sikapmu dalam mengajarinya," (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)

Itulah beberapa poin penting yang saya dapatkan dari buku ini. Sebenarnya ada banyak sekali poin-poin yang bisa diambil dari pelajaran. Salah satu yang jadi reminder juga buat diri sendiri adalah ketika penulis menceritakan kisah seorang Dahlan Iskan yang mendeskripsikan sosok ibunya yang jarang sekali marah dan lebih sering tersenyum kepada anak. Hal itu menjadi tamparan untuk diri sendiri yang selama ini masih suka marah dan menunjukkan wajah masam kepada anak, padahal harusnya seorang ibu bisa menjadi penyejuk hati dan pembawa kenyamanan bagi anak-anak di rumah, bukan malah sebaliknya.

Intinya ini buku yang cukup bagus untuk jadi referensi para orang tua dalam mendidik anak, walaupun beberapa poin dan penjelasannnya sudah sering saya dengar sebelumnya. Mendidik anak adalah sesuatu yang berat, bahkan lebih berat dari rasa sakitnya melahirkan. Oleh karena itu, penting untuk terus mengingatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita seringkali lupa ketika melakukan kesalahan-kesalahan sebagai orang tua. Membaca buku seperti ini dapat menjadi pengingat kembali terutama ketika kita sudah mulai lalai dan mulai lemah dalam membimbing anak-anak di rumah.


(karena menulis sejatinya adalah untuk mengingatkan diri sendiri)

View Post
"Buk, Ibu sayang gak sama Nayra?" 
Sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkanku.  Anak pertamaku Nayra memandangku sejenak, berharap aku segera memberikan jawaban. Saat itu aku sedang menemani ia bermain bersama adiknya. Aku pun langsung menjawab, 
"Iyalah.. Ibu sayang sama Nayra," ujarku. 
"Kenapa Nayra?" Aku pun balik bertanya. 
"Nggak apa-apa," jawabnya sambil nyengir. Kuperhatikan raut wajahnya beberapa saat, matanya terlihat berbinar. Setelah mendengar jawabanku itu, ia pun berbalik dan melanjutkan permainannya lagi.

Ia adalah anak pertamaku, Nayra. Saat itu usianya lima tahun. Aku tak tahu kenapa ia mengajukan pertanyaan itu, tapi yang jelas pasti ada alasan dibalik itu semua. Pertanyaan itu tiba-tiba membawa memoriku kembali kepada masa tiga tahun lalu, ketika aku baru saja melahirkan anak keduaku. 

Nayra, yang selama lebih dari tiga tahun telah menjadi anak satu-satunya di rumah, secara resmi akhirnya berstatus menjadi seorang kakak. Untuk pertama kalinya pula pada saat itu aku tak menemaninya tidur di malam hari karena aku harus ke rumah sakit untuk melahirkan. Pada malam itu, Nayra tak bisa tidur hingga jam 3 pagi begitu setidaknya kata Ibu mertuaku kala itu.

Entah apa yang ada dalam hati sulungku saat itu. Ditinggal ayah dan ibu untuk pertama kalinya. Bermain tanpa kehadiranku seperti biasanya. Padahal sebelumnya kami banyak menghabiskan waktu bersama dan tak pernah terpisah. Pasti itu merupakan perubahan yang besar bagi dirinya.

Beberapa aktivitas bersama Nayra sebelum adik bayi lahir :') (Foto dok. pribadi)

Semua sebenarnya mulai terasa berubah ketika aku tahu bahwa diriku hamil anak kedua. Saat itu Nayra masih menyusu denganku dan aku memutuskan untuk menyapihnya. Perutku tidak nyaman setiap kali menyusuinya. Saat itu Nayra memang sudah berusia dua tahun. Aku pun akhirnya berhenti menyusuinya. Nayra pun tantrum dan sedih hingga beberapa hari karena hal itu.

Kupikir itu adalah sebuah tantangan berat bagi Nayra karena harus melepaskan salah satu sumber kebahagiaan yang telah ia kenal sejak bayi. Pasti itu bukanlah hal yang mudah baginya.

Proses kehamilan sebenarnya kualami dengan menyenangkan, alhamdulillah. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja karena setiap kali aku mengabarkan bahwa ia akan punya adik, ia tampak mengangguk dan terlihat senang. Bahkan ia sering kali berkata bahwa sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir. Entah apakah benar demikian atau tidak, yang jelas saat itu kupikir ia sudah siap untuk menjadi seorang kakak.

Ketika adiknya sudah lahir dan tiba masanya ia bertemu dengan adiknya, ia hanya tersenyum malu sambil memerhatikan dari kejauhan. Raut mukanya tampak biasa saja awalnya, hingga kemudian kulihat ada perubahan pada wajahnya  ketika ia melihatku mulai menyusui adiknya. Mata itu seakan terlihat tak rela, setidaknya itulah yang kurasakan. 

Sejak saat itu aku tidak sadar bahwa ada tantangan yang harus kulalui kedepan. Tantangan yang akan menimbulkan ketegangan bagi kami berdua. Tantangan yang kuketahui pada akhirnya menjadi bentuk kecemburuan antarsaudara.

Sulungku Cemburu, Sulungku Rindu...


Kupikir memang tidak semua anak-anak suka dengan perubahan, apalagi jika perubahan itu membawa dampak besar bagi dirinya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun juga demikian kan? Dulu sebelum punya anak kedua, aku banyak menghabiskan waktu berdua dengan Nayra. Kami sering membaca buku bersama, bermain dan melakukan aktivitas belajar. Semuanya hanya berdua. 

Ketika ia punya adik, aku akui waktuku cukup berkurang untuknya. Apalagi aku memang mengurus bayi sendiri. Semua cukup menyita perhatian dan waktu. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang sudah kuprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum melahirkan anak kedua, sebenarnya aku sudah berdiskusi dengan suami, bagaimana agar Nayra tetap mendapatkan perhatian dan mengantisipasi agar ia tidak cemburu ketika nanti adiknya lahir. 

Kami berdua pun sepakat agar suamiku mau meluangkan waktu untuk Nayra, terutama ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya. Suamiku pun melakukan tugasnya sesuai dengan kesepakatan kami, walaupun pada kenyataannya ternyata Nayra masih cemburu.

Ia mencoba mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Kadang ia mengompol, padahal selama ini tidak pernah mengompol lagi. Nayra juga pernah meletakkan pasir ke badan adiknya dan pernah pula memegang adiknya yang masih bayi terlalu kencang. Nayra juga mudah sekali rewel, marah atau pun menangis. Sungguh, masa-masa awal kehadiran adik bayi adalah masa-masa yang berat bagi kami berdua.

Aku yang kadang sudah kelelahan, kadang terbawa emosi setiap Nayra mulai "bertingkah". Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin Nayra termasuk sosok yang paling lelah dengan semuanya. Ia juga kadang ikut terbangun setiap kali adiknya terbangun tengah malam. Ia juga tak mampu bercerita dan mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan benar. 

Kupikir, betapa sedih hatinya saat itu. Sedih karena melihat ibunya kurang memberi perhatian kepadanya. Sedih karena ia harus menerima kemarahan dariku, padahal harusnya akulah yang menjadi sosok utama yang bisa mengerti perasaannya. Pada saat itu pasti ia merasa sendiri. Ia tak punya tempat mengadu.

Terkadang, kalau ingat kembali dengan masa-masa itu, aku sungguh merasa bersalah. Aku merasa belum bisa menjadi ibu yang peka pada kebutuhan psikologis anakku. Tak heran, mungkin karena itu juga Nayra butuh waktu lama untuk bisa menerima kehadiran adiknya. 

Setiap kali ia menggambar, ia jarang sekali membuat gambar adiknya. Biasanya dia hanya membuat gambar dirinya, ayah dan ibu. Sebuah pertanda yang menurutku sudah cukup menggambarkan bahwa Nayra masih belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan anggota baru. Dan semua itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, hingga dua tahun lamanya.

Ibu, Peluk Sulungmu...


Aku mulai menyadari ada yang salah, ketika melihat berbagai perubahan sikap Nayra. Muncul banyak pertanyaan dalam diriku.  Kenapa ya Nayra jadi begitu? Apa penyebabnya? Apa karena kurang perhatian? Padahal selama ini ayahnya sudah banyak menghabiskan waktu bersamanya. Apa yang masih kurang? Aku pun mencoba mengamati polanya hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan. Apakah jangan-jangan Nayra sedang mencari perhatianku? 

Saat itu aku mulai mengingat-ingat, betapa banyak sekali waktu kami berkurang. Aku pun mencoba mencari solusi. Setiap hari aku pun berusaha meluangkan waktu bersamanya. Saat adiknya tidur, aku membacakan buku berdua dengannya. Hanya sebentar tapi Nayra ternyata terlihat  begitu senang dan bersemangat. 

Lama kelamaan, kebiasaan mengompol yang sempat muncul akhirnya mulai hilang. Nayra bahkan lambat laun bisa menerima kehadiran adiknya dan mulai mengajak adiknya bermain. Memang kadang aku lelah, di saat aku ingin beristirahat, ternyata aku juga harus meluangkan waktu untuk anak pertamaku. Tapi ketika melihat dia senang dan melihat kebiasaan buruknya berkurang, itu akhirnya memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Akupun tersadar bahwa Nayra sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak. Dia hanya ingin aku menyempatkan waktu bermain dengannya, meski mungkin hanya sebentar. Tapi dengan waktu yang sebentar itu, Nayra bisa tahu kalau dia merasa diutamakan olehku tanpa harus diganggu oleh adik atau siapapun. 

Hal itu juga yang sepertinya berhasil membuatnya nyaman dan merasa tak diabaikan. Ketika anak sudah merasa aman dengan segala perubahan, maka ia pun pada akhirnya akan lebih mudah menerima keberadaan adiknya. 


Pesan kepada Orang Tua


Drama kecemburuan seperti yang aku alami diatas sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan, jika orang tua bisa lebih mempersiapkan psikologis anak ketika akan menyambut kehadiran adik baru. Aku akui saat kehamilan mungkin aku kurang mempersiapkan strategi yang tepat. Walaupun saat hamil sebenarnya aku sudah mulai mengkondisikan si kakak akan kehadiran adik barunya, tapi ternyata itu belum cukup. Ada sesuatu yang lebih kompleks dari semua yang aku pikirkan. 

Aku pun berusaha merangkum hal-hal yang menurutku penting untuk dilakukan orang tua. Rangkuman ini kutulis berdasarkan pengalaman yang kualami. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan pada si kakak ketika adik bayi sudah lahir:

1. Meluangkan Waktu Berdua dengan Si Kakak
Walaupun suamiku sudah berusaha menyempatkan waktu menemani si kakak, ternyata anakku tetap butuh waktu berdua dengan ibunya. Hal itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak terpikirkan bagiku sebelumnya. Ketika anak mulai merasa ibunya sudah berkurang perhatian kepada dirinya maka ia pun bisa kecewa. Jadi, jangan lupa untuk luangkan waktu, tak hanya dengan ayah, tapi juga dengan ibu karena anak butuh sosok ayah dan ibu dalam hidupnya, bukan hanya salah satu pihak saja.

2. Yakinkan Kakak bahwa Ia akan Selalu Disayang
Kehadiran adik baru kadang membuat anak merasa dinomorduakan atau merasa diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus menguatkan posisi kakak bahwa dia akan selalu disayang dan dicintai. Ucapkan dengan perkataan, pelukan, sentuhan dan waktu yang kita luangkan untuknya. Dengan begitu, mudah-mudahan kakak tidak merasa tersingkirkan dalam keluarga akibat kehadiran adik barunya.

3. Ajak Kakak untuk Terlibat
Biasanya aku mengajak kakak untuk membantu mengurus kebutuhan adik. Entah mengambilkan popok, baju dsb. Sesuaikan dengan kemampuannya ya dan pastikan kakak dalam kondisi senang supaya dia tak merasa dipaksa ketika melakukan hal tersebut.

4. Jangan Menuntut Terlalu Banyak
Dulu aku sering secara tak sadar meminta Nayra untuk mengerti kondisi yang aku hadapi, tanpa mencoba memahami perasaannya. Aku lupa bahwa Nayra masih kecil dan ia sendiri juga merasa berat dengan situasi yang ada. Sebagai orang tua yang harusnya lebih dewasa dan lebih mengerti, maka kitalah yang harus mencoba memahami perasaannya. Jangan sampai ia merasa tak dipedulikan hingga akhirnya membuat ia membenci adiknya sendiri. 

Kadang aku pun masih menuntut kakak untuk mau mengerti, hanya karena aku merasa ia sudah lebih besar dan sudah menjadi seorang kakak. Padahal, tak ada yang lebih menyedihkan bagi hati seorang anak, selain melihat ibunya lebih peduli kepada adiknya. Tak ada yang bisa memahami betapa sedihnya seorang anak, ketika ia hanya bisa menatap punggung ibunya ketika tidur. 

Dulu aku berpikir bahwa Nayra sudah bisa mengerti kondisi yang kuhadapi. Padahal aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan anak kecil yang juga mengharapkan perhatian khusus dari ayah bundanya. Oleh karena itu, jangan menuntut sang kakak terlalu banyak karena ia juga masih kecil dan ia butuh kasih sayang yang adil dari orang tuanya.

Itulah beberapa tips yang pernah kulakukan. Sebenarnya banyak sekali tips terkait kecemburuan antarsaudara yang bisa dipelajari. Ayah Bunda bisa juga membaca di buku atau di situs internet . Baru-baru ini aku pun sempat membaca beberapa artikel dari situs www.ibupedia.com.  Disana juga ada banyak Tips Agar Kakak Tidak Cemburu Pada Adik Barunya. Tipsnya pun menurutku sangat bermanfaat dan aplikatif sehingga akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda untuk mencoba mempraktikannya. 

(Salah satu artikel di situs ibupedia.com)


Saat ini dengan bertambahnya usia, Nayra sudah tidak terlalu banyak berkonflik dengan adiknya. Aku sendiri justru melihat dia sebagai sosok yang mengayomi dan dapat menjaga adiknya. Walaupun demikian, bukan berarti masalah selesai, karena justru giliran anak kedua yang saat ini mengalami masalah yang sama dengan adiknya. Memang ya, bicara tentang tantangan menghadapi anak memang tak pernah usai, hehe..

Tiga Puteriku

Kupikir menjadi orang tua memang memaksa kita untuk belajar lebih banyak, karena tantangannya akan selalu muncul sepanjang hidup. Untungnya saat ini sebagai orang tua yang hidup di era sekarang, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang dunia parenting dengan mudah. 

Ayah dan Bunda bisa menjadikan situs Ibupedia sebagai referensi yang membahas tentang dunia parenting. Jika ada orang tua yang memiliki masalah yang sama sepertiku, disana ada beberapa artikel penting yang perlu diketahui orang tua terkait kecemburuan kakak dan adik. Selain itu, ada juga topik-topik penting lainnya, seperti kehamilan, kelahiran, balita, kesehatan, keluarga dan masih banyak lagi. Jadi Ayah dan Bunda tak perlu khawatir jika dihadapkan pada masalah-masalah seputar anak dan keluarga karena disana cukup banyak tips-tips berharga yang bisa kita aplikasikan di rumah.

Banyak topik yang bisa dipilih
(Tampilan Website ibupedia.com versi mobile)

Terakhir, ada satu kalimat yang selalu kuingat sejak dulu, bahwa ketika kita menjadi orang tua, berarti kita harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Ketika kita berhadapan dengan permasalahan anak, tentu itu membutuhkan kesabaran, wawasan dan kesungguhan. Oleh karena itu, penting sekali untuk kita terus mengasah kesabaran dan semangat belajar terkait dunia anak dan keluarga. Tetap semangat untuk semua Ayah dan Bunda, semoga kita bisa menyayangi, mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka bisa bertumbuh dengan baik dan menjadi anak yang bahagia. 

View Post

Gambar: creativitypost.com




Kreativitas pada anak katanya perlu ditumbuhkan. Padahal itu adalah pernyataan yang salah karena sesungguhnya anak-anak kita itu sudah terlahir kreatif. Tak percaya? Coba perhatikan saja, anak-anak kita seringkali menemukan caranya sendiri untuk bermain. Kertas yang dirobek-robek jadi mainan. Panci dan peralatan dapur yang kerap kali ia jadikan alat musik. Bantal dijadikan pegunungan dan kotak kardus yang ia jadikan bangunan. 

Kita sendiri sebagai orang tua kadang kalah kreatif dengan anak-anak. Mungkin itu disebabkan karena seumur hidup kita telah dibentuk oleh sistem yang membatasi kreativitas kita, sehingga kreativitas yang ada sejak kecil makin terkikis seiring pertambahan usia.

Beberapa waktu lalu (sudah lama sih sebenarnya) ada diskusi dalam komunitas saya yaitu komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Saat itu tema yang dibahas adalah tentang kreativitas. Saya akan mencoba merangkum dan mungkin sedikit menambahkan dari sudut pandang saya tentang kreativitas itu sendiri. Berikut adalah hasil rangkuman saya terkait diskusi tersebut. Semoga bermanfaat.


Apa itu kreativitas?


Gambar: http://savimontessori.com/



Sebelum menyimak penjelasan lebih lanjut. Kita harus tahu dulu, kreativitas itu apa sih? 
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk berpikir out of the box, kemampuan berkarya dan memecahkan masalah. Kalau menurut saya sendiri, kreativitas adalah suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Jika dilihat dari prosesnya, kreativitas terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1. Evolusi : Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Pada dasarnya seperti yang disinggung di awal, anak-anak itu sudah terlahir kreatif. Bahkan kita pun waktu kecil sebenarnya juga kreatif. Masih ingatkah, bagaimana anak-anak jaman dulu menjadikan batang daun pisang menjadi mainan senjata? Atau kalau dulu waktu kecil saya menjadikan batang talas menjadi boneka dengan rambutnya yang panjang. Lalu ada tanaman pegagan yang dijadikan penghembus balon busa? Saya juga ingat dulu menjadikan tempurung kelapa sebagai alat masak untuk membuat nasi goreng. Anak-anak kadang punya cara sendiri dalam memanfaatkan bahan-bahan disekitarnya menjadi barang yang menakjubkan. Namun sayangnya, seiring bertambahnya usia, justru kreativitas itu menjadi layu bahkan kadang mati. Saya sendiri pun mengakui itu. Nah, kira-kira apa penyebabnya?


Kenapa Kreativitas tidak Berkembang?



Gambar : https://mumslounge.com.au/



Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kreativitas terhambat, diantaranya adalah:

1. Orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung : Misalnya saja orang tua yang terlalu protektif sehingga membatasi anak untuk mengeksplor banyak hal. Lingkungan yang meremehkan dan tidak mendukung anak untuk menghasilkan karya. Ketika anak membuat sesuatu, lingkungan kurang memberikan apresiasi kepada anak atau  bahkan sampai mengejek.

2. Sistem sekolah yang terlalu kaku : Sistem sekolah yang terlalu kaku dan membatasi siswa untuk berkarya kadang menjadi penghambat bagi anak untuk berpikir out of the box. Salah satu contoh sederhana misalnya memberikan soal-soal atau pelajaran yang terlalu saklek dan tidak mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap sesuatu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua agar menghindari hal tersebut?

1. Memberi anak lebih banyak dorongan positif untuk berkreativitas
2. Memberikan cinta tanpa syarat
3. Menghargai keunikan anak
4. Memberikan anak kesempatan untuk menjelajah

Dalam mendampingi anak-anak, kita juga harus memiliki sudut padang kreatif karena anak-anak butuh stimulasi dari lingkungan agar bisa terus berkreativitas. Kita pun jangan cepat memberikan penilaian terhadap hasil kerja anak, karena terkadang apa yang mereka lakukan mungkin bukan seperti apa yang kita pikirkan. Misalnya, suatu ketika, anak saya yang berumur 4 tahun mencari gunting dan menggunting kertas-kertas hingga menjadi berantakan. Awalnya tentu saya kaget karena semua menjadi sangat berantakan. Kertas-kertas yang harusnya bisa dipakai untuk menulis dsb malah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Saya pun lalu bertanya kepada anak saya saat itu, kenapa ia menggunting-gunting kertas seperti itu? Ketika diselidiki, dia berkata bahwa dia sedang memiliki "projek" membuat "salju". Ia ternyata sedang berimajinasi dan menganggap kertas-kertas itu sebagi salju. 

Hal-hal semacam itulah yang kadang bisa diluar ekpektasi kita. Apa alasan anak melakukan hal tersebut? Apa yang mendasarinya? Pasti ia memiliki tujuan yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Itulah pentingnya komunikasi dan mengosongkan pikiran kita dari prasangka. Kalau kita tidak mencoba melihat dari sudut pandang anak, mungkin yang terjadi adalah kita marah karena rumah jadi berantakan dan melihat kertas-kertas yang tak dapat digunakan.  Padahal kalau dipikir ulang, mungkin itu adalah salah satu cara dia untuk bisa bermain  dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.

Oleh karena itu, belajarlah untuk membuka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja karena jaman kita berbeda dengan mereka.  Mungkin selama ini pikiran kita sebagai orang tua dibatasi oleh lingkungan yang tidak mendukung, larangan-larangan yang berlebihan, dan ketakutan dari diri kita sendiri. Maka jangan lakukan hal tersebut pada anak-anak kita agar kreativitas mereka bisa berkembang dengan baik hingga mereka dewasa.


Anak tetap Memerlukan Bimbingan Orang Tua



Gambar : https://30seconds.com/


Pada dasarnya kreativitas itu baik, hanya saja kreativitas menurut saya tetap tidak boleh kebablasan karena walaubagaimanapun tetap ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Contohnya saja, kita tetap tidak boleh membiarkan anak kita menciptakan baju transparan yang akibatnya membuat aurat kelihatan hanya karena alasan itu bagian dari kreativitas. Banyak sekali sebenarnya contoh "kreativitas" yang kebablasan dan tidak pada tempatnya di jaman sekarang ini.

Oleh karena itu, diawal tadi saya memberikan definisi sendiri terkait kreativitas bahwa kreativitas hendaklah menjadi suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dan karena saya adalah seorang muslim, maka penting juga untuk memberikan pemahaman bahwa kreativitas haruslah tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam ilmu pengetahuan, penting sekali untuk menjadi orang yang kreatif karena kreativitas itulah yang akan membantu peneliti maupun ilmuwan untuk menciptakan obat atau teknologi yang bermanfaat bagi manusia. Namun jika kreativitas tidak diiringi oleh nilai moral dan spiritual, kreativitas itu juga bisa menjadi bumerang bagi manusia. Oleh karena itu betapa pentingnya didikan dan bimbingan dari orang tua maupun orang-orang terdekat, agar sejak dini anak-anak bisa mengembangkan kreativitas untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita sebagai orang tua maupun calon orang tua dapat membimbing anak dengan baik ya. Aamiin.


#selfreminder
View Post
Hai para ibu, calon ibu ataupun pembaca yang barangkali numpang lewat.. hehe. Beberapa waktu lalu saya sempat membuat artikel tentang Tips Menghadapi Balita Dua Tahun. Nah, kali ini saya akan membuat rangkuman dari diskusi emak-emak di sebuah forum bernama FOCER. FOCER sendiri merupakan sebuah (Forum curhat emak-emak rempong) yang diinisiasi oleh Pemerhati Parenting, Ibu Kiki Barkiah. Ini diskusi menarik ya soalnya. Banyak sekali masukan dari para ibu yang saya dapatkan terhadap berbagai permasalahan anak. Oke, let's start.


Q : Ibu Emosian Saat Nyuapin Anak?
"Saya gampang emosi dan gak sabaran kalau melihat anak mulai melepeh makanan. Saya kadang harus meninggalkan anak saya karena takut marah saya makin menjadi-jadi. Apa yang harus saya lakukan?

Sumber Foto :zerotothree.org



1. Beri Anak Waktu
Ada penjelasan dari seorang dokter anak di Amerika bernama dr. Brezelton. Ia mengatakan bahwa anak balita itu kadang memang butuh waktu sampai berkali-kali agar mau mencoba makanan baru. Kalau anak masih membuang-buang makanan, berarti mungkin saat itu ia memang belum mau mencoba makanan tersebut. Jadi dibiarkan saja dulu sampai dia benar-benar mau makan. Sediakan makanan yang sehat sehingga ketika sewaktu-waktu ia lapar, ia bisa memakannya.

Seorang Ibu perlu menyadari bahwa terkadang memang ada masanya anak sulit untuk makan dan hal itu yang wajar. Teruslah belajar atau sharing dengan komunitas ibu lainnya agar bisa saling bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Jangan lupa, atur jadwal makan anak, agar saat jam makan, anak memang benar-benar dalam kondisi lapar sehingga mudah-mudahan bisa memperkecil terjadinya penolakan atau GTM (Gerakan Tutup Mulut).Tetap terus berusaha memberi makan. Ajak anak melakukan aktifitas outdoor supaya mereka gampang lapar. Dan jangan lupa ciptakan suasana menyenangkan saat makan.


2. Mereka hanya Anak Kecil
Kebanyakan orang tua menjadi emosi karena kita lupa kalau sedang berhadapan dengan anak kecil. Kita berharap anak melakukan sesuatu sesuai ekspektasi orang tua padahal seharusnya orang tua lah yang menyesuaikan diri dengan perkembangan pola pikir anak. Jadi, usahakan dibawa santai ya Maak. Jangan kebawa emosi nanti lama-lama kita bisa stress.

3. Banyak Berdzikir atau Mengingat Tuhan

Banyak-banyaklah berdzikir, karena memang Allahlah penggenggam setiap hati manusia, termasuk hati anak kita. Dia lah yang akan memudahkan segala urusan kita. Jadi jangan malu untuk berdoa agar Allah memudahkan peran kita dalam mengurusi anak-anak di rumah, termasuk dalam urusan memberi makan sekalipun. Ingatlah,
"When you feel snappy at your kids, remember it's not your children who are testing your patience. It's Allah who is testing yours. So forgive yourself, go back to Allah and pray that you build yourself up, in order to pass His test." 

Saya kurang tahu itu pernyataan siapa, yang jelas, pernyataan itu juga jadi self reminder untuk diri sendiri bahwasanya ketika anak-anak kita berperilaku kurang menyenangkan, justru saat itu barangkali Allah sedang menguji diri kita. Allah ingin melihat seberapa mampu kita bersabar dan seberapa kuat kita ingin tetap berusaha. Maka dari itu perbanyak juga berdoa dan berdzikir agar setiap urusan kita diberi kemudahan dan keberkahan. Allahumma yassir wala tu'assir, Ya Allah permudahlah dan jangan Engkau persulit.

4. Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Anak 
Contoh kasus, misalnya kita sudah capek-capek membuatkan makanan yang menarik (menurut kita) untuk anak. Lalu kita berharap makanan itu akan dihabiskan oleh anak. Pada kenyataannya, ternyata makanan yang sudah kita buat susah payah itu malah tidak dimakan. Sedih banget nggak sih? Sakitnya tuh disiniiii (sambil nunjuk dada). Saya sering merasakan hal ini dan rasanya sedih sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang saya berusaha untuk lebih selow dalam ini agar tak terlalu kecewa jika anak tak melakukan sesuatu sesuai harapan. Jika kita hanya menuntut anak, bisa-bisa kita jadi stress dan emosi. Ujung-ujungnya kita hanya marah-marah dan menyebabkan waktu makan menjadi waktu yang tak menyenangkan bagi anak. Kalau sudah begitu, maka tak ada yang diuntungkan bagi keduanya.

Jadi Bunda-bunda cantik, coba dinikmati saja momen-momen ini. Kalau masakan kita dimakan, ya alhamdulillah. Kalau tidak dimakan ya rapopo. Kan bisa kita aja yang makan (laahh.. pantesan ibu-ibu badannya banyak yang melar ya, hehe). Intinya jangan patah semangat. Teruslah mencoba walaupun memang pada akhirnya kita harus bermental baja dan tahan capek karena penolakan. Ikhlaslah. Yakini bahwa akan ada pahala dari setiap lelah dan keringat yang keluar pada saat kita memasaknya. Kalau anak tidak mau makan, ya kita saja yang makan atau bisa berikan ke suami biar tidak mubazir. Case closed ya kan? :D

5. Pakai Strategi Lain

Kalau memang anak susah makan, coba dikreasikan bentuk dan cara makannya, jadi tidak harus seperti yang biasa kita makan. Yang penting zat-zat yang dibutuhkan dalam sehari dapat masuk ke tubuh anak.

Misalnya saja telur rebus. Sambil anak bermain, telur bisa dipotong sedikit-sedikit dan kita suapkan ke mulutnya. Lama-lama bisa habis 1 butir telur lho. Bisa juga suapi selembar keju sedikit-sedikit sampai habis. 

Kalau anak tak suka nasi, bisa ganti karbohidratnya dengan roti, olahan singkong, olahan ubi, atau olahan kentang. Protein bisa diganti dengan selembar keju (sebaiknya jangan yang berpengawet ya), sebutir telur, sepotong ikan goreng, sepotong ayam goreng dsb. Sayur bisa sekalian dicampur diolahan kentang atau ubi dll. 
Kita juga bisa buat dalam bentuk perkedel, nugget, bola-bola nasi (yang didalamnya sudah ada protein, sayuran, karbohidrat). Itu pun sebenarnya sudah termasuk makan, karena yang terpenting zat-zat yang dibutuhkan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa googling dari berbagai situs parenting atau resep masakan, supaya bisa menambah kreasi dan inovasi masakan di rumah. 

6. Keep Relax
Tenanglah wahai bunda. Ini adalah bagian dari proses. You are not the only mom who feel this. You are not alone. Banyak orang tua yang mengalami kesulitan yang sama, termasuk saya pun. Masa-masa susah makan itu pasti akan ada. Tapi nanti bersiaplah seiring dengan bertambahnya usia, akan muncul masa-masa anak kita akan susah berhenti makan. Yakinlah, "badai" ini insya Allah pasti berlalu. Tenangkan hatimu karena kau sedang berada pada masa yang "menantang" ituu! Enjoy it karena masa-masa ini tak akan berlangsung lama. Jadi, tetap semangat ya Bunda.


Nah, itulah beberapa pesan untuk para orang tua di luar sana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tetap semangat! Masa GTM ini sebenarnya memang masa yang sulit. Saya pun pernah berada di titik hampir menyerah melihat anak yang susah makan. But stay relax. Jika butuh teman curhat, berdiskusilah dengan suami atau sahabat dekat. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan mental kita juga ya karena Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Take a break dan lakukan hal lain yang menyenangkan jika memang Bunda membutuhkannya. Semangat Selalu!

View Post