Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Gambar: creativitypost.com




Kreativitas pada anak katanya perlu ditumbuhkan. Padahal itu adalah pernyataan yang salah karena sesungguhnya anak-anak kita itu sudah terlahir kreatif. Tak percaya? Coba perhatikan saja, anak-anak kita seringkali menemukan caranya sendiri untuk bermain. Kertas yang dirobek-robek jadi mainan. Panci dan peralatan dapur yang kerap kali ia jadikan alat musik. Bantal dijadikan pegunungan dan kotak kardus yang ia jadikan bangunan. 

Kita sendiri sebagai orang tua kadang kalah kreatif dengan anak-anak. Mungkin itu disebabkan karena seumur hidup kita telah dibentuk oleh sistem yang membatasi kreativitas kita, sehingga kreativitas yang ada sejak kecil makin terkikis seiring pertambahan usia.

Beberapa waktu lalu (sudah lama sih sebenarnya) ada diskusi dalam komunitas saya yaitu komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Saat itu tema yang dibahas adalah tentang kreativitas. Saya akan mencoba merangkum dan mungkin sedikit menambahkan dari sudut pandang saya tentang kreativitas itu sendiri. Berikut adalah hasil rangkuman saya terkait diskusi tersebut. Semoga bermanfaat.


Apa itu kreativitas?


Gambar: http://savimontessori.com/



Sebelum menyimak penjelasan lebih lanjut. Kita harus tahu dulu, kreativitas itu apa sih? 
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk berpikir out of the box, kemampuan berkarya dan memecahkan masalah. Kalau menurut saya sendiri, kreativitas adalah suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Jika dilihat dari prosesnya, kreativitas terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1. Evolusi : Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Pada dasarnya seperti yang disinggung di awal, anak-anak itu sudah terlahir kreatif. Bahkan kita pun waktu kecil sebenarnya juga kreatif. Masih ingatkah, bagaimana anak-anak jaman dulu menjadikan batang daun pisang menjadi mainan senjata? Atau kalau dulu waktu kecil saya menjadikan batang talas menjadi boneka dengan rambutnya yang panjang. Lalu ada tanaman pegagan yang dijadikan penghembus balon busa? Saya juga ingat dulu menjadikan tempurung kelapa sebagai alat masak untuk membuat nasi goreng. Anak-anak kadang punya cara sendiri dalam memanfaatkan bahan-bahan disekitarnya menjadi barang yang menakjubkan. Namun sayangnya, seiring bertambahnya usia, justru kreativitas itu menjadi layu bahkan kadang mati. Saya sendiri pun mengakui itu. Nah, kira-kira apa penyebabnya?


Kenapa Kreativitas tidak Berkembang?



Gambar : https://mumslounge.com.au/



Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kreativitas terhambat, diantaranya adalah:

1. Orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung : Misalnya saja orang tua yang terlalu protektif sehingga membatasi anak untuk mengeksplor banyak hal. Lingkungan yang meremehkan dan tidak mendukung anak untuk menghasilkan karya. Ketika anak membuat sesuatu, lingkungan kurang memberikan apresiasi kepada anak atau  bahkan sampai mengejek.

2. Sistem sekolah yang terlalu kaku : Sistem sekolah yang terlalu kaku dan membatasi siswa untuk berkarya kadang menjadi penghambat bagi anak untuk berpikir out of the box. Salah satu contoh sederhana misalnya memberikan soal-soal atau pelajaran yang terlalu saklek dan tidak mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap sesuatu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua agar menghindari hal tersebut?

1. Memberi anak lebih banyak dorongan positif untuk berkreativitas
2. Memberikan cinta tanpa syarat
3. Menghargai keunikan anak
4. Memberikan anak kesempatan untuk menjelajah

Dalam mendampingi anak-anak, kita juga harus memiliki sudut padang kreatif karena anak-anak butuh stimulasi dari lingkungan agar bisa terus berkreativitas. Kita pun jangan cepat memberikan penilaian terhadap hasil kerja anak, karena terkadang apa yang mereka lakukan mungkin bukan seperti apa yang kita pikirkan. Misalnya, suatu ketika, anak saya yang berumur 4 tahun mencari gunting dan menggunting kertas-kertas hingga menjadi berantakan. Awalnya tentu saya kaget karena semua menjadi sangat berantakan. Kertas-kertas yang harusnya bisa dipakai untuk menulis dsb malah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Saya pun lalu bertanya kepada anak saya saat itu, kenapa ia menggunting-gunting kertas seperti itu? Ketika diselidiki, dia berkata bahwa dia sedang memiliki "projek" membuat "salju". Ia ternyata sedang berimajinasi dan menganggap kertas-kertas itu sebagi salju. 

Hal-hal semacam itulah yang kadang bisa diluar ekpektasi kita. Apa alasan anak melakukan hal tersebut? Apa yang mendasarinya? Pasti ia memiliki tujuan yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Itulah pentingnya komunikasi dan mengosongkan pikiran kita dari prasangka. Kalau kita tidak mencoba melihat dari sudut pandang anak, mungkin yang terjadi adalah kita marah karena rumah jadi berantakan dan melihat kertas-kertas yang tak dapat digunakan.  Padahal kalau dipikir ulang, mungkin itu adalah salah satu cara dia untuk bisa bermain  dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.

Oleh karena itu, belajarlah untuk membuka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja karena jaman kita berbeda dengan mereka.  Mungkin selama ini pikiran kita sebagai orang tua dibatasi oleh lingkungan yang tidak mendukung, larangan-larangan yang berlebihan, dan ketakutan dari diri kita sendiri. Maka jangan lakukan hal tersebut pada anak-anak kita agar kreativitas mereka bisa berkembang dengan baik hingga mereka dewasa.


Anak tetap Memerlukan Bimbingan Orang Tua



Gambar : https://30seconds.com/


Pada dasarnya kreativitas itu baik, hanya saja kreativitas menurut saya tetap tidak boleh kebablasan karena walaubagaimanapun tetap ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Contohnya saja, kita tetap tidak boleh membiarkan anak kita menciptakan baju transparan yang akibatnya membuat aurat kelihatan hanya karena alasan itu bagian dari kreativitas. Banyak sekali sebenarnya contoh "kreativitas" yang kebablasan dan tidak pada tempatnya di jaman sekarang ini.

Oleh karena itu, diawal tadi saya memberikan definisi sendiri terkait kreativitas bahwa kreativitas hendaklah menjadi suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dan karena saya adalah seorang muslim, maka penting juga untuk memberikan pemahaman bahwa kreativitas haruslah tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam ilmu pengetahuan, penting sekali untuk menjadi orang yang kreatif karena kreativitas itulah yang akan membantu peneliti maupun ilmuwan untuk menciptakan obat atau teknologi yang bermanfaat bagi manusia. Namun jika kreativitas tidak diiringi oleh nilai moral dan spiritual, kreativitas itu juga bisa menjadi bumerang bagi manusia. Oleh karena itu betapa pentingnya didikan dan bimbingan dari orang tua maupun orang-orang terdekat, agar sejak dini anak-anak bisa mengembangkan kreativitas untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita sebagai orang tua maupun calon orang tua dapat membimbing anak dengan baik ya. Aamiin.


#selfreminder
View Post
Hai para ibu, calon ibu ataupun pembaca yang barangkali numpang lewat.. hehe. Beberapa waktu lalu saya sempat membuat artikel tentang Tips Menghadapi Balita Dua Tahun. Nah, kali ini saya akan membuat rangkuman dari diskusi emak-emak di sebuah forum bernama FOCER. FOCER sendiri merupakan sebuah (Forum curhat emak-emak rempong) yang diinisiasi oleh Pemerhati Parenting, Ibu Kiki Barkiah. Ini diskusi menarik ya soalnya. Banyak sekali masukan dari para ibu yang saya dapatkan terhadap berbagai permasalahan anak. Oke, let's start.


Q : Ibu Emosian Saat Nyuapin Anak?
"Saya gampang emosi dan gak sabaran kalau melihat anak mulai melepeh makanan. Saya kadang harus meninggalkan anak saya karena takut marah saya makin menjadi-jadi. Apa yang harus saya lakukan?

Sumber Foto :zerotothree.org



1. Beri Anak Waktu
Ada penjelasan dari seorang dokter anak di Amerika bernama dr. Brezelton. Ia mengatakan bahwa anak balita itu kadang memang butuh waktu sampai berkali-kali agar mau mencoba makanan baru. Kalau anak masih membuang-buang makanan, berarti mungkin saat itu ia memang belum mau mencoba makanan tersebut. Jadi dibiarkan saja dulu sampai dia benar-benar mau makan. Sediakan makanan yang sehat sehingga ketika sewaktu-waktu ia lapar, ia bisa memakannya.

Seorang Ibu perlu menyadari bahwa terkadang memang ada masanya anak sulit untuk makan dan hal itu yang wajar. Teruslah belajar atau sharing dengan komunitas ibu lainnya agar bisa saling bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Jangan lupa, atur jadwal makan anak, agar saat jam makan, anak memang benar-benar dalam kondisi lapar sehingga mudah-mudahan bisa memperkecil terjadinya penolakan atau GTM (Gerakan Tutup Mulut).Tetap terus berusaha memberi makan. Ajak anak melakukan aktifitas outdoor supaya mereka gampang lapar. Dan jangan lupa ciptakan suasana menyenangkan saat makan.


2. Mereka hanya Anak Kecil
Kebanyakan orang tua menjadi emosi karena kita lupa kalau sedang berhadapan dengan anak kecil. Kita berharap anak melakukan sesuatu sesuai ekspektasi orang tua padahal seharusnya orang tua lah yang menyesuaikan diri dengan perkembangan pola pikir anak. Jadi, usahakan dibawa santai ya Maak. Jangan kebawa emosi nanti lama-lama kita bisa stress.

3. Banyak Berdzikir atau Mengingat Tuhan

Banyak-banyaklah berdzikir, karena memang Allahlah penggenggam setiap hati manusia, termasuk hati anak kita. Dia lah yang akan memudahkan segala urusan kita. Jadi jangan malu untuk berdoa agar Allah memudahkan peran kita dalam mengurusi anak-anak di rumah, termasuk dalam urusan memberi makan sekalipun. Ingatlah,
"When you feel snappy at your kids, remember it's not your children who are testing your patience. It's Allah who is testing yours. So forgive yourself, go back to Allah and pray that you build yourself up, in order to pass His test." 

Saya kurang tahu itu pernyataan siapa, yang jelas, pernyataan itu juga jadi self reminder untuk diri sendiri bahwasanya ketika anak-anak kita berperilaku kurang menyenangkan, justru saat itu barangkali Allah sedang menguji diri kita. Allah ingin melihat seberapa mampu kita bersabar dan seberapa kuat kita ingin tetap berusaha. Maka dari itu perbanyak juga berdoa dan berdzikir agar setiap urusan kita diberi kemudahan dan keberkahan. Allahumma yassir wala tu'assir, Ya Allah permudahlah dan jangan Engkau persulit.

4. Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Anak 
Contoh kasus, misalnya kita sudah capek-capek membuatkan makanan yang menarik (menurut kita) untuk anak. Lalu kita berharap makanan itu akan dihabiskan oleh anak. Pada kenyataannya, ternyata makanan yang sudah kita buat susah payah itu malah tidak dimakan. Sedih banget nggak sih? Sakitnya tuh disiniiii (sambil nunjuk dada). Saya sering merasakan hal ini dan rasanya sedih sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang saya berusaha untuk lebih selow dalam ini agar tak terlalu kecewa jika anak tak melakukan sesuatu sesuai harapan. Jika kita hanya menuntut anak, bisa-bisa kita jadi stress dan emosi. Ujung-ujungnya kita hanya marah-marah dan menyebabkan waktu makan menjadi waktu yang tak menyenangkan bagi anak. Kalau sudah begitu, maka tak ada yang diuntungkan bagi keduanya.

Jadi Bunda-bunda cantik, coba dinikmati saja momen-momen ini. Kalau masakan kita dimakan, ya alhamdulillah. Kalau tidak dimakan ya rapopo. Kan bisa kita aja yang makan (laahh.. pantesan ibu-ibu badannya banyak yang melar ya, hehe). Intinya jangan patah semangat. Teruslah mencoba walaupun memang pada akhirnya kita harus bermental baja dan tahan capek karena penolakan. Ikhlaslah. Yakini bahwa akan ada pahala dari setiap lelah dan keringat yang keluar pada saat kita memasaknya. Kalau anak tidak mau makan, ya kita saja yang makan atau bisa berikan ke suami biar tidak mubazir. Case closed ya kan? :D

5. Pakai Strategi Lain

Kalau memang anak susah makan, coba dikreasikan bentuk dan cara makannya, jadi tidak harus seperti yang biasa kita makan. Yang penting zat-zat yang dibutuhkan dalam sehari dapat masuk ke tubuh anak.

Misalnya saja telur rebus. Sambil anak bermain, telur bisa dipotong sedikit-sedikit dan kita suapkan ke mulutnya. Lama-lama bisa habis 1 butir telur lho. Bisa juga suapi selembar keju sedikit-sedikit sampai habis. 

Kalau anak tak suka nasi, bisa ganti karbohidratnya dengan roti, olahan singkong, olahan ubi, atau olahan kentang. Protein bisa diganti dengan selembar keju (sebaiknya jangan yang berpengawet ya), sebutir telur, sepotong ikan goreng, sepotong ayam goreng dsb. Sayur bisa sekalian dicampur diolahan kentang atau ubi dll. 
Kita juga bisa buat dalam bentuk perkedel, nugget, bola-bola nasi (yang didalamnya sudah ada protein, sayuran, karbohidrat). Itu pun sebenarnya sudah termasuk makan, karena yang terpenting zat-zat yang dibutuhkan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa googling dari berbagai situs parenting atau resep masakan, supaya bisa menambah kreasi dan inovasi masakan di rumah. 

6. Keep Relax
Tenanglah wahai bunda. Ini adalah bagian dari proses. You are not the only mom who feel this. You are not alone. Banyak orang tua yang mengalami kesulitan yang sama, termasuk saya pun. Masa-masa susah makan itu pasti akan ada. Tapi nanti bersiaplah seiring dengan bertambahnya usia, akan muncul masa-masa anak kita akan susah berhenti makan. Yakinlah, "badai" ini insya Allah pasti berlalu. Tenangkan hatimu karena kau sedang berada pada masa yang "menantang" ituu! Enjoy it karena masa-masa ini tak akan berlangsung lama. Jadi, tetap semangat ya Bunda.


Nah, itulah beberapa pesan untuk para orang tua di luar sana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tetap semangat! Masa GTM ini sebenarnya memang masa yang sulit. Saya pun pernah berada di titik hampir menyerah melihat anak yang susah makan. But stay relax. Jika butuh teman curhat, berdiskusilah dengan suami atau sahabat dekat. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan mental kita juga ya karena Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Take a break dan lakukan hal lain yang menyenangkan jika memang Bunda membutuhkannya. Semangat Selalu!

View Post




www.familyeducation.com
 

By the way, ini sebenarnya adalah catatan lamaku. Waktu itu aku membaca diskusi di sebuah grup Ibu-ibu dan menurutku diskusinya sangat menarik, Sayang saja kalau sampai disimpan untuk diri sendiri.

Tema pembahasan saat itu adalah tentang si "terrible twos". Hayoo, siapa disini yang memiliki anak usia dua tahun? Sebagai seorang emak-emak dari tiga orang anak, aku sendiri juga merasakan anak-anakku berada pada fase ini. Anakku yang paling kecil pun juga sekarang sudah lebih dari dua tahun.

Memasuki fase dua tahun menurutku adalah masa-masa yang menantang. Anak mulai suka melakukan sesuatu sendiri, mudah ngambek, suka bilang nggak, wkwk. Belum di tingkat parah sih, tapi kadang suka bikin emosi juga liatnya. Perkara memilih baju saja bisa membuatnya menangis. 

Kalau ditelaah dari ilmu psikologi, masa 2-3 tahun itu emang merupakan masa anak mulai belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dulu pas jadi pengajar di TPAM, aku juga sempat jadi PJ yang memegang kelompok anak dua tahun. Sungguh beda menghadapi anak usia ini dibanding kelompok lain. Kesabarannya harus lebih ekstra, hihi. Padahal saat itu aku lagi menghadapi anak orang lho. Yang ketemunya saja cuma 4 hari seminggu. Tapi udah bikin capee... xD. Nah apalagi sekarang ya, pas ngadepin anak sendiri yang tiap hari ketemu 1x24 jam.

Saat membahas soal ini, aku jadi teringat pada perkataan dosenku saat di bangku kuliah. Beliau adalah dosen Perkembangan sekaligus koordinator di tempatku bekerja, Mbak Vivi namanya.

"Yang megang kelompok kepompong (*kelompok kepompong itu adalah kelompok anak usia 2-3 tahun) harus sabar ya... karena fase anak dua tahun adalah fase dimana mereka mulai ingin bersikap mandiri, mulai ga mau dibantu orang lain, mulai ingin melakukan sesuatu atas kehendak mereka sendiri tanpa di atur-atur, ingin mencoba hal baru sekalipun itu sesuatu yang bisa berbahaya buat mereka (karena mereka emang belum tahu apa itu bahaya dan kalau di kasih tau malah marah... haiyah)". Di fase ini anak juga mulai suka tantrum dan jangan aneh juga kalau mereka akan sering mengatakan kata "tidak", "nggak", dan sejenisnya,"


Fase dua tahun disebut juga fase peralihan. Kalau di usia 1 tahun anak masih bergantung dengan ayah bundanya. Mereka masih takut-takut terhadap sesuatu (jadinya lebih nurut). Mereka juga belum terlalu berani untuk melakukan sesuatu (kecuali di dorong oleh ayah bundanya). Nah, maka di usia dua tahun, mereka mulai merasa yakin dengan kemampuan diri mereka sendiri. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan motorik mereka yang terus berkembang. Mereka cenderung sudah lancar berjalan ataupun berlari. Genggaman tangan juga sudah lebih kuat.  Hal tersebut menimbulkan perasaan bahwa mereka "lebih berkuasa" atas diri mereka sendiri. Sayangnya hal tersebut tidak di dukung oleh pengetahuan yang mumpuni, sehingga hal berbahaya pun kadang mereka lakukan. 


foto : apkpure.com


Usia Dua Tahun Mirip Seperti Masa Remaja


Kalau kata dosenku, masa peralihan pada anak di usia dua tahun ini mirip seperti masa remaja. Misalnya tipe yang "sok-sokan", mulai nggak mau dinasehatin, nggak mau dikasih tahu. Merasa bisa melakukan segalanya dan bertindak sendiri, padahal dia sebenarnya belum punya banyak pengalaman. Makanya terkadang ortu juga suka dibuat bingung sama sikap anak remaja. Nah, mirip seperti itulah fase 2 tahun ini. Bahkan kata dosenku, ada buku khusus sendiri yang membahas tentang fase 2-3 tahun ini, saking spesial dan uniknya.

Mereka Perlu Dibimbing Untuk Tidak Penakut dan Tidak Sok Tahu


Nah, difase ini tugas orang tua tentunya adalah membimbing. Membimbing pun juga tidak boleh ekstrem. Harus moderat, tidak boleh terlalu galak ataupun terlalu permisif. Kalau terlalu galak, anak kelak malah akan tumbuh jadi sosok yang penakut (karena jadi takut salah dan takut dimarahi), tidak percaya diri atas kemampuan sendiri (karena sering disalahkan), tidak berani dan pemalu. Pun kalau terlalu dibiarkan nantinya dia akan tumbuh jadi anak yang pembangkang, terlalu bebas dan sesuka hati (karena terbiasa dibiarkan aja, atau segala keinginan dituruti). Agak repot kan? haha.. Itulah seni dan tantangan jadi orang tua ya. Gak akan ada habis-habisnya.

Intinya sih memang ada hal-hal yang harus dituruti anak jadi sebagai orang tua kita harus mampu bersikap tegas. Tegas disini bukan malah menjadikan kita orang tua yang galak dan sering marah-marah. Marah dan tegas itu beda soalnya. Perbedaannya bisa dilihat dari intonasi suara. Kalau tegas cenderung datar dan menggunakan kalimat singkat. Kalau marah, cenderung bernada tinggi, membentak dan teriak (aku juga masih harus banyak belajar nih untuk lebih mengatur emosi dan bersikap tepat dalam menghadapi anak-anak). 
Kalau boleh saya mengutip perkataan salah satu temanku yaitu Jayaning Hartami,

"Fase 2-4th memang lagi masa anak belajar mengekspresikan emosi dan keinginan mereka. Dan terkadang di beberapa anak jadi muncul perilaku teriak, mukul, dsb yang kalo dipersepsi kepala kita dianggap sebagai "perilaku menyimpang". Padahal yang ada di kepala anak kita, "Mommy. This is how I rule my world." Mereka butuh kemampuan untuk "mengontrol" dunia mereka, tapi mereka nggak tau caranya. Jadi saat mereka sengaja ataupun tidak memukul atau teriak, terus ibunya atau orang di sekelilingnya tiba-tiba jadi perhatiin si anak atau malah ngomel dsb, mereka merasa perilaku mereka adalah benar. Mereka senang mendapat "perhatian" itu."


Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika anak kita melakukan hal yang tidak kita inginkan? Misalnya teriak-teriak, atau mukul-mukul.  Yang pertama adalah jangan reaktif akan perilaku anak di depan umum.
Meskipun mungkin pada saat tersebut, kita malu diliat orang-orang dan rasanya pengen ngomel di tempat, tapi cobalah tenang dulu (widih.. praktiknya nih yang kudu dilatih) . Dan hal kedua yang perlu dilakukan adalah kita tunggu saat anak sudah tenang, barulah diajak ngobrol berdua "eyes to eyes". 

Kalau kata psikolog dalam sebuah artikel, terkadang anak berusaha menarik perhatian dengan perilaku menyimpang, karena buat anak mendapat omelan ortu masih lebih baik ketimbang nggak diperhatiin sama sekali (jleb ga tuh?). Makanya untuk para orang tua, jangan sampai abai yaa. Kalau melihat anak berperilaku baik, berikan kecupan sayang dan perhatian saat itu juga. Terkadang kita ini lebih cepet nyadar saat anak lagi berperilaku "jelek" ketimbang saat dia berperilaku baik. 

Pada saat dia berperilaku manis eh kitanya malah nggak ngeh... heuuuh. Jadinya si anak kan mikir, "Kayaknya ayah dan ibu lebih ngeh kalau aku teriak-teriak deh daripada aku bisa ngerapihin mainanku sendiri. Ya udah deh aku teriak aja." Begitu kira-kira pikiran yang muncul di diri anak-anak kita. Maka dari itu, hal utama dan paling utama yang perlu dilakukan adalah orang tua harus instrospeksi diri. Jangan-jangan ortu kurang mengapresiasi sikap manis anak selama ini hingga akhirnya anak mencari perhatian dengan "caranya" sendiri.




foto: activebabiessmartkids.com.au

Mengisi Tangki Cinta


Yang perlu diketahui ortu adalah, tiap anak itu punya "tangki cinta"nya masing-masing. Mereka punya tangki cinta yang berbeda. Ada anak yang "tangki cinta"nya adalah sentuhan. Ada yang dengan pujian, hadiah, dsb. Maka, orang tua harus cari tahu, "Kira-kira tangki cinta anakku apa ya?" Jadi, untuk mencegah anak berbuat "aneh2" dengan mencari perhatian dengan cara yang kurang tepat, maka tinggal penuhi tangki cintanya. Sama seperti anakku, kalau dia sudah mulai keliatan kesal, berontak dsb, biasanya aku coba peluk, sambil cium dan bilang "sayang". Biasanya dia akan "lumer" dan tidak jadi tantrum.

Mengasuh anak memang tantangannya berat, tapi mudah-mudahan ke depannya kita bisa makin lebih baik jadi orang tua. Seperti halnya kata Ibu Kiki Barkiah,

"Repot urusan anak diwaktu kecil itu PASTI. Repot urusan anak diwaktu dewasa itu PASTI ADA YANG SALAH. Repot urusan anak di negeri akhirat itu PASTI MERUGI."


Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang sabar, penyayang dan bisa memberikan contoh dan teladan baik bagi anak-anak kita kelak, Aamiin.



And for the last, this is reminder to myself, huhu. Semangaat... Semangat! Harus lebih sabar yaa.. *pukpuk diri sendiri.






************************************************
Jika Berkenan, Silahkan baca juga link berikut:

Agar Anak Nyaman Belajar











View Post
Beberapa bulan lalu, saya mengikuti sebuah webinar di sekolah anak saya Nayra. Webinar itu memang diperuntukkan bagi para orang tua siswa kelas 2. Awalnya agak malas untuk ikut (wkwk), tapi saya pikir apa salahnya ikut bergabung kan? Toh memang ini adalah salah satu fasilitas yang diberikan sekolah kepada para orang tua. Temanya saat itu tentang bagaimana membuat anak belajar dengan nyaman di rumah. Pembicaranya adalah Ibu Ida S Widayanti.

Saya sih gak fokus melihat materinya secara keseluruhan dari awal karena memang saat itu sambil disambi aktivitas rumah tangga. Tapi ada beberapa poin penting yang bisa diambil dan perlu saya tulis disini sebagai salah satu ikhtiar saya dalam mengikat ilmu. Yah syukur-syukur jika tulisan ini bisa bermanfaat pula bagi orang lain. Berikut beberapa rangkuman yang saya buat. Check it out!


Pertama, hidupkan perasaan bahagia dalam proses mendidik anak-anak.


foto : kidengage.com


Pada dasarnya, perasaan bahagia bisa memberikan banyak keuntungan dalam proses mendidik. Pesan yang kita sampaikan ke anak, akan lebih cepat masuk ke dalam hati dan pikirannya jika suasana hatinya juga sedang baik. Jadi, percuma jika kita ingin memberikan saran atau nasihat kepada anak sementara saat itu sang anak dalam kondisi tidak nyaman, bete, kesal ataupun marah. Itu tak ada gunanya.

Kita harus ciptakan dulu suasana menyenangkan bagi anak, agar hati dan pikirannya siap menerima pesan yang kita sampaikan. Ingat, bahwa suasana hati yang baik akan menguatkan otak dalam menerima pesan.

Kedua, setiap berkomunikasi dengan anak, pastikan komunikasi tersebut memenuhi salah satu atau semua tujuan komunikasi. 



Berikut ini tujuan komunikasi yang hendaknya kita pertanyakan setiap akan berkomunikasi dengan anak. 

1. Apakah kita ingin menyampaikan informasi ke anak? (to inform)

2. Apakah kita ingin mendidik anak? (to educate)

3. Apakah kita ingin membujuk anak? (to persuade)

4. Apakah kita ingin menghibur anak? (to entertaint)

Jika komunikasi kita tidak  memenuhi tujuan itu, maka sebaiknya komunikasi tersebut tidak dilanjutkan dan dihentikan saat itu juga. Kemarahan, makian, omelan bukanlah komunikasi terbaik untuk mencapai tujuan komunikasi dengan anak, baik itu untuk mendidik ataupun memberi informasi (apalagi menghibur). Sekalipun mungkin kita berniat demikian tapi itu bukanlah langkah yang tepat.

exploringyourmind.com


Jadi, ketika kita mulai ingin marah-marah, ingat lagi tujuan komunikasi diatas. Percayalah, percuma kita marah-marah karena pesan yang kita sampaikan tidak akan memberikan motivasi positif kepada anak-anak. Justru anak-anak akan makin tak nyaman, sedih, tidak suka, atau bahkan ikut marah. 

Buang energi kita dari hal yang sia-sia, terutama marah-marah. Salah satu tipsnya bisa dengan melakukan teknis pernapasan perut yang diiringi dengan istighfar (letakkan telapak tangan kanan di perut dan tangan kiri di dada. Rasakan perut mengembang saat menarik napas dengan hidung dan perut mengempis saat mengeluarkan napas lewat mulut). Ucapkan istighfar dalam hati. 

Atau kalau dalam anjuran Nabi adalah dengan mengubah posisi dari berdiri ke duduk dan mengambil wudhu. Insya Allah, mudah-mudahan kita tak jadi marah setelahnya.

Ketiga, gunakan kacamata lebah dalam melihat perilaku anak. Jangan malah menggunakan kacamata lalat.


Apa maksudnya? Pada dasarnya, lalat dan lebah adalah dua makhluk Allah yang memiliki sifat yang sangat berbeda. Lalat lebih suka dengan bau-bau busuk, sementara lebah suka dengan sari bunga dan bau yang wangi.

Jika lalat ditempatkan di sebuah taman bunga, tetap saja yang dicarinya sampah. Sementara lebah, jika ditempatkan di tumpukan sampah, tetap saja yang dicarinya adalah sekuntum bunga.

Demikian juga para orang tua. Jika kita memilih untuk menggunakan kacamata lalat, maka kita hanya akan mencari keburukan dan kekurangan pada perilaku anak. Hanya itu saja fokusnya. Pokoknya yang kita ingat hanyalah kekurangan dan kesalahan anak saja. Seakan-akan anak tak punya kelebihan yang bisa kita bicarakan.

Berbeda dengan jika kita memilih kacamata lebah, maka kita fokus pada kelebihan anak. Bahwa anak juga punya sesuatu yang baik yang perlu kita dukung. Bahwa pada dasarnya anak juga memiliki hal-hal positif yang bisa kita syukuri.

Sebagai contoh, coba perhatikan gambar ini.


Foto : gettyimages.com

Coba lihat sejenak gambar itu dan kita coba pakai kacamata lalat. Apa yang kita pikirkan?

Dapur berantakan, peralatan yang kotor, bahan makanan yang terbuang, dsb. Yang kita lihat saat itu hanyalah hal negatif. Betul tidak? 

Tapi coba kita ganti kacamata kita dengan kacamata lebah. Apa yang kita lihat? 

Wah, kita melihat anak-anak sedang eksplorasi. 
Wah anak-anak sedang belajar hal baru. 
Wah anak-anak sedang mencoba belajar memasak dsb.
Masya Allah!

Itu yang luput dari para orang tua. Kebanyakan kita (termasuk saya pun) sepertinya masih lebih sering menggunakan kacamata lalat daripada lebah. Tanpa disadari kita kadang fokus hanya pada hal-hal negatif. Padahal kita lupa, bahwa anak-anak juga memiliki banyak hal-hal baik yang perlu kita apresiasi.

Keempat, pentingnya memahami suasana hati.


Suatu hari, terdengar seorang ibu sangat berisik ketika sedang mencuci piring. Klentang-klentong bunyi peralatan dapur terdengar saling beradu. Suaranya sangat mengganggu tak seperti biasa. Kira-kira kenapa sang ibu sangat berisik saat mencuci piring? Apakah ia tak tahu cara mencuci piring dengan baik dan benar? Ataukah karena saat itu suasana hatinya sedang buruk?

Setelah itu coba bayangkan kembali, dalam kondisi yang seperti itu tiba-tiba datang suaminya berkata,

"Kok berisik sekali nyuci piringnya? Memangnya kamu gak tahu cara mencuci piring? Kalau gak tahu sini aku ajarin!" ujar si suami dengan nada keras dan tinggi.

Kira-kira bagaimana perasaan kita kalau jadi si ibu itu? Apakah kita merasa lebih baik setelah mendengar perkataan suami kita atau suasana hati kita malah semakin memburuk?

Nah, demikian juga dengan anak-anak. Suatu perilaku yang kita lakukan, terkadang juga dipengaruhi suasana hati kita saat itu.

Misalkan suatu hari, anak kita pulang sekolah. Tiba-tiba ia datang sambil membanting atau melempar tasnya dengan wajah yang cemberut. Kira-kira bagaimana reaksi kita?

"Loh kak, kok tasnya dibanting gitu sih? Taruh tasnya yang bener."

Barangkali begitu kira-kira reaksi kita. 

Lalu bagaimana dengan anak kita? Apakah ia tiba-tiba tersenyum dan menjawab, "Baik Bu,"
Atau malah makin cemberut dan kesal?

Perilaku membanting tas memang bukanlah perilaku yang baik. Dan pastinya ketika ia membanting tas bukan berarti karena ia tidak tahu cara menaruh tas yang baik. Barangkali hal itu ia lakukan karena saat itu suasana hatinya sedang tidak baik. Barangkali saat itu ia mendapatkan masalah ketika di sekolah. Sementara ketika reaksi yang kita berikan ternyata dengan langsung menjudge anak, tentu itu hanya akan membuat perasaannya menjadi makin tidak baik. Duh udahlah gak usah berpikir jauh-jauh, kita sendiri saja dulu mungkin pernah bersikap begitu kan? Dan ketika kita dalam kondisi perasaan yang tidak menyenangkan, kira-kira apa yang kita butuhkan?

foto : desiakhbar.com


Perkataan berupa nasihat dan kalimat perintah bukanlah sesuatu yang ia butuhkan saat itu.
Maka dari itu, ketika kita dihadapkan pada hal tersebut, mungkin kita bisa bereaksi lebih baik ke anak dengan bertanya lembut,

"Ada apa kak? Kok gak kayak biasanya? Kakak mau cerita sama Ibu?"

Mungkin setelah itu perasaan anak akan menjadi lebih baik. Sekalipun mungkin ia tak akan langsung cerita saat itu, tapi setidaknya ia tahu bahwa kita akan selalu ada untuknya dan menerima perasaannya.

Kelima, biasakan untuk berbicara dengan suara rendah dengan anak. 


Suara yang rendah bisa membuat pesan semakin kuat untuk masuk ke dalam kepala dan hati anak. Jangan biasakan bicara dengan nada yang tinggi. Jika selama ini kita sering begitu ketika menghadapi perilaku anak, maka ubahlah pelan-pelan. Nada yang tinggi tidak akan membuat pesan dan nasihat kita tersampaikan dengan baik. Jadi sungguh itu hanya akan membuang energi kita.

Jangan lupa pula untuk melakukan kontak fisik kepada anak setiap hari. Berikan pelukan dan usapan kepada anak sebagai bentuk kasih sayang kita. 

Keenam, hidupkan surga di rumah.


Caranya gimana? Caranya ya kita lihat bagaimana gambaran surga yang dituliskan dalam Alquran.

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri...” (QS. Al-Qiyamah : 22-23)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25].

Nah, coba lakukan itu dirumah.
Berseri-serilah saat menatap anak atau anggota keluarga dirumah. Lebih seringlah tersenyum dibandingkan cemberut. Jadikan wajah kita sebagai wajah yang meneduhkan bagi anak-anak.
Ucapkan perkataan yang baik kepada anak. Kurangilah berkata yang sia-sia. Sering marah-marah termasuk perilaku yang sia-sia. Tak ada manfaatnya baik bagi kita sendiri apalagi bagi anak-anak. Jadi lebih baik hindarilah hal tersebut. Hidupkan surga dirumah, hingga kelak pada masanya, kita benar-benar bisa bersama anak-anak dan pasangan kita di surga Allah yang sesungguhnya. Aamiin Yaa Rabb... Bismillah..


(Ketika menuliskan postingan ini, maka seketika itu juga saya sedang menampar diri sendiri...)


*disclaimer:
Rangkuman ini saya tulis berdasarkan apa yang saya tangkap dan yang paling saya ingat. Beberapa diantaranya juga saya tambahkan dengan bahasa saya sendiri. Tidak semua poin materi saya sampaikan, karena saya sendiri tidak mengikuti webinar dari awal. Jadi jika ada tambahan atau koreksi dari rangkuman diatas, maka saya akan terima dengan senang hati. 💕







View Post

Sumber Foto: https://www.melbournechildpsychology.com.au/



Persaingan kakak beradik barangkali menjadi sesuatu yang dialami semua orang terutama yang memiliki saudara. Benar atau tidak nih? Atau jangan-jangan tidak semua begitu? Kalau ada yang selalu rukun-rukun dengan kakak atau adiknya, wah saya salut ya karena memang walau bagaimanapun memang tak mudah untuk menghindar dari konflik antarsaudara.

Dulu, waktu kecil, saya suka sekali berkelahi dengan saudara laki-lakiku.. Berkelahinya ya benar-benar berkelahi fisik, pukul-pukulan, tendang-tendangan dan diantara kami pun tak ada yang mau mengalah. Uniknya, walaupun sering bertengkar, pertengkaran itu biasanya tidak berlangsung lama, karena setelah itu pasti sudah main-main lagi seakan tak terjadi apa-apa. Yah, namanya juga masih kecil kali ya, jadi segala sesuatu memang tidak mudah dimasukkan ke dalam hati. 

Dulu saat saya masih bekerja di  TPAM UI (Taman Pengembangan Anak Makara UI), ada beberapa kakak beradik yang sama-sama disekolahkan di TPA. Oleh karena itulah akhirnya saya pun bisa sedikit mengobservasi pola hubungan kakak beradik ini. Dari hasil obervasi sederhana saya waktu itu, saya menemukan sesuatu yang cukup menarik. Ternyata, apabila kakaknya berjenis kelamin perempuan dan adiknya berjenis kelamin laki-laki, ternyata hubungan mereka cenderung lebih akur lho! Bahkan si kakak sering kali bertindak sebagai "ibu" ketika mereka sedang berada di TPA. Kadang saya melihat kakaknya menyuapi adiknya makan, membacakan adiknya buku cerita, dan menasehati adik jika  adik melakukan kesalahan. Pokoknya sang kakak begiru mengayomi sang adik. Berbeda jika kakaknya laki-laki, biasanya sang kakak cenderung agak cuek dengan adik. Namun sayang sekali, subjek kakak beradik yang seperti ini tidak terlalu banyak di TPAM. Kebanyakan yang saya temui adalah kakaknya seorang perempuan. Tentu saja hal ini butuh penelitian lebih lanjut karena saya sendiri hanya mengobservasi sampel yang terbatas.


Nah, terkait hal ini saya ingin membahas sedikit tentang sibling rivalry ini. Pembahasan ini sebenarnya saya dapatkan dari buku dan dari kulwap yang pernah saya ikuti. Monggo disimak ya.

Apa itu Sibling Rivalry?



https://tiredmomsupermom.com/



Sibling rivalry adalah perasaan cemburu seorang kakak kepada adiknya. Sibling rivalry biasanya terjadi pada anak-anak usia balita. Jika seorang anak sedang mengalami kecemburuan, biasanya kita bisa melihat tandanya dari hal-hal berikut, yaitu : 
  • Bersikap lebih manja dan melakukan tindakan yang sifatnya mencari perhatian
  • Melakukan perilaku seperti adik bayi. Contohnya, tiba-tiba mengompol padahal sebelumnya sudah lulus toilet training. Berbicara dengan bahasa cadel atau meniru cara bicara bayi (padahal sudah bisa bicara dengan benar). Tiba-tiba ingin mengempeng dsb. Perilaku ini menunjukkan adanya regresi atau kemunduran yang disebabkan karena belum menerima kehadiran adik dengan sepenuhnya.
  • Melakukan perilaku yang agresif, misalnya memegang adik dengan kasar, memukul dan sebagainya.
Itulah tanda-tanda yang menunjukkan seorang kakak mengalami kecemburuan. Lalu apa yang membuat sang kakak bersikap seperti itu?

Kenapa Kakak Bisa Cemburu? Apa Penyebabnya?

Kehadiran anggota keluarga baru  bisa menjadi salah satu penyebabnya. Kehadiran adik baru tentu membuat sang kakak membutuhkan penyesuaian. Tak hanya kakak sebenarnya, tapi orang tuapun juga demikian. Akibatnya terkadang sebagai orang tua, kita jadi tidak peka dengan kebutuhan kakak karena sudah sibuk dengan kebutuhan adik bayi. Padahal hal inilah kelak menjadi cikal bakal munculnya sibling rivalry. Lalu apa saja yang pada akhirnya memunculkan kecemburuan kakak?
  • Kebutuhan adik bayi yang menjadi prioritas
Tahu sendirikan bagaimana repotnya mengasuh bayi baru lahir. Sedikit-sedikit sudah menangis, sedikit-sedikit mengompol dan sedikit-sedikit sudah lapar. Akibatnya orang tua (terutama ibu) terkadang tak punya waktu untuk memberikan perhatian pada kakak. Rasa dikesampingkan dan kesan bahwa dia sudah tidak menjadi prioritas, menyebabkan sang kakak menjadi cemburu kepada sang adik.

  • Hilangnya Rasa Aman
Kehadiran adik bayi yang menyita perhatian orang tua menyebabkan sang kakak menjadi berpikir, "Adik sudah mengambil kasih sayang Ayah Bunda," 
"Ayah bunda sudah tak sayang aku,"
 "Ayah bunda tak peduli padaku." 


Tidak hanya kehadiran adik bayi yang menyebabkan anak mengalami silbling rivalry.

Selain karena faktor kelahiran adik bayi, ada beberapa hal lain juga yang menyebabkan munculnya sibling rivalry. Jadi kehadiran adik bayi memang bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan timbulnya kecemburuan dalam diri anak. Penyebab lain yang dimaksud adalah sbb:


  • Adanya Keinginan Berkompetisi
Dalam masa perkembangannya, memang terkadang anak memiliki keinginan untuk berkompetisi dalam menunjukkan jati dirinya. Dia ingin menunjukkan minat dan bakatnya kepada orang lain. Hal itu ia lakukan untuk menunjukkan ekssitensi diri bahwa dia berbeda dengan saudaranya yang lain.

  • Orang Tua diaggap Tak Adil
Ada anggapan bahwa orang tua tidak adil dalam memberikan hak dan kewajiban kepada anak. Perassan semacam ini bisa saja dirasakan oleh adik, jadi tak selalu seorang kakak. Perasaan merasa diperlakukan tak adil membuat kakak atau adik menjadi cemburu kepada saudaranya sendiri.

  • Kebutuhan fisik yang tidak terpenuhi
Misalnya perasaan seperti lapar, lelah, bosan, dan mengantuk membuat anak bisa lebih mudah untuk cranky dan frustrasi. Akibatnya anak terkadang bersikap tidak sesuai harapan. Misalnya jadi mudah marah, mudah berperilaku agresif , tantrum dsb. Oleh karena itu,orang tua sebaiknya memerhatikan agar kebutuhan fisiknya selalu terpenuhi.

  • Tidak Tahu Cara Berperilaku yang Benar 
Terkadang ada anak yang berperilaku agresif karena dia belum mengerti bagaimana cara menarik perhatian dengan cara yang positif. Akibatnya ia pun melakukan hal-hal yang terkesan nakal. Padahal, belum tentu dia bermaksud demikian. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan keluarga disekitarnya untuk memenuhi keburtuhan 
Beberapa pikiran semacam itu membuat sang kakak khawatir kehilangan rasa cinta dari orang tua. Ia merasa bahwa adik akan merebut perhatian orang tua darinya. Perasaan semacam inilah yang memunculkan perasaan tidak aman dan menyebabkan kakak mengalami kecemburuan.

Lalu, apa yang harus dilakukan orang tua agar hal tersebut tidak dirasakan oleh kakak?

Pencegahan Sibling Rivalty:  Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?


http://edition.cnn.com/


Ada beberapa pencegahan yang bisa dilakukan agar anak terhindar dari sibling rivalry.

1. Pencegahan Saat Masa Kehamilan
  • Ajak kakak untuk mengenal calon adik bayi. Berikan ia kesempatan merasakan kehadiran adik bayi dalam perut ibunya.  Biarkan ia memiliki bonding dengan sang adik meskipun adik belum lahir supaya dia tak kaget dan sudah menyadari keberadaan adik sejak awal sebelum adik dilahirkan.
  • Libatkan sang kakak dalam mempersiapkan kehadiran adik bayi. Misalnya menyiapkan atau membantu melipat baju adik sesuai kemampuannya, menyiapkan mainan atau kamar tidur, dsb.
  • Ajak sang kakak mengobrol tentang kemungkinan hal-hal yang terjadi jika nanti adik telah lahir. Misalnya, mungkin ibu akan sedikit lebih sibuk dsb. Tapi pastikan bahwa Ibu tetap akan selalu sayang dan mencintai kakak walaupun mungkin kelak Ibu akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan adik.
  • Ajak kakak melihat-lihat foto saat ia masih bayi supaya ia pun punya gambaran tentang bayi itu seperti apa. Bahwa dulu pun ia juga pernah melewati fase menjadi bayi. Kalau perlu ajak ia berkunjung ke tempat sahabat atau keluarga dekat yang baru melahirkan. Beri ia gambaran bahwa bayi itu makhluk yang lemah dan harus diperlakukan dengan lembur. Tumbuhkan rasa sayang kakak ketika ia melihat bayi agar kelak perasaan itu sudah tumbuh ketika adiknya kelak telah lahir.

2. Pencegahan Ketika telah Melahirkan
  • Jika memungkinkan ajak sang kakak untuk berkunjung ke rumah sakit agar ia bisa berkenalan dengan adik untuk pertama kali. Jika memang tidak bisa, cukup telepon atau video call untuk memperlihatkan adik bayi. Hal ini perlu dilakukan agar sang kakak tahu bahwa adiknya sudh lahir sehingga ketika bunda pulang ke rumah dia sudah tidak kaget lagi.
  • Minta tolong kepada anggota keluarga agar mengajak si kakak berjalan-jalan supaya ia tetap merasa diperhatikan.
  • Luangkan waktu dengan kakak (baik dari ayah ataupun bunda) setiap hari. Minta anggota keluarga lain untuk menjaga adik bayi ketika ayah atau bunda sedang bersama kakak.
  • Berikan hadiah kepada kakak atas nama adik. "Kak, ini hadiah dari adik untuk kakak,". Hal ini perlu dilakukan agar kakak tahu bahwa adik menyayanginya walaupun adik masih bayi.
  • Ketika ada tamu berkunjung untuk melihat adik bayi, berikan pesan kepada tamu untuk memberi perhatian kepada sang kakak juga. Sebagai tamu pun juga sebaiknya bisa memahami, akan lebih baik untuk memberi hadiah tak hanya untuk bayi tapi juga untuk kakak jika memungkinkan,
  • Ajak kakak bermain dan membantu memenuhi kebutuhan adik. Misalnya, meminta tolong mengambil popok, mengambilkan baju adik dsb disesuaikan dengan kemampuan kakak.
  • Buatlah sang kakak menjadi pahlawan didepan adik bayinya sehingga muncul kepercayaan diri dan perasaan merasakan dibutuhkan.
  • Lakukan intervensi ketika ia mulai melakukan tindakan agresi. Intervensi dengan menanyakan perasaanya, apa yang sebaiknya kakak lakukan ketika bersama adik dan alasan kenapa ia melakukan tindakan agresif. Tanyakan dengan lembut dan dipeluk. Jangan sampai kita terkesan menyalahkan atau bahkan langsung memarahinya.

3. Pencegahan Secara Umum
Jika hal-hal diatas terkait dengan pencegahan pada kasus kecemburuan akibat kelahiran adik bayi, maka hal berikut merupakan sesuatu yang bisa dilakukan untuk mengatasi kecemburuan antarkedua belah pihak yaitu adik dan kakak. Seperti yang kita ketahui, kecemburuan juga bisa saja dialami adik, tak hanya dilakukan oleh kakak. Jadi hal-hal berikut mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi sibling rivalry antarsaudara, yaitu:

  • Luangkan waktu berkualitas untuk masing-masing anak secara adil
  • Berdiskusi dengan anak secara rutin terkait apa yang mereka rasakan.
  • Beri anak kesempatan untuk menyelesaikan konflik mereka sendiri. Bertindaklah sebagai pengawas yang berada pada posisi netral diantara keduanya.
  • Ajari anak untuk berkompromi dan bimbinglah mereka menemukan solusi.
  • Membandingkan adalah sesuatu yang bersifat alamiah dan kadang tak bisa kita hindari. Tapi usahakan jangan membandingkan di depan anak. Tetap tunjukkan cinta tanpa syarat. Cinta yang berarti menerima diri anak apa adanya, tanpa embel-embel anak dituntut harus begini dan begitu.
Nah selain hal-hal tersebut, ada sebuah buku yang pernah saya baca berjudul "Mengapa Anakku Begitu?" ditulis oleh Dr. Richard C. Woolfson. Buku ini menjelaskan tentang beberapa tahapan  sibling rivalry dari berbagai tahapan usia. Setiap tahap usia ternyata memiliki bentuk konflik antarsaudara yang berbeda. Nah berikut penjelasan yang disampaikan dalam buku tersebut. Silakan disimak ya.

Sibling Rivalry Bersdasarkan Tahapan Usia :

  1. Usia 1-2 tahun : Anak sangat egois dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Ia hanya tertarik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sekarang juga. Ini berarti, persaingan antarkakak-beradik belum terlalu kuat karena ia masih sangat memikirkan dirinya sendiri sampai-sampai belum memikirkan keberadaan kakak atau adiknya.
  2. Usia 2-3 tahun : Pada umumnya, anak berusia 2 tahun merasa dirinya paling penting. Ia menganggap dirinya adalah pusat perhatian dan kemarahannya sering meluap saat ia tahu bahwa ia tidak menjadi pusat perhatian. Bayangan akan kehadiran bayi baru akan mengguncang kestabilan emosinya dan memicu rasa cemburu terhadap kedatangan si adik. Kakaknya akan menganggap si adik adalah makhluk yang sangat menyebalkan.
  3. Usia 3-4 tahun : Di usia ini, anak memiliki pendapatnya sendiri, apa yang ia suka dan apa yang ia tidak suka. Ia tidak mau orang lain mencampuri rencananya. Karena itu, ia merasa adiknya sangat mengganggu dan mengancamnya. Perhatian orang tua padanya tidak cukup membuatnya tenang. Ia juga tidak mau diperintah kakaknya walaupun apa yang diharapkan kakaknya sebenarnya masuk akal.
  4. Usia 4-5 tahun : Hubungan kakak beradik berubah pada masa ini. Ia tidak lagi merasa terganggu oleh kehadiran adik baru. Anak sulung akan lebih positif pada tahap ini dan ia ingin adiknya mengagumi dan menghargainya. Ia akan mencoba memberi contoh yang baik. Sebaliknya, sang adik pada usia ini akan mencontoh kakaknya dan mengakui prestasinya walaupun tindakan ini dapat saja memacu dirinya atau malah sebaliknya, tanpa sadar membuatnya membenci kakaknya.
  5. Usia 5-6 tahun : Sekolah mengubah kehidupan anak usia 5 tahun. Ia sekarang memiliki dunianya sendiri yang terstruktur, yang membuka peluang baginya untuk berteman dengan anak lain di luar anggota keluarga. Ini akan membuatnya lebih toleran terhadap adiknya. Pada usia ini, biasanya si kecil sangat menghargai figur kakak karena ia dapat menarik pelajaran dari pengalaman dan petunjuk yang disampaikan sang kakak seputar dunia sekolah.
  6. Usia 7-8 tahun : Ia sudah benar-benar nyaman di sekolah dan memiliki teman-temannya sendiri yang sangat ia hargai. Gangguan dari adiknya biasanya tidak ia hadapi dengan cara seperti sebelumnya. Saat sedang bersama temannya, ia menganggap adiknya memalukan  bukan menggemaskan! Pada situasi tertentu, anak usia 8 tahun mungkin akan meminta pertolongan kakaknya karena ia tahu sang kakak bisa diandalkan.

Nah itulah beberapa penjelasan yang berkaitan dengan sibling rivalry. Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa membantu para orang tua memahami anak di rumah. Jangan lupa selalu doakan anak-anak kita agar mereka menjadi anak-anak sholih/ah yang saling menyayangi dan mencintai satu sama lain. Thanks for reading this short article... See u next time... :)


Sumber Referensi:
Materi Kulwap dari Rumah Dandelion Berjudul "Sibling Rivalry", yang disampaikan Binky Paramitha I., M.Psi., Psi..

Woolfson, Richard.C. 2005. Mengapa Anakku Begitu?. Jakarta: Erlangga Kids. 



View Post