Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review buku. Tampilkan semua postingan

Ini buku yang cukup populer pada masanya, apalagi di kalangan emak-emak fesbuker pada waktu itu. Ini buku yang terbit sudah cukup lama ya tapi saya hanya ingin meng-updatenya kembali. Buku ini merupakan karya dari Kiki barkiah. Mungkin bagi yang tidak mengenalnya akan bertanya-tanya. Kiki Barkiah itu siapa ya? Wajar sih kalau ada yang belum tahu, karena beliau memang bukan artis, selebgram ataupun pejabat. Beliau ini pada dasarnya adalah seorang ibu rumah tangga.

Kiki Barkiah merupakan seorang perempuan lulusan Teknik Eletro ITB. Beliau memiliki lima orang anak (atau sudah enam ya?) dan menjalankan homeschooling di rumahnya ketika ia sedang berdomisili di Amerika.
Kiki Barkiah dan keluarga beberapa tahun lalu.
Sekarang anak-anaknya sudah besar semua.
(foto: kikibarkiah.wordpress.com)

Nah, beliau seringkali membagi pengalaman hidupnya dalam menjalani peran sebagai orang tua di media sosial Facebook. Pengalamannya itulah yang banyak membuat banyak orang terkagum (termasuk juga saya). Bagaimana tidak? Beliau yang memiliki anak sambung (karena menikah dengan seorang duda yang ditinggal mati isterinya) harus berjibaku mengasuh anak-anak lain yang notabene masih kecil. 

Beliau melakukan semua itu tanpa bantuan pembantu. Menariknya, beliau tak hanya mengurus atau mengasuh, tapi beliau juga mendidik anak-anak lewat homeschooling yang ia jalani. Beliau juga concern dalam pelajaran agama sehingga anak-anak sejak kecil sudah diperkenalkan dengan kegiatan keagamaan, hafalan dan mengenal ketauhidan.

Anak-anaknya pun tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas dan berperilaku baik. Intinya, ketika membaca buku ini rasanya saya dibuat malu sebagai orang tua. Bagaimana tidak, dengan kondisi hidup di luar negeri (yang tentunya memiliki tantangan tersendiri), ia berjuang mengasuh sekaligus mendidik anak-anak yang mandiri dan mencintai agamanya.

Nah, karena kekagumanku itulah, aku mau memaparkan beberapa poin yang aku tangkap secara pribadi tentang buku itu. Kalau mau tahu lebih lengkap silakan membaca bukunya langsung yaa.

Rangkuman Singkat
Judul Buku : 5 Guru Kecilku
Penulis : Kiki Barkiah

  1. Segala sesuatu itu harus dilandasi niat yang baik, dalam hal apapun itu. Dan sebaik baik niat kita adalah niat yang kita landasi karena Allah. Jika semua kita lakukan karena Allah, maka insya Allah akan ada keberkahan di dalamnya. Keberkahan inilah yang kelak akan memberikan kita kemudahan dan kekuatan dalam mengatasi setiap permasalahan, termasuk dalam masalah pengasuhan anak.
  2. Ajarkan anak untuk mandiri. Berikan pemahaman bahwa anak yang lebih besar mengayomi yang kecil dan yang kecil menghormati yang besar. Anak-anak diajarkan untuk saling membantu. Ketika anak-anak kita dididik untuk saling sayang, saling hormat dan saling membantu, maka kelak itu akan sangat berguna bagi mereka sekalipun kelak orang tua mereka sudah tak bersama lagi dengan mereka.
  3. Pendidikan agama itu penting, tapi yang lebih penting adalah anak paham kenapa itu perlu diajarkan. Ajarkan mereka nilai ketauhidan, akhlak dsb melalui kisah-kisah. Kita sebagai orang tua pun harus memberikan teladan. Tak penting untuk melihat siapa yang paling cepat mengaji, menghafal Alquran, sementara mereka tak mengerti apa yang mereka pelajari. Yang terpenting adalah bagaimana untuk membuat anak cinta pada Tuhan mereka.
  4. Teleponlah suamimu saat kau butuh kewarasan dalam bekerja. Beliau menceritakan sebuah momen romantis dalam bukunya yaitu ketika Mbak kiki menelepon suaminya untuk meminta support dan doa. Saat itu Mbak Kiki merasa burn out dengan segala urusan rumah tangga, kemudian suaminya pun menelepon sambil mendoakan, menenangkan dan memberinya semangat. Menurut saya itu sesuatu yang indah, karena suami yang mau mendengarkan isterinya dan mau peduli pada isterinya akan menjadi kekuatan bagi seorang isteri dalam menjalani hari-harinya.Apalagi ketika kita sedang merasa sangat lelah dan emosi menghadapi keruwetan di rumah, maka ucapan sayang dan dukungan suami bisa menjadi oase tersendiri bagi para isteri.
  5. Do the best. Lakukan yang terbaik untuk setiap peran yang kita jalani. Ketika kita sedang menjalani peran sebagai orang tua, sebagai seorang ibu rumah tangga, maka pastikan kau menjalaninya dengan sebaik baiknya. Mengapa? Supaya tidak perlu ada kata penyesalan jika saat waktu bersama anak-anakmu sudah berakhir. Ingatlah, apa yang kau tanam hari ini maka itulah pula yang kau tuai. Apalagi jika kau menanamnya dengan pupuk dan kau rawat dengan baik dan penuh kasih sayang. Maka bayangkan saja hasil kebaikan yang kelak akan kita dapatkan, terutama balasan dan pahala dari Allah Subhana wata'ala.
  6. Bersabarlah wahai Ibu. Apapun keruwetan yang kau alami, tetaplah jaga kewarasanmu. Jangan emosi apalagi sampai berteriak atau membentak, karena hal itu hanya akan mematikan jaringan-jaringan di otak anakmu. Jika sedang lelah, maka istirahatlah sejenak. Berwudhu dan berdoa meminta kekuatan dan kemudahan kepada Allah yang Maha Kuat.
  7. Minta dibacking sama Allah dan berdoalah agar menjadi hamba yang taat. Allahlah yang Maha memberi kemudahan, maka mintalah kemudahan dari-Nya dalam menjalani apapun peranmu di dunia ini.

Itulah beberapa poin-poin penting dalam buku itu. Semoga ini menjadi pengingat bagiku dan bisa kuterapkan pada keluargaku juga. Aamiin. Sekian dan semoga bermanfaat.

View Post

Penulis : Hafidz Muftisany
Judul : Fikih Keseharian "Ucapan Tahun Baru Hijriyah Hingga Hukum Parfum Beralkohol"
Penerbit : CV. Intera
Tahun Terbit : 2021 (terbit digital)
Koleksi  : Ipusnas


Ini adalah buku yang hanya terdiri dari 35 halaman. Cukup singkat ya dan penjelasannya pun mudah dipahami. Saya sendiri memang lebih suka buku nonfiksi yang tipis dan tak terlalu banyak karena kalau terlalu tebal malah keburu malas bacanya karena saya bukan pecinta buku nonfiksi hehe.. Apalagi jika pokok bahasannya serius.

Buku ini menjelaskan tentang beberapa hal yang kerap dipertanyakan atau mungkin diperdebatkan beberapa kalangan, misalnya tentang hukum mengucapkan selamat tahun baru, hukuman mati untuk koruptor, terkait amil zakat dan hukum menggunakan parfum beralkohol. Dalam buku ini juga disampaikan beberapa perbedaan pendapat antarulama dalam menghukumi suatu masalah.



Menurut saya buku ini cukup  bagus karena dapat menjadi tambahan wawasan terutama bagi kita yang belum tahu tentang permasalahan tersebut. Yang saya suka juga buku ini menyertakan beberapa pendapat ulama, sehingga kita sebagai pembaca bisa melihat suatu permasalahan terkadang memiliki perbedaan pendapat dan itu hal yang lumrah. 

Oleh karena itu, sudah sebijaknya jika kita tidak terlalu mempermasalahkan hal-hal yang bersifat fiqih karena saya yakin para ulama tersebut sudah mempertimbangkan dengan baik ketika memutuskan suatu hukum perkara di masa sekarang. Jangan sampai karena kita memilih pendapat yang berbeda, kita jadi meremehkan pendapat orang lain. Padahal masing-masing sebenarnya memiliki hujjah sendiri.

Nah, aku juga akan mencoba sharing terkait isi buku ini. Rangkuman singkat ini hanyalah terdiri dari beberapa poin saja. Jika ingin membacanya lebih lanjut, silakan baca bukunya sendiri yaa.. hehe.


Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, Sunah atau Bid'ah?


foto: freepik.com

Pada dasarnya memang ada kalangan ulama yang melarang mengucapkan selamat tahun baru, terutama dikalangan ulama Arab Saudi. Misalnya saja Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau memang melarang mengucapkan selamat tahun baru, tapi tidak mengapa untuk membalasnya, asal jangan diri kita yang memulai mengucapkan.

Ucapan selamat tahun baru pun tidak dibalas dengan mengucapkan selamat tahun baru juga. Tapi cukup kita balas dengan doa seperti, "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan kebarkahan di tahun ini,".

Menurut beliau, tidak ada penjelasan terkait ucapan selamat tahun baru, kecuali untuk pengucapan selamat hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Walaupun demikian, beliau tidak menyatakan itu sebagai sebuah dosa. Hanya memang tidak ada sunnahnya dalam hadist Nabi maupun atsar para sahabat. Sebagian ulama lain, seperti Syekh Abdul Karim Al-khudair membolehkan ucapan selamat karena tidak ada yang salah dengan mendoakan kebaikan kepada sesama muslim SELAMA doa dan ucapan itu tidak diyakini sebagai ibadah khusus dalam peristiwa tertentu.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Al-Hafidz Abu Hasan Al-Maqdisi. Menurutnya itu termasuk perkara mubah atau dibolehkan. Jadi, apapun yang kita pilih dari semua pendapat tersebut jangan membuat kita berlaku sombong pada pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Kalau kalian ingin mengucapkan selamat tahun baru, silakan. Jika tidak ya monggo. Kalau saya pribadi termasuk yang mengambil sikap seperti Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Jadi saya memilih untuk tidak ikut mengucapkan selamat tapi juga tidak mempermasalahkan jika ada yang memilih sikap berbeda.

Hukuman Mati untuk Koruptor


foto : worldbank.org


Ulama NU di forum Bahtsul Masail menjelaskan bahwa korupsi termasuk perbuatan pengkhianatan berat terhadap amanah rakyat yang diberikan kepadanya. Jika dilihat dari perilaku dan dampaknya, maka itu termasuk kepada pencurian dan perampokan.

Dalam kitab Syarh Matan Sullam Al-Tawfiq, dijelaskan bahwa pencurian itu termasuk dosa besar karena telah  mengambil hak milik orang lain secara sembunyi-sembunyi. Padahal ada hadist yang menjelaskan bahwa Allah melaknat pencuri sebiji telur dan seutas tali yang mengakibatkan tangannya dipotong. Di zaman itu harga telur dan tali sebesar tiga dirham. Kalau dihitung sekarang nilai 1 dirham itu sekitar 4 ribu rupiah (jadi bayangkan saja, mencuri 4 ribu rupiah bisa menyebabkan kehilangan tangan, apalagi koruptor yang mencuri sampai ratusan juta hingga triliyunan.. astaghfirullah.. :( )

Dalam forum NU tersebut, para ulama sepakat bahwa mereka tidak melarang hukuman mati terhadap koruptor. Dasar pengambilan hukumnya diambil dari uraian Syekh Wahbah Zuhaili dalam Al-fiqh Al-islami wa Adillatuhu yang menyebutkan, boleh menjatuhkan hukuman mati atas mereka yang melakukan tindakan kriminal berulang-ulang, para pecandu minuman keras dan tindak kejahatan yang mengancam keamanan  negara. Sekalipun pelaku mengembalikan uang negara tersebut, tetap tidak menghilangkan hukuman.

Siapa yang disebut Amil Zakat?


foto : shutterstock via dream.co.id


Sayyid Sabiq berkata bahwa amil zakat adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengumpulkan zakat dari orang kaya. Abu Bakar al-Hushaini menyatakan bahwa amil zakat adalah orang yang ditugaskan negara untuk mengambil zakat lalu menyalurkannya kepada yang berkah menerimanya.
Syekh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin mengatakan bahwa amil adalah orang yang diangkat penguasa untuk mengambil zakat dari orang yang berkewajiban. Al Syairazi dalam al-Muhadzdzab menambahkan bahwa amil mendapat bagian zakat sebagai upah sesuai kewajaran.

Jika menilik pendapat MUI soal dana operasional untuk amil, MUI mengharuskan pemerintahlah yang menyediakan dana operasional untuk amil zakat. Jika dana yang disediakan pemerintah tidak cukup, maka bisa mengambil dari dana zakat sebagai upah dalam batas kewajaran. Amil juga tidak boleh menerima bagian zakat jika ia sudah digaji oleh negara atau lembaga swasta. 

Hukum Parfum Berakohol


kai.or.id


Jumhur ulama berpendapat bahwa alkohol itu najis. Jadi mereka menyatakan bahwa pakaian yang dikenai parfum beralkohol tidak boleh dipakai untuk sholat karena nanti sholatnya tidak sah. Namun, ulama kontemporer memiliki pendapat berbeda. Muhammad Rasyid Rida dalm kitab tafsirnya Al Manar mengatakan bahwa belum tentu sesuatu yang diharamkan dalam syarak tetapi tidak najis. Misalnya saja, hewan seperti kucing. Kucing haram untuk dimakan, tapi ia bukan binatang najis. Qiyas pun berlanjut pada alkohol.

Khamr haram untuk dikonsumsi tapi tidak najis untuk disentuh. Hal ini terkait dengan para sahabat, ketika mengetahui bahwa khamr adalah haram, mereka lalu menghancurkan kendi-kendi berisi khamr dan membuangnya di jalanan. Jika memang khamr itu najis, pastilah para sahabat tidak akan membuangnya di sembarang tempat apalagi di jalanan yang notabene adalah tempat orang lewat. Jadi, khamr tidaklah najis.

Saat ini alkohol juga dipakai untuk tujuan-tujuan positif, misalnya saja dalam dunia medis. Dan ada beberapa kondisi ketika alkohol tidak menjadi haram, karena jika diharamkan akan menyebabkan kesulitan bagi umat manusia.

Para ulama kontemporer lebih sependapat bahwa alkohol tidak najis. Hal ini juga didukung ilmu farmasi yang menyatakan bahwa derivat alkohol pada parfum berbeda dengan alkohol yang digunakan pada khamr.

LPPOM MUI juga menegaskan bahwa alkohol atau etanol yang digunakan pada parfum tidak sama dengan khamr jenis minuman yang memabukkan. Penggunaan alkohol yang bersumber dari fermentasi non-khamr selama tidak digunakan untuk pangan, misalnya sebaga antiseptik, maka itu diperbolehkan.

Memang persoalan ini masih terjadi perbedaan pendapat, walaupun menurut pendapat yang lebih moderat, alkohol dianggap tidak najis, jadi memakai parfum beralkohol tidak dilarang. Kalau saya pribadi sih sependapat bahwa alkohol itu tidak najis. Tapi kalau membeli parfum biasanya cenderung akan mencari parfum yang tidak mengandung alkohol.

Allahu'alam. Sekian rangkuman singkat kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan kita, terutama dalam ilmu agama. Jika penasaran untuk isinya lebih lengkap (terutama soal penjelasan-penjelasannya) bisa langsung cek bukunya. Terima kasih!
View Post
Penulis : Ratna Dewi Idrus
Judul : Agar Anak Kita Seperti Nabi Ismail
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Koleksi : Ipusnas




Buku ini berisi beberapa hal tentang bagaimana caranya agar kita bisa memiliki anak yang sholeh, sabar dan taat seperti Nabi Ismail. Poin-poinnya juga diisi dengan beberapa kisah para Nabi, sahabat dan tokoh inspiratif saat ini.

Saya akan mencoba menjabarkan beberapa poinnya saja. Jika ingin membaca lebih lengkap, tentu kalian bisa membaca sendiri bukunya. Berikut ini adalah beberapa poin yang ada dalam buku tersebut. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat untuk diri sendiri.

Memahami bahwa Anak Bukan Tanda Cinta Allah

Sebenarnya cukup tertegun ketika membaca paragraf pembuka dalam buku ini. Di jaman jahiliah, orang-orang dahulu banyak yang berbangga dengan banyaknya harta dan anak-anak mereka, padahal anak sebenarnya hak preoregatif dari Allah. 

Ada orang yang dikaruniai anak, ada yang tidak. Ada yang diberikan anak perempuan, ada pula yang laki-laki. Ada yang diberi jumlah anak yang banyak, ada pula yang sedikit. Semuanya sama saja. Yang menjadi pembeda adalah bagaimana agar kita menjadikan setiap kondisi tersebut sebagai jalan untuk mengantarkan kita pada ketaatan kepada Allah.

Lagipula jika anak adalah bukti tanda cinta, tentulah Nabi Ibrahim dikaruniai anak yang banyak, sementara kita tahu bahwa Nabi Ibrahim baru mendapatkan anak ketika usianya telah menua. Tentu yang kita pelajari dari beliau bukanlah tentang sosok anak, melainkan bagaimana  ia bisa bersabar dengan segala ketentuan dan tidak berputus asa pada rahmat Allah.. Masya Allah.


Anak dan Harta adalah Fitnah (Ujian)

Pada dasarnya anak dan harta yang kita miliki bisa saja melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk kita mendidik keluarga menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Jangan sampai keberadaan keluarga justru membuat kita lalai dalam mengingat Allah.

Jangan Suka Mengeluh

Terutama pada isteri (note to myself), sebaiknya hindari perangai suka mengeluh. Nabi Ibrahim pernah meminta Nabi Ismail untuk menceraikan isterinya disebabkan sang isteri mengeluh dihadapannya yang saat itu berpura-pura datang menjadi tamu di rumahnya saat Nabi Ismail sedang tidak di rumah. Belajarlah untuk bersabar dan bersyukur dengan pemberian suami *ntms.

Ajarkan Anak pada Ketauhidan dan Keimanan

Peristiwa besar yang terjadi ketika Nabi Ibrahim diminta menyembelih anak yang is sudah tunggu berpuluh-puluh tahun, cukuplah menjadi bukti bahwa betapa taat dan patuhnya Nabi Ibrahim kepada perintah Allah. Ketaatan tersebut bahkan juga dimiliki oleh Nabi Ismail yang dengan ikhlas merelakan dirinya untuk disembelih. Ketika Nabi Ibrahim sudah mendekati ajalnya, bukan persoalan harta dan dunia yang ia tanyakan kepada anak-anaknya, tapi sebuah pertanyaan besar yang menyiratkan betapa sholih dan betapa pedulinya Nabi Ibrahim pada anak keturunannya,
"Siapakah yang engkau sembah sepeninggalku, Wahai Anak Cucuku?"
Didikan yang kita berikan kepada anak kita haruslah berkesinambungan agar keimanan dan ketauhidan itu terus terjaga hingga ke anak keturunan kita. Pun dengan Nabi Ibrahim, ia pun menginginkan agar anak cucunya bisa memiliki penghambaan yang sama agar bisa memiliki iman yang kuat dan teguh dengan harapan semoga kelak semua bisa berkumpul kembali di dalam surgaNya.

Berdoa kepada Allah

Jangan pernah putus berdoa agar Allah mau menganugerahkan keturunan yang sholih kepada kita. Berdoalah dengan penuh pengharapan, sebagaimana sikap yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, iringi dengan usaha, jangan tergesa-gesa untuk segera melihat hasilnya, bersabar dan senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah. Insya Allah akan dikabulkan walaupun untuk realisasinya itu tetap bergantung kepada ketentuan Allah.


Terima Anak dengan Penerimaan yang Baik

Anak-anak memiliki jiwa yang sensitif. Ia bisa merasakan apakah kehadiran mereka diterima ataukah ditolak oleh orang tua.Oleh karena itu, sejak anak masih dalam kandungan, seorang ibu hendaklah menerima kehadiran anak agar anak bisa tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi berjiwa tenang.

Yakin kepada Allah

Nabi Ibrahim adalah orang yang lembut dan santun. Ia juga penyayang dan memiliki jiwa yang halus. Ketika ia diperintahkan Allah untuk meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi, tentu tak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Nabi Ibrahim saat itu. Pun juga dengan Siti Hajar yang sempat bertanya-tanya akan kepergan suaminya, Namun, ketaatannya kepada Allah membuatnya yakin bahwa Allah tak akan mungkin disia-siakan oleh Rabbnya. Oleh karena itu, berbekal keyakinan dan ketaatan kepada Allah disertai usaha Hajar yang terus mendaki bukit sebanyak 7 kali untuk mencari air, ternyata air yang ia cari justru ada dibawah kaki kecil Ismail. Kesabaran, keyakinan kepada Allah dan kesungguhan Siti Hajar telah memberikan pembelajaran yang akan terus diingat oleh manusia sepanjang zaman.

Bertutur Kata yang Baik

"... ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia." (Qs. Al-baqarah:83)
Terkadang ketika tingkah anak tidak menyenangkan hati, maka hati kita juga tergoda untuk marah dan mengomeli anak. Tapi coba kita renungkan, ketika kita memarahi anak, akan muncul perasaan tak enak, tak nyaman, merasa bersalah atau mungkin kita merasa hati ini seakan mengeras. Pada saat kita menyadari itu, minta ampunlah kepada Allah dan perbanyak ibadah sunnah. Minta maaf juga pada anak karena barangkali kemarahan kita telah melukai hatinya. Seperti yang disabdakan Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam ketika ada seorang perempuan yang menarik bayinya dengan keras karena melihatnya mengencingi Rasulullah, Rasulullah pun berkata,

"Pakaian ini bisa kubersihkan, namun bisakah membersihkan kekeruhan jiwa anakmu itu?"
Pada dasarnya, tidak ada pendidikan yang berlandaskan kemarahan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu'alaihi wassalam,

"Dua sifat yang dicintai Allah subhana wata'ala, yakni penyabar dan tidak pemarah."
Bagi seorang ibu, terkadang yang membuat ia mudah marah kepada anak adalah karena kondisinya yang lelah. Oleh karena itu, penting untuk menenangkan hati dan berempati pada kondisi anak agar kita bisa memahami alasan kenapa ia bertingkah tak menyenangkan dihadapan kita.

"Hormatilah anakmu dan baguskanlah sikapmu dalam mengajarinya," (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas ra.)

Itulah beberapa poin penting yang saya dapatkan dari buku ini. Sebenarnya ada banyak sekali poin-poin yang bisa diambil dari pelajaran. Salah satu yang jadi reminder juga buat diri sendiri adalah ketika penulis menceritakan kisah seorang Dahlan Iskan yang mendeskripsikan sosok ibunya yang jarang sekali marah dan lebih sering tersenyum kepada anak. Hal itu menjadi tamparan untuk diri sendiri yang selama ini masih suka marah dan menunjukkan wajah masam kepada anak, padahal harusnya seorang ibu bisa menjadi penyejuk hati dan pembawa kenyamanan bagi anak-anak di rumah, bukan malah sebaliknya.

Intinya ini buku yang cukup bagus untuk jadi referensi para orang tua dalam mendidik anak, walaupun beberapa poin dan penjelasannnya sudah sering saya dengar sebelumnya. Mendidik anak adalah sesuatu yang berat, bahkan lebih berat dari rasa sakitnya melahirkan. Oleh karena itu, penting untuk terus mengingatkan diri sendiri karena pada dasarnya kita seringkali lupa ketika melakukan kesalahan-kesalahan sebagai orang tua. Membaca buku seperti ini dapat menjadi pengingat kembali terutama ketika kita sudah mulai lalai dan mulai lemah dalam membimbing anak-anak di rumah.


(karena menulis sejatinya adalah untuk mengingatkan diri sendiri)

View Post
Penulis : Dian Kristiani
Judul : I'm (Not) Perfect. Walaupun Tidak Sempurna, Perempuan Tetap Bisa Bahagia 
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Koleksi : IJakarta.id



Background : pinterest.com
Cover book : IJakarta.id



Buku ini berisi tentang pendapat atau curhatan seorang emak-emak tentang berbagai komentar yang diberikan kepada sesama perempuan lainnya. Bahwasanya, kebanyakan dari kita kaum perempuan masih lebih suka menghakimi dan menggunjing perempuan lainnya. Dan itu sungguh tidak sehat. 

Berbagai hal dipertentangkan, sampai-sampai kita mendengar istilah Mom War. Mulai dari kehamilan, persalinan sampai makanan anak-anak pun dikomentari. 

Sebenarnya jika memang niatnya ingin memberikan saran, maka itu baik. Tapi jika dicetuskan dengan kalimat memojokkan, merendahkan bahkan sampai menimbulkan perdebatan hingga peperangan, apakah itu boleh dibilang bahwa kita sudah terlalu mencampuri privasi orang lain?

Nah buku ini menjelaskan tentang berbagai pertentangan diantara ibu-ibu yang sampai sekarang pun tampaknya masih ada saja isu-isu yang terus diperdebatkan. Menurutku ini buku yang cukup menarik karena penulis merangkum beberapa isu yang seringkali dilontarkan kepada sesama perempuan. 

Memang aneh sih. Harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan menyemangati. Tapi kenyataannya justru sesama perempuan lebih sering menghakimi, menjudge dan memojokkan satu sama lain. 

Selama ini kan yang paling sering kita dengar adalah seputar mom war. Sementara bandingkan dengan para suami atau bapak-bapak yang tampak santai saja. Kenapa ya kira-kira? Apa karena kita perempuan ini memang suka merasa insecure yang berlebihan? Atau kita merasa lebih baik ketika kita merendahkan orang lain?

Selain suka menjudge sesama perempuan, kita pun kerap kali membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Akibatnya apa? Kita merasa tidak bahagia karena muncul rasa iri dan dengki atau bahkan perasaan tak bersyukur. 

Kita berharap kehidupan kita sempurna padahal kita lupa bahwa kita hanya manusia. Kita juga kadang menuntut suami dan anak-anak menjadi seperti yang kita inginkan gara-gara kita melihat kehidupan ideal dari rumah Orang lain.



Selain hal tersebut, kita juga harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan selama ini benar hanya untuk kebaikan keluarga? Jangan-jangan selama ini kita menuntut diri sendiri, suami dan anak harus bisa seperti ini dan seperti itu supaya bisa kita bisa pamer? Supaya bisa dilihat orang lebih baik? Coba deh jujur pada diri sendiri. Jangan-jangan apa yang kita lakukan hanya untuk memenuhi ambisi kita saja. 




Banyak topik yang dibahas di buku ini, tapi ada satu hal yang bisa kupahami. Bahwasanya kita harus berdamai dengan diri sendiri. Tidak semua pembicaraan orang harus kita dengarkan. Tidak semua saran harus kita ikuti. Kita sendirilah yang harus menakar kemampuan diri sendiri. Tidak usah membandingkan diri dengan orang lain karena tiap keluarga berbeda-beda kondisinya. Tidak ada seorang ibu yang sempurna. Percayalah, itu tidak ada. Dan tidak perlu pula kita menuntut diri kita sempurna. Yang harus kita lakukan adalah berusaha menjadi lebih baik (bahkan dalam hal ini saja kadang masih susah kan? :')) Jadi berhentilah terlalu menuntut diri terlalu tinggi. Terus belajar.. Teruslah bertumbuh. Itu saja. 
So, cheer up Mama! Jangan sibuk menilai orang lain. Tetap fokus pada kebahagiaan dan kelebihan diri kita. Ingat, tiap keluarga punya prioritas dan level kebahagiaannya masing-masing. Jadi tak perlu kita merasa rendah diri atau malah jumawa karena hal tersebut. Bismillah.. Semoga kita selalu menjadi pribadi yang bersyukur ya. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa menjadi reminder untuk kita semua (terutama diri saya pribadi). 

Salam!



View Post
Judul : Abah...
Penulis : Ullan Pralihanta
Penerbit : Grasindo



Buku ini berisi tentang perjuangan seorang ayah yang baru ditinggal mati isterinya. Ia harus berjuang untuk kedua anaknya, Lanka dan Samara. Mulai dari mengurus rumah, mencari pekerjaan yang tak mudah hingga mengatasi konflik antara ayah dan anak.

Pendapatku tentang buku ini?
Sebenarnya temanya bagus ya. Tentang perjuangan seorang ayah. Hanya saja konflik dalam buku ini cenderung dipaksakan dan kadang agak tidak masuk akal. Contoh saja, kok bisa seorang bule cantik langsung jatuh cinta pada seorang kuli bangunan sejak pandangan pertama? Hingga si bule sampai mau membiayai rumah sakit hingga jadi sering berkunjung ke rumah Zain (tokoh utama). Ditambah lagi reaksi anak-anaknya yang berlebihan ketika melihat ayahnya dengan si bule, hingga anak-anaknya sampai tega meninggalkan ayahnya seorang diri. Di buku ini juga dikisahkan proses perjalanan hidup anaknya yang terasa berlalu terlalu cepat. Tiba-tiba saja kok Samara sudah jadi model. Lalu Alka kok bisa sampai diadopsi orang kaya raya yang baik hatinya. Terlalu banyak kebetulan yang membuat kisah buku ini jadi tidak natural. 

Saat awal-awal cerita sebenarnya sudah cukup bagus. Masih berjalan natural. Tapi ketika konflik mulai muncul, alurnya malah berubah menjadi seperti kisah dalam sinetron.

But overall, saya sih sepakat bahwa perjuangan seorang ayah itu amat besar. Seorang ayah akan berkorban apapun demi anak-anaknya termasuk mengorbankan kebahagiaannnya sendiri. Ini pesan utama yang saya tangkap dari buku ini.

Ratingku : 6/10




View Post
Judul Buku : Langkah SMART Kiat Menjadi Pribadi yang Bermanfaat 
Penulis : Pariman, M. Psi., Psikolog




Ini buku hadiah teman. Awal-awal sempat berpikir jangan-jangan ini isinya tentang motivasi-motivasi pada umumnya yang gaya bahasanya tidak terlalu aku suka. Tapi setelah melihat isinya ternyata lebih banyak mengulas tentang inspirasi kehidupan Nabi dan para sahabat.

Kalau boleh jujur, sebenarnya tidak terlalu banyak hal baru yg aku temukan di buku ini. Mungkin karena memang berkisah tentang kisah sahabat yg sudah pernah aku baca sebelumnya. Dan satu hal yang menjadi kekurangan buku ini adalah beberapa kisahnya ada yang tidak shahih. Meskipun mungkin ceritanya inspiratif, tapi jika sumbernya tidak jelas menurutku itu juga tidak bagus. Apalagi jika sampai mengatasnamakan nama para sahabat. 
But overall sih tetap ada hal-hal yang baik bisa kita ambil. 

Ada beberapa poin yg akan aku share ya. Tapi kalau mau tahu lebih lengkap silakan langsung baca sendiri bukunya. 

Pertama, menjadi orang sukses itu butuh proses. Mendapatkan generasi cemerlang itu tidak instant. Sebut saja Muhammad Alfatih yg sejak baligh tidak pernah meninggalkan sholat tahajud dan sholat rawatib. Pemahaman akan ilmu agamanya pun sudah tak diragukan lagi. Ia juga pandai dalam strategi perang bahkan dalam usia 21 th sudah menguasai 6 bahasa. Luar biasa nggak tuh? Pasti sepanjang hidupnya ia isi dengan belajar dan berlatih. Tak heran jika ia dan pasukannya menjadi pasukan elit yg berhasil merebut konstantipel karena Muhammad Alfatih sudah mempersiapkan itu sejak bertahun-tahun lamanya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah mempersiapkan diri dan anak-anak kita untuk menjadi generasi kebanggaan Allah? (self reminder... This is self reminder) 

Kedua, jika kita punya keinginan dan cita-cita maka berdoalah kepada Allah dengan diiringi ikhtiar. Seorang sahabat Rasulullah pernah meminta rasul mendoakannya agar bisa menjadi teman Rasulullah di surga. Lalu apa jawaban Rasulullah? 
"Kalau begitu, bantulah aku dengan dirimu sendiri, perbanyaklah sujud!" 

Maka dari itu, apapun keperluan kita, giatkan doa dan perkuat ikhtiar kita. Segala sesuatu itu harus kita sendiri yang mengusahakan. Doa juga penting, tapi tak cukup hanya dengan doa untuk mewujudkannya. Ikhtiar maksimal perlu diupayakan juga. 

Ketiga, dalam kehidupan duniawi mungkin kita punya pengharapan untuk selalu bisa merasakan kesenangan. Memang benar, senang-senang adalah hal yang diinginkan semua orang. Tapi terkadang, senang-senang  bukanlah jawaban yang kita butuhkan. Kebanyakan dari kita pasti menolak pada "bungkus" yang terlihat buruk, padahal bisa jadi isinya malah lebih bermanfaat.

Kehidupan berfoya-foya tentu menyenangkan. Padahal berfoya-foya adalah bungkus dari kegagalan. Orang yang menjadikan hura-hura sebagai rutinitas hidupnya, maka suatu saat kelak ia pasti akan menyesalinya. Sementara kehidupan yang terkadang terasa berat bisa jadi merupakan proses pendewasaan yang akan mendatangkan kesuksesan dimasa yang akan datang, insya Allah. 

Keempat, pernahkah kau mendengar kisah seorang sahabat Nabi bernama Tsa'labah? Ia sengaja mendatangi Rasulullah Sallallahu'alaihi wassalam dan meminta Rasulullah mendoakannya agar Allah berikan rezeki yang banyak padanya. Lalu apa kata Nabi?

"Wahai Tsa'labah, engkau bisa mensyukuri hartamu yang sedikit, itu lebih baik dibandingkan engkau bergelimang harta, tetapi engkau menjadi kufur." 

Tsa'labah memahami doa Rasulullah tersebut, namun ia hanya menjawab bahwa ia tidak akan sampai seburuk itu. Ia justru akan membela agama dengan harta yang ia miliki. 

Maka keesokan harinya, Tsa'labah mendatangi Rasulullah dan tetap memohon didoakan hal yang sama. Akhirnya Rasulullah pun mendoakan Tsa'labah. Lalu Rasulullah Sallallahu'alaihi wassalam pun memberikannya seekor kambing bunting. Kambing tersebut akhirnya beranakpinak dan Tsa'labah pun menjadi orang kaya.

Sayangnya, apa yang dikhawatirkan Rasulullah terjadi. Tsa'labah mulai jarang datang ke mesjid. Ia pun hampir tidak pernah menunaikan zakat pada hartanya. Sebuah peristiwa yang persis terjadi kepada sepupu Nabi Musa, yaitu Qarun. 

Harta ditangan orang yang hatinya lemah, justru hanya akan mengakibatkan kebinasaan. Namun harta bagi orang beriman, justru akan menambah keberkahan. Seperti harta ditangan Nabi Sulaiman justru membuat Nabi menjadi pribadi yang makin bersyukur dan makin banyak beribadah.

Dari situlah kita bisa mencoba mengambil pelajaran. Bukan soal berapa banyak harta yang kita punya, tapi bagaimana kita mampu bersyukur dengan apa yang kita miliki. 
View Post

Muhammad Sallallahu 'alaihi Wassalam, The Super Leader Super Manager





Buku ini recommended banget loh. Terutama bagi orang-orang yang ingin tahu lebih banyak tentang rasullullah. Ketika membaca buku ini, maka semakin tahulah saya bahwa tidak ada sosok yang sesempurna dan sehebat Rasul kita, Muhammad Sallallahu'alaihi Wassalam. Berbanggalah kita karena kita menjadi umat dari seorang laki-laki sehebat beliau. Yang luar biasanya, kehebatan beliau tidak hanya meliputi satu aspek saja, tetapi juga ke banyak aspek, dan itu dijelaskan dalam buku ini cukup mendetail dengan  penjelasan yang komprehensif.

Ketika kita berbicara tentang kepemimpinan seorang Muhammad Sallallahu'alaihi Wassalam, maka awalnya yang terpikir dalam diri kita adalah kepemimpinan dan keteladanan beliau dalam hal ibadah. Padahal jika kita melihat secara menyeluruh terlihat bahwa kepemimpinan beliau mencakup banyak hal.  Kepemimpinan beliau dalam hal bisnis, keluarga, kepemimpinan dalam dakwah, dalam sosial-politik, dalam sistem pendidikan, hukum,  dan militer menjadi buktinya.

Dalam hal bisnis, dijelaskan, bahwa sejak masih remaja Rasul sudah menggeluti bidang bisnis perdagangan. Dalam bidang tersebut, Muhammad Sallallahu'alaihi Wassalam terkenal sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya, sehingga banyak para pedagang yang menaruh kepercayaan dan menaruh modal kepada beliau.  Kemampuan beliau dalam membangun kepercayaan masyarakat saat itu mampu membuat Rasulullah Sallallahu'alaihi Wassalam dikenal sebagai pengusaha yang  berhasil. Kemampuannya berwirausaha menjadi suatu keunggulan tersendiri bagi sosok Rasullullah Sallallahu'alaihi Wassalam didukung dengan kepribadian yang baik dan jauh dari perbuatan-perbuatan jahiliyah. Prestasi beliau dalam perdagangan ini bukanlah sebuah hal yang bisa dimiliki oleh semua orang, sehingga kepemimpinan beliau dalam hal bisnis ini perlu menjadi sebuah pembelajaran bagi orang-orang yang ingin sukses dalam bisnisnya.

Selain itu, Rasullullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga dikenal sebagai pribadi yang peduli dan menyayangi keluarga. Kepemimpinan beliau dalam keluarga menjadi sebuah pembelajaran bagi setiap orang yang ingin membina keluarga. Rasullullah dikenal sebagai suami yang lembut dan penyayang bagi semua istri dan anak-anaknya. Beliau mampu menciptakan keluarga harmonis.  Beliau mampu berperan sebagai seorang ayah yang teladan, mertua yang pengertian, kakek penyayang, dan suami teladan. Beliau mampu mengatasi masalah dan problem dalam keluarganya. Sosok yang ideal bagi semua keluarga muslim yang ingin menciptakan keluarga yang diberkahi oleh Allah.

Rasullullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga memiliki kepemimpinan dalam bidang-bidang seperti hukum. Beliau mampu menciptakan tatanan hukum modern dan mampu menerapkannya di lingkungan masyarakat yang awalnya merupakan bangsa jahiliyah. Hal ini tentu tidaklah mudah untuk dilakukan. Sangat tidak mudah mengubah sistem tatanan hukum dan pemerintahan menuju sistem yang baru seperti yang dilakukan oleh Rasullulah, namun ternyata itu bisa diwujudkan oleh beliau. Rasulullah Sallallahu'alaihi Wassalam juga menjadi sosok guru yang luar biasa. Beliau mampu menciptakan kader-kader terbaik muslim yang mampu menggantikan beliau ketika beliau tiada. Hal ini menunjukkan bahwa tarbiyah yang telah dilakukan Rasullulah merupakan bentuk pendidikan yang efektif, sehingga mampu menciptakan pemahaman keislaman bagi para kaum muslim saat itu. Beliau menetapkan bentuk pendidikan yang efektif dalam mengajarkan keteladanan ibadah dan dalam mengajarkan ilmu-ilmu tatanan Islam lainnya.

Demikian juga dalam sosial politik. Beliau merupakan negarawan yang memiliki kecerdasan dalam membangun sebuah negara. Bahkan beliau diakui menjadi sosok yang paling berpengaruh di dunia. Kemampuan beliau dalam memanajemen pemerintahan dan melakukan ekspansi politik keluar Madinah menjadi bukti bahwa rasul kita benar-benar menetapkan Islam yang menyeluruh dalam segala aspek kehidupan. Kemampuan beliau dalam menjalankan hal-hal perpolitikan menjadi sebuah pembelajaran yang penting bagi umat muslim yang ingin terjun ke bidang politik.

Beliau juga membuktikan kehebatannya dalam masalah militer. Beliau adalah seorang pemimpin perang yang  memiliki siasat dan strategi jitu dalam memenangkan pertempuran. Tak jarang beliau sering terjun langsung dalam pertempuran dan menyemangati para para prajurit yang terdiri dari kaum muslimin. Beliau menjadi orator hebat yang mampu menyemangati pasukan muslim untuk tetap berjuang dan meluruskan niat hanya untuk Allah dan kemenangan islam. Dalam peperangan yang terjadi, terlihat bahwa Rasullullah benar-benar memiliki kepribadian yang luar biasa. Bahkan dalam kondisi perang pun beliau meminta para sahabat dan pasukan untuk tidak sembarangan membunuh dan menjalankan adab-adab berperang.

Sungguh mencengangkan dan luar biasa. Seorang yang ummi seperti beliau mampu menciptakan peradaban baru di tanah yang awalnya  jahiliah. Jika orang lain membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun, namun beliau mampu membuat sebuah peradaban baru dan perubahan yang signifikan bagi sebuah kaum yang terkenal dengan budaya jahiliahnya.

Tak cukup memang, jika saya harus menceritakan secara panjang lebar lagi apa yang terkandung dalam buku karangan M. Syafii Antonio ini, karena terlalu banyak yang bisa diceritakan dan takkan bisa juga menceritakan semua hal yang terkait dengan keteladanan beliau. Yang  jelas, satu hal yang saya pahami adalah bahwasanya Rasullullah merupakan pemimpin yang sempurna. Beliau bisa memimpin dari sisi akhlakul karimah, kecerdasan dan ketangkasan. Beliau menjadi orang yang pertama yang mengerjakan kebajikan dan menjadi orang yang paling pertama pula meninggalkan keburukan. Ketika kebanyakan pemimpin kita saat ini berbicara dan memerintah, namun beliau adalah orang yang hanya berbicara dalam hal kebaikan dan bersikap diam selain hal mengucapkan hal itu. Ketika beribadah pun beliau akan menjadi sosok pertama yang akan melakukannya, sehingga hal tersebut memberikan contoh yang sangat baik bagi para sahabat yang ingin mencontoh beliau.

Ketika kita bicara tentang keteladanan beliau, maka tak akan ada habisnya. Namun, kepemimpinan beliau tak kan diragukan lagi dari berabad-abad yang lalu hingga saat ini dan tak kan pernah habis oleh waktu. Sungguh beruntung orang-orang yang nantinya dekat dengan beliau di surga, sungguh beruntung jika nanti kita bertemu Rasullullah Sallallahu'alaihi Wassalam dan disambut dengan senyuman hangat dari beliau. Tak terbayang rasanya jika itu terjadi (dan semoga itu terjadi), karena makhluk mulia sepertinya juga pasti akan bertemu dengan orang-orang mulia yang tak pernah meninggalkan Alquran dan sunnah yang telah beliau tinggalkan. Semoga keteladanan beliau dalam memimpin dapat memotivasi kita untuk paling tidak berusaha menjadi lebih baik, sehingga kita tidak malu jika nanti dipertemukan dengannya. Shalawat beserta salam akan selalu tercurah kepadamu, Wahai Rasullullah Sallallahu'alaihi Wassalam, beserta keluarga dan para sahabat. Semoga Allah berkenan mempertemukan hamba dengan orang-orang yang Engkau cintai, Aamiin Yaa Rabb.
View Post