Saya dulunya adalah orang yang tak pandai memasak (sampai sekarang pun juga masih belajar sih ;D). Saya ingat betul betapa dulu sering dikomentari keluarga karena ketidakmampuan saya dalam memasak. Rasanya kesal sih pastinya, tapi ya mau bagaimana lagi, memang kenyataannya begitu. Dulu, memasak nasi saja masih gagal. Selalu  berakhir menjadi nasi lembek atau nasi keras. Mungkin yang saya bisa waktu itu hanyalah masak mie instan dan masak air saja.

Zaman dulu juga tidak semudah  zaman sekarang dalam mencari informasi. Kalau sekarang, kita tinggal googling untuk mencari resep. Kalau dulu kita harus bertanya ke orang lain atau kadang mencatat dari acara memasak di televisi yang tentunya tidak selalu tayang  setiap hari. Mencatat lewat televisi (yang tidak bisa di-pause) itu sungguh menantang. Kalau kita lengah atau lambat sedikit, bisa-bisa kita ketinggalan dalam mencatat resep atau melihat proses memasak yang sedang ditayangkan.

Setelah internet dan smartphone makin berkembang seperti saat ini, semua terasa lebih mudah. Saya pun menjadi lebih termotivasi untuk belajar memasak. Apalagi setelah saya sudah menikah dan punya anak, saya pun jadi semakin semangat.

Kalau sekarang sih boleh dibilang saya sudah mulai bisa memasak. Setidaknya saya punya menu masakan dan cemilan favorit untuk keluarga. Tentu itu sebuah proses yang tidak mudah. Seringkali juga saya gagal dalam mencoba beberapa resep. Buat saya tidak masalah, karena saya jadi belajar banyak hal.

Sebagai pemula dalam memasak, saya punya beberapa tips bagi yang ingin memulai belajar memasak. Tips ini sebenarnya saya  dapatkan dari pengalaman saya dalam belajar memasak. Jadi mudah-mudahan tips ini bisa bermanfaat ya. 


1. Jangan Takut Gagal

Ketika kita pertama kali belajar sesuatu, pasti tidak selalu bisa berjalan dengan mulus. Seperti saya yang juga beberapa kali gagal dalam membuat masakan. Itu hal yang wajar. Justru kadang dari kegagalan itu kita jadi bisa belajar banyak hal. Jadi ketika kita mencoba suatu resep dan ternyata belum berhasil, jangan malah membuat kita makin mundur dan makin malas memasak. Tetap yakin dan semangat meskipun mungkin hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Yang penting adalah kita tidak berhenti belajar dan terus semangat untuk mencoba. Ingat, terkadang dari kegagalan yang kita buat, justru malah membuat kita belajar hal baru yang bisa bermanfaat untuk pengalaman memasak kita selanjutnya.


Uji coba resep dari internet, kue bika ambon yang teksturnya masih gagal (foto : Dok. pribadi)


2. Kenali Bahan Makanan

Sebenarnya ini adalah kemampuan yang dasar sekali ya. Penting untuk mengetahui bahan makanan yang ingin kita pakai. Misalnya saja saat membuat roti, pastikan kita menggunakan tepung yang benar karena tepung itu sendiri ada banyak jenisnya. Belum lagi bumbu-bumbu dapur yang lain. Pastikan kita memasukkan bahan yang benar ke dalam masakan. Jangan sampai kita memasukkan merica ke dalam masakan, padahal sebenarnya yang kita butuhkan adalah ketumbar. Jadi coba pelajari perlahan-lahan dan seringlah berlatih memasak karena seiring waktu kita kelak akan bisa membedakan sendiri. 


Sudah bisa bedakan mana jahe dan lengkuas? (Foto : Dok. Pribadi)


3. Sesuaikan dengan Kemampuan


Kalau kita memang masih pemula dalam memasak,carilah resep yang sederhana dan mudah. Jangan dulu tergoda untuk membuat resep-resep rumit, misalnya ingin membuat croissant, lapis legit, pempek atau rendang. Kita bisa mulai dengan resep simpel yang tidak membutuhkan banyak trik dalam proses pembuatannya. Kita bisa memulai dengan membuat kue atau cemilan sederhana. Misalnya saja pancake, biskuit, tumis-tumisan dsb. Setidaknya cobalah resep yang tingkat kegagalannya rendah supaya kita makin percaya diri dalam belajar memasak. Barulah setelah itu secara bertahap kita menaikkan standar kita dalam memasak resep yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi.


Memasak yang simpel dan sederhana dulu saja (Foto : Dok. Pribadi)


4. Baca Resep yang Sudah Teruji


Kita memang bisa menemukan banyak resep hanya lewat mesin pencari, tapi terkadang resep yang bertebaran di internet tak selalu pas dan bisa dipertanggungjawabkan. Kadang ada resep yang membuat kita bingung dalam pengerjaannya. Mungkin karena resep tidak disertai video atau foto-foto di setiap langkahnya atau instruksi yang kurang jelas.

Oleh karena itu, daripada kita bingung dan ragu, pastikan kalau resep yang kita pakai adalah resep yang sudah teruji. Resep yang teruji biasanya antigagal dan kemungkinan berhasilnya pun lebih besar. Resep yang sudah teruji bisa kita ketahui dari review orang-orang yang sudah pernah mencoba. Jika resepnya antigagal biasanya review-nya pun kebanyakan juga bagus.



Dok. Pribadi

Masalah selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mencari tempat yang tepat untuk mencari resep? Nah, itulah perlunya menemukan applikasi memasak yang bagus. Kali ini saya mau memberi tahu satu applikasi memasak yang cocok bagi para pemula maupun bagi orang-orang yang memiliki hobi memasak. Namanya adalah Yummy App. Pasti sudah banyak yang tahu juga ya? Saya ingin memberitahu beberapa alasan utama kenapa applikasi ini menarik terutama bagi pemula. Simak baik-baik ya.

1. Resepnya Teruji

Nah, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, jika kita baru belajar memasak maka penting sekali untuk mencoba resep yang sudah teruji. Kita bisa melihat rating dan komentar dari orang yang sudah membuat resep tersebut. Nah di Yummy App kita bisa melihat penilaian dan ulasan dari orang lain. Kita bisa melihat resep dengan rating bintang tinggi dan komentar-komentar pembaca yang sudah melakukan uji coba. Jadi di Yummy app ini kita sudah tidak perlu khawatir lagi deh.




2. Aplikasi Gratis dan Mudah

Kamu tinggal cari saja di playstore dan ketik Yummy App. Pasti tidak sulit untuk menemukannya karena rating Yummy App pun juga tinggi lho. Sudah satu jutaan orang yang mengunduh applikasi ini.


Cara mengunduhnya pun mudah. Kita tinggal download, masuk terlebih dahulu lewat email dan bisa langsung berselancar di applikasi. No ribet-ribet pokoknya. 






3. Bisa Membuat Masakan Sesuai Kebutuhan

Menurut saya ini salah satu kelebihan Yummy App dibandingkan applikasi memasak lain yang pernah saya coba. Kita bisa memasak sesuai dengan kebutuhan kita. Jadi apakah kita mau masak sesuai budget-kah? Ataukah ingin disesuaikan dengan bahan yang kita punya di rumah? Atau memasak berdasarkan waktu memasaknya? Semuanya ada. Pokoknya kita dimanjakan sekali dengan applikasi ini karena kita bisa memasak sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing tanpa perlu ribet mikir-mikir yang lain.




4. Resep Lengkap dan Jelas 

Nah, ini penting sekali lho. Saya termasuk yang kadang bingung jika melihat resep tanpa ada proses pengerjaannya. Menurut saya, penting sekali untuk menyertakan foto atau video langkah-langkah dalam memasak dan Yummy App memfasilitasi itu semua. Apalagi jika resepnya adalah resep yang baru pertama kali kita coba iya kan? Foto setiap langkah itu sangat membantu memperjelas instruksi sehingga kita pun tidak perlu bingung lagi. 




5. Resep Variatif dan Banyak


Dalam applikasi Yummy App, kita bisa menemukan banyak resep sesuai yang kita inginkan. Jadi kita tidak perlu bingung lagi mencari inspirasi. Biasa kan yah kalau ibu-ibu itu suka bingung kalau menentukan menu memasak sehari-hari. Besok masak apalagi ya? Besok cemilannya apalagi ya? Nah, di Yummy App kita sudah tidak perlu bingung lagi karena ada banyak sekali ini inspirasi masakan yang bisa kita temukan. Kita bahkan bisa memilih sesuai budget yang kita punya.





6. Banyak Event Seru


Ini juga salah satu hal yang membuat applikasi Yummy App berbeda dengan yang lain. Biasanya setiap bulan, Yummy sering mengadakan event-event seru yang bermanfaat bagi penggunanya. Jika kita mengikuti event yang diselenggarakan Yummy, kita bisa mendapatkan poin lho. Poin itu nanti bisa kita uangkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jadi, selain kita bisa mencari resep masakan, kita bisa menambah pemasukan rumah tangga juga. Seru kan?

Beberapa event Yummy di bulan November

Tapi ada hal yang perlu diingat ya jika kita ingin mengikuti event atau posting resep di Yummy App. Kita tidak boleh membuat resep asal-asalan. Jangan sampai kita lupa memasukkan langkah-langkah dalam memasak ataupun memasukkan fotonya. Fotonya pun harus jelas dan bagus. Jadi memang harus berkualitas dan mengikuti semua aturan dan persyaratan. 

Dalam hal ini saya merasa kalau Yummy App memang sangat menjaga kualitas resep yang ditampilkan. Makanya kalau posting resep di Yummy, kita juga harus sabar menunggu, karena resep kita biasanya akan ditinjau terlebih dahulu oleh admin, apakah layak atau tidak untuk diloloskan. Wah, benar-benar menantang ya?

Gambar : Dok. Yummy Indonesia (popmama.com)


Tak hanya itu, Yummy App juga suka membuat event-event memasak yang seru lainnya. Seperti yang berlangsung di bulan ini, Yummy telah melaksanakan event bertemakan Indonesia Memasak by Yummy. Acara ini diiikuti oleh banyak pesohor di bidang kuliner di Indonesia. Sebut saja,William Wongso, Martin Pradja, Desi Trisnawati, Degan Septoadji dan lainnya. Dalam event ini Yummy berbagi bagaimana caranya membuat sajian sehat, minuman tradisional, sambal nusantara dan berbagai macam kuliner Indonesia lewat OCC atau Online Cooking Class. Apakah berbayar? Tidak! Acara ini gratis. Bahkan kita bisa mendapatkan kesempatan menang giveaway dan mendapatkan berbagai hadiah menarik juga. Seru banget ya! Ternyata dalam kondisi pandemi seperti ini, Yummy App tetap aktif berkontribusi membuat acara yang inspiratif!

Foto : Dok. Yummy Indonesia (popmama.com)


Selain itu, dalam event ini Yummy juga mengadakan berbagai workshop yang menunjang aktivitas kuliner, misalnya membahas tentang makanan sehat untuk anak, bagaimana menjadi content creator di bidang kuliner, membuat Indonesian dessert dan tentang food styling potoghraphy. Wah materinya memang isinya "daging" semua ya. Pasti akan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang ingin serius menekuni bidang kuliner.

Dok. Yummy Indonesia (popmama.com)


Selain workshop dan OCC, Yummy juga mengadakan talkshow dengan empat materi menarik yaitu tentang vegan dengan bahan khas Indonesia, Business Guide to Surviving a Pandemic, Introducing Indonesian Culinary to the World dan Online Business Culinary. Acara-acara tersebut diisi oleh narasumber yang memiliki pengalaman di bidangnya. Wah, banyak sekali ya materi yang bisa kita ambil. Walaupun di rumah aja, ternyata kita tetap bisa mengikuti Online Cooking Class dan mendapatkan ilmu serta inspirasi-inspirasi dari acara Indonesia Memasak by Yummy. Two thumbs!

Nah, saya juga menonton salah satu event Yummy yaitu tentang materi online cooking class tentang Sambal Nusantara. Kenapa saya tertarik? Tentu saja alasannya karena saya adalah pecinta sambal! Saya biasanya suka membuat beberapa sambal seperti sambal korek, sambal terasi dan sambal pete di rumah. Nah, pas sekali stock sambal saya sudah mau habis, akhirnya saya pun tertarik untuk mencoba membuat resep sambal yang resepnya sudah ada di Yummy App. Jadi tidak perlu harus catat-catat resep lagi, semua resep dan langkah-langkahnya sudah ada disana. Untuk info paling lengkap ada di applikasi Yummy App ya atau kamu bisa langsung  download disini.





Saya memilih membuat sambal bawang karena bahan-bahannya ada semua di rumah. Awalnya ingin mencoba membuat sambal teri yang sudah didemonstrasikan Chef Martin Pradja di acara Indonesia Memasak by Yummy, tapi berhubung bahannya kurang lengkap, akhirnya pilihan jatuh ke resep sambal bawang. Selain sambal bawang, kita juga bisa membuat pilihan sambal lain seperti sambal terasi, sambal matah, sambal colo-colo dan lainnya. 


Dok. Pribadi

Tidak sulit untuk membuat sambal bawang, kita hanya perlu mengulek cabai dan mengiris-iris bawangnya. Setelah itu cabai pun bisa langsung dimasak. Sekali lagi, untuk resep lebih lengkapnya bisa langsung cek di applikasi Yummy App ya. 


Dok. Pribadi


Gampang sekali ya! Dalam waktu beberapa menit sambal pun sudah jadi. Hal ini tidak lain karena didukung oleh resep dan proses pembuatan yang disampaikan dengan jelas. Pokoknya thank you untuk resep nusantaranya Yummy App! Bisa jadi koleksi tambahan resep sambal di rumah selain sambal yang biasa saya buat.



Seru sekali ternyata. Selain resep sambal, masih banyak resep-resep masakan nusantara lain yang bisa kita temukan di Yummy App, terutama yang terkait dengan event Indonesia Memasak Yummy. Jadi yang kemarin ketinggalan acaranya, masih bisa melihat resep-resepnya di jelajah Spesial IMY baik di Yummy App, website, maupun media sosial Yummy. Ayo, tunggu apalagi. Cobain resep-resepnya di rumah. Indonesia Memasak Yummy memang seru! Mudah-mudahan nanti diadakan lagi event bertabur hadiah dan ilmu seperti ini ya Yummy! :D 

View Post


Siapa yang setuju kalau aktivitas membaca itu memiliki banyak manfaat bagi anak? Pasti kita semua setuju kan kalau membaca itu bisa memberikan manfaat yang besar bagi anak-anak kita. Lalu apa saja manfaat membaca bagi anak? Sebut saja manfaatnya adalah dapat memperkaya kosa kata anak agar terampil berbicara, dapat meningkatkan daya berpikir anak, dapat menjadi terapi untuk mengatasi anak yang memiliki ketergantungan terhadap gadget dan dapat membantu optimalisasi kemampuan membaca dan menulis anak (dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018).


Foto : Dokumen Pribadi

Yang jadi masalah, di zaman sekarang ini memang tidak selalu mudah untuk mengajarkan anak mencintai aktivitas membaca. Bahkan kita sebagai orang dewasa pun belum tentu suka membaca buku, ya kan? Ayo, Ayah Bunda, siapa saja yang sampai sekarang masih punya hobi membaca? Jangan-jangan kebanyakan dari kita lebih sering scrolling media sosial daripada membaca buku? Hal seperti inilah yang perlu diperhatikan dan jadi bahan introspeksi diri kita. Jika kita ingin anak-anak suka membaca buku, berarti kita pun juga harus berupaya untuk suka membaca buku. Betul atau betul? :)

Saya jadi ingat dulu sewaktu kecil saat saya mulai tertarik membaca buku. Awal mulanya adalah karena waktu itu saya suka melihat ayah saya membaca koran. Beliau membeli koran hampir setiap hari. Mau tidak mau saya pun jadi penasaran ketika melihat ayah saya yang tampak asyik membaca koran. Saya sering bertanya-tanya dalam hati saat itu, Ayah sedang baca apa ya kok kelihatan asyik sekali? Ayah kenapa ya tiap hari kok baca koran terus? Memangnya didalam koran ada apa sih?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang akhirnya mengantarkan saya pada aktivitas membaca. Biasanya saya memilih membaca bacaan yang ringan di koran, misalnya rubrik tentang hiburan, entertainment dan cerpen. Pada saat saya belum bisa membaca, saya tertarik sekali melihat gambar-gambar yang ada di majalah ataupun koran. Itulah awal mula saya tertarik membaca buku. Orang tua saya bukanlah orang yang kaya raya. Kami pun tinggal di kota kecil yang tidak memiliki akses untuk pergi ke toko buku besar. Jadi biasanya orang tua saya membelikan majalah bekas walaupun tidak setiap waktu. Walaupun demikian, bagi saya tetap saja itu hadiah yang sangat berharga. Saya sangat senang sekali jika punya bahan bacaan walaupun hanya dari majalah bekas.

Oleh karena itu, saya percaya bahwa betapa besar peran orang tua dalam menanamkan kecintaan pada membaca. Orang tua saya memang tidak pernah memaksa saya untuk suka membaca. Mereka hanya langsung memberikan teladan kepada saya dan itu justru jauh lebih berpengaruh untuk saya pribadi.


Foto : Dokumen Pribadi


Nah, tapi yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan anak-anak saya sendiri? Apa sih yang bisa saya lakukan agar anak-anak suka membaca seperti saya dulu?

Lewat tulisan ini saya akan sharing sedikit tentang bagaimana saya mengenalkan buku kepada anak-anak saya dirumah. Saya memiliki tiga anak dan masing-masing anak ternyata memiliki masanya sendiri untuk tertarik pada buku. Contohnya saja anak pertama. Sejak kecil, anak pertama saya sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada buku padahal usianya waktu itu masih empat bulan. Saat berumur satu tahun, dia sudah senang melihat gambar-gambar yang ada di dalam buku. Mungkin karena itu juga dia jadi lebih mudah belajar membaca, padahal waktu itu saya belum intens mengajarkannya. Ia sangat tertarik dengan buku sehingga seringkali ia malah belajar membaca sendiri.


Anak pertama saya, Nayra saat berumur tepat satu tahun (foto : Dokumen Pribadi)


Saya mulai memperkenalkan aktivitas membaca kepada anak sejak mereka masih bayi. Saat masih bayi, saya membelikan buku bantal agar tidak mudah robek dan tidak berbahaya bagi anak. Buku bantal tersebut berisi gambar-gambar sederhana beraneka warna. Saya membacakan isi bukunya sambil memperlihatkan gambar pada buku tersebut.

Anak pertama ketika berumur empat bulan (foto: dokumen pribadi)



Kegiatan membacakan buku sejak bayi juga memberikan manfaat yang bagus untuk tumbuh kembang anak. Kita dapat menjalin bonding dengan anak lewat suara dan interaksi yang kita lakukan bersama anak. Kegiatan membaca saat bayi juga bisa menjadi fase persiapan bagi anak sebelum nantinya mereka membaca. Sebuah studi membuktikan bahwa semakin banyak kata-kata yang diucapkan pada bayi, maka kelak dia akan lebih siap untuk membaca sendiri. Selain itu kegiatan membacakan buku kepada bayi juga dapat meningkatkan kekuatan otak anak (https://id.theasianparent.com/)

Berbeda dengan kakaknya, anak kedua saya justru memiliki proses yang berbeda. Ia butuh waktu yang cukup lama dibanding kakaknya untuk bisa tertarik dengan buku. Anak saya yang kedua justru mulai tertarik dengan buku saat mendekati usia tiga tahun.

Saya sendiri mencoba melakukan beberapa upaya agar anak saya tertarik dengan aktivitas membaca. Apa saja upaya yang saya lakukan ?

1. Membuat Perpustakaan Mini

Saya membelikan buku-buku anak dan mengumpulkannya menjadi koleksi perpustakaan di rumah. Tidak harus membelikan buku yang mahal ya Parents. Kita juga bisa membeli buku bekas atau buku-buku murah untuk anak kita. Yang terpenting adalah biarkan mereka terpapar buku di rumah. Letakkan buku di tempat yang mudah terlihat dan dijangkau anak. Boleh dibilang itu langkah yang cukup efektif untuk anak saya. Dari pengalaman sebelumnya, anak kedua saya akhirnya jadi senang membaca buku karena sering melihat salah satu buku yang sengaja saya sodorkan kepadanya hampir setiap hari. Alhasil yang awalnya cuek dan tak tertarik, lama-lama ia pun mulai penasaran bahkan meminta saya membacakannya berulang kali.

Perpustakaan mini kami, mungil tapi penuh cerita (Foto : Dokumen Pribadi)


2. Memberikan Teladan kepada Anak

Berkaca dari pengalaman saya di masa lalu, saya merasa bahwa peran orang tua sangat penting dalam memperkenalkan aktivitas membaca. They see, they do. Jika orang tua saya tidak hobi membaca, barangkali saya pun tidak akan merasa familiar dengan aktivitas itu. Oleh karena itu, sebagai orang tua saya merasa harus memiliki ketertarikan juga untuk membaca.

Masalahnya, saat ini banyak sekali godaan yang membuat orang malas membaca. Zaman sekarang, orang dewasa lebih banyak bermain gawai daripada memegang buku. Yah, walaupun sebagai orang dewasa kita sebenarnya tetap bisa membaca buku lewat gawai, tapi untuk anak-anak, saya tetap memilih agar mereka membaca buku secara langsung. Oleh karena itu, harus ada waktu ketika anak melihat saya membaca buku, walaupun sebenarnya saya memang sudah terbiasa membaca lewat smartphone sih.

Untuk anak-anak, menurut saya mereka lebih baik dikenalkan dengan aktivitas membaca buku, walaupun di smartphone pun sebenarnya sudah banyak applikasi membaca untuk anak. Selain lebih bagus untuk kesehatan mata (bobo.co.id), membaca dengan buku bisa menstimulasi indera anak. Misalnya saja ketika anak memegang lembaran kertas, membolak-balik kertas dan menyentuh tekstur halaman buku. Itu sangat baik untuk perkembangan sensori maupun motorik mereka. Apalagi jika bukunya memiliki fitur-fitur menarik yang bisa disentuh. Anak jadi bisa belajar banyak hal hanya dari memegang buku. 



Foto : Dokumen Pribadi


3. Mengapresiasi Anak

Biasanya saya memuji anak-anak jika mereka lebih memilih aktivitas membaca. Apresiasi ini perlu dilakukan agar mereka makin termotivasi untuk membaca. Pada dasarnya anak-anak ikan suka dipuji atas apa yang mereka lakukan. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja juga suka dipuji kan? :D


Foto : Dokumen Pribadi



Itulah beberapa hal yang saya lakukan di rumah agar anak bisa termotivasi untuk membaca. Selain hal diatas, saya juga mau menambahkan beberapa tips lain agar anak gemar membaca dari yang saya baca. Beberapa diantaranya adalah mengajarkan anak membaca dengan cara yang unik, ajak anak berpetualang ke perpustakaan, rutin membacakan anak buku dan sediakan waktu membaca bersama keluarga (https://id.theasianparent.com/).

Bagaimana? Seru kan Parents?





Jika anak masih malas membaca padahal kita sudah mencoba beberapa tips diatas, barangkali ada yang harus kita evaluasi. Apakah gaya membaca  kita membosankan? Kalau ternyata kenyataannya demikian, maka kita perlu mengubah strategi membaca kita. Cobalah gunakan gaya membaca yang berbeda saat membacakan anak buku cerita. Papalia (dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018) menjelaskan bahwa ada tiga gaya membaca buku yang disukai anak yaitu:

1.  Describer Style
Adalah gaya membacakan cerita dengan fokus pada mendeskripsikan apa yang terjadi di dalam gambar dan mengajak anak untuk melakukan hal yang sama seperti yang kita contohkan. 
Contoh :
"Apa yang akan dilakukan ayam saat pagi hari? Sekarang coba tirukan suara ayam berkokok!"


Saat membaca, perlihatkanlah gambar-gambar menarik pada anak dan sesekali ajaklah anak untuk ikut beraksi dengan menirukannya. Gaya ini memberikan manfaat antara lain memperkaya kosa kata anak, memahami kata yang diucapkan dan keterampilan yang baik dalam menggambarkan sesuatu.

2. Comprehender Style
Yaitu gaya membaca cerita dengan mendorong anak untuk melihat cerita lebih dalam dan membuat kesimpulan serta prediksi.
Contoh:
"Kira-kira apa yang akan dilakukan ayam setelah itu ya?"

Hal ini akan membuat imajinasi anak meningkat dan bisa memahami makna atau nilai sebuah cerita. Jadi dalam gaya bercerita ini, orang tua bisa mengajukan pertanyaan terlebih dulu sebelum membuka halaman dan melanjutkan cerita.

3. Performance-oriented Style

Yaitu gaya membacakan cerita secara langsung. Jadi, orang tua langsung memperkenalkan inti dari cerita sebelum mulai membacakan cerita dan memberikan pertanyaan. Inti cerita tersebut disampaikan dengan penampilan sebaik mungkin sehingga anak-anak menyukai dan memahami apa yang disampaikan. Saat membaca cerita, kita seakan sedang menampilkan sebuah pertunjukan. Oleh karena itu, orang tua  hendaknya melakukan berbagai gerak , bahasa dan variasi suara yang menarik ketika sedang membacakan cerita. Setelah buku selesai dibacakan, barulah kita bisa mengajukan pertanyaan kepada anak-anak.





Siapa yang anaknya lebih tertarik merobek atau mencoret buku cerita?
Siapa yang anaknya malah menjadikan buku sebagai mainan, bukan untuk dibaca?
Siapa yang anaknya malah kabur-kaburan ketika sedang dibacakan cerita, padahal kita sudah bersusah payah untuk membacakan buku dengan ceria?


Saya mengalami semuanya. Sebagai orang tua saya menyadari bahwa memang tidak mudah untuk mengenalkan anak pada aktivitas membaca. Semua memang tidak selalu berjalan sesuai harapan, tapi yang terpenting adalah jangan pernah menyerah untuk terus memperkenalkan aktivitas membaca buku kepada anak.

Anak ketiga (usia dua tahun) sedang menjadikan buku sebagai media bermain
(Foto : Dokumentasi pribadi)

Apalagi setelah saya membaca penjelasan tahapan membaca pada anak saya jadi lebih memahami bahwa ketika anak tidak langsung tertarik pada bukunya, bukan berarti dia tidak suka membaca. Menurut Cohrane Efal, sebagaimana dikutip Brewer (2019, dalam Kurniawan, Umi dan M. Hamid, 2018) ada lima tahapan perkembangan membaca anak yang harus dipahami oleh orang tua, yaitu:


1. Magical Stage (Tahap Fantasi)

Pada tahap ini anak akan menjadikan buku sebagai media mainan yang menyenangkan. Anak kadang melihat, membalik halaman atau membawa buku kesana kemari. Pada tahap ini anak menjadikan buku sebagai mainan atau dibuka-buka secara tak beraturan.  Kita sebagai orang tua tak perlu marah atau memaksakan anak untuk menjadikan buku sesuai yang seharusnya. Biarkan saja. Yang penting kita tetap mengawasi dan mendampingi anak.

2. Self Concept Stage (Tahap Pembentukan Konsep Diri)
Pada tahap ini anak sudah mulai terlibat dalam kegiatan dalam kegiatan membaca dengan berpura-pura membaca buku dan memahami gambar berdasarkan pengalaman yang diperoleh. di tahap ini anak berpura-pura melakukan kegiatan membaca sekalipun dia belum bisa membaca. Di tahap ini sebenarnya anak sudah mulai menyukai buku.

3. Bridging Reading Stage (Tahap Membaca Gambar)
Pada tahap ini anak mulai tumbuh kesadaran akan tulisan dalam buku. Anak juga sudah mulai mengenal huruf atau kata dari tokoh-tokoh dalam buku. Disini anak juga sudah menggunakan gambar sebagai media bercerita dan menyusun gambar-gambar dalam buku menjadi rangkaian cerita yang menyenangkan.

4. Take Off Reader Stage (Tahap Pengenalan Bacaan)
Pada tahap ini anak sudah dapat mengingat tulisan dalam konteks tertentu. Disini orang tua harus mulai mendampingi anak-anak dalam memahami cerita.

5. Independent Reader Stage (Tahap Membaca Lancar)
Pada tahap ini anak sudah dapat membaca tulisan dengan lancar tanpa perlu didampingi orang lain.  anak juga sudah mampu berpikir kritis dalam memahami bacaan.

Fiuhh.. Lumayan banyak ya tahapannya. Oleh karena itu  dari penjelasan tersebut memang kita sebagai orang tua harus memahami bahwa semua membutuhkan proses dan kesabaran. Ketika anak-anak kita anggap hanya menjadikan buku sebagai mainan, barangkali memang itu adalah tahap yang harus dia lalui. Jadi jangan pernah menyerah untuk terus mengenalkan kebiasaan baik pada anak-anak. Apalagi jika kebiasaan tersebut bisa bermanfaat bagi masa depannya kelak. Ingatlah, suatu saat kita akan tersenyum lega melihat anak-anak kita suka dan terbiasa dengan aktivitas membaca buku.

So, tetap semangat, Parents! Semoga kita bisa menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang gemar membaca, bisa berpikir kritis dan menjadi pribadi yang mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu berguna dari yang sudah mereka pelajari. Selamat mencoba!


Foto : Dokumen Pribadi





Sumber Referensi: 
Cirana Merisa. 2019. "Lebih Baik Mana, Membaca Lewat Buku atau Internet". https://bobo.grid.id/read/081603653/lebih-baik-mana-membaca-lewat-buku-atau-internet-akubacaakutahu?page=all, diakses pada 14 Desember 2020.

Kurniawan, Heru, Umi. K., dan M. Hamid. S. 2018. "Literasi Parenting". Jakarta : PT. Elex Media Komputindo.

The Asianparent Indonesia.  https://id.theasianparent.com/manfaat-membaca-untuk-bayi diakses pada 15 Desember 2020

The Asianparent Indonesia. https://id.theasianparent.com/agar-anak-gemar-membaca, diakses pada 14 Desember 2020.







View Post


“Indonesia adalah negara kaya raya,

Kakinya berpijak di bumi subur,

Tangannya berada di laut kaya ikan dan biota,

Tapi otaknya berada di padang tandus,”

(Gerson Pyok)


Bicara tentang Indonesia maka yang pertama kali terpikirkan oleh saya adalah sumber daya alamnya yang melimpah. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Presiden SBY bahkan pernah berkata bahwa hutan Indonesia adalah rumah bagi 12 persen mamalia dunia, 16 persen spesies reptil dan amphibi, serta 17 persen spesies burung. Lebih dari 10.000 spesies pohon tercatat tumbuh di Nusantara (Purnomo, 2012). Betapa sungguh mengagumkan. Bahkan, jika seluruh kekayaan alam Indonesia dicairkan dalam bentuk uang, maka Indonesia diperkirakan memiliki aset hingga mencapai ratusan ribu triliun rupiah (www.djkn.kemenkeu.go.id).


Kekayaan alam kita memang tak main-main. Kita sebagai manusialah yang justru masih bermain-main dengan nikmat Tuhan yang telah diberikan secara gratis ini. Banyak fakta menyedihkan yang harus kita sadari bersama seperti kondisi alam kita yang sekarang mulai tergerus. Hutan-hutan kita setiap tahun berkurang.  Tahun 2009-2014 sudah terjadi penyusutan areal hutan Indonesia sebesar 4,6 juta atau seluas 7 kali luas provinsi DKI Jakarta (Hidayat, 2015). Pun tahun-tahun setelahnya seperti yang diberitakan Tirto.id. Di tahun 2019 saja lahan dan hutan terbakar mencapai 857 ribu ha.


(Sumber Infografis: https://tirto.id/indonesia-masih-darurat-karhutla-f5ig)


Tentu menjadi fakta yang memprihatinkan dan memunculkan pertanyaan bagi kita semua.  Bagaimana nasib Indonesia di masa mendatang jika hutan dan sumber daya alamnya tidak terjaga dari sekarang? Apakah hutan kita kelak hanya tinggal jadi kenangan belaka yang hanya bisa dilihat anak cucu kita dari foto dokumentasi semata?



Selain karena kekhawatiran akan hilangnya sumber daya alam kita terutama hutan, kerusakan hutan dan gambut juga dapat memberikan dampak buruk bagi masyarakat kita maupun dunia. Seperti dikutip dari Purnomo (2012), berikut dampak-dampak yang akan dihasilkan jika terjadi kerusakan hutan di Indonesia:

1. Kita akan Kehilangan Penyerap Karbon dalam Jumlah Besar

Jika hal itu sampai terjadi, maka akan memicu berbagai masalah bagi lingkungan seperti munculnya pemanasan global dan perubahan iklim. Jika kita saat ini sering mengalami banjir, kekeringan dan gagal panen, maka itu adalah beberapa akibat yang ditimbulkan dari perubahan iklim.

Seperti saat ini saja di  tahun 2020, Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Harmensyah mencatat sebanyak 1.978 bencana alam dan nonalam terjadi di Indonesia hingga awal September tahun 2020 ini. Ia menyatakan tren bencana di Indonesia tahun 2020 secara umum kian meningkat (www.cnnindonesia.com). Sebuah angka yang patut dikhawatirkan karena bisa jadi akan terus bertambah dari tahun ke tahun jika tidak ada solusi yang bisa dilakukan. 


Banjir bandang menerjang daerah di Sumatera Barat
(Sumber Gambar : https://www.liputan6.com)

2. Merusak Kelangsungan Hidup Satwa Langka

Jika habitat satwa banyak yang dirusak, maka kedepannya akan dikhawatirkan muncul konflik dengan masyarakat setempat. Satwa-satwa langka seperti gajah atau harimau Sumatera bisa saja memasuki kawasan masyarakat adat dan warga desa yang tinggal di sekitar hutan jika habitat mereka terganggu. Akibatnya, bisa jadi satwa tersebut merusak lahan masyarakat dan membuat masyarakat marah dan mungkin membunuh hewan satwa yang harusnya dilindungi tersebut.


Seekor gajah melintasi badan jalan di kawasan Desa Alue Kuyun, Kecamatan Woyla Timur, Kabupaten Aceh Barat
Seekor gajah melintasi jalan di kawasan Kabupaten Aceh Barat (antara/ho) dalam tekno.tempo.com)


Oleh karena itu, jika seandainya saya menjadi pemimpin negeri ini maka saya menginginkan aturan-aturan tentang perlindungan hutan bisa dijalankan dengan tegas. Hal itu perlu dilakukan  agar hutan bisa terjaga, satwa bisa dilindungi, dan masyarakat pun bisa hidup harmonis dengan lingkungan.


Perlindungan hutan akan menjadi salah satu prioritas yang akan saya utamakan karena hutan adalah aset negara yang harus dijaga kelestariannya. Apalagi saya sendiri termasuk tinggal di daerah pegunungan yang dekat dengan hutan. Begitu banyak manfaat yang bisa kita peroleh jika berhasil menjaga kelestarian hutan. Oleh sebab itu, saya pun mencoba merancang beberapa langkah  sebagai upaya saya dalam melindungi hutan jika saya menjadi pemimpin negeri ini yaitu sebagai berikut:


1. Mengoptimalkan dan Memperkuat Partisipasi dan Kedudukan Masyarakat Adat

Menurut saya, masyarakat lokal terutama masyarakat di sekitar hutan merupakan garda terdepan yang dapat membantu menjaga dan melakukan pengawasan. Sudah banyak studi yang menunjukkan bahwa masyarakat adat secara tradisional telah berhasil menjaga dan memperkaya keanekaan hayati alami.

Sudah menjadi realitas bahwa sebagian besar masyarakat adat masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sebagai contoh, komunitas masyarakat adat di rawa bagian selatan Pulau Kimaam di Kabupaten Merauke, Papua. Komunitas adat ini berhasil mengembangkan 144 kultivar ubi. Sementara diberbagai komunitas adat seperti di Kepulauan Maluku dan sebagian besar Papua bagian utara, masih dijumpai sistem tata guna dan pengelolaan terpadu ekosistem daratan dan laut yang menjamin sistem-sistem lokal ini bekerja secara efektif. (Hakim dan Lukas, 2014)).

Sistem-sistem lokal ini pada dasarnya memang bisa berbeda di tiap wilayah, tetapi dari kearifan lokal tersebut bisa ditarik benang merah yang sama yang menjadi prinsip-prinsip kearifan adat yang layak dihormati dan dipraktikkan, antara lain:

1. Masih hidup selaras alam dengan menaati mekanisme ekosistem dimana manusia merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.

2. Adanya hak penguasaan dan/atau kepemilikan bersama komunitas atas suatu kawasan adat masih bersifat ekslusif sehingga mengikat semua warga untuk menjaga dan mengamankannya dari kerusakan.

3. Adanya sistem pengetahuan dan stuktur kelembagaan adat yang memberikan kemampuan bagi komunitas untuk memecahkan masalah secara bersama-sama dalam pemanfaatan sumber daya hutan.

4. Ada sistem pembagian kerja dan penegakan hukum adat untuk mengamankan sumber daya milik bersama dari penggunaan secara berlebihan , baik oleh masyarakat sendiri maupun oleh orang luar.

5. Ada mekanisme pemerataan distribusi hasil “panen” sumber daya alam milik bersama yang bisa meredam kecemburuan sosial di tengah masyarakat (Nababan, 1995 dalam Hakim dan Lukas, 2014)


Selain prinsip-prinsip kearifan adat, ada argumentasi yang kuat kenapa peran masyarakat adat sangat penting dalam pengelolaan sumber daya alam di masa depan, yaitu:


1. Masyarakat adat memiliki motivasi yang kuat sebagai penerima insentif yang paling bernilai untuk melindungi hutan dibandingkan pihak-pihak lain karena menyangkut keberlanjutan kehidupan mereka.


2. Masyarakat adat memiliki kelembagaan adat yang mengatur interaksi harmonis antara mereka dengan ekosistem hutannya.


3. Sebagian dari masyarakat adat sudah memiliki organisasi dan jaringan kerja untuk membangun solidaritas di antara komunitas-komunitas masyarakat adat dan juga mengorganisasikan dukungan politis dan teknis dari pihak-pihak luar.


4. Masyarakat adat dilindungi UUD 1945 dan diatur dalam beberapa instrumen internasional yang mengharuskan negara mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak tradisional (dalam Hakim dan Lukas, 2014)


Foto : Zabur karuru/Antara foto


Situmorang (2005, dalam Hidayat, 2015), dari hasil penelitiannya di kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak menemukan bahwa masyarakat adat setempat memilik kearifan lokal dibidang konservasi, meliputi:


1. 
Di dalam daerah konservasi tidak boleh membuat rumah atau kebun, tetapi boleh membuat pondok untuk berteduh sementara waktu,

2. Di dalam daerah konservasi tidak boleh menebang pohon, kecuali kayu bakar kering.

3. Di dalam daerah konservasi tidak boleh berburu/menangkap binatang untuk diperjualbelikan, kecuali untuk kepentingan adat dan menggunakan alat tangkap tradisional.

4. Di dalam pemanfaatan hasil-hasil hutan (di wilayah konservasi), masyarakat dari kampung lain dilarang memasuki wilayah yang bukan miliknya, kecuali ada izin dari panitia kampung dan pemilik hak ulayat.

5. Di dalam daerah konservasi masyarakat diperbolehkan menyalakan atau menggunakan api untuk memasak atau menghangatkan badan, tetapi tidak diperbolehkan menggunakan api untuk berburu.


Warga suku Dayak Kenyah di Desa Setulang Kalimantan Utara
Foto : Zabur Karuru/Antara Foto


Dari penjelasan-penjelasan diatas, bisa dilihat dengan jelas, betapa pentingnya peran masyarakat adat dalam menjaga hutan. Kearifan lokal yang sudah dianut sejak dulu justru menjadi keuntungan bagi alam Indonesia karena sejalan dengan tujuan pelestarian hutan. 

Oleh karena itu jika saya menjadi pemimpin, saya berharap pemerintah mengakui kearifan lokal dan partisipasi masyarakat adat untuk terus ikut serta melestarikan hutan-hutan di Indonesia. Pemerintah bisa membuat peraturan yang menguatkan kedudukan masyarakat adat sebagai pihak yang berwenang terhadap hutan, bukan justru membuat masyarakat adat menjadi terpinggirkan. Dengan membuat peraturan yang berpihak pada masyarakat adat, diharapkan peran dan status masyarakat adat terlindungi dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dan melakukan kerusakan semata.


2.  Kolaborasi Berkesinambungan dengan Berbagai Pihak dalam Melindungi Hutan


Kerusakan sumber daya hutan Indonesia pada dasarnya disebabkan oleh dua hal pokok yaitu kemiskinan dan keserakahan. Kemiskinan disebabkan oleh rendahnya akses masyarakat untuk mengelola lahan. Sementara keserakahan disebabkan oleh kebijakan yang lebih pro pada pelaku ekonomi skala besar. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat yang tinggal disekitar hutan yang dieksploitasi justru taraf kehidupannya tetap tidak memadai (Hakim dan Lukas, 2014)

Menurut Handadari (2013, dalam 
Hakim dan Lukas, 2014) hal itu disebabkan oleh adanya penebangan kayu secara berlebihan, kebakaran hutan dan lahan, perambahan, konversi hutan untuk kepentingan non kehutanan, penambangan mineral, kelemahan penegakan hukum dan budaya korupsi.

Dalam menangani hal tersebut, perlu adanya pengawasan yang bekerja sama dengan semua pihak. Saya berharap Kelompok Masyarakat Penjaga Hutan (KMPH) yang sudah ada selama ini bisa dioptimalkan fungsinya. Masyarakat di sekitar hutan desa pada dasarnya sudah berkomitmen cukup tinggi hingga akhirnya mau membentuk KMPH tersebut sehingga hal itu perlu diapresiasi dan didukung dengan nyata.

Sebagai pemimpin saya juga akan melakukan hubungan baik dengan tokoh yang disegani masyarakat agar ikut serta mengawasi dan menjaga hutan yang ada disekitarnya. Tokoh agama maupun adat adalah pihak yang efektif dan berpengaruh dalam menyadarkan masyarakat agar ikut terlibat dalam penjagaan hutan. Misalnya saja di Madura, pembangunan hutan rakyat justru dimotori oleh tokoh agama dan kiai yang ikut menggerakkan santri pondok pesantrennya untuk ambil bagian secara aktif dalam program penghijauan lingkungan  (Hakim dan Lukas, 2014)

Santri putri mendapat arahan cara merawat lingkungan dari salah seorang ustad di lingkungan Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin (Sumber Gambar: Junaidi Pondiyanto/RadarMadura.id dalam)


Selain itu, saya juga akan merangkul pihak-pihak atau organisasi masyarakat di bidang lingkungan, misalnya saja golongan hutan yang berusaha melibatkan peran generasi muda. Golongan hutan adalah gabungan berbagai masyarakat bidang lingkungan yang mengajak anak-anak muda Indonesia untuk bangga dan ikut serta dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia (golongan hutan.id). Pihak-pihak seperti ini adalah pihak yang independen dan berada diluar pemerintah sehingga menurut saya bisa menjadi pihak yang objektif dalam membantu memberikan sumbang saran, ikut melakukan pengawasan dan bahkan terlibat aktif dalam membantu pemerintah melindungi hutan.

Kolaborasi antara bagian-bagian masyarakat tersebut harus terus dilakukan secara berkesinambungan. Saya berharap jika kelak jadi pemimpin  bisa makin merangkul dan mengajak semua tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk ikut terlibat secara aktif dalam perlindungan hutan Indonesia. Mereka-mereka yang peduli ini perlu diapresiasi dan diberikan penghargaan atas dedikasinya dalam menjaga hutan.

Bayangkan jika semua tokoh agama mampu mengajak santri dan pesantrennya untuk terlibat langsung, betapa banyak kita mendapat relawan yang berdedikasi dan memiliki niat luhur untuk melindungi hutan di negeri ini. Bayangkan jika semua organisasi peduli lingkungan dan masyarakat ikut terlibat, betapa banyak pihak yang bisa kita andalkan untuk  membantu mengawasi hutan dari  tindakan-tindakan yang merusak hutan dan alam kita. Oleh karena itu, partisipasi dan kolaborasi tersebut justru bisa membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan. Perlu diadakan diskusi rutin untuk bisa sama-sama mengevaluasi, membuat laporan dan melakukan tindakan terkait penanganan hutan di negeri tercinta ini.


3. Menggalakkan Program Adopsi Pohon


Program ini awal mulanya digagas oleh Taman Nasional Gunung Gede Paranggo bekerja sama dengan sejumlah lembaga seperti LSM, media dan perusahaan yang dimulai sejak 2007 lalu (www.bbc.com). Dalam program ini masyarakat yang tinggal jauh dari kawasan hutan tetap bisa ikut berpartisipasi. Akan ada biaya yang dibebankan kepada para adopter dan biaya tersebut digunakan untuk  biaya pembibitan, penanaman, pemeliharaan pohon dan  insentif usaha peningkatan ekonomi masyarakat di kawasan setempat (https://republika.co.id). Masyarakat bisa menanam sendiri pohon mereka atau bisa juga diwakilkan. Para adopter pun bisa mengecek kondisi pohon adopsi mereka secara langsung ataupun melalui situs taman nasional.



        Sebatang pohon yang menanti "orang tua angkat"
       Sumber Gambar : kaltim.antaranews.com


Program ini menurut saya sangat baik untuk diteruskan karena memiliki banyak keuntungan bagi semua pihak. Saya juga berencana untuk mengajak semua publik figur, influencer ataupun tokoh ternama agar bisa memviralkan kegiatan adopsi pohon sehingga kegiatan ini bisa disebarluaskan dan dilaksanakan di seluruh Taman Nasional atau hutan konservasi di Indonesia.

4. Cinta Hutan Lewat Pendidikan

Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan ataupun kelestarian hutan perlu diusahakan terutama bagi generasi muda Indonesia. Merekalah yang nantinya akan mewariskan kekayaan alam Indonesia kedepan sehingga kecintaan terhadap hutan dan alam Indonesia harus dimulai sejak dini.

Sumber Gambar: antarafoto.com

Saya berencana ingin bekerja sama dengan kemendikbud untuk mengikutsertakan para pelajar ke dalam aktivitas cinta lingkungan. Program ini diharapkan bisa dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah mulai dari kurikulum SD hingga kuliah. Bentuk programnya bisa bermacam-macam. Bisa dengan aktivitas menanam 1000 pohon, membersihkan lingkungan alam di sekitar, membangun kesadaran untuk ramah lingkungan dan sebagainya.

Diharapkan dengan adanya program ini bisa menumbuhkan kepedulian anak terhadap lingkungan alamnya sendiri sehingga kelak akan muncul bibit-bibit generasi yang akan melanjutkan estafet perjuangan dalam melestarikan alam.

5. Membudayakan Good Governance

Sebenarnya Ini adalah tantangan yang paling berat dan paling krusial dalam menetapkan sebuah kebijakan. Tanpa adanya good governance maka akan sulit menjalankan program rakyat dengan maksimal. Good Governance sendiri bisa diartikan sebagai suatu peyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun secara administratif menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal dan politican framework bagi tumbuhnya aktifitas usaha (https://bulelengkab.go.id)



Dengan adanya Good governance maka penegakan hukum bisa  dilakukan semaksimal mungkin terutama dalam pengawasan pembukaan lahan di lapangan sehingga pengusaha yang melanggar hukum dapat ditindak tegas. Saat ini, para pengusaha juga mengeluhkan lemahnya penegakan hukum, sehingga pengusaha yang patuh pada hukum justru mengalami kerugian sementara yang tak patuh malah mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada para calon bupati yang membiayai kampanye mereka pada saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) dengan janji memberikan izin kebun atau tambang kepada para sponsor jika nanti mereka terpilih (Purnomo, 2012). Akibatnya hutan alam Indonesia pun jadi tergadai hanya untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok.


Dengan menciptakan pemerintah yang berlandaskan prinsip Good governance ini diharapkan segala aturan ataupun penegakan hukum di negeri ini bisa terlaksana dengan baik tanpa tebang pilih. Jangan sampai aturan-aturan yang telah dibuat hanya menjadi pemanis kebijakan yang ternyata tidak dilaksanakan di lapangan.


Itulah beberapa hal yang akan saya lakukan jika kelak saya menjadi pemimpin negeri ini. Memang program-program tersebut bukanlah program yang baru. Namun saya rasa program tersebut masih relevan untuk dilakukan dan masih perlu dioptimalkan.


Sebelum menutup tulisan ini, saya jadi teringat kembali dengan sosok-sosok yang berkomitmen menjaga hutan kita seperti kakek Sadiman di Wonogiri. Beliau adalah seorang kakek  yang menghijaukan bukit gundul seorang diri. Saya juga teringat dengan Edi Padmo di Gunung Kidul, seorang pemuda yang mendirikan komunitas Resan, yaitu komunitas yang menanam pohon beringin di sumber air yang mengering. Saya juga teringat dengan seorang kakek bernama Idris Sahidu di Sumbawa Barat. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menanam pohon agar mata air bisa terjaga di lahan kritis.


Mereka adalah orang-orang yang bekerja dalam senyap. Mereka bukanlah orang terkenal yang punya banyak followers di dunia maya. Jika kita bertanya pada anak muda sekarang pun mungkin mereka tak banyak tahu ketika disebutkan nama-nama itu. Mereka adalah pahlawan bangsa dan saya pikir masih banyak  orang-orang seperti mereka yang berjuang tanpa pamrih dalam melestarikan hutan. Tanpa dibayar pemerintah, tanpa puja-puji media massa. Mereka adalah harta karun Indonesia yang sesungguhnya. Orang-orang ikhlas inilah yang seharusnya diapresiasi dan diberikan fasilitas lebih atas jasa mereka yang luar biasa. Saya berharap semoga generasi muda kita bisa memiliki semangat dan kecintaan yang sama seperti mereka dan semoga generasi kita bisa mencontoh jiwa-jiwa “kaya” seperti mereka.


Saya yakin harapan itu masih ada selagi masih ada orang-orang yang terus peduli. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam menjaga hutan karena untuk menjaga dan melestarikan hutan memang kita tak bisa sendiri. Ada kerja bersama dan kerja kolosal didalamnya. Semoga semua lini masyarakat Indonesia bisa terus berkolaborasi agar hutan dan alam Indonesia ini bisa terus terjaga hingga anak cucu kita. Mari #BersamaJagaHutan!



Foto : Dokumen Pribadi




(Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog dengan tema "Seandainya aku menjadi pemimpin, apa yang akan aku lakukan untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh Golongan hutan dan Blogger Perempuan.)


Sumber Referensi:


Aclck.kpk.go.id. 2016. “Good Governance dan Pelayanan Publik”. https://aclc.kpk.go.id/wp-content/uploads/2019/07/Modul-good-governance-aclc-kpk.pdf. Diakses pada 27 November 2020.


Antarafoto.com. 2013. “Pendidikan Peduli Lingkungan”. https://www.antarafoto.com/peristiwa/v1385019648/pendidikan-peduli-lingkungan. Diakses pada 27 November 2020.


Antaranews.com. 2019. “Program Pohon Adopsi Hutan Bukit Bengkirai”. https://kaltim.antaranews.com/foto/64435/program-pohon-adopsi-hutan-bukit-bengkirai. Diakses pada 27 November 2020.


CNN Indonesia. 2020. “1.978 Bencana Terjadi Sejak Awal 2020, Dominan Banjir”. 

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200909204824-20-544648/1978-bencana-terjadi-sejak-awal-2020-dominan-banjir. Diakses pada 27 November 2020.


Golongan hutan.id. 2020. Diakses pada 27 November 2020.


Republika.co.id. 2016. “Cara Baru Jaga Hutan dengan Adopsi Pohon”. https://republika.co.id/berita/o2l29n359/cara-baru-jaga-hutan-dengan-sistem-adopsi-pohon. Diakses pada 27 November 2020.


Hakim, Ismatul dan Lukas R. Wibowo (Ed.). 2014. Hutan untuk Rakyat : Jalan Terjal Reforma Agraria di Sektor Kehutanan. Yogyakarta: Lkis Yogyakarta


Hardjanto. 2017. Pengelolaan Hutan Rakyat. Bogor: IPB Press.


Hidayat, Herman (Ed.). 2015. Pengelolaan Hutan Lestari: Partisipasi, Kolaborasi, dan Konflik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.


Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 2014. “Indonesia Punya Kekayaan SDA Hingga Rp 200 Ribu Triliun”. 

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/berita_media/baca/4497/Indonesia-Punya-Kekayaan-SDA-Hingga-Rp-200-Ribu-Triliun.html. Diakses pada 27 November 2020.


Lestari, Sri. 2010. “Adopsi Pohon Selamatkan Hutan”. https://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2010/06/100616_adopsipohon. Diakses pada 26 November 2020.


Nuswantoro. 2016. “Kakek Sadiman, Seorang Diri Hijaukan Bukit Gundul (Bagian 1)”. https://www.mongabay.co.id/2016/03/20/kakek-sadiman-seorang-diri-hijaukan-bukit-gundul-bagian-1/. Diakses pada 27 November 2020.


Purnomo, Agus. 2012. Menjaga Hutan Kita: Pro-Kontra Kebijakan Moratorium Hutan dan Gambut. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.


Radarmadura.id. 2020. “Kiat Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Tanamkan Peduli Lingkungan Gelorakan Gerakan Sampah Nol Plastik”. https://radarmadura.jawapos.com/read/2020/01/06/173444/kiat-pesantren-nasyatul-mutaallimin-tanamkan-peduli-lingkunga. Diakses pada 27 November 2020.


Tirto.id. 2020. “Indonesia Masih Darurat Karhutla”. https://tirto.id/indonesia-masih-darurat-karhutla-f5ig. Diakses pada 27 November 2020.


Website Resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng. 2017. “Pengertian, Prinsip dan Penerapan Good Governance di Indonesia”. https://bulelengkab.go.id/detail/artikel/pengertian-prinsip-dan-penerapan-good-governance-di-indonesia-99. Diakses pada 26 November 2020.


Yuwono, Markus. 2020. “Bermodal Bibit Beringin, Edi Ingin Kembali Hidupkan Sumber Air di Gunungkidul”. https://regional.kompas.com/read/2020/09/30/08000351/bermodal-bibit-beringin-edi-ingin-kembali-hidupkan-sumber-air-di-gunungkidul?page=all. Diakses pada 27 November 2020.





View Post