"Buk, Ibu sayang gak sama Nayra?" 
Sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkanku.  Anak pertamaku Nayra memandangku sejenak, berharap aku segera memberikan jawaban. Saat itu aku sedang menemani ia bermain bersama adiknya. Aku pun langsung menjawab, 
"Iyalah.. Ibu sayang sama Nayra," ujarku. 
"Kenapa Nayra?" Aku pun balik bertanya. 
"Nggak apa-apa," jawabnya sambil nyengir. Kuperhatikan raut wajahnya beberapa saat, matanya terlihat berbinar. Setelah mendengar jawabanku itu, ia pun berbalik dan melanjutkan permainannya lagi.

Ia adalah anak pertamaku, Nayra. Saat itu usianya lima tahun. Aku tak tahu kenapa ia mengajukan pertanyaan itu, tapi yang jelas pasti ada alasan dibalik itu semua. Pertanyaan itu tiba-tiba membawa memoriku kembali kepada masa tiga tahun lalu, ketika aku baru saja melahirkan anak keduaku. 

Nayra, yang selama lebih dari tiga tahun telah menjadi anak satu-satunya di rumah, secara resmi akhirnya berstatus menjadi seorang kakak. Untuk pertama kalinya pula pada saat itu aku tak menemaninya tidur di malam hari karena aku harus ke rumah sakit untuk melahirkan. Pada malam itu, Nayra tak bisa tidur hingga jam 3 pagi begitu setidaknya kata Ibu mertuaku kala itu.

Entah apa yang ada dalam hati sulungku saat itu. Ditinggal ayah dan ibu untuk pertama kalinya. Bermain tanpa kehadiranku seperti biasanya. Padahal sebelumnya kami banyak menghabiskan waktu bersama dan tak pernah terpisah. Pasti itu merupakan perubahan yang besar bagi dirinya.

Beberapa aktivitas bersama Nayra sebelum adik bayi lahir :') (Foto dok. pribadi)

Semua sebenarnya mulai terasa berubah ketika aku tahu bahwa diriku hamil anak kedua. Saat itu Nayra masih menyusu denganku dan aku memutuskan untuk menyapihnya. Perutku tidak nyaman setiap kali menyusuinya. Saat itu Nayra memang sudah berusia dua tahun. Aku pun akhirnya berhenti menyusuinya. Nayra pun tantrum dan sedih hingga beberapa hari karena hal itu.

Kupikir itu adalah sebuah tantangan berat bagi Nayra karena harus melepaskan salah satu sumber kebahagiaan yang telah ia kenal sejak bayi. Pasti itu bukanlah hal yang mudah baginya.

Proses kehamilan sebenarnya kualami dengan menyenangkan, alhamdulillah. Awalnya kupikir semua akan baik-baik saja karena setiap kali aku mengabarkan bahwa ia akan punya adik, ia tampak mengangguk dan terlihat senang. Bahkan ia sering kali berkata bahwa sudah tidak sabar menunggu adiknya lahir. Entah apakah benar demikian atau tidak, yang jelas saat itu kupikir ia sudah siap untuk menjadi seorang kakak.

Ketika adiknya sudah lahir dan tiba masanya ia bertemu dengan adiknya, ia hanya tersenyum malu sambil memerhatikan dari kejauhan. Raut mukanya tampak biasa saja awalnya, hingga kemudian kulihat ada perubahan pada wajahnya  ketika ia melihatku mulai menyusui adiknya. Mata itu seakan terlihat tak rela, setidaknya itulah yang kurasakan. 

Sejak saat itu aku tidak sadar bahwa ada tantangan yang harus kulalui kedepan. Tantangan yang akan menimbulkan ketegangan bagi kami berdua. Tantangan yang kuketahui pada akhirnya menjadi bentuk kecemburuan antarsaudara.

Sulungku Cemburu, Sulungku Rindu...


Kupikir memang tidak semua anak-anak suka dengan perubahan, apalagi jika perubahan itu membawa dampak besar bagi dirinya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun juga demikian kan? Dulu sebelum punya anak kedua, aku banyak menghabiskan waktu berdua dengan Nayra. Kami sering membaca buku bersama, bermain dan melakukan aktivitas belajar. Semuanya hanya berdua. 

Ketika ia punya adik, aku akui waktuku cukup berkurang untuknya. Apalagi aku memang mengurus bayi sendiri. Semua cukup menyita perhatian dan waktu. Sebenarnya itu adalah sesuatu yang sudah kuprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, sebelum melahirkan anak kedua, sebenarnya aku sudah berdiskusi dengan suami, bagaimana agar Nayra tetap mendapatkan perhatian dan mengantisipasi agar ia tidak cemburu ketika nanti adiknya lahir. 

Kami berdua pun sepakat agar suamiku mau meluangkan waktu untuk Nayra, terutama ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya. Suamiku pun melakukan tugasnya sesuai dengan kesepakatan kami, walaupun pada kenyataannya ternyata Nayra masih cemburu.

Ia mencoba mencari perhatian dengan cara yang tidak tepat. Kadang ia mengompol, padahal selama ini tidak pernah mengompol lagi. Nayra juga pernah meletakkan pasir ke badan adiknya dan pernah pula memegang adiknya yang masih bayi terlalu kencang. Nayra juga mudah sekali rewel, marah atau pun menangis. Sungguh, masa-masa awal kehadiran adik bayi adalah masa-masa yang berat bagi kami berdua.

Aku yang kadang sudah kelelahan, kadang terbawa emosi setiap Nayra mulai "bertingkah". Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin Nayra termasuk sosok yang paling lelah dengan semuanya. Ia juga kadang ikut terbangun setiap kali adiknya terbangun tengah malam. Ia juga tak mampu bercerita dan mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan benar. 

Kupikir, betapa sedih hatinya saat itu. Sedih karena melihat ibunya kurang memberi perhatian kepadanya. Sedih karena ia harus menerima kemarahan dariku, padahal harusnya akulah yang menjadi sosok utama yang bisa mengerti perasaannya. Pada saat itu pasti ia merasa sendiri. Ia tak punya tempat mengadu.

Terkadang, kalau ingat kembali dengan masa-masa itu, aku sungguh merasa bersalah. Aku merasa belum bisa menjadi ibu yang peka pada kebutuhan psikologis anakku. Tak heran, mungkin karena itu juga Nayra butuh waktu lama untuk bisa menerima kehadiran adiknya. 

Setiap kali ia menggambar, ia jarang sekali membuat gambar adiknya. Biasanya dia hanya membuat gambar dirinya, ayah dan ibu. Sebuah pertanda yang menurutku sudah cukup menggambarkan bahwa Nayra masih belum bisa menerima sepenuhnya keberadaan anggota baru. Dan semua itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama, hingga dua tahun lamanya.

Ibu, Peluk Sulungmu...


Aku mulai menyadari ada yang salah, ketika melihat berbagai perubahan sikap Nayra. Muncul banyak pertanyaan dalam diriku.  Kenapa ya Nayra jadi begitu? Apa penyebabnya? Apa karena kurang perhatian? Padahal selama ini ayahnya sudah banyak menghabiskan waktu bersamanya. Apa yang masih kurang? Aku pun mencoba mengamati polanya hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan. Apakah jangan-jangan Nayra sedang mencari perhatianku? 

Saat itu aku mulai mengingat-ingat, betapa banyak sekali waktu kami berkurang. Aku pun mencoba mencari solusi. Setiap hari aku pun berusaha meluangkan waktu bersamanya. Saat adiknya tidur, aku membacakan buku berdua dengannya. Hanya sebentar tapi Nayra ternyata terlihat  begitu senang dan bersemangat. 

Lama kelamaan, kebiasaan mengompol yang sempat muncul akhirnya mulai hilang. Nayra bahkan lambat laun bisa menerima kehadiran adiknya dan mulai mengajak adiknya bermain. Memang kadang aku lelah, di saat aku ingin beristirahat, ternyata aku juga harus meluangkan waktu untuk anak pertamaku. Tapi ketika melihat dia senang dan melihat kebiasaan buruknya berkurang, itu akhirnya memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

Akupun tersadar bahwa Nayra sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak. Dia hanya ingin aku menyempatkan waktu bermain dengannya, meski mungkin hanya sebentar. Tapi dengan waktu yang sebentar itu, Nayra bisa tahu kalau dia merasa diutamakan olehku tanpa harus diganggu oleh adik atau siapapun. 

Hal itu juga yang sepertinya berhasil membuatnya nyaman dan merasa tak diabaikan. Ketika anak sudah merasa aman dengan segala perubahan, maka ia pun pada akhirnya akan lebih mudah menerima keberadaan adiknya. 


Pesan kepada Orang Tua


Drama kecemburuan seperti yang aku alami diatas sebenarnya bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan, jika orang tua bisa lebih mempersiapkan psikologis anak ketika akan menyambut kehadiran adik baru. Aku akui saat kehamilan mungkin aku kurang mempersiapkan strategi yang tepat. Walaupun saat hamil sebenarnya aku sudah mulai mengkondisikan si kakak akan kehadiran adik barunya, tapi ternyata itu belum cukup. Ada sesuatu yang lebih kompleks dari semua yang aku pikirkan. 

Aku pun berusaha merangkum hal-hal yang menurutku penting untuk dilakukan orang tua. Rangkuman ini kutulis berdasarkan pengalaman yang kualami. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kita lakukan pada si kakak ketika adik bayi sudah lahir:

1. Meluangkan Waktu Berdua dengan Si Kakak
Walaupun suamiku sudah berusaha menyempatkan waktu menemani si kakak, ternyata anakku tetap butuh waktu berdua dengan ibunya. Hal itu sebenarnya adalah sesuatu yang tidak terpikirkan bagiku sebelumnya. Ketika anak mulai merasa ibunya sudah berkurang perhatian kepada dirinya maka ia pun bisa kecewa. Jadi, jangan lupa untuk luangkan waktu, tak hanya dengan ayah, tapi juga dengan ibu karena anak butuh sosok ayah dan ibu dalam hidupnya, bukan hanya salah satu pihak saja.

2. Yakinkan Kakak bahwa Ia akan Selalu Disayang
Kehadiran adik baru kadang membuat anak merasa dinomorduakan atau merasa diabaikan. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus menguatkan posisi kakak bahwa dia akan selalu disayang dan dicintai. Ucapkan dengan perkataan, pelukan, sentuhan dan waktu yang kita luangkan untuknya. Dengan begitu, mudah-mudahan kakak tidak merasa tersingkirkan dalam keluarga akibat kehadiran adik barunya.

3. Ajak Kakak untuk Terlibat
Biasanya aku mengajak kakak untuk membantu mengurus kebutuhan adik. Entah mengambilkan popok, baju dsb. Sesuaikan dengan kemampuannya ya dan pastikan kakak dalam kondisi senang supaya dia tak merasa dipaksa ketika melakukan hal tersebut.

4. Jangan Menuntut Terlalu Banyak
Dulu aku sering secara tak sadar meminta Nayra untuk mengerti kondisi yang aku hadapi, tanpa mencoba memahami perasaannya. Aku lupa bahwa Nayra masih kecil dan ia sendiri juga merasa berat dengan situasi yang ada. Sebagai orang tua yang harusnya lebih dewasa dan lebih mengerti, maka kitalah yang harus mencoba memahami perasaannya. Jangan sampai ia merasa tak dipedulikan hingga akhirnya membuat ia membenci adiknya sendiri. 

Kadang aku pun masih menuntut kakak untuk mau mengerti, hanya karena aku merasa ia sudah lebih besar dan sudah menjadi seorang kakak. Padahal, tak ada yang lebih menyedihkan bagi hati seorang anak, selain melihat ibunya lebih peduli kepada adiknya. Tak ada yang bisa memahami betapa sedihnya seorang anak, ketika ia hanya bisa menatap punggung ibunya ketika tidur. 

Dulu aku berpikir bahwa Nayra sudah bisa mengerti kondisi yang kuhadapi. Padahal aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan anak kecil yang juga mengharapkan perhatian khusus dari ayah bundanya. Oleh karena itu, jangan menuntut sang kakak terlalu banyak karena ia juga masih kecil dan ia butuh kasih sayang yang adil dari orang tuanya.

Itulah beberapa tips yang pernah kulakukan. Sebenarnya banyak sekali tips terkait kecemburuan antarsaudara yang bisa dipelajari. Ayah Bunda bisa juga membaca di buku atau di situs internet . Baru-baru ini aku pun sempat membaca beberapa artikel dari situs www.ibupedia.com.  Disana juga ada banyak Tips Agar Kakak Tidak Cemburu Pada Adik Barunya. Tipsnya pun menurutku sangat bermanfaat dan aplikatif sehingga akan lebih mudah bagi Ayah dan Bunda untuk mencoba mempraktikannya. 

(Salah satu artikel di situs ibupedia.com)


Saat ini dengan bertambahnya usia, Nayra sudah tidak terlalu banyak berkonflik dengan adiknya. Aku sendiri justru melihat dia sebagai sosok yang mengayomi dan dapat menjaga adiknya. Walaupun demikian, bukan berarti masalah selesai, karena justru giliran anak kedua yang saat ini mengalami masalah yang sama dengan adiknya. Memang ya, bicara tentang tantangan menghadapi anak memang tak pernah usai, hehe..

Tiga Puteriku

Kupikir menjadi orang tua memang memaksa kita untuk belajar lebih banyak, karena tantangannya akan selalu muncul sepanjang hidup. Untungnya saat ini sebagai orang tua yang hidup di era sekarang, kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang dunia parenting dengan mudah. 

Ayah dan Bunda bisa menjadikan situs Ibupedia sebagai referensi yang membahas tentang dunia parenting. Jika ada orang tua yang memiliki masalah yang sama sepertiku, disana ada beberapa artikel penting yang perlu diketahui orang tua terkait kecemburuan kakak dan adik. Selain itu, ada juga topik-topik penting lainnya, seperti kehamilan, kelahiran, balita, kesehatan, keluarga dan masih banyak lagi. Jadi Ayah dan Bunda tak perlu khawatir jika dihadapkan pada masalah-masalah seputar anak dan keluarga karena disana cukup banyak tips-tips berharga yang bisa kita aplikasikan di rumah.

Banyak topik yang bisa dipilih
(Tampilan Website ibupedia.com versi mobile)

Terakhir, ada satu kalimat yang selalu kuingat sejak dulu, bahwa ketika kita menjadi orang tua, berarti kita harus siap untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Ketika kita berhadapan dengan permasalahan anak, tentu itu membutuhkan kesabaran, wawasan dan kesungguhan. Oleh karena itu, penting sekali untuk kita terus mengasah kesabaran dan semangat belajar terkait dunia anak dan keluarga. Tetap semangat untuk semua Ayah dan Bunda, semoga kita bisa menyayangi, mendidik dan membimbing anak-anak agar mereka bisa bertumbuh dengan baik dan menjadi anak yang bahagia. 

View Post

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh IIDN. Bagi yang belum tahu, IIDN ini merupakan sebuah Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis dan menjadi wadah bagi ibu-ibu yang suka menulis untuk terus belajar mengembangkan minatnya. IIDN terbentuk tahun 2010 yang waktu itu didirikan oleh Indari Mastuti. Saat ini Ibu-ibu Doyan Nulis diketuai oleh Widyanti Yuliandari dan terus berkembang hingga sekarang. Anggota di grup facebooknya bahkan sudah mencapai lebih dari 22 ribu. Banyak juga rangkaian kegiatan yang sudah dilakukan bekerja sama dengan brand-brand besar. 

Baru-baru ini IIDN juga mengadakan kegiatan Festival Perempuan Indonesia 2021 dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-11. Sebenarnya menarik sekali karena dalam kondisi pandemi, ternyata IIDN tetap mampu melakukan kegiatan yang bermanfaat dan menginspirasi banyak perempuan. Berikut adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam Festival Perempuan Indonesia :

1. Talkshow "Perempuan dan Menulis" dengan pembicara Kirana Kejora dan Widyanti Yuliandari.
2. Talkshow "Perempuan dan Lingkungan" dengan pembicara Anjarwati, S.Si.,M.Env. dan Aryenda Atma.
3. Talkshow "Perempuan dan Kekuatan Diri" dengan pembicara Artha Julie Nava dan Intan Maria Lee.



Selain acara talkshow, ada juga blog tour dan virtual class Natural Korean Make Up for Daily yang berkerjasama dengan brand kosmetik Wardah. Rangkaian acara tersebut kemudian ditutup dengan acara Puncak yang berisi Sharing Session bersama Damar Aisyah, Mugniar Marakarma dan Wiwin Pratiwanggini. Ada pula acara hiburan berupa kuis berhadiah dan pengumuman pemenang hadiah dari Wardah.

Nah, dalam beberapa rangkaian kegiatan tersebut, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu Talkshow yang berjudul Perempuan dan Kekuatan Diri. Topiknya menurut saya sangat menarik karena sangat relate dengan kehidupan para perempuan terutama perempuan di Indonesia.


Banyak pesan yang saya tangkap dalam talkshow tersebut dan kali ini saya akan coba bagikan kedalam beberapa poin.  Poin-poin tersebut ada yang saya tulis dengan bahasa sendiri tanpa bermaksud mengurangi atau melebihkan isi materi. Berikut beberapa poin yang saya dapatkan, semoga bisa bermanfaat dan memotivasi kita semua.


Hei Perempuan Indonesia, Belajarlah Mencintai Diri Sendiri!


Dalam acara talkshow Festival Perempuan Indonesia, pembicara pertama, Mbak Artha Julie menjelaskan tentang kondisi dan permasalahan yang sering dialami perempuan. Menurut beliau, perempuan adalah sosok yang paling banyak menghadapi problem dalam hidupnya. Mengapa? Karena perempuan seringkali tidak mengerti potensi dan kekuatan dirinya sendiri. Perempuan juga terkadang tak punya planning akan hidupnya sehingga ia pun mudah terbawa arus. Hal ini bermula karena perempuan banyak yang tidak bisa menjawab sebuah pertanyaan besar tentang:
"Siapa sih diriku yang sebenarnya?"

Problem yang dihadapi tersebut terkadang membuat perempuan tidak menghargai diri mereka sendiri. Itulah kenapa self love seakan menjadi PR yang harus diselesaikan. 

Apa itu Self Love?

Self love merupakan sebuah perspektif untuk melihat diri kita dengan cara berbeda dan dengan cara yang lebih baik. Self love merupakan upaya kita untuk mulai menaruh penghargaan pada diri dan kebutuhan kita.

Banyak perempuan yang selama ini lebih banyak memberi isi "botolnya" daripada mengisinya kembali. Padahal kita tidak sadar bahwa "botol" kita kadang sudah kosong. Apa yang mau kita berikan jika kita sendiri sudah tidak punya apa-apa? Kita akan menjadi mudah kesal dan marah kepada orang-orang disekitar kita, padahal mereka sudah terlanjur berharap agar kita selalu memberikan yang terbaik. 

Ketika kita sudah tidak bisa memberikan apa yang orang lain harapkan, muncullah rasa frustrasi. Rasa frustrasi ini  yang nantinya malah bisa berdampak pada anak-anak, suami maupun orang-orang terdekat kita. Semua hal negatif yang muncul pada diri kita kadang disebabkan karena ada hal-hal yang tidak terpenuhi dalam diri kita. Itu yang mungkin menjadi akar masalahnya.

Wujudkan Keseimbangan

Banyak perempuan yang lahir dalam kultur budaya Indonesia tumbuh dengan lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Sebenarnya memerhatikan kebutuhan orang lain memang bukanlah hal yang salah, tapi kita juga harus ingat bahwa kita sendiri punya kebutuhan yang harus kita penuhi. Ketika kita memenuhi kebutuhan orang lain kita juga hendaknya bisa merasa bahagia. Jika tidak bahagia, barangkali ada yang perlu diintrospeksi.

Yang jadi masalah adalah memang tidak mudah untuk bisa memenuhi keduanya karena kita memang bukanlah superwoman. Lalu apa yang harus dilakukan agar perempuan bisa seimbang dalam memenuhi dua kebutuhan tersebut?

Ciptakan keseimbangan dengan meminta bantuan pasanganmu. Peran suami sangat berpengaruh dalam menyeimbangkan hal tersebut. Di budaya barat, suami berperan lebih fleksibel dalam rumah tangga. Para lelaki terbiasa membersihkan rumah, mencuci piring dan memasak. Sementara di indonesia tidak selalu begitu. Jadi masalah utamanya lebih kepada pembiasaan, bagaimana caranya agar suami ikut serta dalam membantu pekerjaan rumah tangga dan bagaimana agar isteri mau bicara dari hati ke hati dengan suami tentang pembagian tugas dalam rumah tangga.

Ubah Mindset

Perempuan juga harus mulai belajar untuk melihat masalah bukan sebagai masalah. Lihatlah masalah sebagai kesempatan untuk berubah. Ketika mendapati masalah besar, maka lakukan upaya self love melalui beberapa cara berikut:

1. Bangun Kesadaran.
Pahami bahwa problem yang muncul merupakan cara Tuhan untuk membuat kita menjadi lebih baik. Problem yang ada bukanlah untuk menghancurkan diri kita. Mindset seperti itu dulu yang harus dibangun agar kita tidak berprasangka buruk terhadap kondisi yang ada.

2. Lakukan Penerimaan
Kita terima apapun yang terjadi pada diri kita, baik dan buruknya. Ibaratnya ketika kita tersandung batu, apakah kita harus mengeluh dan mengomeli batu itu hingga bertahun-tahun? Jadi terima dulu saja apapun yg terjadi karena jika kita tidak menerima, maka energi dan pikiran kita hanya akan habis terbuang karena memikirkan dan menyesali masa lalu. Jika sudah menerima, maka fokuslah pada problem solving, karena mencari solusi akan jauh lebih baik daripada meratap dan mengeluh terus menerus.

3. Mulailah Menata Hidup
Mulailah untuk memilih apa yang penting dan tidak penting dalam hidup kita. Fokuslah kepada hal penting dan apa yang harus dilakukan di masa depan. 

Membenahi mindset adalah hal yang penting. Kita harus mau menghargai dan menilai diri kita secara positif. Memang harus diakui bahwa ini tidak mudah, apalagi jika selama ini kita secara tak sadar telah menanamkan kepada diri bahwa kita tak berharga dan inferior. Mindset tersebut mungkin sudah tertanam kuat akibat pengalaman hidup ataupun faktor lingkungan. Ketika mencoba melakukan affirmasi pun kadang tidak berhasil. Lalu apa yang harus dilakukan?

Ubah Affirmasi

Sebagai contoh, kita berdiri di depan cermin dan mencoba memberikan affirmasi bahwa kita itu cantik, kita adalah perempuan hebat dsb. Sementara dalam batin kita muncul sebuah penolakan,
"Gak ah, aku gak cantik, aku jerawatan," 
"Aku gak hebat karena aku masih sering insecure". 

Jika penolakan terhadap affirmasi tersebut masih ada dalam diri kita, maka coba ganti kata-kata affirmasinya. Ucapkan kepada diri sendiri bahwa, 
"Saya dalam proses menghargai segala anugerah yang diberikan Allah kepada saya. Saya sedang dalam proses menghargai kecantikan yang diberikan Allah kepada saya. Saya sedang dalam proses menghargai tubuh saya. Saya dalam proses menjadi lebih baik,"

Ucapkanlah itu secara sadar dan rutin. Mudah-mudahan lama-lama nanti kita terbiasa. Ketika kita menyebutkan kata "dalam proses",  maka hati pun terasa lebih enteng karena kita tak  merasa tertekan gara-gara kita menganggap affirmasi itu tak sesuai dengan realita. 

Selain hal tersebut, berkumpullah dengan orang-orang yang suportif. Lakukan kegiatan menyenangkan seperti menonton dan membaca yang kira-kira bisa memberikan pengalaman yang positif.

Menerima Masa Lalu


Mbak Intan Maria sebagai pembicara kedua, menyebutkan bahwa Innerchild adalah diri seseorang yang berasal dari masa lalu atau masa kecilnya. Sebelum membahas lebih lanjut, Mbak Intan meminta para peserta untuk mencoba menulis pengalaman tidak menyenangkan yang terjadi di masa lalu atau masa kecil ke dalam buku. Biasanya ketika kita menceritakan perihal kejelekan yang kita alami di masa lalu, akan muncul emosi tidak nyaman. Nah, jika muncul emosi semacam itu, berarti ada emosi-emosi mengganjal yang belum selesai dan itu berkaitan dengan innerchild.

Apakah masalah di innerchild ini akan memengaruhi kehidupan seorang perempuan kedepannya?

Pada dasarnya ketika perempuan sudah tidak memiliki masalah dengan innerchild, maka ia akan bisa menunjukkan performa dan menunjukkan perasaan bahagia. Perempuan memang sosok yang tangguh, tapi ia juga sosok yang lemah. Dibalik ketangguhan seorang perempuan, tetap ada perasaan yang harus diisi. Hanya saja terkadang susah bagi diri kita untuk berdamai dengan hal-hal buruk di masa lalu sehingga itu hal yang perlu diperbaiki.


Bagaimana kalau saat dewasa kita masih ter-trigger dengan pengalaman innerchild yang buruk di masa lalu?

Pertama mencoba mengakui bahwa itu salah. Sadarilah bahwa hal itu hanya akan membuat kita tidak percaya diri. Ketika ingatan atau perasaan itu muncul, kita coba amati polanya. 
"Kenapa ya saya tiba-tiba ingat?"
"Apa ya yang menyebabkan saya ingat akan hal itu?"

Kedua, jika kita ingin berdamai dengan masa lalu maka kita harus menerima semuanya. Terimalah kebahagiaan, kesedihan, semua rasa takut dan kelola semuanya sesuai dengan porsinya masing-masing. Jangan lupa meminta kekuatan kepada Allah untuk membantu kita mengikhlaskan dan melewati semuanya.

Jejak Cerita Festival Perempuan Indonesia

Itulah beberapa pesan berharga yang saya dapatkan dalam acara talkshow yang diselenggarakan oleh IIDN. Akhir kata, saya ingin mengapresiasi Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis yang sudah menyelenggarakan acara Festival Perempuan Indonesia dengan sukses. Menurut saya acaranya berjalan dengan baik dan peserta juga antusias mengikutinya. Pesan-pesan yang disampaikan juga sangat bagus karena memotivasi para perempuan Indonesia untuk menjadi sosok terbaik sesuai versinya masing-masing. 

Sudah 11 Tahun IIDN Berkarya, semoga Ibu-ibu Doyan Nulis bisa menjadi komunitas yang inspiratif dan memotivasi banyak perempuan Indonesia untuk berkembang lebih baik lagi. Ditunggu event selanjutnya!


View Post
Ini adalah tulisan yang sudah sangat lama sekali. Tulisan ini sebenarnya aku kirimkan sebagai tugas kuliah (tapi untuk versi yang ini sudah banyak yang ku edit juga). Jadi, dahulu kala di awal semester, ada mata kuliah yang namanya Bimbingan Menulis (Sekarang sudah tidak ada lagi sepertinya). Di mata kuliah tersebut, kami diminta untuk membuat semacam catatan harian. Nah, ini adalah salah satu catatan yang aku bikin. Catatan ini nanti akan dikumpulkan ke dosen supaya bisa mendapat feedback. Klo tidak salah, ini catatan pertama yang aku bikin.


Mari membaca.


Curahan Hati

Foto: Dokumen Pribadi (aku saat masih bayi)


Aku tidak selemah yang kau kira! Tapi... Aku ternyata tidak sekuat yang aku kira.  
Ada dua sisi kehidupan di dunia ini. Dan aku berada di antara keduanya.  
Jika aku merasa lemah, maka aku pasti akan lemah, 
 Tapi jika aku ingin kuat, maka aku pun pasti akan menjadi kuat!


Aku terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Yaah, jumlah yang lumayan banyak. Memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki membuatku merasa nyaman, karena merekalah yang mengerjakan seluruh pekerjaan di rumah, hehehe.

Saat aku masih kecil, tidak ada pekerjaan yang aku lakukan karena semuanya sudah diambil alih oleh saudara-saudaraku. Padahal, saat itu aku ingin sekali mencoba untuk membantu mengerjakan pekerjaan yang mereka lakukan. Namun, mereka tidak mengabulkan keinginanku. Apalagi orang tuaku. Mereka benar-benar tidak membiarkanku untuk melakukan pekerjaan rumah seperti kakak-kakakku. Padahal, bukanlah suatu kesalahan kan jika aku ingin mencoba melakukan apa yang mereka lakukan?

Saat aku masih kecil, kira-kira usia SD, pernah aku dimarahi hanya karena memegang sebuah cabai merah ketika sedang melihat kakakku memasak di dapur. Mereka bilang, tanganku bisa kepedasan gara-gara memegang cabai itu. Menurutku itu terlalu berlebihan. Bukankah aku bisa mencuci tangan setelah memegang cabai itu? Mengapa aku tidak diperbolehkan melakukan apa yang ingin aku ketahui? Apakah karena aku masih kecil? Kalau jawabannya iya, kenapa kakakku selalu bercerita bahwa mereka sejak kecil sudah diajari memasak di dapur. Lalu, kenapa aku tidak boleh seperti mereka? Bukankah aku juga ingin belajar? Begitulah pikiranku saat kecil. Sayangnya saat itu aku hanya bisa memendamnya dalam pikiran saja. Tak pernah kuungkapkan.

Akhirnya, karena sejak kecil aku sudah terbiasa tidak diberikan tanggung jawab di rumah, ketika menginjak remaja, akupun berubah menjadi anak yang manja. Aku malas untuk melakukan sesuatu di rumah karena sejak kecil aku sudah terbiasa dilayani. Meskipun aku telah remaja, tapi aku tetap seperti anak kecil. Segala keinginanku harus dipenuhi karena kalau tidak aku pasti ngambek. Sejujurnya aku pun menyadari bahwa itu bukanlah karakter yang baik tapi untuk mengubahnya pun ternyata bukan hal yang mudah.

Seiring dengan usiaku yang sudah menjadi anak remaja, ternyata sikap orang tua dan kakak-kakakku pun ikut berubah. Dulunya mereka memanjakanku, namun ketika aku remaja mereka seakan bekerja sama untuk memojokkanku. Setidaknya itu yang aku tangkap, walaupun sebenarnya belum tentu juga begitu. Setiap ada pekerjaan rumah, justru akulah yang direkomendasikan untuk mengerjakannya. Aku sering kali menolak apa yang mereka perintahkan sehingga aku pun dicap sebagai anak manja yang malas. Akupun merasa kesal dengan perlakuan kakak-kakakku itu. Akhirnya, karena tidak tahan lagi dicemooh, akupun mencoba untuk melakukan apa yang mereka suruh. 

Aku mencoba untuk memasak, mencuci piring, membersihkan rumah dsb. Hal itu aku lakukan sekedar untuk membuktikan bahwa aku juga bisa melakukan pekerjaan yang mereka lakukan. Aku juga ingin membuktikan bahwa aku juga mampu dan bisa membantu orang tuaku. Namun yah pada akhirnya pekerjaan yang tidak biasa kita lakukan pastilah tidak dapat dengan mudah kita lakukan. Semua yang kulakukan justru pada akhirnya malah menjadi berantakan. 

Ketika semua tak berjalan seperti yang aku harapkan, aku merasa semua orang mencemooh dan memarahiku. Entah lewat kata-kata, entah hanya dengan sorotan mata. Aku tahu bahwa aku belum mampu melakukan pekerjaan rumah sesuai dengan harapan mereka tapi aku tahu bahwa aku sudah berusaha. Sayangnya mereka tak pernah mengapresiasi itu. Mereka tak pernah memberikan kata-kata yang bisa menyemangatiku. Aku berharap mereka mendukungku dan menyemangatiku seperti ini,

"Wah kamu lagi belajar masak nasi ya. Udah lumayan kok, tapi lain kali airnya jangan kebanyakan ya. Nanti kakak ajari bagaimana cara mengukur air yang benar, oke!" 
"Anak Ibu lagi membantu cuci piring ya. Ibu senang sekali melihatnya. Tapi kalau boleh ibu sarankan, piringnya jangan kelamaan direndam di bak pembilasan ya nanti kotorannya nempel lagi,"
"Nak, masakannya sudah enak kok, tinggal dimasukkan cabe dan sedikit garam saja, pasti rasanya makin mantab. Nanti Ibu catatkan resepnya ya supaya kamu tidak lupa lagi nantinya,"


Tidak ada kata apresiasi semacam itu. Yang ada hanyalah,
"Masak nasi aja gak bisa! Gimana sih? Masa anak perempuan gak ngerti apa-apa!"
"Ya ampun, kamu malah bikin ibu tambah repot. Itu piringnya jadi kotor! Kamu nih bener-bener bikin susah,"
"Itu masakannya kok jadi begini sih rasanya? Kalau kayak gini rasanya nanti ga ada yang mau makan! Haduh bener-bener gak bisa diandalkan kamu ya,"

Bagaimana perasaanku ketika mendengarkan hal itu?

Seringkali aku menangis dan menyesali diri kenapa tidak bisa menjadi anak yang berguna. Aku pun tumbuh menjadi anak yang inferior dan takut salah. Aku jadi takut untuk melakukan sesuatu karena sering disalahkan dan tak dihargai. Perasaan itu juga terasa makin berat ketika aku menginjak SMA. Beban sekolah dan lingkungan sekolah yang tak nyaman membuatku tumbuh menjadi anak yang pendiam dan makin tertutup.

Kalau ditanya, apakah aku sayang pada keluargaku, tentu aku sangat menyayangi mereka. Oleh karena itu aku tak ingin membuat mereka kecewa. Hanya saja, aku sering merasa kesal dengan perlakuan keluargaku yang di satu waktu memanjakan aku namun di waktu lain malah justru berkonfrontasi untuk memojokkan aku. Mungkin apa yang aku ceritakan ini terkesan terlalu berlebihan, tapi itulah yang aku rasakan saat itu.

Aku juga sering merasa serba salah. Aku ingin membuat mereka senang, tapi malah justru aku pulalah yang membuat semuanya menjadi kacau. Terkadang, aku menyalahkan mereka mengapa selama ini memanjakan aku. Aku pun sering merasa bersalah kepada diri sendiri, mengapa selama ini tidak bisa berubah menjadi anak yang baik dan bisa bersikap sesuai dengan harapan mereka. Jika seandainya waktu bisa diputar, maka salah satu hal yang akan aku lakukan adalah bisa menjadi anak/adik yang mereka banggakan.

Masa-masa remaja adalah masa-masa yang tak menyenangkan untukku saat itu, meski aku bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan teman-teman yang baik. Aku pun pada akhirnya memutuskan mengambil fakultas psikologi, salah satu harapannya karena aku ingin mengobati jiwaku juga.. hehe. Di psikologi aku banyak belajar dan secara tidak langsung aku juga mengubah banyak hal dalam diriku. Sayangnya, ternyata kenangan masa lalu tidak sepenuhnya hilang. Ketika aku berhadapan dengan saudara-saudaraku (sampai saat ini pun), aku masih suka merasa inferior. Apalagi jalan kehidupan yang aku tempuh memang berbeda dengan saudaraku yang lain.

Tapi, dari pengalaman hidupku tersebut, ada beberapa hikmah yang bisa aku ambil:

1. Jangan Melarang Anakmu untuk Terlibat 
Dulu aku seringkali penasaran dan ingin ikut membantu ibuku terutama ketika di dapur, tapi ia selalu melarang. Padahal rasa penasaran itu tak selalu akan muncul. Jadi, saat ini yang bisa kupahami adalah ketika anak sedang semangat-semangatnya ingin membantu orang tua, maka biarkan saja karena semangat dan rasa ingin tahunya tak selalu ada. Toh bukankah itu adalah waktu yang tepat untuk mengajarinya kemandirian? Memang sih, ketika anak membantu kita kadang semua jadi lebih ribet, aku pun merasakan itu. Tapi kalau dipikir-pikir, belum tentu juga kelak mereka akan memiliki semangat yang sama untuk membantu kita, maka biarkan saja mereka membantu sesuai dengan kemampuan mereka sendiri. Siapa tahu mereka jadi bisa belajar banyak hal.

2. Beri Apresiasi
Berikan apresiasi dan dukungan ketika anak mencoba menjadi lebih baik. Setidaknya sekalipun hasilnya tak seperti yang kita harapkan, maka hargai usaha dan niatnya. Ketika anak merasa usahanya dihargai, maka kelak ia tidak akan merasa kapok untuk terus membantu. Bahkan mungkin ia akan membantu orang tua dengan senang hati tanpa harus disuruh-suruh. Jika memang ada kesalahan dalam proses belajarnya, maka cukup beritahukan dengan baik apa yang masih kurang. Tak perlu tambahkan kemarahan, omelan dan kata-kata yang hanya menjatuhkan semangatnya.

3. Beri Mereka Kesempatan untuk Menyatakan Pendapat
Sebagai anak bungsu kadang aku merasa pendapatku tak terlalu didengar. Akibatnya aku merasa rendah diri untuk berani menyatakan pendapatku di depan orang tua maupun saudaraku. Aku selalu merasa seperti anak kecil yang pendapatnya tak terlalu penting. Hal itu sampai sekarang masih terbawa, apalagi sebagai seorang yang introvert, biasanya aku adalah orang yang tak akan bersuara jika tidak diminta untuk bicara. Dengan memahami karakter anak masing-masing, maka itu akan memudahkan orang tua untuk menentukan cara yang tepat agar anak merasa selalu didengarkan dan dihargai pendapatnya.

Itulah beberapa catatan penting yang kuharap bisa menjadi pengingat bagiku agar aku tidak melakukan hal yang sama kepada anakku (dalam hal ini terkait contoh yang tidak baik, karena sebenarnya banyak juga teladan baik yang bisa aku ambil dari keluargaku). Aku sadar hingga detik ini aku belum bisa membuat mereka bangga. Oleh karena itu, aku selalu berdoa semoga aku bisa membuat keluargaku bangga dan bahagia kepadaku suatu hari nanti. Tak hanya bangga di dunia tapi juga di akhirat kelak, aamiin. Mudah-mudahan semua belum terlambat. 
View Post
Ini adalah sebuah kisah yang sudah lama sekali saya baca. Sewaktu itu saya dapatkan kisah ini dari sebuah milis. Sejujurnya saya tak tahu sumber asli dari tulisan ini dan saya sendiri pun kurang tahu juga apakah ini merupakan kisah nyata ataukah bukan. Yang jelas, ketika membaca kisah ini, sungguh rasanya meleleh hati ini sambil bertanya-tanya dalam hati ini, apakah benar ada lelaki yang seperti ini di dunia nyata? Apakah benar ada seorang suami yang memiliki kecintaan besar terhadap isterinya seperti tulisan yang saya baca ini? 

Beberapa waktu lalu, saya pernah membaca sebuah postingan tentang seorang suami yang selalu mendengarkan  voice note isterinya berulang-ulang. Ternyata sang isteri telah lama meninggal dunia dan dia selalu memperdengarkan rekaman suara isterinya setiap kali ia rindu atau setiap kali ia selesai sholat. 

Kisah yang manis sekaligus mengharukan. Dulu saya selalu berpikir bahwa ketika suami ditinggalkan isterinya, maka ia mungkin akan mudah melupakan isterinya tersebut. Ia bahkan tak akan membutuhkan waktu lama untuk menikah lagi dengan perempuan lain dan memulai hidupnya yang baru.

Namun, ketika membaca kisah ini, barangkali masih ada lelaki yang memiliki perasaan cinta yang kuat sekalipun sang isteri sudah tak ada lagi di dunia. Kisah berikut ini adalah salah satu kisah indah yang menceritakan itu semua. Semoga ada hikmahnya.


Sumber gambar: sailusfood.com


Teringat sebuah kisah cinta yang tercatat dalam sejarah. Seorang mursyid 'aam Ikhwanul Muslimin ke-3 yaitu Umar at-Tilmisani. Kisah ini bercerita tentang ashir manjaa  atau jus mangga. Dalam kisah tersebut tersimpan energi cinta (meminjam istilah alm. ust. Rahmat) yang menjadi pelajaran bagi kita semua tentang keindahan dan ketulusan cinta.

Dalam sebuah majelis di Iskandariah bertepatan dengan waktu Ramadhan, at-Tilmisani diundang dalam majelis tersebut. Saat itu bertepatan pula dengan waktu berbuka. Salah satu hidangan yang disajikan untuk berbuka pauasa adalah jus mangga. Seorang lelaki yang ada di majelis tersebut kemudian menghidangkan beliau segelas ashir manjaa. Melihat hidangan tersebut, beliau tiba-tiba meminta maaf. Beliau lalu berkata bahwa beliau tidak bisa menerima dan meminumnya.

Sebagian besar orang yang menghadiri majelis itu memperhatikan beliau. Mereka lalu bingung dan bertanya, "A
pa ustadz alergi dengan minuman ini ataukah minuman ini dapat mengganggu kesehatan ustadz?" tanya orang-orang tersebut. Memang dia masa tersebut beliau sudah berusia lanjut.

"Tidak," jawab beliau.

Mendengar jawaban singkat beliau, mereka semakin penasaran. Mereka lalu mendesak beliau agar mau mengungkapkan alasannya. Lantas setelah mendapat desakan tersebut, beliau pun kemudian berkata,

" Dulu, apabila saya terlambat pulang kerja, almarhumah istri saya selalu menunggu dengan sabar sembari menyiapkan dua gelas jus mangga. Kemudian ketika saya sudah pulang, kami berdua pun meminumnya bersama-sama. Sekarang, isteri saya sudah wafat. Saya tetap merasa berat untuk meminum jus mangga sendirian. Saya tak bisa meminumnya tanpa dia," ujarnya.

"Saya", lanjut beliau, "Selalu memohon kepada Allah agar Ia mempertemukan kami berdua di syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga. Lalu, kami dapat bersama-sama menikmati minuman syurga..," ujar beliau mengulangi perkataannya.

Masya Allah... sungguh indah kisah cinta orang yang sholeh. Semoga kita pun bisa berkumpul dengan orang yang kita cintai di surga kelak, aamiin.


View Post
Flight Plan Review



Oke, jadi ini film sebenarnya sudah lama. Tahun 2005 keluarnya. Mungkin diantara kalian pun sudah pernah ada yang menontonnya. Tapi karena sesuatu hal, saya jadi keingetan lagi sama film ini. Untuk jalan ceritanya silahkan googling saja ya. Aku nggak ingin membahas lebih lanjut. Yang jelas menurutku film ini recommended banget untuk ditonton, terutama untukku sendiri yang merupakan seorang ibu. 

Film ini jalan ceritanya bagus. Dibintangi salah seorang aktris senior yaitu Jodie Foster. Salah satu filmnya yang aku suka juga adalah the silent of the lamb. Film lawas juga sih (ini kayaknya aku doyannya nonton film lawas ya.. hehe). Rada-rada mirip sama film ini. Bukan jalan ceritanya ya yang mirip. tapi yang bikin mirip adalah karena sama-sama film thriller. Kita juga akan dibuat bertanya-tanya  tentang tokohnya. Siapa sih penjahatnya? Gimana ya nanti akhirnya? Ini arahnya kemana ya? Ya pokoknya beragam pertanyaan yang mengusik saat pertama kali nonton ini.  That's why i love this movie. Untuk bisa menikmati film ini, jangan berekspektasi macem-macem. Cukup ikuti alur cerita dan kita akan kaget dengan jalan ceritanya. 
 
Jadi, dalam film ini, Jodie Foster memerankan tokoh Mrs. Fratt yang harus berjuang di dalam pesawat untuk mencari anaknya yang tiba-tiba menghilang. Anehnya nggak ada satu orang pun di pesawat yang ngeliat anaknya tersebut sehingga orang-orang yang ada di pesawat mulai nganggap Mrs. Fratt ini stress, giladsb. Apalagi dia juga baru kehilangan suaminya yang meninggal jatuh dari atap. Namun, Mrs. Fratt yakin bahwa anaknya beneran ikut ke pesawat. Dia yakin bahwa ada yang mengambil anaknya dan  anaknya sedang dalam bahaya. Ketika semua orang nggak ada yang percaya sama dia, bahkan justru memojokkannya, ia tetap yakin pada instingnya sebagai seorang ibu. Disini sih aku ngerasa Mrs. Fratt bener-bener sosok yang keren banget sih.

Bahkan pas ngeliat perjuangan Mrs. Fratt mencari anaknya ini, aku jadi langsung bertanya kepada diri sendiri, 
"Bisa ga ya, aku menjadi ibu yang seberani itu?"
"Bisa ga ya, aku yakin pada diriku sendiri?"
"Bisa ga ya, aku melindungi anakku apapun yang terjadi?"
Dan akhir cerita ini pada akhirnya akan membuat kita menyadari betapa luar  biasanya perjuangan dan keyakinan seorang ibu.

Ini film bener-bener bagus sih, meski heran juga kenapa di imdb ratingnya cuma 3 bintang. Padahal film ini memenangkan 2 nominasi lho. Oh iya, di film ini juga nggak ada adegan aneh-aneh semisal adegan ciuman, adegan jorok dan sejenisnya yang biasanya suka ada di film barat. Dan ini menjadi nilai plus tersendiri buatku sih.


Intinya, I give 4,5/5 Stars for this movie.. Yeay. 
Kalau kalian sendiri, pernah nonton film ini belum?
View Post

Gambar: creativitypost.com




Kreativitas pada anak katanya perlu ditumbuhkan. Padahal itu adalah pernyataan yang salah karena sesungguhnya anak-anak kita itu sudah terlahir kreatif. Tak percaya? Coba perhatikan saja, anak-anak kita seringkali menemukan caranya sendiri untuk bermain. Kertas yang dirobek-robek jadi mainan. Panci dan peralatan dapur yang kerap kali ia jadikan alat musik. Bantal dijadikan pegunungan dan kotak kardus yang ia jadikan bangunan. 

Kita sendiri sebagai orang tua kadang kalah kreatif dengan anak-anak. Mungkin itu disebabkan karena seumur hidup kita telah dibentuk oleh sistem yang membatasi kreativitas kita, sehingga kreativitas yang ada sejak kecil makin terkikis seiring pertambahan usia.

Beberapa waktu lalu (sudah lama sih sebenarnya) ada diskusi dalam komunitas saya yaitu komunitas Ibu Profesional Tangerang Selatan. Saat itu tema yang dibahas adalah tentang kreativitas. Saya akan mencoba merangkum dan mungkin sedikit menambahkan dari sudut pandang saya tentang kreativitas itu sendiri. Berikut adalah hasil rangkuman saya terkait diskusi tersebut. Semoga bermanfaat.


Apa itu kreativitas?


Gambar: http://savimontessori.com/



Sebelum menyimak penjelasan lebih lanjut. Kita harus tahu dulu, kreativitas itu apa sih? 
Kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, kemampuan untuk berpikir out of the box, kemampuan berkarya dan memecahkan masalah. Kalau menurut saya sendiri, kreativitas adalah suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Jika dilihat dari prosesnya, kreativitas terdiri dari tiga jenis, yaitu:

1. Evolusi : Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
2. Sintesis : Dua atau lebih ide yang ada digabungkan jadi satu ide baru lagi
3. Revolusi : Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Pada dasarnya seperti yang disinggung di awal, anak-anak itu sudah terlahir kreatif. Bahkan kita pun waktu kecil sebenarnya juga kreatif. Masih ingatkah, bagaimana anak-anak jaman dulu menjadikan batang daun pisang menjadi mainan senjata? Atau kalau dulu waktu kecil saya menjadikan batang talas menjadi boneka dengan rambutnya yang panjang. Lalu ada tanaman pegagan yang dijadikan penghembus balon busa? Saya juga ingat dulu menjadikan tempurung kelapa sebagai alat masak untuk membuat nasi goreng. Anak-anak kadang punya cara sendiri dalam memanfaatkan bahan-bahan disekitarnya menjadi barang yang menakjubkan. Namun sayangnya, seiring bertambahnya usia, justru kreativitas itu menjadi layu bahkan kadang mati. Saya sendiri pun mengakui itu. Nah, kira-kira apa penyebabnya?


Kenapa Kreativitas tidak Berkembang?



Gambar : https://mumslounge.com.au/



Ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kreativitas terhambat, diantaranya adalah:

1. Orang tua dan lingkungan yang tidak mendukung : Misalnya saja orang tua yang terlalu protektif sehingga membatasi anak untuk mengeksplor banyak hal. Lingkungan yang meremehkan dan tidak mendukung anak untuk menghasilkan karya. Ketika anak membuat sesuatu, lingkungan kurang memberikan apresiasi kepada anak atau  bahkan sampai mengejek.

2. Sistem sekolah yang terlalu kaku : Sistem sekolah yang terlalu kaku dan membatasi siswa untuk berkarya kadang menjadi penghambat bagi anak untuk berpikir out of the box. Salah satu contoh sederhana misalnya memberikan soal-soal atau pelajaran yang terlalu saklek dan tidak mendorong anak untuk berpikir kritis terhadap sesuatu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua agar menghindari hal tersebut?

1. Memberi anak lebih banyak dorongan positif untuk berkreativitas
2. Memberikan cinta tanpa syarat
3. Menghargai keunikan anak
4. Memberikan anak kesempatan untuk menjelajah

Dalam mendampingi anak-anak, kita juga harus memiliki sudut padang kreatif karena anak-anak butuh stimulasi dari lingkungan agar bisa terus berkreativitas. Kita pun jangan cepat memberikan penilaian terhadap hasil kerja anak, karena terkadang apa yang mereka lakukan mungkin bukan seperti apa yang kita pikirkan. Misalnya, suatu ketika, anak saya yang berumur 4 tahun mencari gunting dan menggunting kertas-kertas hingga menjadi berantakan. Awalnya tentu saya kaget karena semua menjadi sangat berantakan. Kertas-kertas yang harusnya bisa dipakai untuk menulis dsb malah berubah menjadi potongan-potongan kecil. Saya pun lalu bertanya kepada anak saya saat itu, kenapa ia menggunting-gunting kertas seperti itu? Ketika diselidiki, dia berkata bahwa dia sedang memiliki "projek" membuat "salju". Ia ternyata sedang berimajinasi dan menganggap kertas-kertas itu sebagi salju. 

Hal-hal semacam itulah yang kadang bisa diluar ekpektasi kita. Apa alasan anak melakukan hal tersebut? Apa yang mendasarinya? Pasti ia memiliki tujuan yang barangkali tidak terpikirkan oleh kita. Itulah pentingnya komunikasi dan mengosongkan pikiran kita dari prasangka. Kalau kita tidak mencoba melihat dari sudut pandang anak, mungkin yang terjadi adalah kita marah karena rumah jadi berantakan dan melihat kertas-kertas yang tak dapat digunakan.  Padahal kalau dipikir ulang, mungkin itu adalah salah satu cara dia untuk bisa bermain  dan mengembangkan kreativitasnya sendiri.

Oleh karena itu, belajarlah untuk membuka kotak pemikiran kita. Jangan batasi anak-anak sebatas pemikiran dan pengalaman kita saja karena jaman kita berbeda dengan mereka.  Mungkin selama ini pikiran kita sebagai orang tua dibatasi oleh lingkungan yang tidak mendukung, larangan-larangan yang berlebihan, dan ketakutan dari diri kita sendiri. Maka jangan lakukan hal tersebut pada anak-anak kita agar kreativitas mereka bisa berkembang dengan baik hingga mereka dewasa.


Anak tetap Memerlukan Bimbingan Orang Tua



Gambar : https://30seconds.com/


Pada dasarnya kreativitas itu baik, hanya saja kreativitas menurut saya tetap tidak boleh kebablasan karena walaubagaimanapun tetap ada rambu-rambu yang harus diperhatikan. Contohnya saja, kita tetap tidak boleh membiarkan anak kita menciptakan baju transparan yang akibatnya membuat aurat kelihatan hanya karena alasan itu bagian dari kreativitas. Banyak sekali sebenarnya contoh "kreativitas" yang kebablasan dan tidak pada tempatnya di jaman sekarang ini.

Oleh karena itu, diawal tadi saya memberikan definisi sendiri terkait kreativitas bahwa kreativitas hendaklah menjadi suatu aktivitas mencari dan menemukan  hal-hal baru agar menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dan karena saya adalah seorang muslim, maka penting juga untuk memberikan pemahaman bahwa kreativitas haruslah tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Dalam ilmu pengetahuan, penting sekali untuk menjadi orang yang kreatif karena kreativitas itulah yang akan membantu peneliti maupun ilmuwan untuk menciptakan obat atau teknologi yang bermanfaat bagi manusia. Namun jika kreativitas tidak diiringi oleh nilai moral dan spiritual, kreativitas itu juga bisa menjadi bumerang bagi manusia. Oleh karena itu betapa pentingnya didikan dan bimbingan dari orang tua maupun orang-orang terdekat, agar sejak dini anak-anak bisa mengembangkan kreativitas untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga kita sebagai orang tua maupun calon orang tua dapat membimbing anak dengan baik ya. Aamiin.


#selfreminder
View Post
Hai para ibu, calon ibu ataupun pembaca yang barangkali numpang lewat.. hehe. Beberapa waktu lalu saya sempat membuat artikel tentang Tips Menghadapi Balita Dua Tahun. Nah, kali ini saya akan membuat rangkuman dari diskusi emak-emak di sebuah forum bernama FOCER. FOCER sendiri merupakan sebuah (Forum curhat emak-emak rempong) yang diinisiasi oleh Pemerhati Parenting, Ibu Kiki Barkiah. Ini diskusi menarik ya soalnya. Banyak sekali masukan dari para ibu yang saya dapatkan terhadap berbagai permasalahan anak. Oke, let's start.


Q : Ibu Emosian Saat Nyuapin Anak?
"Saya gampang emosi dan gak sabaran kalau melihat anak mulai melepeh makanan. Saya kadang harus meninggalkan anak saya karena takut marah saya makin menjadi-jadi. Apa yang harus saya lakukan?

Sumber Foto :zerotothree.org



1. Beri Anak Waktu
Ada penjelasan dari seorang dokter anak di Amerika bernama dr. Brezelton. Ia mengatakan bahwa anak balita itu kadang memang butuh waktu sampai berkali-kali agar mau mencoba makanan baru. Kalau anak masih membuang-buang makanan, berarti mungkin saat itu ia memang belum mau mencoba makanan tersebut. Jadi dibiarkan saja dulu sampai dia benar-benar mau makan. Sediakan makanan yang sehat sehingga ketika sewaktu-waktu ia lapar, ia bisa memakannya.

Seorang Ibu perlu menyadari bahwa terkadang memang ada masanya anak sulit untuk makan dan hal itu yang wajar. Teruslah belajar atau sharing dengan komunitas ibu lainnya agar bisa saling bertukar pengalaman dan saling menyemangati. Jangan lupa, atur jadwal makan anak, agar saat jam makan, anak memang benar-benar dalam kondisi lapar sehingga mudah-mudahan bisa memperkecil terjadinya penolakan atau GTM (Gerakan Tutup Mulut).Tetap terus berusaha memberi makan. Ajak anak melakukan aktifitas outdoor supaya mereka gampang lapar. Dan jangan lupa ciptakan suasana menyenangkan saat makan.


2. Mereka hanya Anak Kecil
Kebanyakan orang tua menjadi emosi karena kita lupa kalau sedang berhadapan dengan anak kecil. Kita berharap anak melakukan sesuatu sesuai ekspektasi orang tua padahal seharusnya orang tua lah yang menyesuaikan diri dengan perkembangan pola pikir anak. Jadi, usahakan dibawa santai ya Maak. Jangan kebawa emosi nanti lama-lama kita bisa stress.

3. Banyak Berdzikir atau Mengingat Tuhan

Banyak-banyaklah berdzikir, karena memang Allahlah penggenggam setiap hati manusia, termasuk hati anak kita. Dia lah yang akan memudahkan segala urusan kita. Jadi jangan malu untuk berdoa agar Allah memudahkan peran kita dalam mengurusi anak-anak di rumah, termasuk dalam urusan memberi makan sekalipun. Ingatlah,
"When you feel snappy at your kids, remember it's not your children who are testing your patience. It's Allah who is testing yours. So forgive yourself, go back to Allah and pray that you build yourself up, in order to pass His test." 

Saya kurang tahu itu pernyataan siapa, yang jelas, pernyataan itu juga jadi self reminder untuk diri sendiri bahwasanya ketika anak-anak kita berperilaku kurang menyenangkan, justru saat itu barangkali Allah sedang menguji diri kita. Allah ingin melihat seberapa mampu kita bersabar dan seberapa kuat kita ingin tetap berusaha. Maka dari itu perbanyak juga berdoa dan berdzikir agar setiap urusan kita diberi kemudahan dan keberkahan. Allahumma yassir wala tu'assir, Ya Allah permudahlah dan jangan Engkau persulit.

4. Jangan Berekspektasi Terlalu Tinggi terhadap Anak 
Contoh kasus, misalnya kita sudah capek-capek membuatkan makanan yang menarik (menurut kita) untuk anak. Lalu kita berharap makanan itu akan dihabiskan oleh anak. Pada kenyataannya, ternyata makanan yang sudah kita buat susah payah itu malah tidak dimakan. Sedih banget nggak sih? Sakitnya tuh disiniiii (sambil nunjuk dada). Saya sering merasakan hal ini dan rasanya sedih sekali. Oleh karena itu, sampai sekarang saya berusaha untuk lebih selow dalam ini agar tak terlalu kecewa jika anak tak melakukan sesuatu sesuai harapan. Jika kita hanya menuntut anak, bisa-bisa kita jadi stress dan emosi. Ujung-ujungnya kita hanya marah-marah dan menyebabkan waktu makan menjadi waktu yang tak menyenangkan bagi anak. Kalau sudah begitu, maka tak ada yang diuntungkan bagi keduanya.

Jadi Bunda-bunda cantik, coba dinikmati saja momen-momen ini. Kalau masakan kita dimakan, ya alhamdulillah. Kalau tidak dimakan ya rapopo. Kan bisa kita aja yang makan (laahh.. pantesan ibu-ibu badannya banyak yang melar ya, hehe). Intinya jangan patah semangat. Teruslah mencoba walaupun memang pada akhirnya kita harus bermental baja dan tahan capek karena penolakan. Ikhlaslah. Yakini bahwa akan ada pahala dari setiap lelah dan keringat yang keluar pada saat kita memasaknya. Kalau anak tidak mau makan, ya kita saja yang makan atau bisa berikan ke suami biar tidak mubazir. Case closed ya kan? :D

5. Pakai Strategi Lain

Kalau memang anak susah makan, coba dikreasikan bentuk dan cara makannya, jadi tidak harus seperti yang biasa kita makan. Yang penting zat-zat yang dibutuhkan dalam sehari dapat masuk ke tubuh anak.

Misalnya saja telur rebus. Sambil anak bermain, telur bisa dipotong sedikit-sedikit dan kita suapkan ke mulutnya. Lama-lama bisa habis 1 butir telur lho. Bisa juga suapi selembar keju sedikit-sedikit sampai habis. 

Kalau anak tak suka nasi, bisa ganti karbohidratnya dengan roti, olahan singkong, olahan ubi, atau olahan kentang. Protein bisa diganti dengan selembar keju (sebaiknya jangan yang berpengawet ya), sebutir telur, sepotong ikan goreng, sepotong ayam goreng dsb. Sayur bisa sekalian dicampur diolahan kentang atau ubi dll. 
Kita juga bisa buat dalam bentuk perkedel, nugget, bola-bola nasi (yang didalamnya sudah ada protein, sayuran, karbohidrat). Itu pun sebenarnya sudah termasuk makan, karena yang terpenting zat-zat yang dibutuhkan bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kita bisa googling dari berbagai situs parenting atau resep masakan, supaya bisa menambah kreasi dan inovasi masakan di rumah. 

6. Keep Relax
Tenanglah wahai bunda. Ini adalah bagian dari proses. You are not the only mom who feel this. You are not alone. Banyak orang tua yang mengalami kesulitan yang sama, termasuk saya pun. Masa-masa susah makan itu pasti akan ada. Tapi nanti bersiaplah seiring dengan bertambahnya usia, akan muncul masa-masa anak kita akan susah berhenti makan. Yakinlah, "badai" ini insya Allah pasti berlalu. Tenangkan hatimu karena kau sedang berada pada masa yang "menantang" ituu! Enjoy it karena masa-masa ini tak akan berlangsung lama. Jadi, tetap semangat ya Bunda.


Nah, itulah beberapa pesan untuk para orang tua di luar sana. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua. Tetap semangat! Masa GTM ini sebenarnya memang masa yang sulit. Saya pun pernah berada di titik hampir menyerah melihat anak yang susah makan. But stay relax. Jika butuh teman curhat, berdiskusilah dengan suami atau sahabat dekat. Yang penting, jangan lupa jaga kesehatan mental kita juga ya karena Ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia juga. Take a break dan lakukan hal lain yang menyenangkan jika memang Bunda membutuhkannya. Semangat Selalu!

View Post





Sumber gambar : kompas.com

Seperti yang kita ketahui, R.A Kartini merupakan seorang pahlawan Indonesia yang berjuang bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menuangkan pikiran-pikiran yang antimainstream di jamannya saat itu. Sebagai seorang perempuan bangsawan yang memiliki banyak aturan, ia sadar betul bahwa telah terjadi ketimpangan dan ketidakadilan di negerinya sendiri bagi para perempuan dalam banyak bidang, terutama dalam bidang sosial dan pendidikan. a sadar bahwa perempuan hendaklah diberikan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi karena perempuan kelak akan mendidik anak-anak dalam keluarganya.

R.A Kartini memberikan banyak inspirasi dari pikiran-pikirannya. Hingga sekarang bahkan pikiran-pikiran tersebut bisa menjadi motivasi bagi kita agar mampu menjadi perempuan berdaya dan berwawasan luas. Berikut ini adalah 13 pesan inspirasi dari Kartini yang perlu kita simak.


1. Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya.

2. Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi.

3. Kami anak-anak perempuan tidak boleh mempunyai pendapat, kami harus menerima dan menyetujui serta mengamini semua yang dianggap baik oleh orang lain.

4. Banyak emansipasi wanita bukanlah untuk persamaan derajat, emansipasi adalah pembuktian diri yang seimbang antara raga yang tangguh, namun hati senantiasa patuh. Emansipasi ada penerimaan. Penerimaan diri bahwa setiap tempat ada empu yang dikodratkan dan dipantaskan. 

5. Saya akan mengajar anak-anak saya, baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing. Lagi pula, saya  bermaksud akan menghapuskan batas yang menggelikan antara laki-laki dan perempuan yang dibuat orang sedemikian cermatnya. 

6. Pendidikan untuk wanita sangat penting dalam konteks mendukung  perannya sebagai Isteri dan ibu yang bermimpi besar. Tapi kalau salah kaprah dan menelantarkan anak-anaknya berarti sama saja dengan membodoh lagi.

7. Apakah gunanya pemerintah memaksa orang laki-laki menyisihkan uang, kalau isteri-isteri mereka yang menyelenggarakan rumah tangga tidak mengenal tentang nilai uang?

8. Meskipun sekarang sebagian besar kebanyakan Kepala Bumiputra menyekolahkan anaknya hanya untuk gagah-gagahan saja, karena mereka tidak mau ketinggalan oleh yang lain. Dan bukan karena kesadaran mereka terhadap kegunaan pengetahuan bagi perempuan baik itu untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya. 

9. Sekolah-sekolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi juga keluarga di rumah harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahan kekuatan mendidik itu harus berasal. Siang malam anak-anak di rumah, di sekolah hanya beberapa jam saja.

10. Para lanjut usia, jangan menolak segala hal yang baru. Ingatlah, bahwa semua yang sekarang sudah tua, juga pernah baru.

11. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput layaknya. Bila agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". Kepada kakak-kakakku laki-laki maupun perempuan, kuturuti semua adat itu dengan tertibnya, tetapi mulai dari aku ke bawah, kami langgar seluruhnya adat itu.

12. Terlalu sering kami merasakan bahwa kami, orang Jawa, bukanlah manusia sama sekali. Bagaimana mungkin orang-orang Belanda berharap untuk dicintai orang-orang Jawa, ketika mereka memperlakukan kami seperti ini? Cinta melahirkan cinta, tetapi hinaan tak akan pernah menimbulkan kasih sayang.

13. Saat suatu hubungan berakhir, bukan berarti orang berhenti saling mencintai. Mereka hanya berhenti saling menyakiti.


Itulah beberapa kalimat inspirasi dari R.A Kartini. Ada begitu banyak hikmah dan pesan yang tersampaikan. Yang jelas, ada banyak sekali para pejuang perempuan selain Kartini yang sejak dulu telah memberikan sumbangsih bagi negeri ini. Oleh karena itu sebagai perempuan Indonesia, sudah selayaknya kita ikut berkontribusi sesuai dengan peran dan minat kita masing-masing saat ini. Jayalah terus Indonesia, jayalah perempuan Indonesia. Teruslah berkarya sesuai kemampuan kita tanpa harus melalaikan tanggung jawab kita sebagai seorang perempuan.


Sumber : Nurcholish, Ahmad. 2018. " Celoteh R.A. Kartini : 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi". Jakarta : Elex Media Komputindo.


View Post